Jakarta Punya Cerita 0 comments on Budaya Betawi Yang Unik Dan Penuh Humor

Budaya Betawi Yang Unik Dan Penuh Humor

Jarang orang menemukam ada orang Betawi yang ketahuan sangat pemarah. Yang bandel dan yang nakal memang banyak. Sudah menjadi sifat orang Betawi yang suka ngelawak, suka “ngerjain” dan suka usil. Kalau marah juga sangatlah terpaksa selebihnya kebih banyak bercanda. Anak muda Betawi yang jadi juru parkir pun tetap terlihat sopan dan pengertian. Tidak tampak ada kesewenangan memberikan tarif untuk sebuah jasa menjaga parkiran atau dalam menjaga keamanan. Termasuk ketika berdiri sebagai “Pak Ogah” untuk mengatur lalulintas.

Sebetulnya, pada umumnya orang Betawi tidak suka mencari-cari masalah. Mereka lebih defensif dari pada ofensif. Mereka tidak suka menjual. Tapi “klo lo jual, gua beli…“. Orang-orang Betawi selalu terkesan “ngampung” meskipun mereka adalah penduduk metropolitan Jakarta. Mereka selalu terlihat bersahaya, tidak tendensius, lugu tapi kocak. Sulit merangkum karakter Betawi dalam satu kata.

Sekilas terlihat sangat sedikit anak-anak Betawi yang “mau” melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal sebetulnya anak-anak Betawi juga banyak yang sudah mencapai tingkat pendidikan tinggi. Hanya saja parodi dalam “Si Doel Anak Betawi” dibuat heboh dengan si Doel bisa menjadi sarjana teknik alias “tukang insinyur”, seakan-akan mengesankan bahwa pendidikan tinggi sesuatu yang asing bagi warga Betawi. Itu hanya bumbu cerita dari salah satu sisi saja dari kehidupan orang Betawi.

Sebetulnya sangat jarang anak-anak Betawi yang tidak berpendidikan. Setidaknya, rata-rata pernah mengenyam pendidikan di bidang agama, sekolah di sekolah agama dan pesantren. Anak-anak Betawi juga diarahkan ke dalam pendidikan budaya untuk membangun karakter, seumpama menjadi murid pada salah satu perguruan silat. Cukup banyak perguruan silat Betawi dengan berbagai aliran, yang terdapat wilayah Jakarta dan sekitarnya, yang merupakan budaya asli Betawi.

Perguruan Silat Nasional Asad
Sejak usia dini anak-anak telah mulai diperkenalkan kepada seni bela diri pencak silat. (Foto Istimewa – Persinas Asad)

Menjadi anggota grup lenong juga merupakan bagian dari pendidikan. Ada atau tanpa sinetron sekalipun. Orang Betawi masih tetap kuat dalam memelihara akar budayanya. Termasuk mencari ilmu-ilmu yang berbasis budaya seumpama belajar seni tari, seni musik (seperti tanjidor dan gambang kromong) serta tradisi Betawi lainnya melalui sanggar-sanggar yang ada.

Hubungan kekerabatan Betawi termasuk unik, tapi terbuka. Anak bisa bebas berkomunikasi dengan orang tua dengan penuh canda. Bagi orang luar Betawi hal ini dianggap tabu dan tidak sopan. Tetapi bagi orang Betawi sendiri, pemandangan ini biasa-biasa saja.

Peran Ibu sangat sentral, termasuk dalam memberikan perhatian kepada menantunya. Anak perempuan Betawi cenderung kolokan. Sehingga tidak sedikit para Ibu selalu mendampingi anak perempuan sambil menuntunnya agar bisa meladeni suaminya dengan sempurna. Komunikasi antara mertua dan menantu juga tak selalu terikat aturan formal. Semuanya mengalir begitu saja. Santai dan tidak kaku.

Cara berkomunikasi

Dalam pergaulan anak-anak muda Betawi juga penuh dihiasi tawa ria. Saling gojlok dan diselingi cerita-cerita konyol merupakan pemandangan sehari-hari. Ameng, Mali, Bolot, Mandra, dan Bang Opi, misalnya, sedikit banyak bisa mewakili cara orang Betawi berkomunikasi dalam situasi yang lepas. Nyerocos dan ceplas-ceplos tanpa beban. Makanya orang Betawi digambarkan sebagai masyarakat yang relijius, sosial dan humoristis

Almarhum Benyamin S., juga memberikan gambaran yang gamblang tentang perilaku orang Betawi. Menjadi bintang iklan pun Bang Bens tetap saja sambil membanyol. Selalu ada hal-hal yang mengandung kelucuan dan mengundang tawa. Dari sekian banyak lagu Benyamin yang serius, mungkin hanya satu yang benar-benar penuh penghayatan.

Lagu berjudul “Maaf Ku Tak Datang”, yang dibuat tahun 1971 memang dinyanyikannya dengan khusyu’, tapi karena yang menyanyikannya Benyamin S., maka orang jadi antara tidak yakin dan percaya. “Masa’ sih…?”. Iya, cobalah dapatkan lagunya. “Maaf ku tak datang, penuhi undangan… Pada malam pesta perkawinanmu… Bukan aku segan, bukan aku kejam, karena kau ingkari semua janji”….

