Jakarta Punya Cerita 0 comments on Budaya Betawi Yang Unik Dan Penuh Humor

Budaya Betawi Yang Unik Dan Penuh Humor

Jarang orang menemukam ada orang Betawi yang ketahuan sangat pemarah. Yang bandel dan yang nakal memang banyak. Sudah menjadi sifat orang Betawi yang suka ngelawak, suka “ngerjain” dan suka usil. Kalau marah juga sangatlah terpaksa selebihnya kebih banyak bercanda. Anak muda Betawi yang jadi juru parkir pun tetap terlihat sopan dan pengertian. Tidak tampak ada kesewenangan memberikan tarif untuk sebuah jasa menjaga parkiran atau dalam menjaga keamanan. Termasuk ketika berdiri sebagai “Pak Ogah” untuk mengatur lalulintas.

Sebetulnya, pada umumnya orang Betawi tidak suka mencari-cari masalah. Mereka lebih defensif dari pada ofensif. Mereka tidak suka menjual. Tapi “klo lo jual, gua beli…“. Orang-orang Betawi selalu terkesan “ngampung” meskipun mereka adalah penduduk metropolitan Jakarta. Mereka selalu terlihat bersahaya, tidak tendensius, lugu tapi kocak. Sulit merangkum karakter Betawi dalam satu kata.

Sekilas terlihat sangat sedikit anak-anak Betawi yang “mau” melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal sebetulnya anak-anak Betawi juga banyak yang sudah mencapai tingkat pendidikan tinggi. Hanya saja parodi dalam “Si Doel Anak Betawi” dibuat heboh dengan si Doel bisa menjadi sarjana teknik alias “tukang insinyur”, seakan-akan mengesankan bahwa pendidikan tinggi sesuatu yang asing bagi warga Betawi. Itu hanya bumbu cerita dari salah satu sisi saja dari kehidupan orang Betawi.

Sebetulnya sangat jarang anak-anak Betawi yang tidak berpendidikan. Setidaknya, rata-rata pernah mengenyam pendidikan di bidang agama, sekolah di sekolah agama dan pesantren. Anak-anak Betawi juga diarahkan ke dalam pendidikan budaya untuk membangun karakter, seumpama menjadi murid pada salah satu perguruan silat. Cukup banyak perguruan silat Betawi dengan berbagai aliran, yang terdapat wilayah Jakarta dan sekitarnya, yang merupakan budaya asli Betawi.

Perguruan Silat Nasional Asad
Sejak usia dini anak-anak telah mulai diperkenalkan kepada seni bela diri pencak silat. (Foto Istimewa – Persinas Asad)

Menjadi anggota grup lenong juga merupakan bagian dari pendidikan. Ada atau tanpa sinetron sekalipun. Orang Betawi masih tetap kuat dalam memelihara akar budayanya. Termasuk mencari ilmu-ilmu yang berbasis budaya seumpama belajar seni tari, seni musik (seperti tanjidor dan gambang kromong) serta tradisi Betawi lainnya melalui sanggar-sanggar yang ada.

Hubungan kekerabatan Betawi termasuk unik, tapi terbuka. Anak bisa bebas berkomunikasi dengan orang tua dengan penuh canda. Bagi orang luar Betawi hal ini dianggap tabu dan tidak sopan. Tetapi bagi orang Betawi sendiri, pemandangan ini biasa-biasa saja.

Peran Ibu sangat sentral, termasuk dalam memberikan perhatian kepada menantunya. Anak perempuan Betawi cenderung kolokan. Sehingga tidak sedikit para Ibu selalu mendampingi anak perempuan sambil menuntunnya agar bisa meladeni suaminya dengan sempurna. Komunikasi antara mertua dan menantu juga tak selalu terikat aturan formal. Semuanya mengalir begitu saja. Santai dan tidak kaku.

Cara berkomunikasi

Dalam pergaulan anak-anak muda Betawi juga penuh dihiasi tawa ria. Saling gojlok dan diselingi cerita-cerita konyol merupakan pemandangan sehari-hari. Ameng, Mali, Bolot, Mandra, dan Bang Opi, misalnya, sedikit banyak bisa mewakili cara orang Betawi berkomunikasi dalam situasi yang lepas. Nyerocos dan ceplas-ceplos tanpa beban. Makanya orang Betawi digambarkan sebagai masyarakat yang relijius, sosial dan humoristis

Almarhum Benyamin S., juga memberikan gambaran yang gamblang tentang perilaku orang Betawi. Menjadi bintang iklan pun Bang Bens tetap saja sambil membanyol. Selalu ada hal-hal yang mengandung kelucuan dan mengundang tawa. Dari sekian banyak lagu Benyamin yang serius, mungkin hanya satu yang benar-benar penuh penghayatan.

Lagu berjudul “Maaf Ku Tak Datang”, yang dibuat tahun 1971 memang dinyanyikannya dengan khusyu’, tapi karena yang menyanyikannya Benyamin S., maka orang jadi antara tidak yakin dan percaya. “Masa’ sih…?”. Iya, cobalah dapatkan lagunya. “Maaf ku tak datang, penuhi undangan… Pada malam pesta perkawinanmu… Bukan aku segan, bukan aku kejam, karena kau ingkari semua janji”….

Kesedihan Benyamin S., di ujung lagu pun tak membuat pendengar bersedih, malah sebaliknya: “nyang bener Bang Bens…!”. “Masa’ sih Benyamin bisa-bisanya mewek-mewek begitu…?”. Sikap ini karena memang Benyamin S., yang anak Kemayoran itu, dalam hal apapun terlihat tidak melankolis. Tidak peduli dengan sesuatu yang serius. Semua lagunya sangat khas Betawi.

