Bunga Rampai 0 comments on Memelihara Martabat Bangsa Melalui Pendidikan

Memelihara Martabat Bangsa Melalui Pendidikan

Para cendekia muda dan intelektual muda adalah aset yang sangat berharga, bagi masa depan bangsa. Karenanya sebagai asset wajib dipelihara dengan baik, yang nantinya akan berperan sebagai mekanis penggerak bagi setiap denyut nadi kegiatan negara. Mereka akan mengisi setiap fungsi yang menjadi bagian yang mendukung perkembangan negara. Mereka merupakan penggerak estafeta pembangunan negara dalam segala bidang.
Sebagai mekanisme negara, maka proses menciptakan insan akademis ini tidak boleh berhenti meski sejenak pun, serta harus secara kontinyu dilakukan dengan perawatan yang semestinya. Mereka adalah agen perubahan yang menggerakkan sendi-sendi negara menuju kepada kondisi yang lebih baik.
Pengembangan segala sektor mutlak membutuhkan kaum cendekia. Mereka akan mengisi setiap celah dari berbagai bidang yang membutuhkan kualifikasi tertentu. Tujuannya adalah untuk memajukan bangsa dan negara agar tidak tertinggal dari negara-negara lainnya, yang dampak jangkanya adalah demi mencapai kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi tanggung jawab negara.
Tanpa cendekia negara ini hanya akan menjadi bulan-bulanan negara lainnya dan menjadi objek eksploitasi yang akan menguras segala potensi yang dimiliki. Warga negara akan menjadi warga kelas dua di mata dunia. Sektor-sektor yang seharusnya di isi oleh anak bangsa akan menjadi sasaran empuk warga negara luar untuk merebutnya.
Anak Papua mendambakan fasilitas yang baik
Meskipun dengan fasilits yang sangat miinim, namun semangat belajar anak-anak Papua tetap menyala-nyala. (Foto: tabloidjubi.com)
Transfer knowledge merupakan bagian dari proses meningkatkan kapasitas dan kompetensi. Tapi hal tersebut tidak boleh menjadi alasan, warga negara lain merebut posisi-posisi strategis dalam aktivitas yang pemanfaatan teknologi. Sehingga anak bangsa hanya menjadi penonton di negeri sendiri.
Yang menikmati hasil adalah orang lain; bangsa lain. Sedangkan anak bangsa sendiri menjadi pekerja kelas dua di bawah bayang-bayang warga asing yang belum tentu kualitasnya lebih baik dari rakyat sendiri.
Di bawah Standar
Di dalam negeri upah para pekerja Indonesia selalu berada di bawah rate standar pekerja asing (expatriat). Nilai THP mereka dihitung berdasarkan kurs mata uang dolar. Sedangkan pekerja Indonesia dinilai dengan mata uang rupiah.
Di luar negeri, pada tempat kerja yang sama, pekerja Bangladesh dan Filipina dinilai lebih tinggi dari pada pekerja yang berasal dari negara Indonesia. Sehingga untuk meningkatkan “harga” pekerja Indonesia di pasar internasional, juga dibutuhkan penyediaan pendidikan yang berkualitas, tepat guna dan tepat sasaran.
Memintarkan warga negara adalah tunggung jawab pemerintah. Tapi harus diiringi dengan konsep yang baik, yaitu: menciptakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan agar guru dan siswa tetap mandiri; melupakan pengembangan bakat dan minat; mengurangi beban yang tidak perlu terhadap siswa; tidak perlu ada kelas unggulan atau kelas berstandar internasional; serta mencegah kebocoran dalam alokasi anggaran pendidikan.
Bila belum mampu memberikan sekolah gratis, paling tidak pemerintah seyogya perlu bertangung jawab untuk mengisi perpustakan secara lengkapi untuk memudahkan siswa untuk mendapatkan referensi yang lebih banyak; lebih luas. Ini harus menjadi domain pemerintah sebagai induk bangsa ini. Tidak cukup alasan untuk memersalahkan kekurangan dana dalam mengelola pendidikan secara keseluruhan.
Sebetulnya, apabila anggaran untuk bidang pendidikan bisa dikelola dengan baik dan efisien, maka sangat terbuka kemungkinan pemerintah dapat berbuat lebih banyak dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Selama ini biasanya sebagian dana menguap entah raib kemana. Mampir sedikit-demi sedikit, sejak dari tahap pembahasan, di departemen, di perjalanan, hingga pada saat implementasi di lapangan. Ini wajah negeri kita tercinta hingga saat ini.
