Bunga Rampai 0 comments on Tangis Dan Bahagia Dua Makhluk Alien Di Dunia Sepakbola

Tangis Dan Bahagia Dua Makhluk Alien Di Dunia Sepakbola

Tahun 2016 ini terjadi hampir bersamaan antara pelaksanaan Piala Eropa, Piala Amerika. Kedua perhelatan ini telah mendapatkan juara baru untuk tahun 2016. Piala Amerika kembali direbut oleh Chile, yang dalama pelaksanaan Piala Amerika yang ke-99, tuan rumah Chile juga dengan sangat impresif, menggulung Argentina di final. Kali ini lebih menarik, di samping merupakan perhelatan yang ke-100 tahun, juga menjadi ajang pembuktian, bahwa Chile bukan hanya perkasa di kandang sendiri.

Dalam perjalanan menuju final Chile melumat lawan-lawannya tanpa ampun. Permainan Chile seperti tanpa cacat, dengan kerja sama tim yang sangat padu. Meskipun di dalamnya hanya dihiasi oleh beberapa pemain bintang, tapi tidak segemerlap Messi di dalam tim Argentina.

Argentina bukan lah tim ayam kampung. Sejak penyisihan, tim Tango membuat clean sheets tanpa merasakan kekalahan. Tapi di final perasaan Argentina memang sedang ambigu. Khawatir akan terulang kisah pilu final 2015, dengan lawan tanding yang sama. Dan perasaan “inilah” yang menghantui jauh di dalam hati masing-masing pemain. Tak terkecuali Messi.

Di sisi lain ada semangat yang membara untuk saatnya menuntaskan dendam setahun yang lalu. Dari segi kualitas pemain, angan-angan membalas dendam, sepertinya akan menjadi kenyataan. Tapi ternyata hasil akhir berkata lain. Messi bukan hanya “jatuh” lantaran kekalahan, tetapi juga merasa gelo tak mampu mengubah eksekusi penalti menjadi gol. Padahal di samping piawai dalam menciptakan gol secara dinamis dengan pergerakan yang spektakuler, Messi juga dikenal sangat akurat dalam mengeksekusi bola-mati.

Apa yang dialami Messi juga pernah dialami oleh pemain bintang lainnya. Ketika berada dalam tekanan harus menang, enerji yang terbuang bisa lebih besar dari pada ketika bermain lepas tanpa beban apapun. Akibatnya konsentrasi bisa buyar tak terkendali. Dan hal ini tidak menghinggapi pemain-pemain Chile. Chile tetap bermain lugas dan tak memikirkan sama sekali bahwa mereka adalah juara tahun 2015. Yang mereka targetkan adalah menjadi juara tahun 2016, sekaligus memecahkan rekord mengalahkan tim hebat yang bertabur bintang, di final. Kemudian menjadi juara pada ulang tahun ke seratus tahun pelaksanaan Piala Amerika yang sudah dimulai sejak 1916. Sejauh empat puluh empat tahun sebelum piala Eropa dimulai.

Piala Amerika dan Piala Eropa 2016
Lambang Supremasi Piala Amerika dan Piala Eropa 2016

Chile yang berada dalam sedikit bersitan eforia kemenangan tahun lalu, bukanlah tim yang dapat dipandang enteng. Meskipun tidak banyak memiliki pemain bintang, mereka dapat bermain kompak dan efisien secara tim. Tak ada kata tinggal diam atau bertahan dengan sistem ala grendel Italia dalam kamus Juan Antonio Pizzi, sang pelatih. Falsafah “pertahanan yang terbaik adalah menyerang” dengan konsisten dilaksanakan oleh anak-anak asuhnya. Dan hasilnya mampu mempertahankan skor 1-1, hingga akhir perpanjangan waktu. Modal kemenangan sebelumnya atas Argentina yang diunggulkan kala itu, dipapar kembali untuk memecut semangat “menang dalam adu penalti”.

