Aceh lon Sayang 0 comments on Falsafah Kontroversialisme dalam Pola Kehidupan Orang Aceh

Falsafah Kontroversialisme dalam Pola Kehidupan Orang Aceh

Saya tidak tahu pasti apakah judul ini benar atau tidak? Dan apakah ada aliran filsafat yang membahas tentang sikap kontroversi komunal yang dikemas atas nama keilmuan? Saya pun benar-benar tidak mengerti bagaimana tiba-tiba judul itu bisa didapat.

Ceritanya, memang ingin mengatakan bahwa orang Aceh itu sangat spesifik. Karakter, bawaan, kebiasaan dan hubungan antarpersonal juga terlihat sangat tipikal. Terkadang ada kesan “mata hu, su meutaga” dalam mengungkapkan ekspresi. Tapi sebetulnya hanya sedang seru saja. Untuk menambah kehangatan dalam berkomunikasi.

Dalam sebuah syair Aceh disebutkan bahwa: “ureung Aceh nyang jak meuprang, ureung padang nyang peugah haba; Ureung Batak nyang duek ji kanto, nyang boh ato awak Jawa“. Orang Aceh yang berperang, orang Padang yang bicara, orang Batak yang di kantor, yang jadi pengatur orang Jawa.

Entah dari mana pula syair ini bisa mengentas ke alam nyata, yang menggambarkan realita dari sebuah “sifat” orang Aceh yang suka berperang.

Rumah yang nyaman untuk didiami

Rumoh Aceh: arsitekturnya adaptif terhadap lingkungan sekitarnya. pictures viagra pills

Hampir setiap periode 17 tahun sekali selalu ada perputaran peristiwa yang berkaitan dengan bunuh membunuh. Entah itu secara vertikal ataupun konflik horizontal yang ujungnya meminta korban jiwa dan meninggalkan trauma.

Nyali

Saya masih ingat ketika terjadi sebuah kontak senjata pada masa darurat militer, bagaimana kombatan GAM tetap berdiri bebas sambil bergerak maju, mendekatkan jarak ke aparat yang dilengkapi rompi anti peluru dan berlindung di balik pepohonan.

Sementara anggota GAM hanya mengenakan kaos singlet dan bersendal jepit sambil membidikkan senjata laras panjang dan merangsek maju. Entah terbuat dari bahan apa nyali yang terpasang dalam hatinya, sehingga begitu nekad mempertontonkan sebuah batas hidup dan mati.

Chauvinistic

Bila dari luar terlihat garang, suka berperang dan bersuara rada tinggi, bukan berarti tidak ada sisi lain dalam diri orang Aceh. Ungkapan bercanda, “wajah memang perang, dik; tapi hati abang romantis”, bisa jadi sebagai gambaran bahwa ada kandungan kelembutan dalam diri pria Aceh. Tidak melulu tentang perang.

Bahwa ada anggapan orang Aceh antiasing (chauvinistic), itu bukanlah sebuah keadaan yang benar. Sejak jaman kerajaan Aceh, dataran Aceh sudah dijejaki oleh orang-orang asing yang datang dari berbagai belahan dunia. Arab, India, Turki, China, serta anak-cucu keturunan Portugis dan juga dari berbagai penjuru nusantara.

Sehingga di tiap-tiap kabupaten, sejak dulu kerap ditemukan nama kampung berdasarkan etnis: Gampong Jawa; Gampong Kleng, Gampong Cina dan sebagainya. Ataupun nama panggilan yang berdasarkan asal etnis: Teungku Batak, Nek Bugeh, Pak Said, termasuk begitu banyaknya orang Aceh yang memiliki nama (fam) keturunan Arab seperti syarifah dan habib.

Hingga sekarang warna Aceh mewakili tipikal latar belakang bangsa yang pernah berbaur di daratan Aceh. Gampang dijumpai orang Aceh yang putih mirip China, hidung mancung mirip Arab atau Turki atau India, berkulit hitam mirip Tamil, bermata biru mirip mata Portugis. will there generic viagra us

Semua itu terjadi karena adanya proses amalgamasi bangsa yang telah membentuk Aceh sejak berabad-abad yang lalu. Yang membuktikan Aceh sudah sangat terbukan sejak jaman dulu.

Apabila di kemudian hari, pada hari ini, Aceh digambarkan suka berperang, maka akan sulit mengungkapkan asal-usul sifat ini bisa melekat pada diri orang Aceh.

Daerah modal

Tidak ada kompromi terhadap penjajah Belanda, diperagakan bukan hanya oleh kaum laki-laki. Perempuan Aceh, sudah mengukir dirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan untuk membebaskan tanah Aceh dari cengkraman penjajah. Bukan dengan tinta, tapi dengan senjata.

Hanya di tanah Aceh para jendreral dan bala tentara Belanda tidak bisa merasakan tidur nyenyak sepanjang periode perang (pendudukan); selama kurang lebih enam dasawarsa. Sejak maklumat perang Belanda terhadap Aceh Maret 1873. what color is cialis pills

Bila kemudian Aceh ditabalkan sebagai daerah modal, maka hal itu lantaran tanah rencong memang tidak pernah berhsil ditaklukkan sama sekali, hingga Belanda angkat kaki dari tanah rencong.