Padahal populasi orang Betawi sangat sedikit jumlahnya. Album bersama pasangannya, Ida Royani, yang diluncurkannya laris manis di pasaran dibandingkan album duet bersama penyanyi cewek yang lain yang pernah menjadi pasangan bernyanyi Benyamin.

Yang suka lagu-laku mereka ternyata bukan hanya dari kalangan Betawi semata, tapi sudah menjadi konsumsi masyarakat nusantara. Meskipun dalam aksen Betawi yang “medhok“, tetap saja orang lain bisa menikmatinya. Di era tahun tujuh puluhan Benyamin – Ida Royani merupakan artis papan atas yang sangat populer dan bisa meraup pendapatan yang tertinggi berkat penjualan album lagu-lagunya dan juga dari film-film yang dibintangi mereka.

Tidak ada yang tidak suka dengan Bang Jampang yang suka plesetan ini. Meskipun alur ceritanya sederhana, ringan dan se”enak”nya, tetap saja enak untuk ditonton.

Memang unik

Betawi memang unik, bahasanya pun disukai banyak orang. Menonton lenong juga menjadi sesuatu yang asyik. Apakah karena Betawi berada di ibukota negeri ini, atau memang lantaran bahasanya mudah dicerna dan mudah dimengerti? Tapi yang jelas orang Betawi dalam kesehariannya selalu tampil apa adanya. Meskipun tinggal di ibukota, tapi mereka tak akan hanyut dalam arus kehidupan yang melanda kota besar.

Jarang sekali keluarga Betawi yang menyebut ibunya dengan panggilan Mami atau Mama sebagai mana berlaku dalam keluarga di kota besar. Pada umumnya kalau bukan Emak, iya, Enyak. Untuk orang tua laki biasanya cukup dengan panggilan Babe atau Abe. Paling banter adalah Ayah atau Bapak. Hampir tidak pernah dijumpai panggilan Papa atau Papi berlaku dalam keluarga Betawi. Paling banter adalah “umi” dan “abi”, yang diambil dari bahasa Arab

Orang Betawi memang tidak suka mencari-cari masalah. Kedatangan orang-orang luar Jakarta yang suka membuat masalah dengan praktek premanisme, dijawab dengan membentuk Forum Betawi Rempug (FBR) atau pun Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi). Ini hanya sekadar pertahanan diri dan melindungi masyarakat Betawi dari kesewenangan para preman pendatang.

Beberapa kasus bentrokan berlatar belakang etnis yang pernah terjadi, hanya sebagai reaksi dari situasi yang sangat terpaksa. Termasuk peristiwa dengan Kelompok Herkules yang pernah menguasai wilayah Tanah Abang dulu.

Bukan menyerang, tapi sekadar memberikan aksi untuk mengingatkan bahwa Jakarta pun punya istiadat dan komunitas yang perlu dihargai. Perlu dijaga dan dipelihara bersama dalam hukum kesetaraan bermasyarakat serta jauh dari sikap permusuhan.

Orang Betawi sejatinya adalah tipikal orang yang sabar. Sifat ini bukan karena tidak punya nyali, melainkan sebagai wujud dari sikap kesatria yang terbentuk melalui proses belajar dari falsafah yang terkandung dalam seni beladiri silat yang ditanamkan secara turun-temurun, sejak usia dini.

Meskipun ada pendapat dari ahli sejarah yang mengatakan bahwa orang Betawi adalah keturunan garis Tarumanegara, akan tetapi dalam keseharian dan adatnya lebih kental rasa Melayunya. Betawi dapat dikategorikan sebagai bagian dari salah satu subetnis yang termasuk dalam rumpun Melayu Nusantara. Orang Betawi juga sarat dengan budaya berbalas pantun.

Dari pakaian adatnya bisa terlihat bahwa unsur Melayu begitu melekat dalam budaya Betawi, terlihat dari pakaian berupa teluk belanga yang menyerupai pakaian Melayu se-nusantara. Sama halnya seperti pakaian adat Melayu Sumatera, Melayu Kalimantan, Melayu Sulawesi, Melayu Semenanjung Malaysia dan Melayu Filipina.

Seiring perkembangan Jakarta yang telah berlangsung sejak era kepemimpinan Ali Sadikin, maka lambat laun orang asli Betawi, mulai bergesar ke pinggiran kota Jakarta, bahkan hingga ke wilayah Tangerang Selatan, Depok dan Bekasi. Tapi warna kehidupan Jakarta tidak akan lepas sepenuhnya dari pengaruh kebudayaan Betawi…***

Bunga Rampai 0 comments on Begal Dari Masa Ke Masa

Begal Dari Masa Ke Masa

Kata begal dalam bahasa Jawa berarti perampok, penyamun. Begal juga dapat didefinisikan sebagai perampokan yang dilakukan di tempat yang sepi; menunggu mangsanya ditempat sepi untuk merampas harta bendanya dengan cara melumpuhkan sasarannya.

Belakangan ini “begal” menjadi topik berita yang paling menonjol, ketika banyak peristiwa perampokan dengan kekerasan di jalan-jalan di kawasan DKI dan sekitarnya, yang menyebabkan korban berjatuhan dengan kondisi yang menyedihkan. Pelaku begal tidak ragu-ragu bertindak sadis ketika menyakiti korbannya. Korban yang sudah tak berdaya benar-benar dibuat lumat dengan sekujur bedannya penuh bekas luka akibat dibabat dengan pedang, clurit atau kelewang. Senjata ini rata-rata menjadi alat pembunuh yang digunakan oleh para begal.