Di lain pihak Argentina berada dalam tekanan yang luar biasa. Khawatir kembali membuat kesalahan dalam adu finalti yang dibalut dengan adanya sugesti akan kutukan yang menghatui setiap melakoni pertandingan final. Argentina adalah seeded teratas sebagai calon juara dalam pesta centenario (100 tahun) Piala Amerika. Namun Chile berhasil menjungkirbalikkan ramalan dan perkiraan masyarakat dan pers dari seluruh dunia.

Piala Eropa

Di belahan benua lain, tepatnya di Prancis, telah selesai dilaksanakan kejuaraan Piala Eropa. Peserta kejuaraan ini jumlahnya lebih banyak dari peserta yang ikut dalam kejuaraan piala Amerika yang hanya diikuti oleh 16 tim dari berbagai negara di benua Amerika. Tak ada silang pendapat tentang tim negara mana yang bakal menjuarai Piala Eropa kali ini. Hampir semuanya bersepakat, bahwa Jerman-lah yang pantas mengambil gelar tersebut. Pertandingan demi pertandingan yang dimainkan Jerman kian memperkuat sosok tim Bavaria ini memenuhi ekaspektasi dan prediksi orang banyak.

Sementara itu di bawahnya ada tuan rumah Prancis, Spanyol dan Portugal yang memiliki peluang sedikit lebih kecil di bawah Jerman. Tapi muncul pameo yang menggambarkan, “tim mana pun yang bisa mengalahkan Jerman atau Prancis, di semi final, maka tim ini pantas menjadi juara”. Perjalanan menuju final Prancis sebagai tuan rumah tidak memberikan gambaran bagi kemampuan sesungguhnya dari tim Ayam Jantan ini. Karena Prancis berada dalam grup yang relatif lunak. Kenyataan yang terjadi dalam semi final, Prancis menundukkan favorit juara, tim Panzer Jerman secara langsung 2-0, Prancis mendapat pengakuan bahwa mereka pantas berlaga di final dan kemudian merebut gelar juara untuk ketiga kalinya di ajang piala Eropa.

Pertandingan final Piala Eropa menawarkan warna tersendiri bagi Portugal. Tim yang memiliki bintang sekaliber Christiano Ronaldo ini selama Piala Eropa digulirkan, selalu kandas sebelum mampu meraih gelar juara. Hasil yang sangat memiriskan adalah ketika Portugal harus menangis di depan mata bangsanya sendiri. Dengan kesedihan yang mendalam, Portugal terpaksa mengakui kedigdayaan Yunani yang memecundangi mereka di final Euro 2004.

Namun kali ini dengan meyakinkan Ronaldo dan kawan-kawan, telah menunjukkan jati diri sesungguhnya, bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang berada di luar perkiraan orang banyak. Segala kesedihan seakan pupus dengan hasil yang gemilang, menggulung tuan rumah Prancis di depan sorotan mata penontonnya sendiri.

Akan halnya Prancis, sangat antusias untuk mengangkat kembali piala Eropa untuk ketiga kalinya. Sehingga sebagai tuan rumah Prancis berada di atas angin. Sepanjang pertandingan, Prancis terus mengurung pertahanan Portugal dan banyak melakukan serangan yang mencapai target ke gawang Portugal. Sayangnya tak satu pun yang berubah menjadi gol. Prancis memiliki ball possesion di atas angka 53 persen, lebih baik dibandingkan Portugal. Namun pertahanan Portugal dan kecemerlangan penjaga gawangn, Rui Patricio, mampu memaksa Prancis untuk sepakat melakoni perpanjangan waktu.

Cidera Ronaldo dan Kekecewaan Messi

Portugal yang kehilangan Ronaldo sejak menjelang menit kedelapan, akibat bentrokan dengan Payet, tidak patah semangat sedikitpun. Mereka tetap bermain lepas. Modal kekalahan sebelumnya tak sedikit pun membebani para pemain. Kehilangan Ronaldo menjadikan permainan Portugal kian terbuka dengan pendistribusian bola yang lebih merata. Yang sebelumnya selalu terpaku pada sosok Ronaldo, kini menjadi sebuah tim yang sangat dinamis. Pergerakan antarpemain semakin kentara.