Begitu gampangnya “mengutil” uang yang ditujukan untuk kepentingan rakyat. Ini juga merupakan gambaran yang merepresentasikan pendidikan karakter gagal diselenggarakan dengan baik. Yang berlaku selama ini anggaran banyak tapi pengelolaannya tidak tepat sasaran. Belum lagi konsep pendidikan yang tumpang tindih, seakan-akan kebijakan pendidikan dirancang oleh seseorang yang sedang panik.
Setiap pergantian kepemimpinan yang dilakukan adalah mengganti program baru. Padahal setiap program dan peraturan untuk satu item masalah akan berdampak pada kebutuhan dana yang sedemikian besar.
Kapabilitas
Sebagai lembaga negara, DPR-RI tidak banyak yang bisa diharapkan. Kualitas anggota DPR-RI, benar-benar sangat memerihatinkan, karena dari segi kompetensi terlihat sangat timpang; tidak merata; tidak memiliki kapabilitas yang memadai. Latar belakang seorang wakil rakyat tidak didasari oleh kualifikasi akademis sebagai prasyarat, sehingga banyak hal yang ada di depan matanya berlalu begitu saja. Mereka lalai mengkaji setiap program yang ditawarkan pihak eksekutif.
Dengan kualitas sumber daya manusia di DPR yang sebagian di bawah standar maka sangat musykil mereka mampu menganalisis, mengevaluasi dan mengkaji secara mendalam setiap program yang diajukan, sehingga secara otomatis setiap program, nyaris disetujui tanpa ada koreksi apapun. Ini kualitas anggota DPR-RI yang mewakili rakyat Indonesia, pascareformasi. Ini juga sebagai faktor edukatif yang mengidikasikan betapa rendahnya rata-rata pendidikan rakyat Indonesia.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, saat ini, berada pada peringkat yang sejajar dengan sebuah negara yang terletak di Afrika bagian barat, yang merdeka pada 17 Agustus 1960; lima belas tahun setelah Indonesia merdeka. Indonesia bersama Republik Gabon, menduduki posisi ke-110. Ironisnya Indonesia berada di bawah Republik Botswana (106), yang baru memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 30 September 1966. Dalam kawasan regional, Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara tetangga lainnya seumpama: Thailand (93); Malaysia (62); Singapura (11).
Indeks pembangunan pendidikan di Indonesia juga tak terlalu menggembirakan, bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga (Singapura, Thailand dan Malaysia), Indonesia masih tertinggal jauh. Selama ini Indonesia selalu berada pada posisi menengah (medium), menempati pada ranking antara 60 sampai 70 dari lebih dari 100 negara yang dinilai. Salah satu indikator untuk memperoleh angka indeks tersebut adalah dengan memerhatikan besarnya jumlah anak-anak putus sekolah pada usia tingkat sekolah dasar.
Pembangunan pendidikan bukanlah tanggung jawab badan dunia semisal Unesco, melainkan tenggung jawab pemerintahan negara yang bersangkutan. Memajukan pendidikan adalah berkaitan erat dengan upaya memajukan negara. Karena kemajuan bangsa berada di tangan generasi yang berpendidikan.
Unesco ataupun UNDP hanya sebagian dari lemaga yang berkepentingan untuk mengevaluasi setiap kondisi pendidikan di berbagai negara. Sebagai bagian dari warga dunia, Indonesia juga harus memiliki komitmen yang kuat untuk menyediakan fasilitas pendidikan bagi warga negaranya. Jika lalai maka kehancuran bagi sebuah bangsa sedang menanti di ujung sana, hingga saatnya tiba.
Bukan persoalan jumlah jam belajar; bukan persoalan kurikulum ataupun, kompetensi guru yang perlu dirisaukan. Melainkan bagaimana mengelola segala sumber daya yang ada yang terkait dengan pendidikan bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi membangun dan memelihara pendidikan dengan baik.
Bukan persoalan siapa menteri pendidikannya; bukan pula persoalan siapa presidennya, yang terpenting adalah apa yang mampu dikerjakannya untuk mewujudkan sebuah bentuk pendidikan yang dinamis, berkualitas dan mempunyai target yang dapat diukur dengan parameter keberhasilan, terhadap output dari proses pendidikan itu sendiri…*** (Selesai).
Bunga Rampai 0 comments on Pendidikan Dan Upaya Meningkatkan Kualitas Guru