Adanya kantong wilayah yang masih bebas, memberikan kesempatan kepada negara ini untuk mengklaim bahwa nusantara ini belum pernah jatuh seutuhnya ke tangan Belanda.

Komunike yang dikirimkan melalui radio rimba raya Aceh, yang dapat diterima dunia internasional, sebagai bukti bahwa Indonesia belum menyerah. Ini sebagai syarat agar negeri ini bisa memperoleh pengakuan kemerdekaannya.

Cinta damai

Kelakar tentang pembentukan kata Aceh yang merupakan kependekan dari, Arab, China, Eropa, Hindustan, tidak sepenuhnya salah kaprah. Meskipun kata Aceh, seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Aboebakar Aceh, sesungguhnya berasal dari kata “aca“, yang terucap pada saat orang-orang dari India Belakang mendarat di pantai Pidie.

Aca” yang berarti indah, merupakan ungkapan rasa kagum ketika untuk pertama kali mereka melihat pantai Aceh yang begitu permai. Seiring perjalanan waktu, kata “aca” mengalami metamorfosa berubah menjadi Aceh.

Heroisme, patriotisme dan epos, yang mengelayuti orang Aceh, tertanam dalam diri orang Aceh seperti sekarang ini, lantaran adanya pengaruh berbagai karakter yang membentuk manusia Aceh. Di samping juga kebiasaan masyarakat Aceh yang hidup dalam tantangan alam yang dialaminya di laut, maupun di dalam rimba yang ganas.

Banyak kontroversi yang timbul, bahwa, “orang Aceh” terkesan tidak bisa hidup damai. Tapi sesungguhnya itu bukan merupakan hipotesis yang bisa dibenarkan. Suku Aceh, merupakan sebuah entitas yang cinta damai. Hal yang paling sensitif yang dapat memunculkan sikap reaktif adalah manakala harga diri terusik oleh berbagai alasan. nombre generico levitra tadalafil 20 mg

Martabat merupakan faktor penting yang harus dipertahankan hingga tetes darah pengahabisan. (meskipun nyawa dan raga terpisahkan). lloyds pharmacy online cialis

Persoalan Aceh seakan tak pernah terselesaikan. Faksi politik yang terbelah dari induk Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dalam lima tahun terakhir terus bergesekan. Sudah banyak jatuh korban dari masing-masing faksi.

Jelang pilkada 2017, hubungan kedua faksi tersebut cenderung semakin memburuk. Hidup dalam tensi tinggi; saling bersiap, dan saling menyerang. Siap perang tapi tak siap damai.

Padahal ketika “jaman perang” masing-masing mereka saling menjaga dan saling menyayang. Namun itulah Aceh, tanah permai yang penuh dihiasi dengan kontroversi…**.

Aceh lon Sayang 0 comments on Menanti Laga “Derby” Dalam Pilkada Aceh 2017

Menanti Laga “Derby” Dalam Pilkada Aceh 2017

Pilkada Aceh baru akan terjadi pada awal tahun 2017 nanti. Tapi gonjang ganjengnya sudah mulai terasa sejak pertengahan tahun 2015 yang lalu. Terbukti dengan banyaknya bermuculan kandidat calon dari berbagai kalangan. Bakal calon ini pun bukan orang sembarangan yang keluar dari kotak pandora. Akan tetapi mereka, di antaranya sudah sangat dikenal secara luas di seluruh Aceh, dengan pengalaman di dunia politik dan jabatan di lingkungan pemerintahan yang seabreg.

Pada awalnya pernah muncul nama, Tarmizi Karim, menghiasi halaman surat kabar sebagai salah satu calon kandidat. Tarmizi mendapat sambutan yang sangat antusias sebagai figur yang diunggulkan. Bekal sebagai Bupati Aceh Utara dan kemudian beberapa kali dipercayakan sebagai pelaksana tugas Gubernur di beberapa daerah, dirasakan lebih dari cukup sebagai syarat untuk menjadi gubernur Aceh.

Apalagi Tarmizi dianggap dekat dengan pusat, sehingga diasumsikan segala sesuatunya akan menjadi mudah dalam lobi-lobi bagi kepentingan Aceh ke depan. Tarmizi yang berlatar belakang Golkar, belum mendapat sinyal yang jelas dari Golkar sendiri. Karena konon Golkar akan mendorong Teuku Nurlif, tokoh Golkar pusat asal Aceh, untuk dilaga dalam pilkada nantinya.

Perjuangan Tarmizi mencari perahu untuk mengarungi pilkada terasa berbelit-belit dan mengalami jatuh bangun. Pendekatan ke Partai Demokrat juga tidak membawa hasil apa-apa. Posisi Tarmizi menggantung hingga akhirnya muncul compatriot ketua DPD-nya dengan Irwandi Yusuf.