Pada saat istirahat paruh waktu perpanjangan, Ronaldo memeluk erat Eder sambil berbisik. Ronaldo yang sedang cidera seperti mendapat wangsit dari “sang kupu-kupu kecil” yang hinggap di alisnya ketika menangis dalam dua makna; karena kesakitan yang luar biasa dan kesedihan karena tidak dapat memimpin rekan-rekannya untuk merebut gelar juara. Pesan sang kupu-kupu dibisikkan kembali untuk memotivasi Eder, yang akhirnya membuat sepakan kuat Eder pada menit ke-108 dari luar area penalti, tak mampu ditepis oleh salah satu penjaga gawang terbaik dalam dasawarsa terakhir ini, Hugo Lloris.

Bukan hanya Ronaldo, kebintangan Messi menjadi perhatian tersendiri dari pelatih lawan. Messi kerap mendapatkan penzaliman hampir di dalam setiap pertandingan. Bukan sekadar untuk mengirim dia ke bangku cadangan tetapi tidak sedikit pemain lawan yang ingin mengirim Messi ke meja operasi. Padahal Messi adalah aset kebanggaan puak latino yang mampu mengharumkan negaranya dan sekaligus rumpunnya di Amerika Selatan.

Messi selamat dari ancaman cidera yang sengaja ditebarkan pemain lawan, tetapi harus kecewa dengan hasil akhir pertandingan. Sedangkan Ronaldo harus ditandu dan tak dapat melanjutkan permainan, tetapi berbuah manis setelah dirinya untuk pertama kali bisa mencium tropi lambang supremasi Euro Cup tahun 2016 dengan penuh kebahagiaan.

Pertandingan sesungguhnya belum selesai tuntas. Publik sepakbola dunia dengan harap-harap cemas masih menunggu pertemuan dua juara dari masing-masing benua. Benua Eropa akan diwakili oleh Portugal, yang kemungkinan besar tanpa bisa menghadirkan Ronaldo. Sedangkan dari Benua Amerika, adalah Chile yang telah membuat Messi bersedih setelah tragedi adu penalti di akhir pertandingan final. Jadi tak mungkin berharap akan ada Messi di dalamnya…*

Bunga Rampai 0 comments on Bintang Latin di Panggung Sepakbola Dunia

Bintang Latin di Panggung Sepakbola Dunia

Saat ini berjuta pasang mata sedang tertuju untuk menyaksikan perhelatan Piala Eropa yang sedang berlangsung di Prancis. Rasanya terlalu rugi bagi setiap penggemar sepakbola untuk melewatkan setiap pertandingan yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta di Indonesia.

Karena bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan 1437 hijriyah, maka jadual pertandingan tengah malam waktu Indonesia dapat dimanfaatkan sambil menikmati makan sahur untuk persiapan puasa keesokan harinya. Sepakbola sudah seperti olahraga wajib yang harus ditonton, terutama piala Eropa dan Piala Dunia.

Di belahan dunia lain, dengan hanya berselisih waktu sepekan, di Negeri Paman Sam, kebetulan juga sedang berlangsung pertandingan perebutan Piala Amerika (Copa America). Akan tetapi semarak perhelatan tidak sehebat apa yang sedang berlangsung di negeri “l’hexagone“, Prancis Metropolitan.

Gemerlap suasana pertandingan di Piala Eropa seakan meneggelamkan kehebatan Piala Amerika yang sedang berlangsung bersamaan. Seakan Piala Amerika berada pada skala prioritas kedua di bawah hingar bingar Piala Eropa. Maka baik pemberitaan media tulis ataupun media televisi tidak semeriah pemberitaan seperti menyajikan pemberitaan Piala Eropa.