Pendidikan Dan Upaya Meningkatkan Kualitas Guru

Peningkatan kualitas guru seharusnya dibuat terpola dan diterapkan secara berkesinambungan. Kalau ada guru yang di bawah standar, maka kesalahannya berada pada sisi pemerintah. Tidak ada guru yang bodoh, yang benar adalah pemerintah lalai atas salah satu tanggung jawabnya untuk berupaya mendidik guru untuk menjadi pengajar yang hebat.

Seorang guru telah melalui tahapan-tahapan dan syarat-syarat untuk mengabdi sebagai pendidik. Semua syarat dan ketentuannya telah terpenuhi, sejak dia mampu lulus untuk mendapatkan ijazah guru; lulus tes menjadi guru dan mendapatkan misi untuk mengajar pelajaran yang menjadi spesialisasinya di sekolah di mana dia ditempatkan.

Jadi tidak ada yang salah pada seseorang yang telah menyandang predikat guru. Guru adalah pekerjaan professional, maka sistem perekrutan guru juga perlu mendapat sentuhan agar Indonesia bisa memperoleh guru-guru yang berkualitas prima.

Belakangan ini sepanjang perjalanan menjadi guru sering mengalami tekanan yang luar biasa besarnya. Ujian Nasional (UN) bukan hanya momok yang menakutkan bagi tiap-tiap murid. Akan tetapi hal yang sama terbebankan di atas pundak para pengajar. Kelulusan seorang murid juga bagian dari tanggung jawab guru yang selama ini membimbingnya. Ketidakseragaman materi ajar, menjadi persoalan utama yang menyebabkan bahan UN menjadi sesuatu yang asing bagi murid dan guru-guru di daerah.

Memahami apa yang diamatinya
Guru memberikan bimbingan bagi anak didiknya untuk memahami apa yang diamatinya . (foto getfile 3)

Seyogyanya anak murid dan guru harus diberi peluang untuk keluar dari tekan semacam itu. Sistem belajar yang mandiri dan dinamis diperlukan untuk membentuk watak bebas dan berani bereksperimen terhadap bidang yang disukainya. Murid dan guru, sama-sama boleh berekspresi sesuai dengan bakatnya. Guru membimbing murid dengan bijaksana, murid pun menghargai guru dengan penuh rasa hormat. Termasuk dari orang tua yang telah memercayakan anak-anaknya pada sekolah yang dituju.

Permintaan guru untuk negeri jiran

Pada tahun 1972 hingga tahun 1975, pemerintah Indonesia telah mengirimkan kurang lebih 1000 guru ke Malaysia. Pemerintah Malaysia yang waktu itu dipimpin oleh Perdana Menteri Tun Abdur Razaq dengan sengaja meminta guru kepada pemerintah Indonesia untuk menjadi pendidik yang akan ditempatkan di seluruh wilayah negeri tersebut.

Para guru direkrut dari beberapa provinsi, antara lain dari Aceh, Sumatera Utara serta Jawa Barat. Di antara para guru kemudian ada yang menetap dan menjadi warga negara Malaysia, dan ada yang juga kembali ke Indonesia setelah purna tugas sebagai guru di sana.

Terus apa standar kualitas seorang guru? Nyatanya Malaysia mampu mendapatkan sumber daya manusia yang baik dari tangan guru-guru asal Indonesia. Datanglah berobat ke rumah-rumah sakit Malaysia. Rata-rata tenaga medis adalah mereka yang pernah melanjutkan pendidikan dokternya di luar negara. Dari nama yang dipasang di sisi pintu masuk ruang praktek masing-masing dapat dilihat spesialisasi serta asal negara tempat dia menjalani, yang tertera di belakang namanya.