Mualem dan Irwandi
Mualem dan Teungku Agam, dua pentolan GAM yang akan menjalani laga derby dalam Pilkada Aceh 201

Sebelumnya tersebar nama-nama unggulan di tengah masyarakat, seperti Irwandi, Muzakkir, Zaini, Zakaria Saman, Tarmizi Karim dan T. Nurlif, serta nama-nama beken lainnya. Namun kini semakin menyempit dan tinggal mengarah kepada persaingan “derby” antara Irwandi dan Muzakkir. Karena kedua orang inilah yang saat ini memiliki pengaruh yang besar di tengah masyarakat Aceh.

Irwandi dapat dipastikan akan bergandeng tangan dengan Nova Iriansyah yang juga sebagai ketua DPD Partai Demokrat Aceh saat ini. Menariknya mereka berdua mempunyai latar belakang yang sama; sama-sama sebagai akademisi. Irwandi pernah menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, sementara itu Nova, yang alumni ITS Surabaya, adalah juga dosen di Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.

Mereka berasal dari kawah candradimuka yang sama dalam periode yang berbeda. Irwandi melepaskan bannya sebagai dosen untuk ikut berjuang bersama “Wali”, sedangkan Nova rela melepaskan baju pengajarnya untuk terjun mengarungi lautan politik dengan memilih Partai Demokrat sebagai tempat berlabuh.

Representasi pesisir dan dataran tinggi

Lebih menariknya lagi, mereka seakan menjadi representatif masyarakat pesisir dan dataran tinggi Aceh. Irwandi berasal dari pesisir utara Aceh; Nova merupakan putra negeri sepakat segenap yang sangat dikenal di daerah dataran tinggi Alas dan Gayo.

Baik Irwandi maupun Nova, kedua-duanya sudah sangat akrab dengan masyarakat “Aceh lhe sago“. Nova pernah menjadi anggota parlemen Senayan dari Partai Demokrat, mewakili daerah pemilihan Aceh satu, yang meliputi, pantai barat selatan, Aceh “rayek” dan sekitarnya serta daerah dataran tinggi Alas.

Sementara itu Irwandi yang pernah menjadi gunernur Aceh sebelumnya, dikenal rajin melakukan incognito ke daerah pesisir barat-selatan dan ke wilayah dataran tinggi Aceh. Sehingga muncul kesan bahwa kedua wilayah tersebut semakin mendapat perhatian ketika periode Irwandi menjadi gubernurnya.

Akan halnya Muzakkir Manaf, ianya merupakan komandan GAM yang memegang kendali tampuk operasional tentara GAM untuk seluruh wilayah Aceh. Muzakkir naik menjadi panglima, menggantikan Abdullah Syafii yang “syahid” dalam pertempuran di wilayah Pidie.

Sejak saat itu wajahnya kerap menghiasi halaman surat kabar dan muncul di layar kaca televisi. Bukan hanya orang Aceh mengenal sosok yang satu ini, bahkan hampir seluruh masyarakat di pelosok nusantara pernah melihat wajahnya melalui siaran berita telivisi, ketika perang masih berkecamuk di tanah Serambi Mekkah. Muzakkir mengambil T. A. Khalid sebagai pasangannya.

Khalid pernah menjadi Ketua DPR Kota Lhokseumawe mewakili Partai Bintang Reformasi. Hubungan Khalid dengan GAM mendapat titik balik ketika Khalid secara perorangan menggugat waktu pelaksanaan pilkada Aceh ke Mahkamah Konstitusi, yang sebelumnya akan berlangsung tanpa calon dari GAM (baca Partai Aceh). Khalid dianggap berhasil memberikan kesempatan kepada pasangan kandidat yang mewakili PA dalam pilkada yang diadakan pada tahun 2012 dan sekaligus “memenangkan” mereka dengan mengandaskan kesempatan Irwandi menjadi gubernur untuk kedua kalinya pada waktu itu.

Atas inisiatif itu pula Muzakkir yang belakangan “berbaikan” dengan Prabowo –yang dulu bermusuhan tatkala terjadi perang, GAM vs TNI–, berhasil menjadikan T. A Khalid sebagai punggawa tertinggi Partai Gerindra “milik Prabowo” di Provinsi Aceh. Muzakkir berasal dari Aceh Utara, yang masuk ke dalam wilayah Pase dalam peta geografis GAM. Wilayah ini menjadi salah satu basis militan terbesar kekuatan GAM selama konflik berlangsung. Sedangkan Khalid meskipun pernah berkiprah di “wilayah Pase” sebetulnya berasal dari Pidie Jaya, pecahan dari Kabupaten Aceh Pidie.

Pada paruh perjalanan masa pemerintahan Aceh, hubungan antara Gubernur Zaini dan wakilnya Muzakkir Manaf sudah mulai rengat dan saling menjauh satu sama lainnya. Zaini disebut sebagai orang yang sangat “calculating” dalam segala hal. Budaya Swedia ada melekat pada dirinya, yang oleh Muzakkir dianggapnya tak cocok dengan budaya lokal. Zaini memiliki kapabilitas yang terbilang lebih baik dari wakilnya.

Muzakkir berasal dari seorang kombatan GAM yang kemudian dipercayakan menjabat “Panglima Tertinggi” GAM. Sementara Zaini merupakan diplomat yang dipercaya oleh Wali Nanggro sebagai anggota kabinet negara Aceh di pengasingan.

