Bunga Rampai 0 comments on Puasa: Lorong Proses Pelatihan Diri untuk Mencapai Tingkatan Taqwa

Puasa: Lorong Proses Pelatihan Diri untuk Mencapai Tingkatan Taqwa

Setelah menyelesaikan ibadah ritual berpuasa selama 1 bulan penuh, maka sesorang bisa memperoleh derajat “taqwa”. Taqwa secara harfiah dapat diartikan sebagai “takut”. Takut untuk berbuat kesalahan yang berpotensi menyebabkan dosa.

Syarat menjankan puasa bukan hanya haus dan lapar yang wajib ditahan, akan tetapi juga segala yang berpotensi menyebabkan dosa, harus dikendalikan. Mata, telinga, pikiran dan hati, tidak diperkenankan untuk masuk melintasi batas-batas boleh-jangan, baik-buruk, wajib-haram.

Mata harus ditata untuk tidak melihat sesuatu yang tidak pantas, seperti pornografi dan hal-hal yang menimbulkan syahwat tidak pada tempatnya; telinga harus bebas dari segala macam cerita rumor, fitnah dan menceritakan keburukan orang lain, termasuk cerita yang dapat mendorong birahi.

Demikian juga pikiran dan hati. Keduanya harus dibersihkan dari hasrat dan keinginan yang bertentangan dengan norma agama dan sosial.

Seseorang yang berpuasa selalu melatih dirinya untuk tidak berniat untuk melakukan kesalahan, seperti ingin membunuh, ingin memerkosa, menipu, mencuri, meminum sesuatu yang bisa memabukkan dan membuat hilang ingatan.

Tidak memakan makan makanan yang haram; seperti makan daging babi, daging anjing dan daging yang tidak disembelih dengan cara yang salah (dengan cara menyiksa hewan yang akan diambil dagingnya) serta segala makanan hasil curian, hasil menipu dan hasil merampok dan korupsi atau cara-cara tidak sah lainnya.

Evaluasi diri

Dalam periode puasa inilah masing-masing mencoba mengevaluasi diri; introspeksi, dan mengenal diri secara total. Dengan demikian setiap manusia bisa menempatkan dirinya secara proporsional dalam ruang lingkup hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas) maupun hubungan transendental antara makhluk (yang diciptakan) dan Tuhannya (hablun minallah)

Ibadah puasa mengajarkan dan mengajak setiap muslim belajar untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Terutama hawa nafsu yang jahat. Menjauhi setiap perbuatan terlarang dan berdosa, serta berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan dengan mematuhi rambu-rambu keagamaan yang ditetapkan.

Melalui pelatihan untuk menahan lapar dan haus, selama waktu tertentu. Sejak sebelum fajar hingga menjelang malam.

Godaan terbesar orang berpuasa adalah di saat siang hari yang panas terik, di saat-saat haus menggelayut, namun harus mampu mengendalikan diri untuk tidak minum. Apalagi makan untuk mengobati rasa lapar. Meskipun tidak ada yang melihat ketika kita makan.

Sukses dengan seluruh rangkaian pernak pernik ketika berpuasa, sangat ditekankan agar terus berlangsung di luar periode bulan Ramadhan (bulan berpuasa selama satu bulan penuh).

Predikat taqwa

Dalam kehidupan sehari-hari apa yang telah dicapai selama menjalankan ibadah puasa wajib diterapkan secara nyata dalam kehidupan di hari-hari berikutnya. Manusia yang telah lulus meniti puasa dengan baik, harus terus mempertahankan predikat “taqwa” yang telah dicapainya.

Memperbaiki diri, pola hidup, dan sikap yang cenderung memengaruhinya untuk berbuat salah; menyakiti secama makhluk hidup lainnya dan merusak lingkungan hidup tanpa merasa bersalah.

Ini tidak boleh terjadi apabila masing-masing manusia menyadari bahwa menjaga keseimbangan hidup bermasyarakat adalah tanggung jawab bersama.

Muslim kah dia, katolik kah dia, kristen kah dia atau apa saja kepercayaan yang dianutnya, punya peran dan tanggung jawab yang sama untuk memelihara keamanan, kenyamanan dan kedamaian hidup bersama.