Hal tersebut tidak mungkin terjadi apabila persiapan SDM-nya tidak direncanakan secara baik sejak di dalam negeri; sejak dini. Penyiapan SDM yang baik sebagai “raw material” untuk diproses selanjutnya agar menjadi pakar, tidak mungkin tercapai apabila tidak dibimbing oleh guru-guru yang berkualitas.

Jika dirunut jauh ke belakang maka andil guru-guru asal Indonesia yang mengabdi di Malaysia sangat besar. Sehingga membuat generasi Malaysia terus berkembang ke arah kemajuan yang signifikan.

Sebetulnya di Indonesia juga tumbuh sekolah dan perguruan tinggi yang baik. Sayangnya alumni perguruan tinggi ini tidak mendapat sentuhan lebih lanjut. Kalau pun ingin meng-upgrade diri terpaksa diinisiasi sendiri oleh masing-masing mereka. Tidak selalu ditangani oleh pemerintah.

Perankingan versi Webometric untuk institusi terbaik tingkat dunia edisi Juli 2016, menempatkan beberapa universitas di Indonesia pada tingkat yang lumayan baik. Antara lain Universitas Gajah Mada pada ranking 724; Universitas Indonesia: 808; Institut Teknologi Bandung: 895. Sementara itu untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih kalah unggul bila dibandingkan dengan Singapura, yang menempatkan beberapa universitas mereka pada ranking dunia yang lebih baik.

Tertinggi di Asia Tenggara adalah National University of Singapore bertengger pada ranking 68; Nanyang Technology University: 72. Disusul oleh Thailand: Mahidol University: 310; Kasetsart University: 347. Kemudian Malaysia: University of Malaya: 404; University Sains Malaysia: 467.

Peringkat terbaik Asia

Perankingan untuk tingkat Asia, benua kuning tetap menguasai peringkat hingga sampai ke urutan ke 100, meliputi China, Jepang Taiwan dan Korea Selatan. Dan hanya Singapura (ranking 6 dan 8); Thailand 43 dan 52; serta (Malaysia 63 dan 74) yang datang dari Asia Tenggara untuk masuk ke dalam 100 negara Asia untuk meraih peringkat terbaik. Indonesia diwakili oleh Universitas Gajah Mada hanya menempati posisi ke-137, dan Universitas Indonesia (163).

Sedangkan untuk peringkat sepuluh besar terbaik tingkat Asia didominasi oleh China. Selebihnya, Jepang (4); Taiwan (5); Singapura (6 dan 8) dan Korea Selatan (9).

Terlepas apakah hasil evaluasi ini valid atau tidak, tetapi setidak-tidak menjadi peringatan yang bisa memecut pihak-pihak terkait dengan pendidikan unuk melakukan introspeksi.

Dengan kondisi demikian berarti ada masalah yang sangat membutuhkan perhatian dari segenap pihak dan stakeholder yang menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia.

Sebetulnya Indonesia sudah memiliki banyak kepakaran. Ini perlu dihimpun secara optimal agar menghasilkan sesuatu yang “dahsyat”.

Pemerintah perlu berpikir bahwa IPTN perlu dikembangkan kembali secara serius; Batan perlu didukung kemanfatannya, Pindad harus mendapat perhatian yang lebih besar lagi; teknologi agrikultura harus mendapat ruang yang cukup untuk mewujudkan hasil temuan-temuan dan risetnya. Masih banyak sector lainnya yang telah ada di negeri ini, tapi tidak mendapat perhatian yang cukup.

Indonesia telah memiliki institusi yang dapat menampung kepakaran dalam berbagai bidang. Perusahaan galangan kapal, PT PAL, BPPT Puspitek, LIPI, dan beberapa lembaga lainnya. Membuat terobosan dalam meningkatkan peran lembaga yang telah ada lebih baik, sekali lagi, jauh lebih baik dari pada bongkar pasang pasang kurikulum ataupun mengutak-katik kuota jam belajar peserta didik.

Sejak pertengahan tahun 70-an, di perguruan tinggi Indonesia banyak dijumpai mahasiswa asal Malaysia. Hampir di seluruh universitas terdapat mereka yang menuntut ilmu di sini.

