Jogja Istimewa 0 comments on Harga Lebaran Melambung di Yogyakarta

Harga Lebaran Melambung di Yogyakarta

Jalan Malioboro
Suasana di sudut utara Jalan Malioboro

Idulfitri 1436 hijriyah baru saja berlalu dengan menyisakan berjuta kesan bagi masing-masing orang. Para pelancong dan pemudik pun sudah kembali ke kota di tempat di mana mereka berada selama ini. Namun Yogya tetap saja tidak pernah sepi dari pengunjung. Yogya terus bergulir bagai irama kehidupan yang tak ada putusnya. Para penduduk Yogya yang bepergian ke luar daerah dan para mahasiswa yang berlebaran di kampung halaman mereka, sudah mulai kembali secara berangsur-angsur jelang masuk kuliah pascalibur panjang. Begitu juga mahasiswa baru yang akan mulai mengikuti rangkaian kegiatan kemahasiswaan di kampus masing-masing di mana mereka diterima.

Ada sesuatu yang menyisakan ketidaknyamanan ketika berada di Yogyakarta bersamaan dengan hari lebaran yang baru saja berlalu. Momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga makanan dan jasa dengan cara spontan oleh sebagian pedagang dan penyedia jasa yang ada di Yogyakarta secara tidak simpatik. Banjirnya tamu2 selama liburan lebaran untuk bersilaturrami, disambut dengan sikap aji mumpung oleh sebagian para pedagang dan pengusaha di kota budaya ini. Banyak di antara para pengelola warung makan menaikkan harga makanannya dengan fantastis. Sate padang yang biasanya Rp 12000 per porsi, dinaikkan sampai Rp 6.000, sehingga menjadi Rp 18 ribu per porsinya. Padahal biasanya, dengan Rp 12 ribu, orang sudah bisa menikmati satu porsi sate yang terdiri dari 1 ketupat plus 6-7 tusuk sate padang lidah sapi.

Begitu juga tarif parkir mobil di wilayah seputar Yogya yang biasanya hanya Rp 2.000, menjadi Rp 10.000 – Rp 15.000 rupiah tiap mobil. Baik parkiran maupun para penjual, memang sedang kebanjiran pengunjung dan pembeli, sehingga dalam beberapa hari lebaran saja mereka bisa meraup keuntungan secara drastis. Demikian juga untuk sekali cuci mobil, yang biasanya hanya Rp 35.000, untuk harga lebaran menjadi Rp 50.000.

Idulfitri memang merupakan hari berkah, sebagai hari kemenangan bagi orang mukmin, sebagai pengejawantahan dari kegembiraan karena telah sukses mengendalikan hawa nafsu serta sukses menyelesaikan ritual ibadah selama sebulan penuh di dalam bulan Ramadhan. Hari ini juga merupakan saat untuk saling berbagi kegembiraan dan bersilaturrahim. Tetapi sayangnya yang terjadi adalah ada pihak-pihak yang justru mengambil kegembiraa para pemudik dan pelancong yang tumpeg bleg ke kota ini. Bagi warung dan penjual makanan, ini menjadi kesempatan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, karena pendatang yang mencari makan, hanya memiliki sedikit pilihan; banyak warung-warung makan yang tutup selama liburan idulfitri. Sehingga mau tidak mau harus makan walaupun harganya ternyata lebih mahal daripada biasanya. Dinaikkan atas perintah bos warung, kata pelayan di situ.

Fenomena “menaikkan harga dadakan” ini menjadi tren khusus untuk lebaran, memaksimalkan jumlah pengunjung luar kota yang mudik ke Yogyakarta, ataupun sekadar pelancong yg memanfaatkan liburan panjang sekaligus ganti suasana lebaran di Yogyakarta. Dapat diamati dari plat nomor kendaraan yang memenuhi wilayah Yogyakarta yang umumnya memang berasal dari luar kota. Memenuhi seluruh jalanan Kota Yogyakarta, pada pusat-pusat perberlanjaan serta objek wisata yang ada disekitarnya.

Periode kenaikan harga juga bervariasi. Ada yang sudah di mulai H-7 hingga H+7, ada pula yang menetapkan periode yang lebih pendek. Apakah ini hanya sekadar memanfaatkan berjibunnya orang luar kota dengan meningkatkan pelayaan dan rasa yang lebih baik, sehingga wajar bila harganya naik, ataupun sebagai sarana untuk mengeduk pendapatan yang lebih booming daripada biasanya dalam waktu singkat. Tapi yang jelas dampak terburuk adalah bagi pemudik dan pelancong yang telah menetapkan budget pada taraf tertentu dengan sangat terbatas, untuk kunjungan ke Yogyakarta yang terkenal ramah, murah dan meriah untuk waktu tertentu. Mereka telah jauh-jauh hari mengumpulkan uang dengan sedikit demi sedikit dan sudah merencanaankan anggaran secara detail dalam keadaan pas-pasan. Kalau pun ada biaya tak terduga kemungkinan sekitar 10 perses dari total dana yang dipersiapkan untuk ke Yogyakarta.