Sejak dulu Jakarta sudah sering dicekam oleh tindakan begal. Pada tahun 1982, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Anton Soedjarwo, berupaya menumpas para penjahat yang sudah sangat meresahkan masyarakat Jakarta. Kapolda menggelar tindakan represif dan menembak mati setiap penjahat yang melawan. Atas keberaniannya tersebut Anton memperoleh anugerah penghargaan dari Presiden RI.

Rupanya kesadisan tindakan para begal kala itu, mendapatkan perhatian serius dari Kepala Negara. Langkah yang diambil Polda Metro Jaya menjadi patron bagi Pak Harto untuk melanjutkan operasi petrus dan tembak di tempat. Membersihkan begal dari seluruh tanah Indonesia.

Begal beraksi
Gambar Ilustratif aksi para begal

Bukan hanya kepolisian yang dilibatkan dalam operasi ini, tetapi unsur Garnisun dari Komando Distrik Militer (Kodim) juga ikut digerakkan untuk menumpas begal yang sudah bertindak di luar batas-batas kemanusiaan. Waktu itu ada yang disebut gali, prokem, preman, dan masih banyak istilah lainnya. Kelakuannya dan tujuannya sama, yaitu, merampas harta dengan melumpuhkan korban.

Alasan Pak Harto sangatlah sederhana. Penjahat ini harus ditreatment; negara harus hadir untuk memberikan rasa aman bagi masyarakatnya; kekerasan harus dilawan dengan kekerasan…. “Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan… dor… dor… begitu saja, bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak. Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu. Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu”. (Ramadhan K.H., 1988).

Negara harus melindungi warga negaranya dari perbuatan sewenang-wenang orang-orang yang tidak berperikemanusiaan. Hingga akhir pemerintahan Pak Harto, Indonesia bebas dari pelaku begal, karena memang resiko membegal sangat nyata dan fatal. Kala itu identitas begal selalu identik dengan tato di badannya. Sehingga begal-begal tanggung yang bertato dengan segala upaya menghilangkannya. Bahkan konon dengan cara menyetrika pada permukaan badan yang bertato.

Pendeknya begal dibikin tidak tenang; sebaliknya masyarakat semakin merasa aman dan berterima kasih kepada aparat. Penumpasan begal memang dilakukan dengan sangat serius. Pimpinan tertinggi negara saat itu mengambil alih seluruh tanggung jawab dari semua jenis operasi yang bertujuan untuk membasmi begal.

Tim Khusus Anti Bandit

Jauh sebelumnya, di Medan juga banyak bermunculan preman sadis. Untuk menindak aksi begal, maka Polri membentuk unit khusus yang beroperasai untuk menciduk para begal. Medan waktu itu tentu sangat akrab dengan sebutan Tekab (Tim Khusus Anti Bandit). Kehadiran Tekab membuat hati masyarakat merasa sedikit merasa lebih aman. Namun dengan keterbatasannya Tekab tidak bisa menumpas begal sampai keakar-akarnya. Kejahatan preman tetap tak kunjung reda; tetap terjadi secara sporadis. Padahal Tekab merupakan tim yang sangat terlatih, taktis dan profesional.

Meskipun banyak yang tertembak, tapi tindakan rampok, begal, rampok, jambret dan penodongan tetap terus terjadi. Banyak begal yang mati di ujung peluru aparat keamanan, tapi tak menyurutkan nyali mereka untuk terus menjalankan aksinya. Salah satu yang membuat keberanian preman memuncak adalah pengaruh minuman keras. Yang menjadi konsumsi rutin para preman atau begal sebelum mereka beraksi.

Masyarakat selalu merasakan was-was dan terancam, sebagai dampak dari aksi brutal para begal. Sehingga tidak mengherankan bila ada orang-orang baik pun, ikut-ikutan membawa senjata tajam sejenis belati atau sebagainya untuk pertahanan diri semata. bila sewaktu-waktu keluar rumah.

Waktu terus berjalan, pemerintah terus berganti. Kini begal sedang mengalami puncaknya di mana-mana. Aksi begal sudah mencapai klimak dan sangat menakutkan. Banyak korban tak berdosa meregang nyawa; mati sia-sia di tangan begal; di ujung alat pembunuh para begal yang tak berperikemanusian. Begal begitu leluasa menunaikan tugasnya. Keterbatasan jumlah personil aparat keamanan ikut membuat begal bersuka ria tanpa rasa takut sedikit pun. Mangsanya pun tak peduli laki perempuan tua atau muda. Asal menghasilkan duit maka pastilah dieksekusi dengan cara sadis.

Pada sekitar awal tahun 1983, seluruh jajaran teritorial Jawa Tengah dan DIY, berkumpul di Semarang untuk mendapatkan “wejangan” dan sekaligus memperoleh restu dari Panglima TNI, kala itu dijabat oleh Jenderal M. Yusuf, berkaitan dengan Operasi Penumpasan Kejahatan (OPK) di wilayah masing-masing.

Yogyakarta merupakan wilayah yang pertama sekali melaksanakan Operasi Petrus (penembakan misterius) yang bersandi “Operasi Clurit”. Baru kemudian menyusul di seluruh Jawa Tengah dan DIY serta daerah Jawa lainnya. Operasi di wilayah Yogyakarta, dipimpin langsung oleh Dandim 0734, Letkol (CZI) M. Hasbi, sebagai Kepala Staf Garnisun. Karena perannya tersebut maka pada waktu itu oleh salah satu koran terbitan Jakarta, menjulukinya dengan sebutan “Jango”.