Piala Amerika dan Piala Eropa 2016
Lambang Supremasi Piala Amerika dan Piala Eropa 2016

Sejenak melihat ke belakang, rangkaian perkembangan sepakbola dunia hingga saat ini, di belahan benua Amerika Selatan, telah membentang sejak dari Pele hingga Messi yang saat ini berada di puncak karirnya yang cemerlang. Benua latin Amerika, telah mendapat anugerah untuk menjadi negeri lumbung yang tak pernah putus melahirkan pemain-pemain bintang yang melegenda sepanjang sejarah sepakbola dunia.

Hampir semua kompetisi liga di seluruh Eropa selalu ada pemain latin yang hadir di dalamnya. Nama mereka menjadi bagian terpenting dari setiap jengkal persoalan sepakbola dunia.

Entah apakah georafis bisa berperan sebagai faktor yang dapat menentukan lahirnya talenta sepakbola, ataupun entah lantaran sepakbola sudah menjadi darah daging etnis hispanik yang sejak kanak-kanak sudah mengenal sepakbola, sehingga memudahkan pembentukan pemain handal di kemudian hari. Dan kemudian laku ditransfer dengan harga-harga yang fantastis. Mentalitas latino mungkin lebih baik dalam membangun ketekunan dalam berlatih sepakbola.

Alfredo di Stefano

Padahal sekolah sepakbola dan fasilitas yang tersedia di negeri-negeri Amerika Latin, tidaklah sebaik yang dimiliki negeri-negeri lain semisal di negara Eropa. Akan tetapi sejak dulu pemain luar biasa selalu saja muncul silih berganti dari belahan dunia ini; tak pernah berhenti.

Bila faktor komersial menjadi dasar yang mempengaruhi tumbuhnya talenta seseorang, maka ketika masa di Stefano (Argentina/ Spanyol), Pele (Brasil), dan Eusebio (Portugal) sedang menggapai masa keemasannya –meskipun dikoversikan kepada nilai mata uang–, maka pendapatan dan harga transfer pemain bola tidaklah sefantastis saat ini. Tetapi pemain-pemain ini sudah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan sepakbola yang menjelma sebagai ajang olahraga yang paling bergengsi.

Waktu itu memang profesionalisasi kelas sepakbola untuk menuju sepakbola dengan sentuhan manajemen modern belum berlaku seperti yang terlihat belakangan ini. Kalau pendapatan dan gaji tinggi yang menjadi faktor stimulus, maka ianya bukanlah satu-satunya. Hanya salah satu faktor saja. Faktor yang lainnya sepertinya mengarah kepada kultur, lingkungan dan geografis, yang didukung oleh mental yang baik; tidak mudah menyerah.

Alfredo di Stefano adalah imigran dari Argentina yang kemudian memilih menjadi warga negara Spanyol. Di Stefano menjadi legenda sepak bola sepanjang abad, diikuti kemudian oleh Pele yang memberikan warna sepakbola kian berkilau dengan memadukan kekuatan, seni dan skill. Di Stefano kemudian menjadi pemain nasional Spanyol, dan merupakan pemain sepakbola yang pernah menjadi pemain nasional untuk tiga negara secara bergantian, yaitu, sebagai pemain nasional Argentina; pemain nasional Colombia dan terakhir sebagai pemain nasional Spanyol.

Di Stefano yang banyak menerima penghargaan, bukan hanya menjadi legenda Real Madrid semata, melainkan juga telah ditabalkan sebagai legenda dunia sepakbola.

Lahirnya pemain-pemain berbakat yang berskala dunia, juga mengalami fase-fase seleksi secara alamiah. Ada yang terus melaju ke puncak karir dan menjelma menjadi pemain legenda ada pula yang biasa-biasa atau bahkan kandas di tengah jalan. Dunia sepakbola profesional membuat persaingan menjadi sangat ketat. Industrialisasi dan komersialisasi sepakbola tidak lepas dari peran mereka yang menjadi idola bagi negara dan fans kesebelasan yang dibelanya.