Puasa hanya sarana yang disediakan, bukan penentu keberhasilan ujian hidup seseorang. Hanya orang-orang yang memiliki ketetapan hati untuk keluar dari pelatihan menahan diri ini, yang bisa menunaikan puasa dengan sempurna.

Di antaranya kemudian ada yang akan secara total memperbaiki hidup dan tujuannya, dan sebagian lagi, tidak berhasil membawa diri untuk hidup sesuai dengan pedoman agama.

Mereka hanya bisa menunaikan puasa, namun kemudian setelah puasa usai, kembali kepada pola-pola yang menyimpang dari norma sosial dan agama.

Seleksi alamiah

Ada proses seleksi secara alamiah yang berlaku bagi kaum muslimin, terdapat beberapa corak penganutnya yang melekat menjadi bagian hidup mereka.

Tidak pernah melaksanakan segala bentuk ibadah ritual sepanjang sisa hidupnya; tidak pernah berbuat baik bagi sesamanya. Selalu menjadi beban dan mengganggu ketertiban masyarakat. Tapi kalau agamanya dihina, dia akan bereaksi keras dan siap membelanya.

Tidak pernah melaksanakan ibadah rutin, tapi rela berlapar dan dahaga untuk menunaikan ritual puasa selama satu bulan penuh. Berbuat baik sepanjang bulan puasa. Mampu melaksanakan ibadah rutin, tapi enggan melakukan ibadah puasa, karena dirasa sangat berat.

Biasa menunaikan ibadah rutin dan mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah selama periode berpuasa di bulan Ramadhan. Dan ini, idealnya seorang yang berhasil membawa dirinya untuk perubahan.

Dari seluruh tipikal muslim yang memasuki puasa, maka yang terbaik adalah mereka yang lulus dan selanjutnya bisa mempertahankan irama kehidupannya pada level yang lebih baik, sebagai pertanda ianya berhasil menyerap seluruh “materi pelatihan” dalam puasa dan kemudian bertekad memegang teguh hingga tidak sampai terlepas lagi.

Pola hidupnya yang sebelumnya masih compang camping, kemudian bisa mengubah secara total sehingga dirinya benar-benar akan bermanfaat bagi dirinya, lingkungannya dan kehidupan orang lain.

Membersihkan diri

Puasa selayaknya menjadi lorong untuk mencetak manusia yang paripurna. Gelar yang diperoleh dari perjalanan menyusuri lorong ini adalah derajat “taqwa“.

Taqwa yang berarti takut, akan menjadikan seseorang takut mengulangi dosa, takut berbuat zalim, dan takut dijauhkan dari rahmat Allah sebagai zat yang Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang.

Hakikat puasa adalah membersihkan diri dari segala kebiasaan buruk, perbuatan dosa dan berharap memperoleh ampunan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan dalam periode setahun belakangan dan menjadi suci kembali seperti bayi baru dilahirkan, yang disebut “fitrah”.

Namun demikian hanya dosa antara dirinya dan Tuhannya yang bisa diampuni, sementara dosa antara sesama anak manusia, hanya merekalah yang dapat melepaskan dosa di antaranya dengan saling meminta dan memberikan maaf.

Fitrah adalah sifat bayi yang baru dilahirkan, bersih, polos, jujur, inosen, tanpa ada kehendak yang salah. Orang tua dan lingkungannya lah yang membentuk pribadi dia menjadi orang baik, orang jahat, atau sebagai apa saja sesuai fenomena yang ditangkap oleh diri bayi tersebut selama proses sosialisasi dirinya, baik dalam taraf primer ataupun sekunder…*.

Jogja Istimewa 0 comments on Harga Lebaran Melambung di Yogyakarta

Harga Lebaran Melambung di Yogyakarta

Jalan Malioboro
Suasana di sudut utara Jalan Malioboro

Idulfitri 1436 hijriyah baru saja berlalu dengan menyisakan berjuta kesan bagi masing-masing orang. Para pelancong dan pemudik pun sudah kembali ke kota di tempat di mana mereka berada selama ini. Namun Yogya tetap saja tidak pernah sepi dari pengunjung. Yogya terus bergulir bagai irama kehidupan yang tak ada putusnya. Para penduduk Yogya yang bepergian ke luar daerah dan para mahasiswa yang berlebaran di kampung halaman mereka, sudah mulai kembali secara berangsur-angsur jelang masuk kuliah pascalibur panjang. Begitu juga mahasiswa baru yang akan mulai mengikuti rangkaian kegiatan kemahasiswaan di kampus masing-masing di mana mereka diterima.