Para gali di Yogya yang suka mengompas supir dan para pedagang ikut dibasmi dengan cara ditembak mati. Supir angkot dan pedagang yang pendapatannya tak seberapa, dengan leluasa dipalak oleh para gali. Dalam pada itu Garnisun Yogyakarta dianggap ibarat pahlawan oleh orang-orang kecil, seperti para supir dan para pedagang kecil, serta masyarakat pada umumnya.

Hampir seratus gali Yogyakarta mati di tangan aparat, sebagai pembayaran atas aksi brutalnya. Pascapetrus, seluruh kota-kota besar di Pulau Jawa aman tenteram, bebas dari tindakan kejahatan. Begal yang luput mati pun menjadi ciut nyalinya dan menyembunyikan diri hingga bertahun-tahun.

Melanggar HAM

Pegiat hukum hanya berkoar-koar untuk menyalahkan aksi petrus yang melanggar HAM. Tapi mereka lupa berapa banyak korban masyarakat dan juga aparat, yang dibunuh secara sadis tanpa pertimbangan HAM dari pelakunya; bahkan tanpa adanya kritikan ahli-ahli hukum yang suka menyuarakan HAM.

Begal membunuh masyarakat tak bersalah, tidak menyalahi HAM; aparat membunuh para penjahat yang suka membunuh, merampok dan merampas harta orang yang tak berdaya, dianggap melanggar HAM. Padahal tindakan aparat bertujuan untuk melindungi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Pembersihan preman, gali dan begal yang pernah dilakukan negara secara terukur telah berlalu, hampir 40 tahun yang lalu, tak lagi membekas. Kini begal kembali membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi keresahan akibat tindakan sadis gank motor yang tidak segan-segan melukai dan membunuh orang tanpa tujuan yang jelas. Kedua aksi ini sudah barang tentu tidak boleh dibiarkan.

Pembentukan Tim Anti Begal, yang saat ini gencar beroperasi di Medan, merupakan titik kekesalan aparat terhadap tindakan para begal yang sudah di luar kepatutan. Hari demi hari selalu ada begal yang ditangkap, ditembak bahkan ada yang tercerabut nyawanya ditembus timah panas para aparat yang sedang menjalankan tugas mulia dalam melindungi masyarakat. Seakan ibarat mati satu tumbuh seribu, begal mati selalu ada pengganti.

Begal bukan hanya meresahkan orang-orang beraktivitas pada malam hari. Begal juga biasa memalak (mengompas) siapa saja yang mereka inginkan dengan dalih uang keamanan (uang reman). Bagi yang keberatan membayarnya akan merasakan akibatnya.

Tugas Tim Anti Begal tidak semudah membalik telapak tangan; sekonyong-konyong mampu menyadarkan begal untuk kembali ke jalan yang benar. Namun masyarakat tetap berharap, agar operasi ini sukses dan bisa mengembalikan rasa aman masyarakat yang sudah lama hilang. Partisipasi masyarakat, meskipun hanya dalam bentuk informasi akan memudahkan aparat untuk secara cepat memburu begal dan kemudian melumpuhkannya…***

Jakarta Punya Cerita 0 comments on Bahasa Betawi Gaya Jakarta

Bahasa Betawi Gaya Jakarta

Penumpang KRL Tanah Abang
Pemandangan ketika penumpang sedang berjubel di stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mereka datang dari berbagai latar belakang ragam budaya dan bahasa

Jakarta adalah milik semua warga Indonesia. Sebagai ibukota tentu saja tingkat heterogenitasnya sangat tinggi. Dari berbagai suku yang ada di seluruh nusantara dapat dijumpai di sini. Dari pelosok ujung barat hingga ke ujung timur Indonesia ada representasinya di kota ini. Dan bahkan dari berbagai bangsa. Tetapi Jakarta memiliki bahasa khas, yang berasal dari Bahasa Betawi. Gaya bahasanya kocak serta enak untuk dituturkan dan didengarkan. Terkadang juga lagu bahasanya terkesan kenes dan kolokan. Apalagi jika penuturnya adalah cewek. Gaya bahasa Betawi juga penuh dibumbui humor. Ini karena dipengaruhi oleh karakter orang Betawi yang suka becanda; humoristis. Kadang sulit membedakan antara mana yang serius dan mana yang candaan, ketika dijumpai ada orang-orang yang sedang salingberbicara.

Kehidupan sosial masyarakat asli Betawi terutama diperkampungan, sama seperti masyarakat lainnya yang ada di daerah Indonesia. “Nonggo” dan saling berkunjung sudah menjadi budaya. Padahal masyakat kota ini sudah terpapar oleh kehidupan eropa sejak Belanda menjajah negeri ini. Bukan dalam waktu yang cuma sebentar, tetapi tiga setengah abad lamanya. Umur Jakarta (Batavia) pun pada tahun 2016 ini sudah mencapai 489 tahun. Jadi dapat dibayangkan tingkat ketahanan orang Betawi terhadap pengaruh budaya luar, memang sungguh luar biasa kuatnya. Bahasa dan budayanya tetap terpelihara dengan baik, meskipun saat ini, umumnya masyarakat Betawi bermukim di pinggiran Jakarta.

