Jogja Istimewa 0 comments on Belajar Keteladanan dari Seorang yang Bersahaja

Belajar Keteladanan dari Seorang yang Bersahaja

Dalam dua minggu belakangan media sosial ramai-ramai menyoroti kasus meninggalnya tiga orang mahasiswa dalam Pendidikan Dasar The Great Camping (TGC) XXXVII untuk menjadi anggota Mapala (Mahasiswa Pencnta Alam) UII. Acara dilaksanakan di lereng Gunung Lawu, Karang Anyar, Jawa Tengah.

Kasus jadi merebak, karena banyak pers yang menatap persoalan ini dari sudut pandang mereka sendiri tanpa check ‘n’ recheck. Sebagian besar adalah pers yang berbadan besar yang memiliki sumber daya manusia intelektual.

Sayangnya predikat tersebut tak mampu membuat seseorang bersikap objektif. Melihat bersoalan dari luar jendela, kemudian memuatnya dengan improvisasi dan ilustrasi sendiri. Dengan bahan yang sedikit, mengembangkan pendapatnya menurut logika masing-masing.

Selalu terkesan ada kandungan agenda setting yang menunggangi pers mainstream semacam ini. Kendati seorang intelektual tidak boleh berbohong, namun ini sepertinya “terabaikan”. Intelektual boleh melakukan kesalahan; tapi intelektual yang “tolol” pasti tega membohongi pembaca, dan terlebih-lebih membohongi nuraninya sendiri, demi menjaga misi pers yang diembannya.

Rektor UII Yogyakarta

Rektor UII dan Wakil Rektor I, II dan III, membawa keteladanan bagi insan akademis

Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, merupakan universitas swasta tertua di Indonesia. Lembaga pendidikan tinggi yang berlokasi di Yogyakarta ini didirikan pada 8 Juli 1945 —sebulan sebelum deklarasi kemerdekaan RI—, oleh para intelektual muslim masa itu, antara lain: Dr. Muhammad Hatta (Wakil Presiden Pertama Indonesia), Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan K.H. A. Wachid Hasyim. indian generic levitra

Dari semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian sejak tanggal 3 November 1947 berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Dr. Sardjito

Awal kebangkitan UII terjadi ketika berada di bawah kepemimpinan (rektor) Prof. Mr. Kasmat Bahuwinangun (1960-1963) dan Prof. Dr. dr. M. Sardjito (1964-1970). Nama yang terakhir ini, kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terletak di kompleks kampus UGM; RSUP Dr. Sardjito.

Sejak awal tahun 1990-an PTS ini sudah memiliki kampus terintegrasi di Jalan Kaliurang KM. 14.5, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Dengan jumlah mahasiswa saat ini yang mencapai lebih dari 20.000, PTS ini mampu menempatkan diri pada ranking ketiga terbaik di Yogyakarta setelah Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Dan merupakan perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik di wilayah ini.

Pencapaian prestasi ini dilalui melalui jalan panjang nan berliku, penuh keringat, kerja keras dan doa. Sampai akhirnya menjadi kampus perjuangan yang dicintai mahasiswa dan alumninya serta menjadi kebanggaan umat Islam.

Berita tentang tragedi kemanusia yang menyebabkan gugurnya Muhammad Fadhli, Syaits Asyam dan Ilham Nurpadmy, telah mumbuncahkan semangat persatuan di kalangan mahasiswa beserta stakeholder-nya. Ada rasa kebersamaan yang terbangun, ketika pers mainstream menceritakan hal-hal yang tidak diketahuinya secara gamblang.

Bermodal sedikit info, berani mengembangkan cerita ngalor-ngidul dengan “nada” memojokkan lembaga dan “orang-orang”nya. Menyadari ada gelagat tidak baik begini, lantas dijawab dengan aktif melalui media sosial yang dimiliki masing-masing mahasiswa UII. Sama rasa dan sama “di-dholim-i”, membuat solidaritas mahasiswa dan stakeholder terpanggil seketika.

Bukan hanya pers, wakil rakyat yang tak mengerti persoalan pun curi panggung untuk unjuk gigi di tempat yang salah. Entah dari fraksi mana; dan entah apa maksudnya. Yang penting ikut komentar meskipun bukan di ranah yang akrab dengan dirinya.

