Aceh lon Sayang 0 comments on Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kopi Aceh yang tersohor
Teknik penyaringan kopi Aceh yang unik dan atraktif, diyakini bisa menambah kelezatan sajian kopi Aceh

Salah satu daya pikat ketika seseorang berada di Aceh adalah menikmati kopi Aceh yang banyak disajikan di kedai kopi (keude kupi) Aceh. Tidak hanya bagi pelancong, dari luar Aceh, masyarakat Aceh sendiri juga merupakan penikmat kopi yang fanatik. Sangat doyan mencicipi kopi yang dijual di kedai kopi. Sambil menyeruput kopi panas khas “keude kupi” Aceh, mereka bisa kongkow-kongkow sama teman-teman. Apalagi bila di”teumon“-in dengan sepiring mie Aceh atau sepotong “bada sue-uem” (pisang goreng yang masih panas) atau pulot (pulut) panggang. “Teumon” dalam bahasa Aceh berarti makanan pendamping ketika menikmati secangkir kopi. Bagi sementara masyarakat Aceh, kopi di keude kupi berasa jauh lebih enak dari pada kopi yang disajikan di rumah bikinan istri sendiri.

Kedai kopi yang banyak ditemukan di hampir seluruh derah Aceh, bukanlah merupakan warisan tradisi Aceh yang sesungguhnya. Melainkan –diperkirakan–, berasal dari warisan orang-orang Khek yang hingga pertengahan tahun enampuluhan masih menggeluti usaha kedai kopi di Aceh. Meskipun usaha kedai kopi telah beralih kepada salah satu sektor usaha yang banyak diminati oleh orang Aceh, akan tetapi keunikan cara membuat kopi ala Khek tetap dipertahankan. Bahkan saat ini teknik menuang kopi telah mengalami improvisi sehingga tampak menjadi lebih atraktif pada saat menyaring minuman kopi ke dalam gelas. Menuangkan adukan kopi melalui saringan, sambil mengangkatnya tinggi-tinggi.

Di stasiun kereta api Pasai Gambe, Lhokseumawe, sebelum kereta api Aceh tutup usia, juga terdapat satu kedai kopi yang dikelola oleh orang Khek. Hampir semua kedai kopi yang ada di Aceh waktu itu dikelola oleh orang-orang subetnis Khek. Kedai-kedai ini memiliki ciri khas yang menarik. Begitu juga properti yang terdapat di dalam kedainya yang waktu itu terkesan masih mewah. Mulai dari rangka kursi tempat duduk yang terbuat dari besi, meja terbuat dari marmer yang ditopang rangka besi berukiran, serta cara menyaring kopinya yang unik. Semua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggannya. Kedai kopi milik orang Tionghoa, dapat ditemukan hingga ke tingkat kecamatan. Seperti misalnya pada sekitar akhir tahun enam puluhan masih ada kedai kopi Tionghoa di Kecamatan Samalanga.

Waktu itu hanya orang-orang tertentu saja yang sering menikmati kopi di kedai kopi milik subetnis Khek ini, meskipun harganya tidak mahal. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang di mana kedai kopi terdapat sampai ke pelosok desa dan banyak dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat. Tidak lagi eksklusif seperti jaman dulu. Dalam perkembangannya kedai kopi telah menjelma menjadi sarana multifungsi. Jika dulu-dulunya mesjid atau meunasah (surau) menjadi pusat kegiatan untuk pertemuan, belajar, mengaji dan musyawarah, maka sekarang fungsi tersebut telah beralih ke kedai kopi. Di sini bisa dilaksanakan pertemuan informal oleh semua komponen masyarakat, mulai dari petani, nelayan, ilmuwan, hingga kalangan akademisi dan mahasiswa. Apalagi setiap kedai kopi di Aceh dipastikan selalu menyediakan layar televisi yang bisa buat lihat berita, nonton film (video) atau nonton bareng pertandingan sepakbola. Jadi tidak heran meskipun bangunan kedai kopinya kondisinya cukup sederhana tapi parabola tetap terpasang di atas nya.