Seiring arus migrasi masyarakat dari berbagai penjuru Jakarta, telah membuat Jakarta menjadi sebuah wadah besar yang sedikit banyak akan diisi oleh warna kebiasaan masyarakat pendatang. Tutur kata dan dialek yang berbeda-beda ikut membuat bahasa Jakarta mengalami proses metamorfosis dan pergeseran sedikit demi sedikit. Meskipun basisnya tetap bahasa Betawi, tetapi sesungguhnya bahasa sebagian orang-orang Jakarta adalah bahasa yang memiliki perbedaan dengan bahasa asli orang Betawi. Kalau boleh dikata, ada perbedaan tipis antara bahasa masyarakat Jakarta dan masyarakat asli Betawi. Tidak persis 100 persen sama.

Masing-masing latar belakang suku memiliki dialek dan aksentuasi tersendiri. Sehingga ucapan yang keluar dari seseorang yang merupakan pendatang dari daerah luar Jakarta masih dipengaruhi oleh dialek asalnya. Tetapi dia sedang berbicara dengan gaya bahasa Jakarta. Jangankan yang datang merantau dari luar Jakarta dalam usia dewasa, yang lahir dan dibesarkan di Jakarta ada juga yang masih terpengaruh bahasa Ibu-nya. Salah satunya disebabkan lantaran di lingkungan rumah, masih tetap menggunakan bahasa daerah masing-masing. Sehingga adaptasi terhadap logat Betawi pun menjadi tidak mudah. Maka jadilah bahasa Jakarta yang bercorak ragam daerah. Lebih seru lagi bila dituturkan oleh latar belakang budaya yang kental bahasanya. Timbul pengaruh yang lebih besar karena penuturnya memiliki aksentuasi yang ekstrem.

Bahasa Jakarta yang sering didengar dari para pemain sinetron sepertinya juga mengalami perbedaan. Bahasa Jakarta ala pemain sinetron. Lebih ketara lagi ketika dalam sesi wawancara langsung terhadap bintang sinetronnya, dalam tayangan televisi. Maka akan terdengar dengan jelas dialek bawaan dari pemain sinetron tersebut berasal, muncul sekali-sekali. Bahasa daerah asalnya ikut mewarnai ketika dia berbicara dalam bahasa gaya Jakarta. Bagi penutur hal tersebut terasa biasa-biasa saja. Tapi bagi yang mendengarkan, akan bisa menangkap perbedaan yang terjadi di dalamnya. Bahkan bisa menjadi sinyal untuk dengan mudah menebak dari mana asalnya.

Pergeseran bahasa biasa terjadi dalam masyarakat, dan bahkan di mana pun di belahan dunia ini. Tidak hanya di indonesia. Di Korea Selatan juga, misalnya, berlaku hal yang sama. Sama seperti Jakarta, kota Seoul pun menjadi kota impian bagi calon selebritis Korea Selatan. Di sini tumpleg orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Korea Selatan. Dan bahasa aslinya juga memiliki dialek yang khas derahnya masing-masing. Perlu waktu yang cukup untuk beradaptasi secara baik agar kemudian bisa lancar berbahasa Korea logat kota Seoul.

Bukan hanya bahasa dari luar Pulau Jawa saja yang bisa memberikan pengaruh terhadap bahasa Jakarta. Bahasa yang berdialek bahasa daerah yang terdapat di seluruh Jawa juga ikut andil dalam “mengubah” gaya bahasa Jakarta. Setidak-tidaknya untuk penuturan pribadi seseorang ketika berbicara. Bahasa daerah apa saja sebetulnya juga tidak tertutup kemungkinan bisa mangalami pergeseran. Anak-anak usia muda, juga banyak yang tidak paham sepenuhnya dengan bahasa ibunya. Terutama kata-kata khas yang jarang dimunculkan dalam percakapan

Kekuatan pengaruh bahasa juga ditentukan oleh tingkat populasi jumlah penutur gaya daerah yang tinggal di Jakarta. Secara garis besar bahasa Sunda dan bahasa Jawa menjadi bahasa yang paling kuat mempengaruhi gaya bertutur dalam bahasa Jakarta. Belum lagi di dalam kedua wilayah ini masih terdapat sekian banyak dialek dari masing-masing daerah (kota) yang menggunakan kedua bahasa tersebut. Tentu saja terdapat perbedaan antara satu kota dengan kota lainnya. Masing-masing punya kekhasan tersendiri.

Di Jakarta berbagai gaya penuturan bahasa yang bercorak ragam dapat ditemukan ketika berada di dalam kereta api (KRL) yang banyak dipenuhi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Antarsesama penumpang biasa saling berkomunikasi selama di dalam perjalanan. Entah itu memang dengan teman-temannya sendiri ataupun antarorang-orang yang baru saling kenal sementara di dalam kereta. Di kantor-kantor juga terdapat hal yang serupa. Karena para karyawan kantor pada umumnya adalah mereka yang datang dari berbagai latar belakang budaya dan daerah, untuk bekerja di Jakarta. Sehingga tak jarang pengaruh dialek daerah ikut mewarnai saat saling berkomunikasi. Akan tetapi masing -masing bisa saling memahami dan menjadi ciri baru di lingkungan mereka. Meskipun lambat laun akan ketemu dengan bahasa Jakarta ala mereka.

Seiring dengan semakin gencarnya siaran televisi yang bisa menjangkau hingga ke pelosok desa, membuat anak-anak muda desa ikut latah menggunakan bahasa Jakarta, terutama dari kalangan cewek. Ada kebanggaan tersendiri bila bisa berbicara logat Jakarta. Padahal masing-masing daerah sudah memiliki gaya bahasa sendiri. Meskipun ketika sedang menggunakan bahasa nasional Indonesia. Tapi gaya Jakarta sepertinya lebih mengangkat kepercayaan diri. Maka jadilah bahasa Jakarta dengan gaya bahasa daerah setempat. Patokannya tidak jauh dari bahasa Jakarta yang selalu didengar dari dialog di dalam sinetron.