Kiprah Zaini dalam gerakan perjuangan pembebasan Aceh sudah dimulai sejak Wali Nanggro, Teungku Hasan Tiro, memproklamirkan negara Aceh di Gunung Halimun di daerah Pidie pada tahun tujuh puluh enam. Setelah itu praktis Zaini yang seorang dokter itu, mengikuti Wali hingga menetap di Swedia dalam menjalankan pemerintahan Aceh dari jarak jauh. Di sisi lain Muzakkir Manaf adalah kombatan yang mendapatkan pelatihan intensif kemiliteran di Lybia pada angkatan kedua.

Baik Muzakkir maupun Irwandi, keduanya pernah sama-sama mendapatkan pelatihan serta memiliki kemampuan menjalankan helikopter dan pesawat terbang. Mualem yang ahli strategi tempur  dan perang gerilya merupakan alumnus Lybia, sedang Irwandi adalah ahli propaganda perang lepasan Venezuela.

Dalam perjalanan kepemimpinannya, Zaini banyak memberikan peluang kepada birokrat yang berasal dari Pidie, dan konon sambil menyapu bersih “orang-orang” Muzakkir dari kursi empuk mereka di pemerintahan. Dokter Zaini Abdullah, sang gubernur, memang berasal dari Pidie. Perseteruan ini terus berlangsung sehingga masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan arah yang tidak sama.

Muzakkir, yang memegang kendali tampuk pimpinan tertinggi Partai Aceh (PA), dapat dengan mudah menggapai kendaraan untuk maju dalam pilkada mendatang. PA yang memiliki modal 29 kursi DPRA sudah lebih dari cukup untuk mengusung ketua umumnya, Muzakkir Manaf, untuk maju sebagai kandidat gubernur Aceh.

Posisi Zaini, kini menjadi gamang dalam menyikapi kondisi ini. Padahal Zaini pun ingin maju kembali untuk periode kedua. Posisi Muzakkir lebih diuntungkan di bandingkan mantan pentolan GAM lainnya seumpama Zaini, Irwandi dan Zakaria Saman. Irwandi yang hanya memiliki tiga kursi Partai Nasional Aceh (PNA) di DPR Aceh, beruntung diterima melamar Partai Demokrat. Tinggal Pak Doto Zaini Adullah dan Zakaria Saman yang tidak jelas jalannya.

Irwandi sudah teruji sebagai gubernur dan berhasil membuka isolasi daerah pantai barat-selatan dan wilayah dataran tinggi. Banyak tokoh-tokoh dan birokrat potensial dari kedua wilayah tersebut yang dipercayakan menjadi bagian dari pemerintahan Aceh di saat Irwandi menjabat Gunernur.

Faktor “X”

Pasangan baru Drh. Irwandi Yusuf, Ir. Nova Iriansyah, memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek dan pernah banyak berbuat untuk Aceh melalui program yang didukung DPRRI, untuk wilayah Aceh. Sehingga Nova pun tidak asing lagi bagi masyarakat pesisir barat-selatan dan dataran tinggi Alas.

Muzakkir, karena posisinya menjadi orang kedua, tidak banyak yang dapat dia lakukan, kecuali hanya kegiatan seremonial yang tidak menjadi tolok ukur dalam menguji kemampuan seseorang. Muzakkir berada di bawah bayang-bayang sang “doto” yang dalam menjalankan pemerintahannya terkesan “one man show”. Hampir tidak ada celah bagi Muzakkir untuk menunjukkan kemampuannya dalam peran menjalankan roda pemerintahan. Pak Doto jalan sendiri; Mualem jalan sendiri.

Sudah dalam dua periode ini kondisi serupa berulang terjadi di Aceh. Ketika Irwandi jadi gubernur, Nazar, sering bertindak nyeleneh sendiri. Menurut istilah dalam bahasa Aceh, “kreuh bhan keu ngon bhan likot“, lebih keras ban depan dari pada ban belakang. Ban depan diibaratkan sebagai orang yang menjalanan kebijakan, sedangkan ban belakang adalah pemilik kebijakan. Sehingga sampai akhir periode, Irwandi dan Nazar tak pernah sejalan dalam menjalankan pemerintahan.

Pilkada di Aceh selalu dibarengi dengan “Faktor X” sehingga arahnya pun sulit direka-reka; konon lagi untuk menebak  hasil akhirnya. Masyarakat di pedesaan belum terbiasa dengan persepsi politik yang harus mereka miliki. Karena itu “arus” sangat menentukan akan kemana suara mereka ditambatkan. Jika di kota-kota sudah ada pola pemikiran yang mapan dalam menimbang kondisi politik, maka hal semacam itu tidak berlaku bagi orang desa.

Bagi orang desa, “barangkaso jeut, asai bek karu-karu le“; siapa saja tak jadi soal, yang penting jangan ada keributan lagi. Mereka sudah sangat lelah menghadapi berbagai peristiwa yang menerpa Aceh dalam dua dasawarsa belakangan ini.