Kedai kopi diperkirakan mulai beralih kepada penduduk asli Aceh adalah sebelum terjadi proses pergeseran pola usaha yang dijalankan oleh orang-orang Khek. Pascaterjadi peristiwa Gerakan Tiga Puluh September 1965 (G30S), yang diikuti dengan eksodus masyarakat Tionghoa dari Aceh, maka terjadi kekosongan di sektor usaha kedai kopi yang sebelumnya banyak dijalankan oleh keturunan Tionghoa, khususnya subetnis Khek. Setelah beberapa waktu mengalami kekosongan sektor usaha kedai kopi ini, kemudian secara perlahan mulai beralih kepada masyarakat lokal. Peralihan ini tidak terlalu sulit karena mereka sebelumnya merupakan bagian dari penyedia jasa pembuatan nasi dan mie bagi kedai-kedai kopi milik orang Khek, sambil menempati lapak yang disediakan di depan kedai kopi. Di kemudian hari, jenis usaha yang dilakoni oleh orang-orang Tionghoa mulai berubah ke arah sektor usaha fotografi, perdagangan pakaian, perhiasan, elektronik dan kendaraan bermotor.

Jejak langkah perjalanan sejarah masyarakat Khek atau disebut juga orang Hakka, masih dijumpai di Kalimantan Barat, antara lain di: Kota Pontianak dan Singkawang, serta di pulau Bangka, di mana pendatang dari Tiongkok di daerah-daerah tersebut banyak didominasi oleh suku Khek. Apa yang dapat disaksikan saat ini adalah usaha yang pernah ditekuni oleh orang-orang yang berasal dari subetnis Khek sebagai warisan para leluhurnya mereka bertahun-tahun jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada dasarnya kehadiran orang-orang Tionghoa di Aceh yang dimulai sebelum abad ke-16 –atau bahkan terdapat catatan sejarah yang menyatakan bahwa mereka telah hadir di Aceh sejak abad ke 13–, adalah sebagai tenaga kerja di berbagai bidang usaha. Pendatang dari China ini dianggap sebagai tenaga kerja yang ulet, rajin dan terampil. Meskipun dalam perjalanan sejarah selanjutnya ada yang beralih profesi sebagai pengusaha kedai kopi. Usaha ini akrab bagi orang-orang Khek karena memang mereka memahami seluk beluk tentang cara membuat kopi yang nikmat secara baik.

Suku Khek atau Hakka merupakan bagian subetnis dari etnis Hans sebagai induknya. Suku Khek pada umumnya berasal dari Guangdong daerah sebelah tenggara daratan Tiongkok. Di pusat kerajaan Aceh, mereka mendirikan pecinan sebagai tempat bermukim secara komunal, yang sekarang disebut Peunayong. Peunayong merupakan daerah yang berada dibagian tengah kota Banda Aceh, berdekatan dengan jalur Krueng Aceh yang mengarah ke pantai. Dan sekarang menjadi pusat kegiatan bisnis di kota Bada Aceh.

Tapi lembaran sejarah telah berganti. Kedai kopi sudah menjadi ciri khas kota-kota di Aceh. Apabila saat ini para pelancong yang berkunjung ke Aceh, maka yang dijumpainya adalah kedai-kedai kopi yang akhirnya menjadi daya pikat tersendiri. Teknik membuat kopi dilakukan dengan cara mengangkat gayung tinggi-tinggi, kemudian menuangkan campuran kopi ke dalam gelas melalui media saringan kain berbentuk khas dan menyebabkan timbul buih dipermukaan gelas yang membangkitkan selera bagi para penikmat kopi. Pelancong belum merasa lengkap berada di Aceh apabila belum merasakan nikmatnya sajian kopi Aceh. Apalagi di Aceh terdapat sentra-sentra perkebunan kopi yang konon menghasilkan biji kopi terbaik yang pernah ada di Indonesia. Kopi Aceh memiliki cita rasa dan aroma yang khas dan hanya para pecandu kopi yang bisa membedakannya. Sulit bagi siapa saja, untuk melupakan betapa lezatnya minum kopi di Aceh.