Bahasa adalah rasa. Termasuk ketika bertutur dalam logat Jakarta, yang sudah barang tentu dilandasi rasa. Berkomunikasi dalam bahasa Jakarta juga menghadirkan rasa tersendiri ketika sesesorang sedang menggunakannya di dalam sebuah percakapan. Itulah magic Jakarta yang mampu membuat siapa saja jadi tertarik. Bukan hanya kotanya yang menjadi impian. Akan tetapi bahasanya juga digemari masyarakat penjuru nusantara. Paling banyak di antaranya adalah mereka yang masih remaja dan anak-anak sekolah. Termasuk juga sebagian ibu-ibu muda yang hobi nonton sinetron Indonesia. Akan terasa lebih gaul bila bisa menggunakan logat Jakarta. Kalau pun tidak secara utuh, tapi sedikit-sedikit ada istilah Jakarta yang ikut menyelinap di celah-celah isi percakapan mereka. Iiih…, Jakarta emang deh dong sih….*

Bunga Rampai 0 comments on Pengalaman Berobat di Rumah Sakit Negeri Jiran

Pengalaman Berobat di Rumah Sakit Negeri Jiran

Rumah Sakit Sardjito
Rumah Sakit Dr. Sardjito di Yogyakarta

Tahun 2007 kami sempat berobat di negeri jiran, di Pulau Pinang, Malaysia. Inisiatif ini kami ambil untuk mendapatkan pembanding (second opinion) dari dokter yang berbeda karakteristiknya dari dokter tempat kami berobat sebelumnya. Tapi tak perlu jauh-jauh, hanya mengambil tempat cukup di negeri jiran saja. Keuntungannya, dari segi budaya dan bahasa tidak akan menimbulkan persoalan. Demikian juga di mana sebelumnya kami mendapatkan kabar dari teman-teman yang sdudah ke sana, yang mengatakan, bahwa, pelayanan yang diterima relatif lebih baik dari negeri sendiri, akan tetapi dengan biaya yang sangat terjangkau. Sejak di airport sudah banyak petugas rumah sakit ataupun para penyedia kamar apartemen yang menunggu para tetamu dan turis yang akan berobat di negeri ini. Rupanya sebagian besar dari mereka sudah membuat perjanjian melalui situs resmi milik rumah sakit ataupun milik pengelola apartemen tertentu.

Mendarat di airport Pulau Pinang serasa bukan sedang berada di kampung orang. Dari fisik dan bahasa ocehan yang kita dengar tak jauh-jauh beda dengan beberapa dialek bahasa Indonesia yang terdapat di Pulau Sumatera. Yang membedakan adalah cara penanganan pemeriksaan yang tidak main-main terhadap penumpang yang baru datang dari luar negara tersebut. Tanpa pandang bulu, meskipun mereka itu pelancong berkulit putih. Bulè dan melayu tetap disamaratakan dalam mengikuti prosedur pemeriksaan di airport, yang terbilang sangat ketat.

Sesampai di rumah sakit tujuan, ada sedikit keterkejutan yang kita rasakan sejak di tempat pendaftaran hingga pelayanan demi pelayanan medis berikutnya. Karena memang tujuannya yang semula ingin memeriksa kondisi jantung, tapi malah diarahkan menjadi total check-up. Bahkan diiringi kata2: “tak payah khawatir nCek, kosnya tak ‘kan ekspensif lah“. Dan ternyata ucapan petugas di bagian pendaftaran tadi terbukti; dengan harga yang memang fantastis murahnya, tapi tetap dengan pelayanan yang prima. Para pasien yang berobat dibuat bagaikan raja, dilayani dengan segenap hati mereka, tanpa pandang status sosial dari negeri asalnya. Mau petani, nelayan, pedagang, pejabat ataupun pengusaha. Semuanya mendapat pelayanan yang serupa dan terstandardisasi. Apakah dari negeri asia, eropa, amerika, ataupun dari benua mana saja mereka datang, penanganannya tetap sama. Sama-sama pasien yang ingin berobat, ingin mengetahui penyakit yang diidapnya dan ingin kesembuhan serta menjadi sehat kembali.

Yang menarik lagi, di rumah sakit yang kami kunjungi, kantin makanan sehat yang terletak di lantai 1 bangunan pusat rumah sakit, menyediakan berbagai jenis makanan yang dimasak tanpa penyedap, pengawet, pewarna dan pemanis buatan yang berbahaya bagi kesehatan. Semuanya serba organik dan alami. Di kantin ini berbaur antara pengunjung, pasien, perawat dan dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut. Makan bersama di dalam kantin rumah sakit yang juga harganya sangat terjangkau tapi tetap dengan nuansa pelayanan yang ramah dan cepat.