Melawan “tinta” dengan “tinta”

Di tengah simpang siur berita yang tidak berimbang, mendorong sang rektor menyatakan pengunduran diri yang kemudian diikuti oleh Dr. Abdul Jamil, SH., MH., Wakil Rektor III, yang membawahi Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

Ini berita pilu yang bertindihan. Kesedihan kehilangan rekan, masih mengabung, malah harus merasakan “orang tua” yang mereka hormati, pamit mundur dari jabatannya, sebagai manifestasi tanggung jawab sebagai pimpinan tertinggi di kampus hijau tersebut. Keputusan rektor menjadi antiklimak dari persoalan yang telah menjadi bola salju ini.

Perlawanan yang dilakukan anak-anak UII melalui media sosial, membungkamkan pers berbadan besar yang tidak objektif. Melawan “tinta” dengan “tinta” ditunjukkan “anak-anak” dengan penuh semangat dan taktis.

Hasilnya memang UII bukannya tambah mengecil, sebaliknya semakin mengundang kekaguman dari masyarakat umum yang berada di luar keluarga almamater UII; dari para aktivis kampus; dari orang-orang yang antikekerasan.

Tanggapan mahasiswa mendukung rektor bukanlah untuk mentoleransi terjadinya kekerasan. Akan tetapi dengan suara bulat sepakat menolak adanya tindak kekerasan, dan mempertahankan salah satu putra terbaik di lingkungannya sambil memikul tanggung jawab bersama-sama atas tragedi ini.

Kondisi ini paradoks dengan apa yang pernah terjadi di lain tempat. Bila di sana, mahasiswa berkumpul menyatukan suara untuk menurunkan rektor, maka di sini justru untuk memberikan dukungan moral terhadap sosok yang sudah dianggap sebagai “orang tua” mereka.

Namun ibarat kata pepatah, “anjing terus menggonggong; kafilah terus berlalu”. Pers terus membuat berita subjektif, tapi simpati terus datang mengalir.

Tak banyak yang percaya lagi pers-pers model begini, yang sama sekali, meskipun menguasi pasar informasi melalui grup yang dibangunnya, tapi pada kenyataannya miskin objektivitas.

Gentlement action

Meskipun akhirnya Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc. mundur, itu bukanlah tanpa alasan. Ada pertimbangan yang dalam, yang telah dilakukannya melalui kontempelasi di hadapan “Yang Maha Pengatur” semesta alam.

Apa yang terjadi selalu dan pasti tak lepas dari skenario sang “Maha Pencipta”. Termasuk daun yang gugur dan pasir-pasir yang bergerak ditiup angin; serta musibah dan bencana yang menimpa segala makhluk ciptaan-Nya. Apatah lagi sekadar “lepas” jabatan. Yang bergengsi sekali pun.

Terpisah dari hal itu semua, langkah yang diambil Pakde Har —panggilan akrab Pak rektor—, merupakan sebuah gentlement action, yang tidak semua orang mampu memeragakannya. Terlalu berat melakoni keputusan seperti ini, manakala hidup hanya diukur dari parameter manusia: prestisius dan snobbism.

Terlalu banyak manusia yang tidak “berani” melepaskan diri dari tali kekang kuda yang melilitnya, sepanjang hidupnya, di dalam hiruk pikuk dunia yang menawarkan pilihan yang penuh berhias dengan niat baik.

Apa yang diperagakan Pak Rektor di hadapan masyarakat, yang secara gamblang dapat disimak melalui dunia maya, seharusnya sudah cukup bagi siapa saja untuk mengambil hikmah, bahwa “dihargai” itu tidak semata-mata karena posisi atau jabatan yang melekat pada diri seseorang.

Ada sisi lain yang membuat keharuman dan kekaguman terhadap seseorang. Sisi itu adalah lantaran sikap hidup dan prinsip yang dipegang dan bisa menjadi panutan.

Mengambil hikmah

Melepas jabatan tidak akan menghentikan denyut jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Melainkan akan memerkayakan jiwa menjadi manusia seutuhnya. Mampu membebaskan diri dari segala penyakit hati yang selalu mendorong hasrat untuk selalu ingin diagungkan, dihormati dan kemudian menjelmakan diri menjadi “megaloman”.

Rektor telah meninggalkan keteladanan, meskipun bukan itu maksudnya mundur dari pimpinan tertinggi universitas kebanggaan umat Islam dan bangsa Indonesia tersebut.

Niatnya tentu saja demi kebaikan UII dan sesiapa saja yang menjadi insan akademis serta sebagai tanggung jawab moral atas apa yang terjadi tatkala ianya sedang menjadi pimpinan institusi.