Banyak bintang sepakbola latin yang berkibar menjadi bintang dunia, berasal dari benua latin. Sebut saja seperti: Francescoli (Uruguay), Maradona, Messi (Argentina), Romario, Luiz Ronaldo (Brasil), Cubilas (Peru), Zamorano (Chile). Dan masih banyak lagi jika semua disebut namanya.

Benua latin seperti ditakdirkan menjadi gudang pemain bola dunia ternama. Masing-masing negeri yang berada di belahan benua Latin Amerika, memiliki pamain yang berkibar di tingkat dunia. Nama mereka tidak hanya populer di dalam negeri sendiri, melainkan juga dikenal oleh masyarakat penggemar sepakbola di mana pun berada. Di antara mereka kemudian menjadi legendaris dunia sepakbola.

Para pemain latin tersebar memperkuatkan klub-klub terkuat dunia, terutama di liga-liga Eropa. Sehingga sangat mudah bagi penonton setia siaran sepakbola untuk menghafal nama-nama mereka. Nama mereka juga menjadi idola para pendukung fanatik klub-klub sepakbola yang ada. Di belakangnya, di kemudian hari, telah lahir pemain-pemain berbakat yang mewarisi kepiawaian di Stefano untuk menjadi pemain pujaan dunia.

Sisi latin di benua Eropa

Benua Eropa, juga memiliki sisi latin yang tidak jauh berbeda dengan saudara latin mereka di benua Amerika. Terdapat beberapa Negara Eropa yang bernuansa latino, sebut saja seperti: Spanyol, Portugal, Italia dan Prancis. Di samping di Stefano yang menjadi bintang Negara Spanyol, penggemar sepakbola juga tidak lupa dengan bintang mereka yang lahir belakangan seperti: Emilio Butragueno hingga Fernando Torres; demikian juga Portugal yang mempunyai kebanggan seperti: Luiz Figo dan Christiano Ronaldo; dari Italia ada Roberto Baggio dan Paolo Rossi.

Prancis memiliki Michael Platini dan Zineddine Zidan. Zidan meskipun merupakan keturunan Aljazair, tapi Zidan lahir dan dibesarkan dengan suasana Prancis, di lingkungan kultur yang membentuk karakternya sebagai pemain sepakbola. Bahkan di antara negeri ini terdapat klub yang isinya merupakan para bintang sepakbola yang menjadi idola masyarakat dunia.

Eropa adalah barometer sepakbola dunia mewakili masyarakat sepakbola secara universal Eropa juga menjadi kiblat sepakbola dunia. Pemain bintang dari berbagai pelosok dunia banyak yang merumput di berbagai liga yang tersebar di berbagai negara Eropa. Promosi jersey dan segala macam komoditas dikemas secara sangat bombastis melalui ruang yang ada dalam bingkai pertandingan sepakbola, dengan biaya yang tidak kecil. Iklan dalam sepakbola dianggap paling efektif untuk memperkenalkan produk.

Meskipun belum ada penelitian dan sensus, diduga kuat penonton sepakbola adalah terbanyak jumlahnya dibandingkan penonton olahraga lainnya. Baik yang menyaksikan secara langsung, ataupun melalui layar kaca. Bahkan untuk kepentingan promosi, tidak sedikit bintang sepakbola yang memiliki banyak fans di seluruh dunia dimanfaatkan untuk menjadi model iklan.

Boleh jadi piala Amerika lebih sepi penontonnya dibandingkan penonton yang menyaksikan Piala Eropa dari layar kaca. Tapi para bintang yang sedang merumput di Eropa, banyak yang ikut bertanding untuk membela negaranya masing-masing di ajang “perayaan” seratus tahun Piala Amerika yang sedang berlangsung di Amerika Serikat.