Beberapa kalangan masyarakat Aceh sendiri, telah memanfaatkan kedai kopi sebagai ajang pertemuan dan tempat berkumpul sambil bercengkerama dan ngobrol. Biasanya antara sesama pengunjung tetap kedai kopi sudah saling mengenal satu sama lainnya, lantaran satu selera dan memiliki kebiasaan yang sama, serta sering bertemu muka di tempat tersebut. Bahkan di tempat ini juga akan terbentuk sebuah komunitas informal tanpa ikatan yang kuat namun bisa saling berbagi informasi. Mulai dari topik politik hingga perkembangan kurs mata uang. Sehingga muncul anekdot: “talo keu-ieng ngom, haba luwa nanggro“, yang bermakna kira-kira: ikat pinggang masih dari tali pandan, tapi bicaranya sudah menjangkau masalah luar negeri.

Beberapa keunikan juga melekat pada karakter beberapa pengunjung kedai kopi Aceh menjadi fenomena yang menarik. Ada di antaranya yang hanya sekedar “ngopi”, lalu setelah menyeruput secangkir kopi panas, mereka kemudian kembali ke habitat kegiatan dan pekerjaannya masing-masing. Ada yang datang tapi duduk sambil berlama-lama menikmati kopi seteguk demi seteguk, sambil ngobrol “ngalur-ngidul” dengan temannya. Tetapi ada pula kelompok pengunjung kedai kopi yang seharian bisa ngetem di kedai kopi sampai beberapa kali berganti topik pembicaraan, dan menikmati secangkir demi secangkir kopi kegemarannya, tanpa terusik oleh kondisi apapun hingga menjelang sore hari…*

Bunga Rampai 0 comments on Pengalaman Berobat di Rumah Sakit Negeri Jiran

Pengalaman Berobat di Rumah Sakit Negeri Jiran

Rumah Sakit Sardjito
Rumah Sakit Dr. Sardjito di Yogyakarta

Tahun 2007 kami sempat berobat di negeri jiran, di Pulau Pinang, Malaysia. Inisiatif ini kami ambil untuk mendapatkan pembanding (second opinion) dari dokter yang berbeda karakteristiknya dari dokter tempat kami berobat sebelumnya. Tapi tak perlu jauh-jauh, hanya mengambil tempat cukup di negeri jiran saja. Keuntungannya, dari segi budaya dan bahasa tidak akan menimbulkan persoalan. Demikian juga di mana sebelumnya kami mendapatkan kabar dari teman-teman yang sdudah ke sana, yang mengatakan, bahwa, pelayanan yang diterima relatif lebih baik dari negeri sendiri, akan tetapi dengan biaya yang sangat terjangkau. Sejak di airport sudah banyak petugas rumah sakit ataupun para penyedia kamar apartemen yang menunggu para tetamu dan turis yang akan berobat di negeri ini. Rupanya sebagian besar dari mereka sudah membuat perjanjian melalui situs resmi milik rumah sakit ataupun milik pengelola apartemen tertentu.

Mendarat di airport Pulau Pinang serasa bukan sedang berada di kampung orang. Dari fisik dan bahasa ocehan yang kita dengar tak jauh-jauh beda dengan beberapa dialek bahasa Indonesia yang terdapat di Pulau Sumatera. Yang membedakan adalah cara penanganan pemeriksaan yang tidak main-main terhadap penumpang yang baru datang dari luar negara tersebut. Tanpa pandang bulu, meskipun mereka itu pelancong berkulit putih. Bulè dan melayu tetap disamaratakan dalam mengikuti prosedur pemeriksaan di airport, yang terbilang sangat ketat.

Sesampai di rumah sakit tujuan, ada sedikit keterkejutan yang kita rasakan sejak di tempat pendaftaran hingga pelayanan demi pelayanan medis berikutnya. Karena memang tujuannya yang semula ingin memeriksa kondisi jantung, tapi malah diarahkan menjadi total check-up. Bahkan diiringi kata2: “tak payah khawatir nCek, kosnya tak ‘kan ekspensif lah“. Dan ternyata ucapan petugas di bagian pendaftaran tadi terbukti; dengan harga yang memang fantastis murahnya, tapi tetap dengan pelayanan yang prima. Para pasien yang berobat dibuat bagaikan raja, dilayani dengan segenap hati mereka, tanpa pandang status sosial dari negeri asalnya. Mau petani, nelayan, pedagang, pejabat ataupun pengusaha. Semuanya mendapat pelayanan yang serupa dan terstandardisasi. Apakah dari negeri asia, eropa, amerika, ataupun dari benua mana saja mereka datang, penanganannya tetap sama. Sama-sama pasien yang ingin berobat, ingin mengetahui penyakit yang diidapnya dan ingin kesembuhan serta menjadi sehat kembali.