Langkah ini kemudian menempatkannya sebagai salah seorang yang berjiwa besar dan menjadi salah satu yang memiliki kepribadian utuh dari sekian banyak orang-orang besar yang pernah ada.

Apa yang diperagakan sang rektor, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., bersama rekannya, Dr. Abdul Jamil, SH., MH, telah menepis sebuah adagium kepemimpinan: tidak ada atasan yang bersalah; maka apabila suatu ketika atasan berbuat salah maka kembalilah pada ungkapan “tidak ada atasan yang bersalah”.

Sebagai seorang muslim, tentu saja ianya telah menggunakan fasilitas berupa sholat istikharah, untuk meminta pilihan yang terbaik yang harus diambilnya. Dan Tuhan memberikan pilihan baginya untuk mundur dari jabatan…**.

Bunga Rampai 0 comments on Thailand Macan Asia Tenggara Yang Sulit Dijinakkan

Thailand Macan Asia Tenggara Yang Sulit Dijinakkan

Negara Asia Tenggara memiliki timnas masing-masing yang kemampuannya setara. Semua tim pernah saling bertemu dan pernah pula saling mengalahkan satu sama lainnya.

Yang masih agak tertinggal hanyalah Timor Leste, Brunei Darussalam dan Filipina. Akan tetapi yang disebut terakhir ini, mulai bangkit sebagai kuda hitam di pelataran sepakbola Asia Tenggara.

Revolusi sepakbola Filipina menjadi perhatian serius dari tim lainnya dalam rumpun Asia Tenggara. Dengan banyaknya pemain naturalisasi, membuat Filipina mampu membangun timnas, yang kapan saja bisa menjadi batu sandungan bagi tim lainnya.

Indonesia pun pernah mengalami kepahitan setelah ditekuk Filipina 4-0, dalam laga leg kedua Piala AFF 2014, di Stadion My Dinh, Hanoi. Kisah sukses pernah menguliti Filipina dua belas tahun yang lalu dengan skor 13-1, menjadi sirna diterpa angin lalu.

Juara AFF Suzuki Cup 2016

Kemenangan yang mengesankan sebagai persembahan kepada Raja Maha Vajiralongkorn

Sejak itu, tim “anjing hibrida” ini terus memberikan jawaban baru di dalam lembaran sepakbola Asia Tenggara dengan permainan yang menakjubkan.

Perlu dicatat bahwa terdapat sekurang-kurangnya empat tim yang pernah berjaya menjuarai perhelatan bergengsi tingkat asia Tenggara ini. Yaitu: Thailand sebanyak lima kali juara (1996, 2000, 2002, 2014, 20160; diikuti, Singapura (1998, 2004, 2007, 2012); Vietnam dan Malaysia, masing-masing satu kali juara tahun: 2008 dan 2010.

Macan Asia Tenggara

Thailand memang tangguh dari sononya, dan terus konsisten menjaga performa permainannya meskipun regenerasi terus berproses; meskipun pelatih terus datang silih berganti. Tidak ada pengaruh yang sangat besar.

Dengan menoreh prestasi menggapai juara sebanyak lima kali, sudah cukup bukti untuk mengukuhkan eksistensi mereka sebagai “Macan Asia Tenggara”. Tim Thailand memiliki segalanya untuk membuatnya ditakuti pada setiap penampilannya. Kekuatan, teknik dan semangat juang yang tinggi.

Talenta anak negeri gajah putih, yang memiliki populasi 68 ribu jiwa ini, terbilang sangat baik, dan dengan kemauan keras serta disiplin yang dimiliki oleh setiap pemainnya, membuat siapa saja yang menjadi pelatih dengan mudah dapat membentuknya.

Demikian juga Singapura yang hanya memiliki populasi sebesar 5,5 juta jiwa, namun sangat mudah mencari pemain berbakat untuk disiapkan membela martabat negaranya melalui sepakbola.

Sementara Indonesia dengan populasi lebih dari seperempat miliyar, ternyata sangat sulit mencari pemain yang mampu menorehkan prestasi yang gemilang di panggung internasional sepakbola. Ironis memang.

Kemenangan Thailanda atas Indonesia pada leg kedua pertandingan final AFF Suzuki Cup 2016, menjadikan tim ini sangat sulit ditaklukkan di kandang sendiri. Baru hanya Vietnam yang bisa menghilangkan aura keramat Stadion Rajamanggala, Bangkok, dan sekaligus  menguburkan niat Thailand dalam pertandingan final AFF tahun 2008 untuk menyabet gelar juara.