Dalam kondisi harga yang makan yang tidak terkendali di Yogyakarya, tentu saja mereka harus mengalami kejutan lantaran harus merogoh saku lebih dalam lagi. Apalagi untuk harga sekali makan, bila yang diboyong adalah keluarga besar, terdiri suami, istri dan beberapa anggota keluarga lainnya, maka dapat dibayangkan beratnya mendapati kenyataan yang di luar dugaan seperti itu. Bagi yang punya saudara atau memang rumah orang tuanya di Yogyakarta kenyataan ini tak jadi masalah. Karena tidak harus terpaksa makan di luar. Demikian juga bagi mereka pemudik atau pelancong yang memang memiliki spare dana yang lebih banyak, yang tidak terlalu menghiraukan berapa pun pengeluarannya.

Sikap sementara pedagang yang berbuat demikian memang sangat tidak simpatik, karena tidak menggambarkan watak ke”yogyakarta”-an dan sangat tidak mewakili sifat-sifat masyarakat Yogya yang sesungguhnya. Aji mumpung sendiri merupakan salah satu sifat budi pekerti yang rendah kedudukannya bila ditelusuri dalam hirarki sifat-sifat yang baik dan buruk dalam budaya Jawa. Apa yang dilakukan oleh sementara pendagang makanan, merupakan tindakan sepihak atas inisiatif dan pertimbangan sendiri serta demi kepentingan sendiri dengan tujuan ingin mendapatkan keutungan sendiri secara besar dalam waktu yang relatif singkat. Kedua belah pihak akan saling merasa, si penjuan merasa senang dan gembira, knarena degan dagangannya laku, maka dia sudah memperoleh keuntungan kira-kira 30 persen lebih besar dari keuntungan biasanya; pihak pembeli merasa berat dengan pengeluaran yang di luar perhitungan tersebut, meskipun keadaan memaksa.

Kini semuanya telah terjadi dan berlalu begitu saja seiring dengan kegiatan rutin yang sedang menunggu di tempat kerja dan dalam kesibukan keseharian di kota asalnya masing-masing. Masyarakat hanya bisa mengharap mudah-mudahan akan ada perbaikan pelayanan publik ketika memasuki lebaran tahun depan. Meskipun secara hukum formal tidak ada satu pasal pun dari isi kitab undang-undang yang dilanggar, baik oleh pengelola warung ataupun bagi pihak penyedia jasa, akan tetapi, tetap dibutuhkan pertimbangan rasa empati dan etika di dalam menetapkan sesuatu yang berkaitan dengan layanan terhadap orang banyak, apalagi hal itu menyangkut penentuan kenaikan harga makanan secara dadakan  yang mencapai 30-50 persen. Demikian juga sangat diperlukan langkah instrospeksi untuk mengingat kembali sikap-sikap, tindakan-tindakan, dan prilaku spekulasi yang tidak tepat, sehingga bisa diubah menjadi sikap yang lebih baik lagi di hari-hari mendatang. Puasa Ramadhan seyogyanya memberikan sesuatu yang lebih menjadikan manusia bertambah arif, usai melakoni proses penggemblengan selama satu bulan penuh untuk merengkuh derajat takwa dan fitrah. Syukur-syukur, di masa datang, ada pihak terkait yang bisa menghimbau para pedagang dan penyedia jasa untuk tetap berpegang teguh secara konsisten menjaga, memelihara dan menghormati jati diri, nama baik dan nama besar Daerah Istimewa Yogyakarta….**