Di klub, kehadiran mereka bukan sekadar sebagai pemain pelengkap semata, akan tetapi mereka menjadi ruh yang menentukan kemenangan bagi timnya masing-masing. Mereka berperan sebagai figur yang mampu memberikan warna bagi irama permainan tim mereka, menjadi penyemangat, menjadi panutan dan sekaligus menjadi tumpuan dalam berjuang untuk memenangkan pertandingan.

Meskipun, barangkali, gegap gempita Piala Eropa mengalahkan kemeriahan Piala Amerika, tapi dengan bertaburnya bintang internasional yang sedang bercahaya dalam kompertisi ini, membuat kualitas pertandingan Piala Amerika tidak kalah hebat dibandingkan pertandingan-pertandingan yang berlangsung di ajang Piala Eropa. Bravo Centenario, Piala Amerika…!

Bunga Rampai 0 comments on Jangan menangis, Argentina…!

Jangan menangis, Argentina…!

Arturo Vidal bersama Marcelo Diaz
Arturo Vidal bersama Marcelo Diaz, bintang Paraguay

Ketika melumat pasukan Paraguay dalam pertandingan semi final Copa America yang berlangsung 2 Juni 2015 di Santiago, Pasukan pimpinan pelatih Gerardo Martino bermain begitu perkasa, lugas dan menguasai seluruh lapangan pertandingan dengan sempurna. Wajah-wajah para pemain ini pun tampak tanpa tekanan dan selalu sumringah melempar senyum antarsesama rekan. Mereka ibarat anak-anak manis yang sejak kecil memang hidup bersama, bermain bersama dan belajar bersama. Solid, kompak dan penuh persaudaraan. Bola begitu jinak di kaki masing-masing pamain, akrab dan selalu di bawah kendali. Terlebih-lebih memasuki babak kedua, sentuhan satu dua tidak terjadi dengan sepakan yang kuat, melainkan melalui soft touch yang hanya menggeser-geser bola dari kaki ke kaki tanpa menggunakan tenaga. Mengalir bagaikan air yang bening, tanpa riak.

Dalam pertandingan final melawan Chile, suasana ini hilang berevaporasi entah ke mana. Wajah-wajah manis tak lagi tampak, berganti dengan wajah serius nan tegang. Para pemuda Argentina ini berada di bawah tekanan yang luar biasa, baik dari jumlah penonton dan suara-suara yang membahana yang memenuhi stadion, maupun suasana emosi pribadi yang mengental dan kaku ketika melawan tuan rumah. Para pemain seakan seperti hilang pegangan dan sikap profesionalitasnya layaknya seorang yang sudah kenyang makan asam garam pertandingan internasional. Selalu timbul permainan yang diliputi keserbasalahan, baik ketika mendribel, mengolah, mengoper dan melepas umpan. Possession football menjadi tidak jelas dan berlangsung intermitten tapi sering putus dalam melepas bola untuk dibagikan. Di mana-mana selalu hadir pemain Chile yang rajin dengan kebugaran dan ballskill yang prima yang siap menggunting laju serangan yang dibangun anak-anak Argentina. Babak pertama berakhir 0-0.

Memasuki babak kedua, dalam 15 menit pertama Argentina semakin terjepit oleh elan-vital, permainan anak-anak Chile yang memang ingin sekali merengkuh juara di bawah tatapan puluhan ribu pasang mata pendukungnya. Ada tekad yang begitu kuat, agar malam ini wujud menjadi milik rakyat Chile. Dengan materi pemain yang tidak kalah kelas, hasrat itu seakan-akan tinggal menunggu waktu saja. Serangan demi serangan terus mengancam gawang yang dikawal Sergio Romero, yang flamboyant, di bawah gawang Argentina. Kedua kiper masing-masing yang dimiliki Argentina dan Chile memiliki kualitas yang setara; wibawa, tenang dan sanggup menyajikan inspirasi bagi rekan-rekannya yang lain. Bila Claudio Bravo, kiper Chile adalah kapten yang dipercayakan untuk mengkoordinasikan rekan-rekannya di lapangan permainan, maka Argentina tidak menyematkan ban kapten pada Romero, melainkan pada Messi, yang juga punya kualitas kepemimpinan yang baik dan disegani kawan maupun lawan.