Yang menarik lagi, di rumah sakit yang kami kunjungi, kantin makanan sehat yang terletak di lantai 1 bangunan pusat rumah sakit, menyediakan berbagai jenis makanan yang dimasak tanpa penyedap, pengawet, pewarna dan pemanis buatan yang berbahaya bagi kesehatan. Semuanya serba organik dan alami. Di kantin ini berbaur antara pengunjung, pasien, perawat dan dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut. Makan bersama di dalam kantin rumah sakit yang juga harganya sangat terjangkau tapi tetap dengan nuansa pelayanan yang ramah dan cepat.

Menyimak standar yang diterapkan di rumah sakit tersebut, rasanya sangat mungkin hal demikian dapat diterapkan di Indonesia. Karena tidak ada bedanya antara orang-orang Malaysia dengan orang Indonesia; mulai dari warna kulit, postur, bahasa serta budaya antarkedua negara. Mungkin yang membedakan hanyalah masalah keketatan regulasi, undang-undang, pengendalian dan konsistensinya. Semuanya dilakukan dengan cara serba sigap dan tangkas, tetapi tidak meninggalkan standar baku pelayanan medis yg tinggi: ramah, cerdas, cepat dan tepat sasaran. Konon dokter yg bertugas di RS tersebut pada umumnya adalah lulusan pendidikan spesialis dari luar negara yang dibiayai oleh kerajaan. Terlihat dari gelar dan asal yang tertera di belakang namanya, yang dipasang di dekat pintu pada masing-masing ruangan praktek. Dokter rumah sakit juga tidak berpraktik di luar rumah sakit ataupun di rumah sendiri serta di tempat praktek pribadi lainnya. Fokus utama adalah praktek di rumah sakit. Sedangkan membuka praktek pribadi hanya diperkenankan bagi dokter yang sudah purnatugas dari rumah sakit.

Ini adalah sebuah konsep wisata medis yg merupakan salah satu program dari pemerintahan PM Malaysia sebelumnya, DR. Mahathir Muhamad, yang diberi label “Wawasan 2020”. Tujuannya adalah berupaya menarik dan mengundang warga negara asing sebanyak mungkin, untuk berkunjung ke Malaysia sekaligus bertamasya menikmati keindahan Malaysia dan berobat dengan biaya yang terjangkau dalam pelayanan medis yang sangat profesional. Sangat luar biasanya, dalam kenyataannya program ini bisa diwujudkan, jauh sebelum batas waktu yang dicanangkan tercapai. Hasilnya, hampir semua bangsa ditemukan datang berobat di rumah sakit yang terdapat di seluruh Malaysia. Berobat sambil bertamasya. Berobat dengan biaya murah, sekaligus bisa berbelanja dan menikmati pesona Malaysia. Belum mencapai tahun 2020, satu per satu program “Wawasan 2020” sudah mulai tampak terrealisasi dengan baik. Di samping wisata medis dengan memperbanyak dokter spesialis lulusan luar negeri dan rumah sakit yang representativf, juga tidak ketinggalan, pengembangan Pulau Langkawi yang selalu siap menggelar “Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition”, yaitu, sebuah pameran teknologi bahari dan kedirgantaraan yang sudah memasuki kelas dunia, yang diikuti oleh berbagai peserta dari berbagai negara. Pengunjung dari mancanegara dapat menikmati keindahan bahari dan pesona daratan Malaysia serta sekaligus menikmati pagelaran teknologi mutakhir yang dipamerkan di sana.