“Gajah Perang”

Indonesia yang hanya menjadi pelanggan runner up, menjadikan negeri ini sebagai tim yang paling banyak meraih gelar ranking dua tersebut. Yaitu sebanyak lima kali (2000, 2002, 2004, 2010, 2016); menyusul Thailand sebanyak tiga kali (2007, 2008, 2012); Malaysia (1996, 20140); dan Vietnam (1998).

Thailand benar-benar telah memeragakan permainan bebas nan fleksibel dari pola total pressure football ala “Gajah Perang”. Masing-masing pemain memiliki kemampuan yang sama untuk mengisi posisi mana pun juga. Mereka dengan bebas saling berganti posisi, dan terus memanfaatkan lebar lapangan secara optimal.

Formasi sepanjang pertandingan, penuh dengan improvisasi. Selalu berubah-ubah sesuai dengan keinginan pemain di lapangan. Tiap anggota skuad, siap menjadi penyerang dan selalu siap menjadi pemain bertahan.

Pelatih Thailand tampak tak terlalu menghiraukan formasi apa yang sedang dipertunjukkan oleh anak asuhnya. Yang terpampang adalah “derita” Indonesia yang sepanjang dua kali empat puluh lima menit, hanya bertahan dari gempuran anak-anak Thailand yang menguasai lebih dari separuh lapangan pertandingan.

Angka 2-0 adalah angka keberuntungan bagi Tim Indonesia. Karena sangat sulit membayangkan berapa skor yang pantas untuk sebuah pertandingan yang “berat sebelah”.

Keberuntungan lainnya adalah, —tanpa mengurangi peran pemain lain—, Indonesia memiliki pemain sekelas Kunia Meiga Hermansyah dan Hansamu Yama Pranata, yang selalu berjibaku dan siap mati mempertahankan kekbobolan yang lebih banyak lagi.

Boaz Salosa yang ditinggal sendirian di daerah pertahanan Thailand, tak berkutik di bawah kawalan palang pintu Thailand yang digalang Theeratorn Bunmathan yang liar, dan sering meninggalkan posisi murninya. Dampaknya Boas hanya berlari dan terus berlari mengejar bola yang “disapu” sembarangan menjauh dari daerah pertahanan Indonesia.

Persembahan untuk sang raja

Permainan taktis, anak-anak raja ini telah menempat diri mereka pada level kualitas yang mempesona. Indonesia dengan beban mental yang begitu berat, tak bisa mengembangkan permainan secara sempurna. Permainan taktis Thailand dijawab dengan gagap oleh anak-anak Indonesia.

Melayani Thailand yang memiliki fisik prima, membuat anak-anak Indonesia kehilangan orientasi. Ujung-ujungnya permainan menjadi tidak berpola. Tak ada celah untuk mereduksi permainan Thailand dengan menurunkan tempo permainan.

Bola yang dilepas ke area pertahanan Thailand, selalu membal dan kembali masuk ke wilayah Indonesia, berkali-kali. Sehingga Kawin Thamsatchanan yang berada di bawah mistar Thailand, bisa bersantai sambil menyeruput kopi panas, karena nyaris tidak ada tembakan pemain Indonesia yang sampai ke mulut gawangnya.

Dengan pengalaman mampu menahan imbang Australia pada November 2015 lalu, membuat Thailand benar-benar merupakan tim yang digdaya di kawasan Asia Tenggara.

Thailand yang tak pernah kehabisan talenta, terus membangun timnya ke arah yang menjanjikan untuk lebih percaya diri berbicara di tingkat Asia.

Dengan kualitas fisik, mental dan skill yang terus diasah, rasanya bukanlah hadiah jika Thailand keluar sebagai juara AFF 2016, setelah menyarangkan dua gol ke gawang Kurnia Meiga.