Di depan, Chile memiliki Alexis Sanches yang terus bergerak bebas dengan sesekali berpindah posisi. Messi menjadi monoton yang susah gerak akibat tekanan dan bahkan tidak segan-segan dihadang dengan menjatuhkannya. Cidera dan terpaksa ditariknya Angel Di Maria pada menit ke-26, babak pertama, memberikan dampak berkurangnya daya serang Argentina di area pertahanan Chile. Menit ke 70 puluh Argentina mulai mendapatkan pola permaian milik mereka, tapi itupun hanya berlangsung sekejab dan sporadis. Lagi-lagi Messi yang menjadi tumpuan serangan, selalu terjepit di bawah kawalan ketat para pemain Chile. Anak-anak Chile tak pernah membiarkan Messi leluasa mengembangkan permainan individualnnya. Selalu ada satu atau dua orang yang siap menghempang laju pergerakannya. Jangankan melepas umpan cantik, mendribling saja Messi benar-benar dibuat kewalahan. Roh permainan Argentina dikunci rapat untuk tidak menyebar sebagai “virus” yang bisa mematikan dan mengancam pertahanan Chile.

Pergantian Ken Aguero dengan Higuain, pada menit ke-74, seperti menjadi keputusan yang salah, —rasanya seperti sebuah blunder yang sangat menguntungkan Chile. Terlalu riskan menarik Aguero keluar, tapi apa hendak dikata, pelatih Argentina melihat dari sisi yang berbeda. Higuain memiliki kemampuan yang sama seperti Aguero; begitu pula ketika Pastore, ikut ditarik pula dan digantikan oleh Ever Banega yang mungkin juga memberi dampak permainan Argentina semakin terbatas. Tapi semuanya tentu dalam pertimbangan matang sang pelatih. Di sisi lain, pemain nomor 10 Chile, Jorge Valdivia, pun ditarik pada waktu yang hampir bersamaan dengan pergantian Aguero. Valdivia yang digantikan oleh Fernandez, seperti merasakan pahit di hatinya, dia tak percaya bahwa permainannya yang masih baik, harus ditarik keluar sebelum menuntaskan permainan meraih juara bersama rekan-rekannya di lapangan.

Lima belas menit menjelang babak akhir, Argentina kembali menemukan permainan aslinya. Namun lagi-lagi Messi terus menjadi bulan-bulanan para pemain Chile yang tak ingin mengambil resiko, bila Messi bisa leluasa memasuki area penaltinya. Detik-detik menjelang waktu 92 menit usai, Higuain nyaris mengukir sejarah. Messi menggeser umpan ke sisi kiri pertahanan Chile yang diterima dengan baik Lavezzi. Sejurus kemudian Lavezzi urung menembakkannya ke arah gawang, melainkan mengirimkan umpan menyusur tanah menuju tiang jauh pertahanan Chile tak mampu disosor Higuain menjadi gol indah yang akan dikenang sebagai gol bersejarah, karena tercipta di detik terakhir waktu permainan berlangsung. Bola yang menyentuh kaki Higuain meninggalkan lapangan sebelum menyentuh sisi luar jaring sebelah kiri gawang permainan Chile. Babak kedua berakhir dengan tidak menghasilkan gol sama sekali, kendati kedua tim terus melakukan jual beli serangan yang silih berganti.