Indonesia seharusnya bisa. Saya pernah berobat di Instalasi Gawat Garurat (IGD) di sebuah rumah sakit milik Departemen Pertahanan Republik Indonesia, di bilangan selatan Kota Jakarta. Dengan pelayanan yang sigap dan ramah saya merasa seperti sedang berobat di negeri tetangga yang pernah saya alami. Semuanya serba cepat. Saya hanya mendapat perawatan dan evaluasi selama kurang-lebih dua jam oleh dokter IGD serta para perawat yang bertugas di sana, dan kemudian telah diperbolehkan pulang. Dan biayanya pun sangat fantastis; sangat terjangkau oleh kalangan yang bersahaya. Dalam kesempatan waktu lainnya saya pernah berobat di IGD Rumah Sakit DR. Sardjito, Yogyakarta. Saya merasakan pelayanan yang cukup baik dari dokter dan perawat yang berada di ruang instalasi gawat darurat di sana. Saya berpikir, ternyata kita bisa, bersikap ramah kepada pasien dan mampu memberikan pelayanan yang baik, sigap dan cepat, sesuai prosedur. Dokter dengan sabar pula mendengarkan keluhan pasien dan kemudian mengambil tindakan medis lanjutan yang tepat. Kurang lebih dua jam kemudian, setelah mengalami observasi dan evaluasi oleh dokter sesuai dengan standar rumah sakit, saya pun diperkenankan pulang. Padahal untuk berobat yang kedua ini, kami menggunakan kartu BPJS Kesehatan dan tidak menggunakan pembayaran biaya secara langsung tunai.

Apa yang kami alami, merupakan sebuah awal dari sesuatu yang baik. Untuk mendapatkan pelayanan yang baik, khususnya di bidang kesehatan, maka dibutuhkan regulasi yang ketat, namun dengan memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah masing-masing serta kepada pihak rumah sakit untuk menetapkan standar manajemen yang akan diterapkan dalam mengelola pelayanan rumah sakitnya. Akan tetapi harus tetap dibarengi dengan peraturan yang jelas sanksi hukumnya dalam sebuah paying hukum yang berskala nasional. Bila regulasinya kuat dan konsisten, serta diikuti dengan tekad yang bulat, maka bukan tidak mungkin, pelaksanaan pelayanan, khususnya, di bidang kesehatan, pun, akan bisa menyamai dengan pelayanan kesehatan di negara tetangga tersebut.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah cita-cita menjadi dokter ataupun perawat haruslah merupakan cita-cita yang ditanamkan sebagi wujud dari keinginan untuk mengabdi bagi kemanusaiaan, bukan sekadar cita-cita ingin memperoleh pendapatan untuk kebutuhan hidup semata. Karena pilihan itu merupakan salah satu jalan cepat untuk menjadi kaya. Mindset orang yang akan mengabdi harus sudah tertanam sejak awal memilih profesi menjadi juru rawat ataupun dokter; bukan memilih karena “pelarian”, ataupun lantaran ingin cepat dapat pekerjaan, apalagi ingin cepat kaya. Kalau tidak, regulasi sebaik apa pun dan sanksi seberat apa pun tidak akan membantu untuk meningkatkan tata kelola dan pelayanan kesehatan di negeri ini. Persoalan ini bukan hanya soal regulasi dan sanksi, melainkan juga karakteristik dan orientasi yang dimiliki oleh entitas dari orang-orang yang berkecimpung di bidang pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Pada umumnya rumah sakit di Malaysia adalah berorientasi bisnis. Tetapi mereka tidak akan pernah meninggalkan fungsi utamanya untuk memberikan dan mengabdi pada bidang pelayanan kesehatan. Setiap ada pasien, bukan hanya rumah sakit yang diuntungkan. Akan tetapi pengelola apartemen, taksi, mal, dan warung-warung makan juga mendapatkan berkah yang dibawa oleh setiap pasien dan rombongannya. Pasien memperoleh layanan kesehatan dan kesembuhan dari rumah sakit serta dari profesi dokter dan juru rawatnya, sementara itu sebagai efek berlapisnya, pihak lain seperti: kerajaan (negara), rumah sakit serta dari profesi dokter dan perawatnya mendapatkan keuntungan dari pembayaran atas setiap jasa yang dia persembahkan. Pasien tidak sampai mengalami “uang habis badan binasa”. Untuk itulah dalam rangka meningkatkan devisa, kerajaan Malaysia, terus berupaya meningkatkan pelayanan wisata medis ini. Menjadikan setiap pengunjung “bak seorang raja”; merawat setiap pasien bagaikan berada di rumahnya sendiri; menjadikan setiap pengunjung dan pasien sebagai corong untuk mengiklankan setiap tindak tanduk kebaikan yang dialaminya selama di Malaysia. Sehingga dengan demikian, kontinuitas pengunjung yang berobat dalam paket wisata medis di Malaysia akan terus berlanjut atau bahkan akan terus bertambah dari bulan ke bulan yang dampaknya adalah peningkatan bagi pemasukan kepada pundi keuangan Negara Malaysia.