Ada sesuatu yang menyisakan ketidaknyamanan ketika berada di Yogyakarta bersamaan dengan hari lebaran yang baru saja berlalu. Momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga makanan dan jasa dengan cara spontan oleh sebagian pedagang dan penyedia jasa yang ada di Yogyakarta secara tidak simpatik. Banjirnya tamu2 selama liburan lebaran untuk bersilaturrami, disambut dengan sikap aji mumpung oleh sebagian para pedagang dan pengusaha di kota budaya ini. Banyak di antara para pengelola warung makan menaikkan harga makanannya dengan fantastis. Sate padang yang biasanya Rp 12000 per porsi, dinaikkan sampai Rp 6.000, sehingga menjadi Rp 18 ribu per porsinya. Padahal biasanya, dengan Rp 12 ribu, orang sudah bisa menikmati satu porsi sate yang terdiri dari 1 ketupat plus 6-7 tusuk sate padang lidah sapi.

Begitu juga tarif parkir mobil di wilayah seputar Yogya yang biasanya hanya Rp 2.000, menjadi Rp 10.000 – Rp 15.000 rupiah tiap mobil. Baik parkiran maupun para penjual, memang sedang kebanjiran pengunjung dan pembeli, sehingga dalam beberapa hari lebaran saja mereka bisa meraup keuntungan secara drastis. Demikian juga untuk sekali cuci mobil, yang biasanya hanya Rp 35.000, untuk harga lebaran menjadi Rp 50.000.

Idulfitri memang merupakan hari berkah, sebagai hari kemenangan bagi orang mukmin, sebagai pengejawantahan dari kegembiraan karena telah sukses mengendalikan hawa nafsu serta sukses menyelesaikan ritual ibadah selama sebulan penuh di dalam bulan Ramadhan. Hari ini juga merupakan saat untuk saling berbagi kegembiraan dan bersilaturrahim. Tetapi sayangnya yang terjadi adalah ada pihak-pihak yang justru mengambil kegembiraa para pemudik dan pelancong yang tumpeg bleg ke kota ini. Bagi warung dan penjual makanan, ini menjadi kesempatan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, karena pendatang yang mencari makan, hanya memiliki sedikit pilihan; banyak warung-warung makan yang tutup selama liburan idulfitri. Sehingga mau tidak mau harus makan walaupun harganya ternyata lebih mahal daripada biasanya. Dinaikkan atas perintah bos warung, kata pelayan di situ.

Fenomena “menaikkan harga dadakan” ini menjadi tren khusus untuk lebaran, memaksimalkan jumlah pengunjung luar kota yang mudik ke Yogyakarta, ataupun sekadar pelancong yg memanfaatkan liburan panjang sekaligus ganti suasana lebaran di Yogyakarta. Dapat diamati dari plat nomor kendaraan yang memenuhi wilayah Yogyakarta yang umumnya memang berasal dari luar kota. Memenuhi seluruh jalanan Kota Yogyakarta, pada pusat-pusat perberlanjaan serta objek wisata yang ada disekitarnya.

Periode kenaikan harga juga bervariasi. Ada yang sudah di mulai H-7 hingga H+7, ada pula yang menetapkan periode yang lebih pendek. Apakah ini hanya sekadar memanfaatkan berjibunnya orang luar kota dengan meningkatkan pelayaan dan rasa yang lebih baik, sehingga wajar bila harganya naik, ataupun sebagai sarana untuk mengeduk pendapatan yang lebih booming daripada biasanya dalam waktu singkat. Tapi yang jelas dampak terburuk adalah bagi pemudik dan pelancong yang telah menetapkan budget pada taraf tertentu dengan sangat terbatas, untuk kunjungan ke Yogyakarta yang terkenal ramah, murah dan meriah untuk waktu tertentu. Mereka telah jauh-jauh hari mengumpulkan uang dengan sedikit demi sedikit dan sudah merencanaankan anggaran secara detail dalam keadaan pas-pasan. Kalau pun ada biaya tak terduga kemungkinan sekitar 10 perses dari total dana yang dipersiapkan untuk ke Yogyakarta.