Menyimak standar yang diterapkan di rumah sakit tersebut, rasanya sangat mungkin hal demikian dapat diterapkan di Indonesia. Karena tidak ada bedanya antara orang-orang Malaysia dengan orang Indonesia; mulai dari warna kulit, postur, bahasa serta budaya antarkedua negara. Mungkin yang membedakan hanyalah masalah keketatan regulasi, undang-undang, pengendalian dan konsistensinya. Semuanya dilakukan dengan cara serba sigap dan tangkas, tetapi tidak meninggalkan standar baku pelayanan medis yg tinggi: ramah, cerdas, cepat dan tepat sasaran. Konon dokter yg bertugas di RS tersebut pada umumnya adalah lulusan pendidikan spesialis dari luar negara yang dibiayai oleh kerajaan. Terlihat dari gelar dan asal yang tertera di belakang namanya, yang dipasang di dekat pintu pada masing-masing ruangan praktek. Dokter rumah sakit juga tidak berpraktik di luar rumah sakit ataupun di rumah sendiri serta di tempat praktek pribadi lainnya. Fokus utama adalah praktek di rumah sakit. Sedangkan membuka praktek pribadi hanya diperkenankan bagi dokter yang sudah purnatugas dari rumah sakit.

Ini adalah sebuah konsep wisata medis yg merupakan salah satu program dari pemerintahan PM Malaysia sebelumnya, DR. Mahathir Muhamad, yang diberi label “Wawasan 2020”. Tujuannya adalah berupaya menarik dan mengundang warga negara asing sebanyak mungkin, untuk berkunjung ke Malaysia sekaligus bertamasya menikmati keindahan Malaysia dan berobat dengan biaya yang terjangkau dalam pelayanan medis yang sangat profesional. Sangat luar biasanya, dalam kenyataannya program ini bisa diwujudkan, jauh sebelum batas waktu yang dicanangkan tercapai. Hasilnya, hampir semua bangsa ditemukan datang berobat di rumah sakit yang terdapat di seluruh Malaysia. Berobat sambil bertamasya. Berobat dengan biaya murah, sekaligus bisa berbelanja dan menikmati pesona Malaysia. Belum mencapai tahun 2020, satu per satu program “Wawasan 2020” sudah mulai tampak terrealisasi dengan baik. Di samping wisata medis dengan memperbanyak dokter spesialis lulusan luar negeri dan rumah sakit yang representativf, juga tidak ketinggalan, pengembangan Pulau Langkawi yang selalu siap menggelar “Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition”, yaitu, sebuah pameran teknologi bahari dan kedirgantaraan yang sudah memasuki kelas dunia, yang diikuti oleh berbagai peserta dari berbagai negara. Pengunjung dari mancanegara dapat menikmati keindahan bahari dan pesona daratan Malaysia serta sekaligus menikmati pagelaran teknologi mutakhir yang dipamerkan di sana.

Indonesia seharusnya bisa. Saya pernah berobat di Instalasi Gawat Garurat (IGD) di sebuah rumah sakit milik Departemen Pertahanan Republik Indonesia, di bilangan selatan Kota Jakarta. Dengan pelayanan yang sigap dan ramah saya merasa seperti sedang berobat di negeri tetangga yang pernah saya alami. Semuanya serba cepat. Saya hanya mendapat perawatan dan evaluasi selama kurang-lebih dua jam oleh dokter IGD serta para perawat yang bertugas di sana, dan kemudian telah diperbolehkan pulang. Dan biayanya pun sangat fantastis; sangat terjangkau oleh kalangan yang bersahaya. Dalam kesempatan waktu lainnya saya pernah berobat di IGD Rumah Sakit DR. Sardjito, Yogyakarta. Saya merasakan pelayanan yang cukup baik dari dokter dan perawat yang berada di ruang instalasi gawat darurat di sana. Saya berpikir, ternyata kita bisa, bersikap ramah kepada pasien dan mampu memberikan pelayanan yang baik, sigap dan cepat, sesuai prosedur. Dokter dengan sabar pula mendengarkan keluhan pasien dan kemudian mengambil tindakan medis lanjutan yang tepat. Kurang lebih dua jam kemudian, setelah mengalami observasi dan evaluasi oleh dokter sesuai dengan standar rumah sakit, saya pun diperkenankan pulang. Padahal untuk berobat yang kedua ini, kami menggunakan kartu BPJS Kesehatan dan tidak menggunakan pembayaran biaya secara langsung tunai.