Negeri ini seharusnya bisa, hanya saja belum ada program yang mengarah ke sana untuk mendatangkan orang dari luar Negara, berwisata ke daerah yang sesuai dengan pilihan mereka; ke Banda Aceh, ke Sumatera Utara, ke Bali, ke Lombok,  ke Yogyakarta, ke Bandung dan juga ke Jakarta, sekaligus untuk berobat dengan mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan berkualitas tinggi. Bila hal itu bisa terjadi, bukan hanya nama harum Indonesia dari keindahan dan keunikan budaya yang diperoleh dari para wisatawan, akan tetapi mereka akan menikmati pelayanan kesehatan, sambil bertamasya di Indonesia; menjadikan Indonesia sebagai tujuan untuk berobat. Yang secara tidak langsung mengakui bagusnya kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Dampak lainnya adalah, masyarakat Indonesia akan menerima imbas dari peningkatan pelayanan kesehatan di dalam negeri. Dan masih ada multiplyer effect lainnya, semisal, baik bagi negara, bagi perekonomian masyarakat, maupun bagi daerah serta bagi pihak pengelola rumah sakit, negeri ataupun swasta.

Angan-angan seperti ini bukanlah ibarat isapan jempol belaka. Sebagian dokter asli Malaysia, yang bertugas di rumah sakit Malaysia, S1-nya, ada yang diperoleh dari perguruan tinggi di Indonesia. Akan tetapi untuk mengambil spesialis dan tingkat Ph. D., mereka dikirim ke negara-negara maju atas biasaya kerajaan. Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi negeri yang reputable untuk mendidik tenaga medis (dokter), bahkan hingga menjadi dokter spesialis tertentu sekalipun. Hal ini merupakan pontensi yang sangat berharga sebagai salah satu kekuatan yang dimiliki negeri ini. Demikian juga tenaga para juru rawat handal yang mampu berdedikasi dengan baik sebagai potensi sumber daya manusianya. Rumah sakit pun sudah banyak yang bertaraf internasional. Bila iklim keikhlasan, dan orientasi untuk memajukan Indonesia di bidang medis dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan dan seluruh stakeholder-nya, maka, bukan tidak mungkin wisata medis dapat dicanangkan sebagai salah satu program untuk menarik para wisatawan dari mana saja, untuk berkunjung ke Indonesia dalam rangka berobat dan sekaligus berwisata ke tempat-tempat yang indah, unik dan penuh pesona, yang terdapat di Indonesia.

Bukan untuk meniru konsep dari negara tetangga, melainkan atas dasar kepemilikan potensi yang luar biasa di bidang kesehatan dan di sektor pariwisata yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Yang dibutuhkan adalah sentuhan nilai tambah untuk membuat perubahan secara signifikan; mengubah mindset, pola pikir dan orientasi secara menyeluruh. Dimana, bila hal ini bisa tercapai, maka pada akhirnya akan menjadi sumber pendapatan dan devisa bagi negara ini, yang tentu saja akan lebih meningkat karena adanya nilai tambah tadi. Hebatnya negeri jiran, program “wisata medis” yang digagas oleh Mahathir, tidak semata hanya berupa sebuah wacana, yang hanya merupakan sebuah konsep dan sekian banyak tulisan dalam tumpukan kertas; hanya menjadi paperworks yang setelah dibaca lalu ditinggal begitu saja. Akan tetapi program tersebut diimplementasikan secara serius dan berkelanjutan, bahkan hingga pemerintahan sudah berganti seperti saat sekarang ini. Ada konsistensi, kontinuitas dan sustainabilitas serta kesamaan pikir untuk mempertahankan sesuatu yang baik yang terus diwujudkan sampai saat ini….**