Dalam kondisi harga yang makan yang tidak terkendali di Yogyakarya, tentu saja mereka harus mengalami kejutan lantaran harus merogoh saku lebih dalam lagi. Apalagi untuk harga sekali makan, bila yang diboyong adalah keluarga besar, terdiri suami, istri dan beberapa anggota keluarga lainnya, maka dapat dibayangkan beratnya mendapati kenyataan yang di luar dugaan seperti itu. Bagi yang punya saudara atau memang rumah orang tuanya di Yogyakarta kenyataan ini tak jadi masalah. Karena tidak harus terpaksa makan di luar. Demikian juga bagi mereka pemudik atau pelancong yang memang memiliki spare dana yang lebih banyak, yang tidak terlalu menghiraukan berapa pun pengeluarannya.

Sikap sementara pedagang yang berbuat demikian memang sangat tidak simpatik, karena tidak menggambarkan watak ke”yogyakarta”-an dan sangat tidak mewakili sifat-sifat masyarakat Yogya yang sesungguhnya. Aji mumpung sendiri merupakan salah satu sifat budi pekerti yang rendah kedudukannya bila ditelusuri dalam hirarki sifat-sifat yang baik dan buruk dalam budaya Jawa. Apa yang dilakukan oleh sementara pendagang makanan, merupakan tindakan sepihak atas inisiatif dan pertimbangan sendiri serta demi kepentingan sendiri dengan tujuan ingin mendapatkan keutungan sendiri secara besar dalam waktu yang relatif singkat. Kedua belah pihak akan saling merasa, si penjuan merasa senang dan gembira, knarena degan dagangannya laku, maka dia sudah memperoleh keuntungan kira-kira 30 persen lebih besar dari keuntungan biasanya; pihak pembeli merasa berat dengan pengeluaran yang di luar perhitungan tersebut, meskipun keadaan memaksa.

Kini semuanya telah terjadi dan berlalu begitu saja seiring dengan kegiatan rutin yang sedang menunggu di tempat kerja dan dalam kesibukan keseharian di kota asalnya masing-masing. Masyarakat hanya bisa mengharap mudah-mudahan akan ada perbaikan pelayanan publik ketika memasuki lebaran tahun depan. Meskipun secara hukum formal tidak ada satu pasal pun dari isi kitab undang-undang yang dilanggar, baik oleh pengelola warung ataupun bagi pihak penyedia jasa, akan tetapi, tetap dibutuhkan pertimbangan rasa empati dan etika di dalam menetapkan sesuatu yang berkaitan dengan layanan terhadap orang banyak, apalagi hal itu menyangkut penentuan kenaikan harga makanan secara dadakan  yang mencapai 30-50 persen. Demikian juga sangat diperlukan langkah instrospeksi untuk mengingat kembali sikap-sikap, tindakan-tindakan, dan prilaku spekulasi yang tidak tepat, sehingga bisa diubah menjadi sikap yang lebih baik lagi di hari-hari mendatang. Puasa Ramadhan seyogyanya memberikan sesuatu yang lebih menjadikan manusia bertambah arif, usai melakoni proses penggemblengan selama satu bulan penuh untuk merengkuh derajat takwa dan fitrah. Syukur-syukur, di masa datang, ada pihak terkait yang bisa menghimbau para pedagang dan penyedia jasa untuk tetap berpegang teguh secara konsisten menjaga, memelihara dan menghormati jati diri, nama baik dan nama besar Daerah Istimewa Yogyakarta….**