Kemenangan ini menjadi sangat berarti, sebagai persembahan pertama dari Tim Nasional Thailand kepada sang pemimpin baru, Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun, yang naik tahta pada 1 Desember 2016, menggantikan ayahandanya Raja Bhumibol Adulyadej, yang mangkat pada 13 Oaktober 2016….**

Jakarta Punya Cerita 0 comments on Bahasa Betawi Gaya Jakarta

Bahasa Betawi Gaya Jakarta

Penumpang KRL Tanah Abang
Pemandangan ketika penumpang sedang berjubel di stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mereka datang dari berbagai latar belakang ragam budaya dan bahasa

Jakarta adalah milik semua warga Indonesia. Sebagai ibukota tentu saja tingkat heterogenitasnya sangat tinggi. Dari berbagai suku yang ada di seluruh nusantara dapat dijumpai di sini. Dari pelosok ujung barat hingga ke ujung timur Indonesia ada representasinya di kota ini. Dan bahkan dari berbagai bangsa. Tetapi Jakarta memiliki bahasa khas, yang berasal dari Bahasa Betawi. Gaya bahasanya kocak serta enak untuk dituturkan dan didengarkan. Terkadang juga lagu bahasanya terkesan kenes dan kolokan. Apalagi jika penuturnya adalah cewek. Gaya bahasa Betawi juga penuh dibumbui humor. Ini karena dipengaruhi oleh karakter orang Betawi yang suka becanda; humoristis. Kadang sulit membedakan antara mana yang serius dan mana yang candaan, ketika dijumpai ada orang-orang yang sedang salingberbicara.

Kehidupan sosial masyarakat asli Betawi terutama diperkampungan, sama seperti masyarakat lainnya yang ada di daerah Indonesia. “Nonggo” dan saling berkunjung sudah menjadi budaya. Padahal masyakat kota ini sudah terpapar oleh kehidupan eropa sejak Belanda menjajah negeri ini. Bukan dalam waktu yang cuma sebentar, tetapi tiga setengah abad lamanya. Umur Jakarta (Batavia) pun pada tahun 2016 ini sudah mencapai 489 tahun. Jadi dapat dibayangkan tingkat ketahanan orang Betawi terhadap pengaruh budaya luar, memang sungguh luar biasa kuatnya. Bahasa dan budayanya tetap terpelihara dengan baik, meskipun saat ini, umumnya masyarakat Betawi bermukim di pinggiran Jakarta.

Seiring arus migrasi masyarakat dari berbagai penjuru Jakarta, telah membuat Jakarta menjadi sebuah wadah besar yang sedikit banyak akan diisi oleh warna kebiasaan masyarakat pendatang. Tutur kata dan dialek yang berbeda-beda ikut membuat bahasa Jakarta mengalami proses metamorfosis dan pergeseran sedikit demi sedikit. Meskipun basisnya tetap bahasa Betawi, tetapi sesungguhnya bahasa sebagian orang-orang Jakarta adalah bahasa yang memiliki perbedaan dengan bahasa asli orang Betawi. Kalau boleh dikata, ada perbedaan tipis antara bahasa masyarakat Jakarta dan masyarakat asli Betawi. Tidak persis 100 persen sama.

Masing-masing latar belakang suku memiliki dialek dan aksentuasi tersendiri. Sehingga ucapan yang keluar dari seseorang yang merupakan pendatang dari daerah luar Jakarta masih dipengaruhi oleh dialek asalnya. Tetapi dia sedang berbicara dengan gaya bahasa Jakarta. Jangankan yang datang merantau dari luar Jakarta dalam usia dewasa, yang lahir dan dibesarkan di Jakarta ada juga yang masih terpengaruh bahasa Ibu-nya. Salah satunya disebabkan lantaran di lingkungan rumah, masih tetap menggunakan bahasa daerah masing-masing. Sehingga adaptasi terhadap logat Betawi pun menjadi tidak mudah. Maka jadilah bahasa Jakarta yang bercorak ragam daerah. Lebih seru lagi bila dituturkan oleh latar belakang budaya yang kental bahasanya. Timbul pengaruh yang lebih besar karena penuturnya memiliki aksentuasi yang ekstrem.

Bahasa Jakarta yang sering didengar dari para pemain sinetron sepertinya juga mengalami perbedaan. Bahasa Jakarta ala pemain sinetron. Lebih ketara lagi ketika dalam sesi wawancara langsung terhadap bintang sinetronnya, dalam tayangan televisi. Maka akan terdengar dengan jelas dialek bawaan dari pemain sinetron tersebut berasal, muncul sekali-sekali. Bahasa daerah asalnya ikut mewarnai ketika dia berbicara dalam bahasa gaya Jakarta. Bagi penutur hal tersebut terasa biasa-biasa saja. Tapi bagi yang mendengarkan, akan bisa menangkap perbedaan yang terjadi di dalamnya. Bahkan bisa menjadi sinyal untuk dengan mudah menebak dari mana asalnya.