Babak perpanjangan waktu serasa hanya semacam harapan bagi Argentina untuk memenangkan pertandingan. Meskipun tak secerah wajah ketika bertanding melawan Paraguay, Messi dan kawan-kawan terus bermain optimistis dibawah sorotan tajam publik sepakbola Chile yang hadir di Stadion Nasional Julio Martinez Pradanos, Santiago. Bendera Chile yang terus dilambai-lambaikan diselingi nyanyian pemberi semangat bagi pasukan Chile, sedikit banyak membuat tekanan tersendiri bagi pasukan Gerardo Martino. Sebaliknya Chile begitu leluasa bermain dengan pola yang konsisten. Di mana-mana selalu ada pemain Chile yang bergerak atau berdiri bebas, seakan-akan mereka seperti sedang menurunkan lebih dari sebelas pemain di dalam lapangan. Sementara itu pola anak-anak Argentina selalu divariasikan agar tidak mudah terbaca oleh pemain pertahanan Chile, namun itu pun tak berhasil membawa Argentina untuk memperoleh gol. Pertahanan Chile cukup solid dan sulit ditembus, apatah lagi mereka dekat sekali dengan jarak kiper heroik, Claudio Bravo, yang dengan mudah memberikan komando kepada rekan-rekannya di bawah. Sampai habis masa pertandingan 120 menit berlangsung, tidak satu pun gol yang tercipta oleh kedua tim.

Babak tendangan penalti menjadi sesuatu yang menghancurkan Argentina. Martias Fernandes yang bernomor punggung 14, dengan tenang menaklukkan Romero yang geregetan tidak bisa menghadang tendangan sedikit melambung dari Fernandez. Berikut, Messi pun dengan kematangannya, tanpa memaksakan untuk menempatkan bola di sisi kiri, pelan dan menusuk sudut kiri belakang jaring Bravo. Pemain Chile yang didapuk menjad algojo penalti membuat sempurna tugas yang diserahkan Jorge Sampaoli kepada mereka. Sampai akhirnya Alexis Sanches menuntaskan dengan gol penutup dalam adu penalti. Hasil sepakan Sanches yang tak terbendung kiper Argentina melangkapi kemenangan Chile menjadi 4-1, dan menetapkan mereka sebagai Campeones Copa America 2015. Di sisi lain, petaka Argentina berawal dari tendangan Gonzalo Higuain, yang melambung di atas mistar Bravo, serupa seperti yang pernah menimpa Roberto Baggio ketika mengeksekusi penalti, tatkala Italia betemu Brasil di babak final, di Stadium Rose Bowl, Los Angeles, Amerika Serikat, usai bermain tanpa gol hingga 120 menit berakhir.

Tendangan Roberto Baggio, melambung tinggi di atas gawang Brasil yang dikawal Claudio Taffarel, sehingga akhirnya membuat Brasil menjadi juara Piala Dunia 1994, setelah menekuk “brigata” Italia dengan kedudukan 3-2 . Lagi-lagi “Claudio” yang membawa petaka bagi lawan: Claudio Taffarel dan Claudio Bravo. Kendati demikian, Baggio, tetap dianggap sebagai seorang maestro sepakbola dan tetap dicintai publik sepakbola Italia dengan meraih gelar “Most Loved Player” Award, pada tahun 2001 dan “Most Loved Player” Oscar, pada tahun 2002.

Argentina kalah dengan hormat. Memenangkan pertandingan dengan melawan tuan rumah bukanlah perkara mudah. Mampu bertahan hingga menit ke-120 pun sudah merupakan prestasi tersendiri. Lionel Messi berjalan menaiki panggung kehormatan, menghampiri para petinggi sepakbola Amerika Selatan (CONMEBOL) yang siap mengalungkan medali di lehernya. Sedikit menunduk medali dipasangkan, lalu berjalan turun sambil melepaskan kembali medali di lehernya dan menggenggam dengan tanganya. Messi hanya melewati piala Amerika yang berada di sebelah kanannya. Sementara Javier Mascherano, turun dengan langkah yang penuh kecewa, berjalan di sisi kiri tempat diletakkan piala, sambil memegang hidungnya dia melirik dengan sekilas pandangan dan tatapan yang nanar, sedih serta dengan perasaan yang bercampur aduk ke arah piala Amerika yang siap diserahkan kepada sang juara Copa America 2015, Timnas Chile. Bravo Chile; Bravo Argentina…!