Sekarang tinggal bagaimana para “kandidat” menatap pilkada kali ini? Memang dibutuhkan jiwa besar untuk menjaga pilkada agar menjadi ajang demokrasi yang bebas dari intimidasi, kecurangan dan manipulasi. Di samping kandidat yang bersaing, maka peran KIP (KPU di Aceh) dan Bawaslu juga merupakan pihak yang menentukan arah pilkada yang akan dilaksankan.

Sejauh mana pihak-pihak yang terlibat ini bisa berperan objektif dalam menghasilkan pemenang pilkada secara fair. Harus ada keinginan dari seluruh pihak untuk membiarkan kompetisi ini berlangsung secara bersih, halal, demi untuk mewujudkan Provinsi Aceh, yang “baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur“…*.

Aceh lon Sayang 0 comments on Hiruk Pikuk Bakal Calon Gubernur Aceh

Hiruk Pikuk Bakal Calon Gubernur Aceh

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi untuk jabatan Aceh-1

Pilkada serempak baru akan terjadi pada tahun 2017 mendatang. Tak terkecuali untuk Provinsi Aceh. Pascapenandatangan MoU, sudah berlalu lebih dari satu dekade. Dan hingga sudah memasuki decade kedua, kekuatan GAM yag direpresentasikan oleh Partai Aceh terlihat masih eksis. Dalam pengamatan pakar kebiasaan sebuah perjanjian damai akhir dari sebuah pergerakan separatisme, hanya akan memberikan kepada pihak yang pernah bertikai selama selambat-lambatnya dalam dua atau tiga periode peralihan pemerintahan. Selebihnya akan kembali kepada kondisi perpolitikan yang normal. (Andi A. Malarangeng, 2011). Dalam kurun waktu tersebut masih tumbuh bunga-bunga eforia yang menyemangati perjuangan politik dan bersenjata sebelumnya.

Banyak nama yang muncul ketika memasuki periode ketiga pemilihan kepala daerah di seluruh Aceh. Tapi yang menarik fokus konsentrasi masyarakat adalah pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Dari sekian banyak nama yang benar-benar telah tersosialisasikan secara luas adalah sosok Irwandi Yusuf, mantan gubernur periode 2007-2012; dan Muzakir Manaf, wakil gubernur petahana (incumbent) yang sudah dielu-elukan oleh pengikutnya untuk maju sebagai bakal calon gubernur mendatang. Irwandi memiliki jargon yang sudah beredar di dunia maya: “Kamoe Sajan” dan “Beusaboh Hate Sajan Irwandi”. Sementara jargon untuk basis kampanye Muzakir Manaf adalah “Rakan Mualem” yang tersebar hingga mendarat di tingkat kecamatan. Bila Irwandi peredarannya baru tingkat antarpersonal, maka Muzakir Manaf sudah lebih melembaga hingga terbentuk pada tingkat kecamatan.

Di sisi lain ada suara-suara yang menginginkan Tarmizi Karim, yang sudah berpengalaman sebagai Bupati Aceh Utara dan Plt. Gubernur beberapa kali untuk beberapa daerah, tak terkecuali untuk Provinsi Aceh, yang bakal tampil sebagai salah satu kandidad bakal calon gubernur Aceh. Demikian juga selentingan suara yang memungkinkan Farhan Hamid, mantan Wakil Ketua MPR RI juga dikabarkan akan meramaikan bursa pencalonan Gubernur periode 2017-2022. Baik Tarmizi maupun Farhan, kedua-duanya sudah pernah ikut dalam kompetisi pemilihan gubernur yang berlangsung sebelumnya, yang akhirnya harus mengakui keunggulan calon gubernur yang diusung oleh Partai Aceh, wadah politik yang dibentuk untuk menghimpun seluruh mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Aceh memang berbeda dengan provinsi lain yang ada di Indonesia. UU nomor 11, Tahun 2006, tentang Pemerintahan Aceh, memungkinkan di Aceh dibentuk partai lokal untuk pemilihan umum lokal. Saat ini setidaknya ada dua partai lokal yang berasal dari mantan kombatan GAM, yaitu Partai Aceh (PA) yang dipimpin oleh mantan Panglima GAM, Muzakir Manaf, yang telah terbentuk sejak pertama sekali undang-undang ini diberlakukan; dan, Partai Nasional Aceh (PNA), yang dibentuk setelah Irwandi yang mantan gubernur Aceh terpelanting dari lingkaran Komisi Peralihan Aceh (KPA) dan PA. Saat ini PNA dipimpin oleh Sofyan Daud, yang dikenal sebagai Juru Bicara GAM Pusat, pada saat konflik bersenjata berlangsung.

Apabila tidak terdapat kesepakatan untuk berkoalisi dalam pilkada, maka baru PA yang dapat mengusung bakal calon gubernurnya sendiri. Partai Golkar yang memiliki kursi sebanyak 9 kursidan hanya membutuhkan sedikit operasi kecil saja, juga belum tampak menunjukkan minat mengelus-elus bakal calonnya sendiri sambil mencari partai pendamping untuk berkoalisi. Sementara itu PA merupakan pimpinan koalisi Aceh Bermartabat yang memiliki 74 kursi, sehingga bila anggota koalisi memegang erat komitmen untuk tetap seiring sejalan hingga ke tingkat pilkada, maka calon yang dapat didukung oleh parpol (parlok/parnas) hanya cukup untuk mengusung 1 calon saja. Sisanya adalah terpaksa menenpuh jalur perseorangan.