Pergeseran bahasa biasa terjadi dalam masyarakat, dan bahkan di mana pun di belahan dunia ini. Tidak hanya di indonesia. Di Korea Selatan juga, misalnya, berlaku hal yang sama. Sama seperti Jakarta, kota Seoul pun menjadi kota impian bagi calon selebritis Korea Selatan. Di sini tumpleg orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Korea Selatan. Dan bahasa aslinya juga memiliki dialek yang khas derahnya masing-masing. Perlu waktu yang cukup untuk beradaptasi secara baik agar kemudian bisa lancar berbahasa Korea logat kota Seoul.

Bukan hanya bahasa dari luar Pulau Jawa saja yang bisa memberikan pengaruh terhadap bahasa Jakarta. Bahasa yang berdialek bahasa daerah yang terdapat di seluruh Jawa juga ikut andil dalam “mengubah” gaya bahasa Jakarta. Setidak-tidaknya untuk penuturan pribadi seseorang ketika berbicara. Bahasa daerah apa saja sebetulnya juga tidak tertutup kemungkinan bisa mangalami pergeseran. Anak-anak usia muda, juga banyak yang tidak paham sepenuhnya dengan bahasa ibunya. Terutama kata-kata khas yang jarang dimunculkan dalam percakapan

Kekuatan pengaruh bahasa juga ditentukan oleh tingkat populasi jumlah penutur gaya daerah yang tinggal di Jakarta. Secara garis besar bahasa Sunda dan bahasa Jawa menjadi bahasa yang paling kuat mempengaruhi gaya bertutur dalam bahasa Jakarta. Belum lagi di dalam kedua wilayah ini masih terdapat sekian banyak dialek dari masing-masing daerah (kota) yang menggunakan kedua bahasa tersebut. Tentu saja terdapat perbedaan antara satu kota dengan kota lainnya. Masing-masing punya kekhasan tersendiri.

Di Jakarta berbagai gaya penuturan bahasa yang bercorak ragam dapat ditemukan ketika berada di dalam kereta api (KRL) yang banyak dipenuhi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Antarsesama penumpang biasa saling berkomunikasi selama di dalam perjalanan. Entah itu memang dengan teman-temannya sendiri ataupun antarorang-orang yang baru saling kenal sementara di dalam kereta. Di kantor-kantor juga terdapat hal yang serupa. Karena para karyawan kantor pada umumnya adalah mereka yang datang dari berbagai latar belakang budaya dan daerah, untuk bekerja di Jakarta. Sehingga tak jarang pengaruh dialek daerah ikut mewarnai saat saling berkomunikasi. Akan tetapi masing -masing bisa saling memahami dan menjadi ciri baru di lingkungan mereka. Meskipun lambat laun akan ketemu dengan bahasa Jakarta ala mereka.

Seiring dengan semakin gencarnya siaran televisi yang bisa menjangkau hingga ke pelosok desa, membuat anak-anak muda desa ikut latah menggunakan bahasa Jakarta, terutama dari kalangan cewek. Ada kebanggaan tersendiri bila bisa berbicara logat Jakarta. Padahal masing-masing daerah sudah memiliki gaya bahasa sendiri. Meskipun ketika sedang menggunakan bahasa nasional Indonesia. Tapi gaya Jakarta sepertinya lebih mengangkat kepercayaan diri. Maka jadilah bahasa Jakarta dengan gaya bahasa daerah setempat. Patokannya tidak jauh dari bahasa Jakarta yang selalu didengar dari dialog di dalam sinetron.

Bahasa adalah rasa. Termasuk ketika bertutur dalam logat Jakarta, yang sudah barang tentu dilandasi rasa. Berkomunikasi dalam bahasa Jakarta juga menghadirkan rasa tersendiri ketika sesesorang sedang menggunakannya di dalam sebuah percakapan. Itulah magic Jakarta yang mampu membuat siapa saja jadi tertarik. Bukan hanya kotanya yang menjadi impian. Akan tetapi bahasanya juga digemari masyarakat penjuru nusantara. Paling banyak di antaranya adalah mereka yang masih remaja dan anak-anak sekolah. Termasuk juga sebagian ibu-ibu muda yang hobi nonton sinetron Indonesia. Akan terasa lebih gaul bila bisa menggunakan logat Jakarta. Kalau pun tidak secara utuh, tapi sedikit-sedikit ada istilah Jakarta yang ikut menyelinap di celah-celah isi percakapan mereka. Iiih…, Jakarta emang deh dong sih….*