Apa yang kami alami, merupakan sebuah awal dari sesuatu yang baik. Untuk mendapatkan pelayanan yang baik, khususnya di bidang kesehatan, maka dibutuhkan regulasi yang ketat, namun dengan memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah masing-masing serta kepada pihak rumah sakit untuk menetapkan standar manajemen yang akan diterapkan dalam mengelola pelayanan rumah sakitnya. Akan tetapi harus tetap dibarengi dengan peraturan yang jelas sanksi hukumnya dalam sebuah paying hukum yang berskala nasional. Bila regulasinya kuat dan konsisten, serta diikuti dengan tekad yang bulat, maka bukan tidak mungkin, pelaksanaan pelayanan, khususnya, di bidang kesehatan, pun, akan bisa menyamai dengan pelayanan kesehatan di negara tetangga tersebut.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah cita-cita menjadi dokter ataupun perawat haruslah merupakan cita-cita yang ditanamkan sebagi wujud dari keinginan untuk mengabdi bagi kemanusaiaan, bukan sekadar cita-cita ingin memperoleh pendapatan untuk kebutuhan hidup semata. Karena pilihan itu merupakan salah satu jalan cepat untuk menjadi kaya. Mindset orang yang akan mengabdi harus sudah tertanam sejak awal memilih profesi menjadi juru rawat ataupun dokter; bukan memilih karena “pelarian”, ataupun lantaran ingin cepat dapat pekerjaan, apalagi ingin cepat kaya. Kalau tidak, regulasi sebaik apa pun dan sanksi seberat apa pun tidak akan membantu untuk meningkatkan tata kelola dan pelayanan kesehatan di negeri ini. Persoalan ini bukan hanya soal regulasi dan sanksi, melainkan juga karakteristik dan orientasi yang dimiliki oleh entitas dari orang-orang yang berkecimpung di bidang pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Pada umumnya rumah sakit di Malaysia adalah berorientasi bisnis. Tetapi mereka tidak akan pernah meninggalkan fungsi utamanya untuk memberikan dan mengabdi pada bidang pelayanan kesehatan. Setiap ada pasien, bukan hanya rumah sakit yang diuntungkan. Akan tetapi pengelola apartemen, taksi, mal, dan warung-warung makan juga mendapatkan berkah yang dibawa oleh setiap pasien dan rombongannya. Pasien memperoleh layanan kesehatan dan kesembuhan dari rumah sakit serta dari profesi dokter dan juru rawatnya, sementara itu sebagai efek berlapisnya, pihak lain seperti: kerajaan (negara), rumah sakit serta dari profesi dokter dan perawatnya mendapatkan keuntungan dari pembayaran atas setiap jasa yang dia persembahkan. Pasien tidak sampai mengalami “uang habis badan binasa”. Untuk itulah dalam rangka meningkatkan devisa, kerajaan Malaysia, terus berupaya meningkatkan pelayanan wisata medis ini. Menjadikan setiap pengunjung “bak seorang raja”; merawat setiap pasien bagaikan berada di rumahnya sendiri; menjadikan setiap pengunjung dan pasien sebagai corong untuk mengiklankan setiap tindak tanduk kebaikan yang dialaminya selama di Malaysia. Sehingga dengan demikian, kontinuitas pengunjung yang berobat dalam paket wisata medis di Malaysia akan terus berlanjut atau bahkan akan terus bertambah dari bulan ke bulan yang dampaknya adalah peningkatan bagi pemasukan kepada pundi keuangan Negara Malaysia.

Negeri ini seharusnya bisa, hanya saja belum ada program yang mengarah ke sana untuk mendatangkan orang dari luar Negara, berwisata ke daerah yang sesuai dengan pilihan mereka; ke Banda Aceh, ke Sumatera Utara, ke Bali, ke Lombok,  ke Yogyakarta, ke Bandung dan juga ke Jakarta, sekaligus untuk berobat dengan mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan berkualitas tinggi. Bila hal itu bisa terjadi, bukan hanya nama harum Indonesia dari keindahan dan keunikan budaya yang diperoleh dari para wisatawan, akan tetapi mereka akan menikmati pelayanan kesehatan, sambil bertamasya di Indonesia; menjadikan Indonesia sebagai tujuan untuk berobat. Yang secara tidak langsung mengakui bagusnya kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Dampak lainnya adalah, masyarakat Indonesia akan menerima imbas dari peningkatan pelayanan kesehatan di dalam negeri. Dan masih ada multiplyer effect lainnya, semisal, baik bagi negara, bagi perekonomian masyarakat, maupun bagi daerah serta bagi pihak pengelola rumah sakit, negeri ataupun swasta.

Angan-angan seperti ini bukanlah ibarat isapan jempol belaka. Sebagian dokter asli Malaysia, yang bertugas di rumah sakit Malaysia, S1-nya, ada yang diperoleh dari perguruan tinggi di Indonesia. Akan tetapi untuk mengambil spesialis dan tingkat Ph. D., mereka dikirim ke negara-negara maju atas biasaya kerajaan. Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi negeri yang reputable untuk mendidik tenaga medis (dokter), bahkan hingga menjadi dokter spesialis tertentu sekalipun. Hal ini merupakan pontensi yang sangat berharga sebagai salah satu kekuatan yang dimiliki negeri ini. Demikian juga tenaga para juru rawat handal yang mampu berdedikasi dengan baik sebagai potensi sumber daya manusianya. Rumah sakit pun sudah banyak yang bertaraf internasional. Bila iklim keikhlasan, dan orientasi untuk memajukan Indonesia di bidang medis dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan dan seluruh stakeholder-nya, maka, bukan tidak mungkin wisata medis dapat dicanangkan sebagai salah satu program untuk menarik para wisatawan dari mana saja, untuk berkunjung ke Indonesia dalam rangka berobat dan sekaligus berwisata ke tempat-tempat yang indah, unik dan penuh pesona, yang terdapat di Indonesia.

Bukan untuk meniru konsep dari negara tetangga, melainkan atas dasar kepemilikan potensi yang luar biasa di bidang kesehatan dan di sektor pariwisata yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Yang dibutuhkan adalah sentuhan nilai tambah untuk membuat perubahan secara signifikan; mengubah mindset, pola pikir dan orientasi secara menyeluruh. Dimana, bila hal ini bisa tercapai, maka pada akhirnya akan menjadi sumber pendapatan dan devisa bagi negara ini, yang tentu saja akan lebih meningkat karena adanya nilai tambah tadi. Hebatnya negeri jiran, program “wisata medis” yang digagas oleh Mahathir, tidak semata hanya berupa sebuah wacana, yang hanya merupakan sebuah konsep dan sekian banyak tulisan dalam tumpukan kertas; hanya menjadi paperworks yang setelah dibaca lalu ditinggal begitu saja. Akan tetapi program tersebut diimplementasikan secara serius dan berkelanjutan, bahkan hingga pemerintahan sudah berganti seperti saat sekarang ini. Ada konsistensi, kontinuitas dan sustainabilitas serta kesamaan pikir untuk mempertahankan sesuatu yang baik yang terus diwujudkan sampai saat ini….**