Kondisi parlemen benar-benar tidak kondusif bagi calon yang berasal dari jalur perseorangan (independen) ataupun dari jalur politik selain koalisi Aceh Bermartabat. Karena kendatipun dapat meraih suara dalam pilkada nantinya, tetap akan menjadi bulan-bulanan di tangan para legislator; setidak-tidaknya hingga pemilihan legislatif periode berikutnya. Untuk menang dalam pilkada saja, juga masih harus bertarung allout, karena prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Irwandi dengan PNA-nya, dapat dipastikan hanya memiliki tiga kursi di parlemen Aceh, dan itu sangat sulit untuk mendapatkan dukungan optimal di parlemen. Apatah lagi seumpama Tarmizi Karim dan Farhan Hamid, yang belum jelas mendapatkan dukungan dari partai manapun. Farhan yang selama ini dikenal sebagai politikus Partai Amanat Nasional (PAN), terasa semakin jauh dari inti kekuasaan PAN.

Meskipun demikian, pemilihan umum kepala daerah secara langsung, menarik untuk diamati. Otoritas tertinggi sesungguhnya berada di tangan pemilih. Apabila orang-orang yang diberi kewenangan dalam Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan Badan Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang bertindak mengawasi jalannya pilkada, dapat berdiri objektif mewakili kepentingan rakyat, bukan kepentingan peserta pilkada, maka dapat diyakini pesta demokrasi ini, benar-benar menjadi pesta milik rakyat. Sayangnya, kedua lembaga ini rentan mendapatkan “elus-elus” dan juga tekanan, bila kedua cara ini atau salah satunya satunya saja, bisa jebol, maka dapat dipastikan suara yang diberikan rakyat pemilih di dalam bilik suara menjadi muspro dalam segala hal. Terutama, waktu yang dipersiapkan untuk datang berpayah-payah mencoblos serta dampak sosiologis dan psikologis terhadap masyarakat pemilih.

Di sisi institusi, juga terjadi kemubaziran biaya persiapan pemilu, yang meliputi peyediaan kertas suara, transportasi kertas suara, iklan sosialisasi pilkada, untuk membayar gaji para komisioner KIP dan anggota Banwaslu. Tidak ada artinya segala persiapan yang telah dilakukan. Yang tertinggal hanya dosa karena “berkhianat” yang harus dibawa sampai mati. Meskipun terkadang dalam sebagian kamus politik tertentu tidak terdapat kata “dosa”. Itu persoalan lain.

Siapa pun peserta pilkada harus dapat menunjukkan diri sebagai kandidat yang siap menerima apapun hasilnya, siap kalah dan siap menang; siap berlaku gentlemen dan menjauhkan diri untuk melakukan intimidasi kepada masyarakat pemilih dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila ingin dipilih dan mendapatkan simpati, curi hati masyarakat; jangan curi suara yang sah dengan cara mengintimidasi ataupun “membeli”. Setiap kandidat merupakan figur yang ditokohkan, terhormat, negarawan, berwawasan, bernilai tinggi, dan bukan orang rendahan. Oleh karena itu segala sikap dan tindak tanduknya pun harus mencerminkan sebagai seorang yang memang memiliki modal politik tersebut. Tidak layak seorang calon pemimpin menempatkan dirinya pada tindakan yang bisa menjatuhkan martabatnya. Seumpama, menyerukan kepada pendukungnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji untuk meraih kemenangan dengan cara apapun.

Siapa pun nantinya yang menang dengan cara yang “elegant”, maka dialah yang menjadi panutan masyarakat Aceh; dialah yang harus diakui sebagai pemimpin Aceh, semua pihak harus siap menerimanya serta mendukungnya dengan segenap hati. Masyarakat Aceh sudah lelah menonton permainan kekerasan dan musibah yang datang silih berganti. Jangan sampai pesta demokrasi berubah menjadi mala petaka baru yang bisa membuat masyarakat Aceh terpecah-pecah, dan saling membenci. Perdamaian yang seharusnya merupakan anugerah, harus dipelihara bersama, agar tidak berubah menjadi prahara yang memicu permusuhan antarelemen masyarakat. Karena bila itu terjadi, yang merasakan dampak yang paling buruk adalah masyarakat pada umumnya, yang tidak memiliki kepentingan langsung dengan politik sama sekali. Jangan sampai para elite yang menikmati kesenangan; masyarakat yang menanggung penderitaan.