Bunga Rampai 0 comments on Taqabbalallahu minna wa minkum

Taqabbalallahu minna wa minkum

Taqabalallahu minna wa minkum
Taqabalallahu minna wa minkum

Puasa ramadhan merupakan suatu ketetapan Allah subhanahuwata’ala yang diperintahkan oleh-Nya dan wajib untuk ditunaikan oleh umat Islam; “… kutiba ‘alaikumusshiyamu kama kutiba ‘alalladzina min qablikum…”. (Q.S.2:183). Dan untuk amal ibadah tersebut, Allah menyediakan ganjaran bagi siapa saja orang iman yang berhasil menjalankan ibadah puasa sesuai rukun yang mengaturnya: “…illa shauma, fainnahu Li wa Ana ajzii bihi…” (kecuali puasa, maka sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya). (Rawahu Bukhari; Muslim; Ibnu Majah). Begitu tingginya nilai puasa ramadhan sehingga ditangisi oleh Khalifah Umar bin Khattab ketika bulan mulia ini berada di penghujung harinya, lantaran kekhawatiran kalau-kalau beliau tidak dapat bertemu lagi dengan ramadhan pada tahun berikutnya. Karena indeks amaliyahnya begitu tinggi, namun dengan faktor kesulitan yang juga besar, maka di dalamnya terdapat rintangan yang paling berat, bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga dilarang melakukan hal-hal yang menjurus kepada maksiat; menjaga mata, telinga, mulut dan pikiran agar terhindar dari sesuatu yang dapat mengurangi nilai puasa itu sendiri.

Puasa ramadhan digambarkan sebagi sebuah jihad kubra (perjuangan yang besar), sehingga dibutuhkan perjuangan untuk melampauinya; perjuangan mengendalikan hawa nafsu, dalam keadaan sendirian sekalipun. Di samping itu, di balik berbagai ujian, banyak sarana yang disediakan Allah subhanahuwata’ala di dalam bulan, yang pintu dosanya ditutupi rapat-rapat; pintu amalannya dibuka lebar-lebar; para setan dibelenggu agar tidak gentayangan menggoda anak Adam yang sedang menunaikan rukun Islam yang sarat tantangan dan pengendalian. Banyak terdapat bonus dengan berlipat ganda kebaikan dan pahala bagi yang berupaya untuk mengejarnya, antara lain: ”barang siapa berpuasa pada bulan ramadhan dengan iman dan mencari pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat”; dan barang siapa yang berdiri (mendirikan shalat) pada malam qadar dengan iman dan mencari pahala maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat “ (Rawahu Bukhari).

Puasa semakin indah ketika dihiasinya dengan tadarus, shadaqah dan melaksanakan i’tikaf selama sepuluh malam terakhir bulan ramadhan ―yang ganjarannya ”…seperti melaksanakan dua kali hajji dan umroh” (Rawahu Baihaqi)―, dengan harapan dapat bertemu malam qadar yang keutamaannya lebih baik dari pada seribu bulan atau setara dengan 83,3 tahun kehidupan. Lalu kemudian melengkapinya dengan menunaikan zakat fithrah sebelum waktu sholat ‘id dilaksanakan, karena ”zakat fithrah akan mensucikan puasa dari perbuatan lalai dan pelanggaran kecil”, (Rawahu Abu Daud); ”ibadah puasa akan digantung oleh Allah di antara langit dan bumi, kecuali setelah menunaikan zakat,“ (Rawahu Abu Hafash ibnu Syahin).

Seseorang yang mampu menyelesaikan ibadah puasa ramadhan, dan dengan segenap kemampuan dapat memanfaatkan fasilitas ‘ubudiyah lainnya pada bulan yang penuh magfirah wa rahmah itu, maka orang tersebut diibaratkan seakan-akan kembali menjadi suci (fithrah) seperti baru dilahirkan, dan sebagai sarana merayaannya disediakan sebuah hari raya fitrah (idulfithri) bagi setiap muslim yang telah melampaui hari-hari yang penuh tantangan. Bahkan idulfithri juga disebut sebagai yaumul ja-izah: sebagai hari pembagian pahala bagi orang-orang yang meraih kemenangan; hari dimana Allah subhanahu wata’ala memaripurnakan pahala milik-Nya kepada manusia yang berhasil mencapai derajat taqwa.