Mereka berhasil menyelesaikan strata 1 di tempat masing-masing mereka kuliah/ menuntut ilmu. Namun selanjutnya, anak-anak mereka lulusan perguruan tinggi dari Indonesia, difasilitasi kerajaan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak berhenti pada strata S-1 semata. (bersambung….)

Bunga Rampai 0 comments on Pendidikan Indonesia: Menciptakan Kualitas Pendidikan Yang Setara

Pendidikan Indonesia: Menciptakan Kualitas Pendidikan Yang Setara

Kualitas belajar dan jam belajar adalah dua masalah yang berbeda. Jika ingin meningkatkan mutu pendidikan maka orientasi program harus lebih ditekankan pada betapa pentingnya jam efektif belajar yang berorientasi pada kualitas. Jika ingin badan selalu terasa bugar, bukan jam tidur yang harus ditambah, melainkan bagaimana memanfaatkan waktu tidur secara efektif agar raga dan pikiran bisa memperoleh masa istirahat yang berkualitas.

Menciptakan jam belajar yang efektif merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah melalui menteri yang didapuk untuk menangani masalah pendidikan. Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan konsep yang terintegrasi dengan baik.

Salah satu yang menjadi faktor pendukung adalah upaya yang sungguh-sungguh dan tidak separuh hati. Tidak perlu gonta ganti program dan kebijakan serta dengan cara trial and error. Tentu saja dibutuhkan alokasi dana yang cukup ditujukan untuk secara terus menerus menyediakan fasilitas pelatihan bagi upaya meningkatkan kemampuan dan mengembangkan wawasan para guru. Efektif dan efisien.

Bahkan perlu disediakan program untuk studi banding dalam rangka berbagi dan menyerap ilmu dan metode di tempat lain. Program ini bukan case by case tapi harus bersifat kontinual.

Wisuda di Finlandia
Suasana keceriaan pelajar Finlandia saat wisuda. (www.trigger-proof.com)

Jika saat ini ada program pengiriman guru ke luar negeri, maka itu harus dipertahankan tidak boleh berhenti dan timbul tenggelam. Kadang ada, kadang tidak; tergantung selera atasan. Tidak boleh terjadi program compang camping begitu. Apalagi mengingat di departemen pendidikan banyak terdapat pekerja yang memiliki kecerdasan tinggi. Bukan orang-orang sembarangan. Mulai menteri hingga kepala dinas di daerah diisi oleh orang-orang yang pintar.

Idealnya semua harus seragam. Mulai dari ujung barat hingga ke ujung timur nusantara kualitas guru pada setingkat SD, SMP dan SMA harus setara; harus seragam. Metode dan kurikulum nasional harus sama. Yang berbeda hanya pada muatan lokal. Yang berbeda mungkin hanya pada gaya mengajar. Setiap guru harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengikuti pelatihan yang difasilitasi pemerintah.

Pelatihan berkesinambungan

Diklat yang ada, yang dimiliki kementerian harus dimanfaatkan secara optimal untuk melakukan pelatihan bagi guru-guru, yang notabenenya sudah memiliki kualifikasi sebagai guru. Pelatihan tidak hanya pada saat hendak menghabiskan anggaran di akhir tahun, ramai-ramai bikin program untuk menunjukkan bahwa serapan anggaran sudah tercapai. Ini program konyol ala negeri ini yang sudah menjadi rahasia umum; sudah lama berlangsung.

Bukan hanya bagi pegawai kementerian dan dinas yang terus diberikan peningkatan kulaitas SDM melalui tahapan pelatihan. Guru juga butuh pengembangan melalui media yang digagas pemerintah. Dengan jalan meningkatkan kapasitas guru secara berkesinambungan. Ini lebih penting dari pada membuat sistem sekolah “full day learning“.

Jangan memaksakan kehendak dengan program yang hanya dikonsep untuk kepentingan sesaat untuk dilaksanakan. Yang dididik adalah anak manusia, punya kapasitas, punya kebutuhan lainnya selain belajar, butuh bersosialisasi, butuh berkomunikasi dengan orang tuanya, butuh istirahat fisik dan psikis, butuh pengajaran rohani. Jadi semuanya harus menjadi pertimbangan sebelum mengambil kesimpulan untuk menetapkan sesuatu terobosan baru di bidang pendidikan.