Ini seharusnya perlu disepakati sebagai konsensus bersama antarpihak yang akan berkompetisi dalam pilkada Aceh yang damai dan fair; sebagai komitmen yang harus dipegang teguh bersama. Pilkada yang diimpikan masyarakat adalah pilkada tanpa intimidasi; pilkada tanpa kekerasan; pilkada tanpa kecurangan; pilkada tanpa peristiwa politik yang mengenaskan; pilkada yang penuh dengan rasa persaudaraan….**

Aceh lon Sayang 0 comments on Pengalaman belajar bersama mantan kombatan GAM

Pengalaman belajar bersama mantan kombatan GAM

Baret, sangkur dan senjata
Baret, sangkur dan senjata

Sebodoh apakah kita sebenarnya? Apakah tidak ada peluang untuk menjadi pintar dan masuk dalam kategori terpelajar dan paham sesuatu hal? Sering kita mendengar ada orang yang menganggap dirinya tidak berguna, lantaran merasa dirinya tidak tahu apa-apa; karena minus informasi. Apalagi kondisi tersebut diperparah dengn tindakan “bully” yang secara verbal diarahkan kepadanya, oleh lingkungannya, setiap ada masalah. Kata-kata “goblog lu” atau “begok lu”, pun diserapahkan kepada dia. Seakan-akan pihak yang merasa pintar, telah memiliki hak yang luar biasa untuk memantaskan pihak lain menjadi sasaran perendahan dan sebagai kambing hitam. Ada kalanya seseorang merasa bodoh karena mengalami suasana yang tidak biasa dalam aktivitas belajarnya, akan tetapi ada pula yang merasa bodoh bila apa yang diterimanya merupakan sesuatu yang semula sangat asing baginya. Seseorang yang dilahirkan dalam keadaan normal dan sehat, memiliki kesempatan untuk kemudian tumbuh menjadi anak pintar. Pada umumnya, yang membedakannya kemudian adalah, seberapa besar intensitas kemauan untuk belajar agar menjadi pintar dan kesempatan mendapatkan pendidikan untuk menekuni apa yang dipelajarinya.

Saya punya pengalaman menarik ketika suatu waktu di penghujung tahun 2005, ikut terlibat dalam acara pembekalan terhadap mantan kombatan GAM dari Wilayah Pasé. Program yang dilaksanakan oleh Depnaker Kabupaten Aceh Utara dan bekerja sama dengan BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Aceh-Nias ini, menghadirkan instruktur dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, sedangkan keikutsertaan saya sebagai instruktur karena diminta oleh pihak Panitia untuk mengisi salah satu materi yang telah disusun panitia. Dalam jadual yang dibagikan, saya baru mulai mendapat waktu “ngajar” pada hari ketiga dari waktu pembekalan yang dtetapkan selama 6 hari ke depan. Maka setelah acara pembukaan, pelatihan pembekalan pun langsung dimulai yang diisi oleh rekan instruktur lainnya. Pembekalan berjalan normal seperti tidak ada permasalahan. Akan tetapi sesungguhnya ada masalah timbul berkaitan dengan rendahnya respons dari para peserta yang berjumlah 52 orang itu, yang diutus dari berbagai “sago” GAM yang ada di Wilayah Pasé.

Maka setelah panitia dan para istruktur bermusyawarah, saya dipercayakan untuk masuk lebih dulu dari jadual saya yang sudah ditetapkan. Di hari kedua saya langsung diberi kesempatan untuk memberikan pelatihan dalam pembekalan tersebut. Saya mendapat materi, untuk bidang manajemen produksi sekaligus menetapkan sistem pemasarannya. Apa yang dirasakan oleh rekan istruktur sebelumnya, memang terbukti dari sikap yang ditunjukkan para peserta; acuh tak acuh, cuek, ngobrol dengan teman-temannya tanpa menghiraukan sepenuhnya instruktur yang ada di dalam ruangan, konon lagi untuk menyimak isi materi yang disampaikan. Di antara peserta ada pula yang cuma diam, tapi mereka sibuk menggambar lukisan baret, sangkur, pistol ataupun senjata laras panjang di atas lembaran blocknote dari training kit yang telah dibagikan oleh panitia. Lukisan yang seadanya itu benar-benar seperti mewakili karakter seorang kombatan yang akrab dengan atribut tempur dan persenjataan.

Ketika itu saya berinisitif untuk menunda penyampaian materi pembekalan. Haluan saya ubah hanya untuk berkomunikasi intens tanpa materi. Suara-suara yang sebelumnya terlontar dari peserta, “kami tidak mengerti dengan materi tersebut”, menimbulkan pertanyaan bagi saya kepada mereka. Mengapa mereka menolak penyampaian materi?, saya mencoba untuk bertanya. Mereka memberikan jawaban bahwa: “kami ini orang-orang bodoh…”; “kami tidak ngerti yang begini-begini…”; “kami tidak bisa menangkap seperti apa yang disampaikan…”; “kami ini orang tidak sekolah…”; “kami tukang berperang…”, dan jawaban lainnya yang maknanya hampir sama. Semuanya, tentu saja, disampaikan dalam bahasa Aceh. Jadi, menurut peserta percuma saja memberikan materi karena kami tidak bisa menangkapnya, begitu kesimpulan mereka.