Sebagai perayaan thanksgiving, manusia mengejawantahkan rasa syukurnya kepada Allah ―dengan mengumandangkan gema takbir― atas keberhasilan meraih kemenangan dalam jihadulkubra. Sebaliknya, Allah menganugerahkan pahala berlimpah-limpah kepada kaum muslimin yang telah mendedikasikan seluruh amal ibadah dan amalsholih selama bulan ramadhan dengan disertai niat hanya semata-mata karena Dia. Beberapa tatacara dan adab yang dapat digambarkan dalam merayakan Idulfitri adalah dimulai dengan mandi dan membersihkan diri sebelum menuju tempat shalat ‘ied (Rawahu Malik). Kemudian disunahkan untuk memakai pakaian baru dan pakaian yang bersih atau sebaik-baiknya pakaian yang dimiliki, serta memakai wangi-wangian (Rawahu Bukhari). Di samping itu disunahkan pula untuk makan sebelum keluar dari rumah untuk menuju tempat shalat (Rawahu Bukhari).

Untuk memeriahkan hari kemenangan ini, dianjurkan bagi tiap-tiap muslim untuk menggemakan tahlil dan takbir dengan suara keras (Rawahu Baihaqi). Demikian juga untuk menyemarakkannya disunahkan agar secara bergantian memberikan ucapan selamat (tahni-ah), berjabat tangan antara laki-laki dan laki-laki dan antara mereka yang boleh bersalaman, yang tujuannya digambarkan dapat meruntuhkan dosa-dosa bagi keduanya (Rawahu Thabrani) dan disunahkan pula untuk menampakkan wajah yang penuh kegembiraan; membedakan jalan untuk menuju tempat shalat dan jalan pulang dari tempat shalat (Rawahu Bukhari); menyambung tali silaturrahim dengan sanak famili, agar Allah bentangkan baginya rizki dan Allah panjangkan umur baginya (Rawahu Bukhari). Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam berkata: ”Barang siapa yang menginginkan dibentangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya oleh Allah, maka hendaklah ia menyambung (tali silaturrahim) kepada ahli familinya”; mempersungguh untuk taat kepada Allah dan meninggalkan segala pekerjaan yang maksiat (Al-ayah; Alhadits Rawahu Bukhari dan Rawahu Alhakim).

Ucapan fadhilah pada saat merayakan idulfitri, adalah sebagaimana diceritakan di dalam sebuah riwayat berikut ini. Seorang sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam, bernama Khalidin ibnu Ma’dan, pada suatu hari raya bertemu dengan seorang sahabat lainnya bernama Wasilah ibnu Asqa’. Dalam kesempatan tersebut, Khalidin mengucapkan: “taqabbalallahu minna wa minka”, lalu kemudian dalam beberapa saat dengan spontan Wasilah pun membalasnya dengan ucapan: “na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Dalam riwayat yang sama diceritakan pula bahwa ketika kemudian bertemu dengan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam pada hari raya tersebut, Wasilah ibnu Asqa’ mengucapkan lafaz yang sama seperti yang didengar dari Khalidin ibnu Ma’dan: “taqabbalallahu minna wa minka” kepada Nabi, dan Nabi pun ketika itu membalasnya dengan ucapan: “na’am, taqabbalallahu minna wa minka” (Rawahu Baihaqi dalam Kitabul ‘Idain, Juz 3, Halaman 219).

Kejadian ini tidak menimbulkan sanggahan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, bahkan ketika ucapan tersebut ditujukan langsung kepada diri beliau sendiri. Sebagaimana yang lazim berlaku, sama halnya ketika Bilal bin Rabah mengumandangkan lafaz azan untuk pertama kali, apabila tidak menimbulkan koreksi dari baginda Rasul, maka pada akhirnya akan digunakan sebagai sunnah. Dengan kata lain, dengan demikian beliau telah menyetujui, bahwa, apabila sesama muslim bertemu pada idulfitri maka lafaz yang afdhol diucapkan adalah: “taqabbalallahu minna wa minka”, dan bagi orang yang menerima ucapan, memberikan jawaban dengan mengucapkan: “na’am, taqabbalallahu minna wa minka”.

Dalam perkembangan selanjutnya, karena kata min-ka (dari engkau), secara kebahasaan merupakaan ucapan yang ditujukan kepada orang kedua tunggal, maka untuk ucapan yang ditujukan terhadap orang banyak (jama’) lazim diucapkan: taqabbalallahu minna wa minkum... ―semoga Allah menerima dari kami (yang telah kami amalkan) dan dari engkau (yang telah engkau amalkan). Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala sudi menerima amal ibadah kita sekalian. Aamiin….**