Bunga Rampai 0 comments on “The Ugly American”

“The Ugly American”

Saat ini sebagian besar penduduk dunia sedang resah. Ada orang sakit di panggung politik dunia. Siapa lagi kalau bukan Trump. Orang Amerika memang kebanyakan sakit.Beda omongan beda perbuatan. Katanya setara gender. Tapi tak memberikan kesempatan Hillary untuk menang. Women’s lib hanya lipstick.

Ini ciri hipokrisi kaum idiot Amerika. Orang waras pilih Hillary. Amerika wajar dipimpin oleh wanita. Atas dasar demokrasi dan kesetaraan gender. Yankee kalah dengan India, Bangladesh dan Sri Langka. Atau Philipina dan Indonesia. Meski sebentar, Megawati pernah memimpin Indonesia.

Hillary tampil anggun. Dia unggul dalam setiap debat. Tak ada tempat bagi Trump. Applaus hanya dari segelintir kaum republikan. Hillary menguasai panggung. Mantan Ibu negara Amerika ini memikat. Dia pantas menjadi presiden Amerika. Tapi Amerika tak menghendakinya.

Di Amerika perempuan hanya cukup berhalusinasi. Mereka orang lapis kedua. Laki-laki adalah segala-galanya. Unggul dalam debat, tapi “dikalahkan” dengan kejutan.

Donal Trump
Inilah gambaran penilaian masyarakat Amerika terhadap Donald Trump

Trump adalah sosok predator yang menakutkan wanita. Sifat hedonistisnya selalu ingin menaklukkan wanita berkelas. Tentu saja dengan uang. Tapi dia bukan laki-laki romantis. Penikmat berbeda dengan penyayang.

Perempuan hanya ingin uangnya. Tak terkecuali para seleb yang pernah diincarnya. Meski kaya raya, tapi sisi hidupnya abu-abu. Kadang kehitam-hitaman. Tak banyak orang waras Amerika yang suka dia. Selebihnya menganggap dia konyol.

Meim dan video yang bertebaran tentang Trump. Wujud ekspresi warga yang eneg. Mereka enggan menghormati presidennya.

Amerika tak butuh manusia abnormal. Presiden konyol bukan di Amerika tempatnya. Tapi di Antartika. Jauh dari benua Amerika. Kelihatannya dia butuh pendinginan lebih.

Beberapa pakar mendiagnosa dia gila. Mereka bukan sembarang orang. Mereka dari universitas terkenal di Amerika. Di antaranya Dr John Gartner psikiater dari John Hopkins University Medical School.

Yang lebih keras digaungkan oleh James Gilligan. Guru besar New York University berpengalaman meneliti orang-orang berbahaya. Termasuk para pembunuh dan pemerkosa. Konklusinya Trump amat berbahaya.

Ada juga Dr Bandy Lee, seorang pakar psikiatri dari Yale University. Wanita berdarah Asia ini tanpa tendeng aling mengunggah video pendapatnya. Tombol nuklir ada di ujung telunjuknya. Ini membuat gusar.

Bukunya “The Dangerous Case of Donald Trump” menjadi best seller di Amerika. Para pakar sepakat menghimbau dilakukan evaluasi atas kesehatan mental Donald Trump.

Trump mangalami mental illness, mental disorder. Dia psikopat, cenderung paranoia. Dia memiliki perilaku maladaptive. Dia mengalami emotional discomfort.

Dia mengalami penurunan nilai. Satu Trump berjibun gejala kejiwaan. Ada 41 ribu tanda tangan petisi yang menyetujui pendapat pakar. Trump memang berbahaya.

Mereka meminta agar dia diajuhkan dari situ. Menutup akses pada alat-alat perang yang super canggih. Di sana banyak senjata pemusnah. Ini dorongan kecemasan masal.

Di Amerika banyak manusia sampah. Banyak pembunuh dan pemerkosa. Tapi mereka hanya meresahkan Amerika. Bukan dunia. Satu Trump menggoncang dunia. Menimbulkan ketakutan. Menciptakan instabilitas.