Jawaban ini menjadikan momentum yang bernilai bagi saya, untuk kemudian mencoba memberikan umpan balik dan menerima respons yang baru dari peserta. Saya mencoba memanggil tiga orang peserta untuk maju ke depan, dan mereka bersedia. Kepada masing-masing saya berikan pertanyaan yang berbeda, tapi tujuannya sama. Mengapa dia bisa menggunakan senjata laras panjang untuk menembak ketika berperang? Mereka menjawab, karena ada latihan dan ada yang mengajarkan mereka untuk menggunakan senjata; Anda hafal nama-nama tumbuh-tumbuhan yang Anda temukan di hutan atau nama buah, ataupun nama ikan yang ada di air dan sebagainya…? Jawabannya: “hafal, karena sudah sejak kanak-kanak sudah mengenal tumbuhan tersebut”, demikian juga dengan buah-buahan, ikan, dan sebagainya; Anda hafal nama-nama tetangga yang ada di kampung dan mengenal suara mereka dengan baik…? Apakah Anda bisa mengenal suaranya dalam keadaan mata tertutup atau ketika orang tersebut berbicara dari arah belakang Anda tanpa harus menoleh…? “Pasti kenallah, kan sudah cukup lama bergaul, sering melihat, dan sering mengobrol pula”. Begitulah jawaban-jawaban yang saya terima dari para peserta atas pertanyaan yang saya ajukan.

Saya memberikan tanggapan positif atas jawaban-jawaban mereka. Kemudian saya menekankan, bahwa semua yang berada di dalam ruangan ini tidak ada yang bodoh, karena kenyataannya semuanya mampu menangkap fenomena apapun yang ada di sekeliling Anda, bisa tahu cara merakit dan menembakkan senjata; bisa menghafal nama-nama tumbuh-tumbuhan, nama buah, nama ikan serta bisa mengingat nama dan mengenal suara teman, dan bahkan mampu menghafal dengan baik jalan-jalan setapak yang ditemukan di dalam hutan dengan tidak menggunakan kompas sekalipun. Itu tak mungkin dilakukan oleh orang-orang “bodoh”, kata saya. Jadi Anda memiliki potensi pribadi untuk pintar, yaitu kemampuan untuk menghafal, mengetahui, mengingat dan mengungkapkan kembali apa yang telah Anda ketahui. Sungguh keliru apabila anda menganggap diri Anda bodoh, tdk tahu apa-apa, dan tidak mengerti akan sesuatu hal. Orang bodoh tentu saja tak mungkin bisa belajar mengelola senjata, memasang magazen dan menembak sasaran.

Saya pernah membaca sebelumnya bahwa otak manusai terdiri dari lipatan-lipatan, yang masing-masing mampu menyimpan trilyunan fenomena yang pernah ditangkap oleh mata atau pikirannya dengan tertata rapi. Tidak ada satu pun apa yang pernah kita lihat, kita dengar, kita baca dan kita pikirkan luput dari rekaman serta akan tersimpan pada lapisan otak dengan baik. Bahkan sesuatu yang telah lama sekalipun bila mendapatkan stimulus akan muncul kembali menjadi ingatan baru, terutama yang memberikan kesan yang kuat ketika fenomena itu ditangkap oleh mata dan pikiran. Kapasitas memori otak yang dimiliki tiap manusia pun memiliki angka yang sangat fantastis, yaitu diperkirakan mencapai sebesar 3000 trilyun byte atau sama dengan 300 exabyte (300 x 10 pangkat 18) byte. Angka ini pun masih banyak bervariasi karena ada pakar yang memperkirakan kapasitasnya masih lebih besar ataupun lebih kecil dari yang angka yang beredar saat ini. Akan tetapi berapa pun besarnya kapasitas otak manusia, sampai menjadi profesor pun manusia belum mampu memanfaatkan memori yang dimilikinya hingga separuh dari kapasitas yang tersedia.

Setelah mencoba memberikan motivasi demikian, para peserta mulai menemukan kembali semangatnya untuk mengikuti pelatihan. Semula yang hanya asal-asalan, sejak setelah saat itu, bahkan para peserta menjadi aktif untuk bertanya secara lebih detail dan benar-benar memiliki keingintahuan yang sangat tinggi. Akhirnya dengan adanya selingan karaoke ketika jam istirahat (break time), pelatihan untuk pembekalan dapat berlangsung aman hingga hari terakhir. Ada sesuatu yang sangat mengesankan dan unik yang saya rasakan. Pada umumnya para kombatan GAM adalah mereka yang sebelumnya bertekad berperang melawan tentara “Jawa” dan ingin memisahkan diri dari “Jawa”, (begitulah istilah yang berlaku di kalangan mereka, saat terjadi konflik vertikal kala itu). Akan tetapi ketika bernyanyi karaoke para mantan kombatan ini malah lebih sering memilih lagu “Cucakrowo”, yang dinyanyikan oleh Didi Kempot, yang ketika itu sedang populer di Aceh dan sering terdengar di mana-mana. Kemudian secara bersama-sama mereka menyanyikannya dalam teks bahasa Jawa, dengan perasaan yang sungguh gembira. Meskipun tentu saja, mereka tidak mengerti apa arti yang terkandung dalam syairnya….**