Jogja Istimewa 0 comments on Budaya lalulintas yang bersahabat

Budaya lalulintas yang bersahabat

Yogyakarta penuh dengan keunikan budaya. Dengan label “kota pelajar”, ianya, terus menuai daya pikat dari siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan di sini. Tingkat populasi kaum terpelajar yang tinggi, menjadikan iklim belajar di kota ini, benar-benar kondusif dan nyaman untuk menuntut ilmu. Keraton yang menjadi pusat budaya, dengan berlatar budaya Jawa, —yang mencerminkan sifat manusia terpelajar dan berbudi luhur: santun, lembut, penuh pertimbangan—, ikut berkontribusi mendukung berlangsungnya proses belajar-mengajar di Yogyakarta. Di kemudian hari, sifat-sifat ini ada yang terbawa jauh, ke tempat para penuntut ilmu berasal dan memberi warna bagi lingkungan mereka.
Pertambahan penduduk Yogyakarta, secara instan selalu terjadi seiring gelombang kedatangan calon mahasiswa pada setiap awal tahun ajaran baru. Jumlah mahasiswa yang masuk dan yang keluar, sangat tergantung laju kelulusan. Kondisi ini kemudian diikuti dengan peningkatan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan laju penambahan luas jalan, dan berdampak pada kemacetan.
Secara umum penumpukan kendaraan, terjadi pada daerah yang berdekatan dengan pusat pendidikan dan perbelanjaan. Selain di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman merupakan jalur lalulintas dengan frekuensi yang tinggi, terutama pada waktu berangkat kerja, ke sekolah ataupun ke pasar; atau pada jam pulang, usai beraktivitas.
Sebagian pengendara adalah mereka yang datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu, yang kondisi lalulintasnya di daerah asalnya tidak sama dengan lalulintas di Yogyakarta. Di sebagian daerah, jumlah kendaraan belum sebanyak di Yogyakarta, demikian juga ketertiban lalulintas yang terbilang longgar.
Menjadi fenomenal, ketika angkatan sebelumnya telah mampu menyesuaikan diri, tiba-tiba pada pergantian tahun ajaran, Yogyakarta dipenuhi kembali oleh calon mahasiswa baru yang membawa kebiasaan masing-masing. Positifnya, ini merupakan pengayaan budaya yang mencerminkan kebhinekaan. Akan tetapi akan bermakna lain manakala kemampuan adaptasi tidak bekerja secara baik. Akibatnya berbias pada tingkah laku di jalan raya. Ternyata pola kehidupan Yogyakarta, tidak serta merta memberikan perubahan bagi seseorang untuk inherent ke dalam budaya Yogyakarta. Butuh waktu untuk proses akulturasi.
Sengaja membandingkan dengan suasana lalulintas Jakarta, lalulintas di Yogyakarta memiliki pemandangan yang khas. Pengguna jalan di Yogyakarta cenderung saklek dengan peraturan; pengendara yang berjalan lurus harus selalu didahulukan, sehingga pengendara yang berbelok perlu bersabar. Ini jadi unik, lantaran kepadatan lalulintas, tidak memberikan ruang yang cukup bagi pengendara yang akan berbelok di jalan yang tidak ada lampu merah, ataupun bagi pengguna jalan lainnya untuk menyeberang.
Banyak lokasi yang menimbulkan kemacetan di Jakarta, sama sekali tidak dipandu oleh petugas, tetapi masyarakat mampu mengurai kemacetan dengan cara mereka sendiri secara tertib, sudi saling memberi tanpa merasa ada yang dikalahkan. Pengalaman telah menumbuhkan sikap empati dan etika berlalulintas bagi warga Jakarta, untuk bisa menghargai pengguna jalan lain dan membentuk saling pengertian. Keduanya tertanam dalam diri masing-masing pengguna jalan, sehingga proses pemanfaatan jalan, aman dan lancar.
Tradisi seperti ini jarang terlihat di Yogyakarta, sehingga, bagi yang terbiasa berkendaraan di Jakarta, akan merasa gamang, ketika pertama sekali berlalulintas di Yogyakarta. Mudah dijumpai, para pengendara menyodok secara sembrono, tanpa mengurangi laju kendaraan ketika melihat ada kendaraan akan berbelok di depannya; atau ketika melihat ada pejalan kaki yang akan menyeberang, pada zebra cross sekalipun. Padahal sudah ada tanda lampu “sign” yang dinyalakan. Memperlambat ataupun berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada pengguna jalan lain, dianggap tidak biasa. Padahal merupakan sikap elegan yang menggambarkan keluhuran budi, dan tidak akan menimbulkan kerugian apapun.
Menjadi ironis pula, bila sikap tidak empatetis seperti itu, ikut dipertontonkan oleh orang-orang terpelajar, seumpama, tokoh, guru atau pengajar dari perguruan tinggi. Tidak tampak sikap rebutan mengalah di jalan raya; yang ada semuanya ingin mendapat kesempatan pertama; selalu merasa ingin didahulukan. Sikap ini tidak mewakili budaya luhur yang semestinya dimiliki masyarakat Yogyakarta, yang tepa selira dan penuh pengertian. Sikap ini tumbuh secara liar hanya semata-mata ketika berkendara di jalan raya. Sementara itu di tengah masyarakat tampak hidup penuh guyub, rukun dan sangat damai.
Seyogyanya, Yogyakarta, harus bisa menjadi pelopor sebagai kota tertib lalulintas. Peringatan dan semboyan yang telah ditempatkan pada sudut-sudut jalan, sepatutnya, wajib dipatuhi bersama, sembari berupaya untuk menumbuhkan sikap empati di jalan raya. Semuanya tentu saja untuk menuju kepada kepentingan bersama: yaitu, Yogyakarta yang tertib, aman dan lancar dalam berlalulintas….**