Masyarakat dunia jadi rindu Mikhail Gorbachev. Butuh Martin Luther King. Menginginkan sosok Abraham Lincoln. Bukan Trump; bukan pula Netanyahu. Mereka emoh dengan monster-monster abad baru.

Presiden Amerika Serikat yang ke-45 ini ibarat “wrong man on the right place”. Dia “the real ugly American”. Bukan dalam cerita novel. Bukan fantasi. Bukan pula sekadar film. “This is the reality”. Orang-orang Amerika ngedumel: “the bastard has come”.

Masyarakat Amerika memilih kata idiot; pembohong; lubang besar; tidak kompeten; moron; arogan dan menjijikkan untuk Trump. Itu hasil survei dari Quinnipiac University tentang pikiran warga Amerika. Itu kata-kata pertama yang terucap ketika membayangkan Trump. Sebuah deskripsi yang ekspresif tentang presiden mereka.

Trump pernah menyebut Amerika sebagai “crime-splitting location”; lokasi kriminal yang terpecah-belah”. Ironisnya, kondisi itu kini menyatu dalam jiwanya. Conratulation….! Now… I hate you, Mr. President…*.

Aceh lon Sayang 0 comments on Nasib Tragis Warga Rohingya

Nasib Tragis Warga Rohingya

Ini bukan pertama kalinya muslim Rohingya, mengalami eksodus dari negerinya. Mereka harus meninggalkan harta benda dan apa saja yang tidak bisa dibawa, untuk melarikan diri mencari tempat yang aman bagi kehidupan. Birma yang sekarang bernama Myanmar adalah tanah lahir mereka sejak turun temurun; sejak sembilan abad yang lalu. Tanah ini berbatasan langsung dengan Bangladesh yang merupakan akar rumpun mereka. Di Myanmar mereka menjadi minoritas yang dari jaman ke jaman terus mengalami intimidasi dan pembunuhan tanpa prosedur.
Masyarakat dunia sangat prihatin dengan sikap masyarakat Myanmar yang keji dan tak berprikemanusiaan. Banyak siksaaan, penganiayaan, pemerkosaan dan penghilangan nyawa secara paksa dilakukan oleh penduduk Myanmar yang tak beradab. Masyarakat muslim dunia pun merasakan bahwa tindakan PBB dan negara adidaya seperti Amerika, sangatlah lambat dalam mengantisipasi kejadian yang menimpa warga Rohingya, padahal sudah berlangsung bertahun-tahun. Ditambah lagi sikap beberapa Negara Asean yang menutup diri dari kejadian ini.
Warga Aceh, pernah mengalami kepedihan akibat kehilangan, ketika daerah itu diporakporandakan oleh kekuatan gempa bumi dan tsunami yang dahsyat. Dengan uluran tangan bantuan dari berbagai bangsa di dunia, Aceh bisa menjalani sebuah proes untuk bangkit dari kesedihan dan trauma. Hari ini mereka secara spontan memberikan bantun untuk muslim Rohingya, yang sedang mengalami penderitaan luar biasa. Terombang ambing di laut lepas tanpa bahan makan dan tujuan yang jelas. Untunglah “Panglima Laot” Aceh dengan sangat sadar mencoba menggiring orang-orang Rohingya untuk mendarat di lepas pantai Aceh, karena mengingat kondisi mereka yang sangat menyedihkan. Maka tersebarlah para pengungsi tersebut mulai dari Aceh Tamiang hingga sampai ke Lhokseumawe. Tindakan Panglima Laot yang sangat dihormati masyarakat nelayan Aceh ini bukan tanpa tantangan. Tak kurang Pamnglima TNI memberikan komentar yang miring tentang langkah yang diambil oleh para nelayan Aceh.