Malaysia, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat membatasi kegiatan sekolah hingga pukul 15.30 dengan ketentuan, sabtu dan minggu libur. Rata-rata estimasi jumlah waktu belajar akumulatif per tahun berkisar antara 180 hingga 260 hari.

Bahkan negara seperti Finlandia harus bertarung dengan cuaca untuk mencari waktu belajar yang efektif. Meskipun memiliki waktu belajar di sekolah yang sangat kecil; bahkan terkecil di dunia, tapi Finlandia mampu melahirkan pakar yang tidak diragukan lagi kemampuannya.

Mereka terus berjalan jauh di depan kita. Mereka telah mencapai kemajuan di segala bidang. Ketika negara lain sudah sampai ke mana-mana, kita sibuk dengan “wacana-wacana” baru. Siapa pun mengetahui, terobosan di bidang telekomunkasi. Telepon selular bikinan Finlandia lah yang pertama masuk ke Indonesia.

Kuota jam belajar

Thailand, meskipun memiliki jam belajar di atas rata-rata, tapi hasil evaluasi dari “Programme for International Student Assessment (PISA) negeri ini berada dalam peringkat di bawah Indonesia. Demikian juga Negara Tiongkok yang menerapkan kuota belajar di sekolah selama kurang lebih 250 hari per tahun tidak menghasilkan manusia yang handal-handal banget dibandingkan Taiwan, Jepang dan Korea.

Padahal negeri-negeri ini masih di bawah Tiongkok dalam jumlah jam belajar di sekolah. Taiwan, Jepang dan Korea bukan hanya memiliki SDM yang handal dibidang ilmu pengetahuan, tetapi juga nelahirkan generasi yang punya rasa memiliki terhadap kelestarian lingkungan; kaya empati.

Tiongkok dengan jam belajar tertinggi di dunia, masyarakatnya terkenal kurang mengindahkan ketertiban dan terkesan jorok. Bukannya memelihara lingkungan dan kebersihan, malah sebaliknya membuang kotoran secara tidak layak. Tidak mengherankan bila di toilet dan wc umum di kota-kota besar Tiongkok sekalipun, bau pesing menyengat sampai ke mana-mana.

Jika alasannya karena penduduknya terlalu banyak, India dan Amerika Serikat juga memiliki populasi penduduk yang besar. Tapi program character building-nya terarah dan berhasil. Teknologi India termasuk yang terbaik pada tingkat dunia. Beberapa produk heavy machinary dan transportasi terus berkembang dari waktu ke waktu mengikuti teknologi mutakhir dan mendapat tempat dalam kancah perdagangan dunia; bisa menembus pasar dunia.

Kita tidak perlu berkaca kepada negara Amerika Serikat dan Eropa yang telah sangat maju. Kita pantas berusaha untuk sejajar dengan negara Asia dalam hal kemajuan sumber daya manusia dan teknologinya. Itu sasaran yang lebih logis dari pada program menggantang asap.

Apabila mampu meniru sistem pendidikan di  Malaysia, sebetulnya sudah dapat dianggap pendidikan kita mengalami kemajuan. Meniru Singapura, Jepang dan Korea Selatan, mungkin masih dibutuhkan waktu yang panjang. Di Jepang, kualitas pendidikan di Sapporo atau Khusiro daerah paling selatan Jepang, relatif sama dengan mutu pendidikan di Tokyo. Kemampuan akademis masing-masing wilayah setara.

Jika dirasakan perlu pengembangan, belajarlah pada negeri-negeri yang telah maju yang memiliki sumber daya yang baik, mengerti kebersihan, bertanggung jawab kepada kelestarian lingkungan dan mampu menghasilkan berbagai jenis produk yang berkualitas.

Untuk mempersiapkan periodesasi SDM, maka kualitas belajar harus terpenuhi dengan menyediakan guru-guru yang handal. Sebagai professional peran guru benar-benar harus disadari. Dan setiap guru harus memahami tugas dan pengabdiannya untuk mendcerdaskan anak bangsa. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi tetap harus berjalan, tanpa mengenal kata “sudah cukup”…. (bersambung).