Ada dua alasan yang menjadi pertimbangan Panglima Laot Aceh untuk membantu orang-orang Rohingya: “kalau bukan rasa kemanusiaan, maka rasa sesama muslim adalah alasan kita membantu mereka”. Jadi siapa pun dia, ras apapun mereka, agama apapun yang mereka anut, bila membutuhkan bantuan, wajib dibantu. Karena bagi nelayan Aceh, kejadian serupa sewaktu-waktu bisa terjadi pada diri mereka, tersesat di tengah lautan ataupun mengalami musibah ketika melaut di lautan lepas. Dan sebagian mereka sudah sering sekali dibantu oleh Angkatan Laut India ataupun oleh para nelayan dari negera tetangga lainnya yang berbaik hati. Jadi tidak ada salahnya membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan.
PBB, Amerika dan Inggris yang selama ini hanya sibuk membela seorang Aung San Suu Kyi yang dipasung hak demokrasinya oleh junta militer Myanmar, mengabaikan pembantaian dan penghapusan muslim Rohongya dari bumi Myanmar. Bahkan tangan pasukan Inggris pernah berlumuran darah muslim Rohingya, yang merenggut lebih dari 20 ribu warga Rohingya, ketika Inggris menjajah daerah tersebut. Kini mereka pun menutup mata atas kekejaman yang menimpa warga Rakhine atau Rohingya tersebut. Bagi mereka, hak seorang Aung San Suu Kyi jauh lebih berharga dari pada nyawa jutaan orang Rohingya yang terancam. Aung San Suu Kyi yang dinobatkan untuk hadiah nobel untuk hak asasi manusia, tidak memedulikan sama sekali atas hak asasi warga Rohingya yang ditindas oleh warga dan pemerintahan Myanmar. Ironi ini tetap dipertontonkan hingga batas waktu yang tidak dimengerti. Warga Rohingya tetap mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Meskipun ada desakan dari dunia internasional agar Myanmar bertanggung jawab, tapi keamanan bagi warga muslim Rionhingya tetap tidak terjamin. Ketika mereka kembali ke negerinya, mereka akan mendapatkan perlakukan yang sama, tindakan di luar batas kemanusiaan dari orang-orang Burma dan pemerintahnya.
Panglima Laot Aceh bersama para nelayan Aceh telah bertindak benar dengan langkah yang diambilnya. Dan langkah ini kemudian mendapatkan support dari berbagai elemen masyarakat Aceh. Dengan perhatian penuh dari berbagai saudara-saudara lainnya dari seluruh nusantara, rasanya bantuan untuk pengungsi Rohingya telah dapat mengurangi beban derita yang telah berlangsung barabad-abad menimpa mereka. Masih ada ratusan ribu warga Rohingya yang masih tinggal di Myanmar. Tidak ada satupun yang mengetahui kapan penderitaan mereka akan berakhir. Pemerintah sosialis Myanmar tidak mengakui masyarakat Rohingya yang beragama Islam. Warga Rohingya dianggap sebagai pendatang haram dinegeri ini dan tidak ada harapan untuk mendapatkan pengakuan yang sepantasnya. Seharusnya kebiadaban ini mengundang campur tangan masyarakat dunia, terutama PBB. Bila Amerika dan sekutunya berani menyerang Irak untuk suatu alasan tertentu, maka sebagai alasan kemanusiaan, memperingati Myanmar adalah sebuah langkah bijak untuk menghentikan tindakan penghilangan paksa etnis dari muka bumi yang dipertontonkan di Myanmar. Ini kejahatan kemanusaiaan, yang bertujuan untuk penghapusan etnis (genocide), namun dunia tetap bungkam. Populasi warga Rohingya, yang pada tahun 2002 mencapai hampir 3 juta jiwa, saat ini hanya tinggal seperempatnya saja. Tahun demi tahun jumlah mereka semakin berkurang. Sebagian berhasil melarikan diri ke luar negara untuk menghindari penindasan dan pembunuhan dan sebagian lagi dibantai secara kejam oleh induk negaranya sendiri dan orang-orang Myanmar yang tidak berperikemanusaiaan. Akankah dunia berpangku tangan…?**

Sumber: Antara News; Wikipedia, dan sumber lainnya.