Kesedihan Benyamin S., di ujung lagu pun tak membuat pendengar bersedih, malah sebaliknya: “nyang bener Bang Bens…!”. “Masa’ sih Benyamin bisa-bisanya mewek-mewek begitu…?”. Sikap ini karena memang Benyamin S., yang anak Kemayoran itu, dalam hal apapun terlihat tidak melankolis. Tidak peduli dengan sesuatu yang serius. Semua lagunya sangat khas Betawi.

Padahal populasi orang Betawi sangat sedikit jumlahnya. Album bersama pasangannya, Ida Royani, yang diluncurkannya laris manis di pasaran dibandingkan album duet bersama penyanyi cewek yang lain yang pernah menjadi pasangan bernyanyi Benyamin.

Yang suka lagu-laku mereka ternyata bukan hanya dari kalangan Betawi semata, tapi sudah menjadi konsumsi masyarakat nusantara. Meskipun dalam aksen Betawi yang “medhok“, tetap saja orang lain bisa menikmatinya. Di era tahun tujuh puluhan Benyamin – Ida Royani merupakan artis papan atas yang sangat populer dan bisa meraup pendapatan yang tertinggi berkat penjualan album lagu-lagunya dan juga dari film-film yang dibintangi mereka.

Tidak ada yang tidak suka dengan Bang Jampang yang suka plesetan ini. Meskipun alur ceritanya sederhana, ringan dan se”enak”nya, tetap saja enak untuk ditonton.

Memang unik

Betawi memang unik, bahasanya pun disukai banyak orang. Menonton lenong juga menjadi sesuatu yang asyik. Apakah karena Betawi berada di ibukota negeri ini, atau memang lantaran bahasanya mudah dicerna dan mudah dimengerti? Tapi yang jelas orang Betawi dalam kesehariannya selalu tampil apa adanya. Meskipun tinggal di ibukota, tapi mereka tak akan hanyut dalam arus kehidupan yang melanda kota besar.

Jarang sekali keluarga Betawi yang menyebut ibunya dengan panggilan Mami atau Mama sebagai mana berlaku dalam keluarga di kota besar. Pada umumnya kalau bukan Emak, iya, Enyak. Untuk orang tua laki biasanya cukup dengan panggilan Babe atau Abe. Paling banter adalah Ayah atau Bapak. Hampir tidak pernah dijumpai panggilan Papa atau Papi berlaku dalam keluarga Betawi. Paling banter adalah “umi” dan “abi”, yang diambil dari bahasa Arab

Orang Betawi memang tidak suka mencari-cari masalah. Kedatangan orang-orang luar Jakarta yang suka membuat masalah dengan praktek premanisme, dijawab dengan membentuk Forum Betawi Rempug (FBR) atau pun Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi). Ini hanya sekadar pertahanan diri dan melindungi masyarakat Betawi dari kesewenangan para preman pendatang.

Beberapa kasus bentrokan berlatar belakang etnis yang pernah terjadi, hanya sebagai reaksi dari situasi yang sangat terpaksa. Termasuk peristiwa dengan Kelompok Herkules yang pernah menguasai wilayah Tanah Abang dulu.

Bukan menyerang, tapi sekadar memberikan aksi untuk mengingatkan bahwa Jakarta pun punya istiadat dan komunitas yang perlu dihargai. Perlu dijaga dan dipelihara bersama dalam hukum kesetaraan bermasyarakat serta jauh dari sikap permusuhan.

Orang Betawi sejatinya adalah tipikal orang yang sabar. Sifat ini bukan karena tidak punya nyali, melainkan sebagai wujud dari sikap kesatria yang terbentuk melalui proses belajar dari falsafah yang terkandung dalam seni beladiri silat yang ditanamkan secara turun-temurun, sejak usia dini.

Meskipun ada pendapat dari ahli sejarah yang mengatakan bahwa orang Betawi adalah keturunan garis Tarumanegara, akan tetapi dalam keseharian dan adatnya lebih kental rasa Melayunya. Betawi dapat dikategorikan sebagai bagian dari salah satu subetnis yang termasuk dalam rumpun Melayu Nusantara. Orang Betawi juga sarat dengan budaya berbalas pantun.

Dari pakaian adatnya bisa terlihat bahwa unsur Melayu begitu melekat dalam budaya Betawi, terlihat dari pakaian berupa teluk belanga yang menyerupai pakaian Melayu se-nusantara. Sama halnya seperti pakaian adat Melayu Sumatera, Melayu Kalimantan, Melayu Sulawesi, Melayu Semenanjung Malaysia dan Melayu Filipina.

Seiring perkembangan Jakarta yang telah berlangsung sejak era kepemimpinan Ali Sadikin, maka lambat laun orang asli Betawi, mulai bergesar ke pinggiran kota Jakarta, bahkan hingga ke wilayah Tangerang Selatan, Depok dan Bekasi. Tapi warna kehidupan Jakarta tidak akan lepas sepenuhnya dari pengaruh kebudayaan Betawi…***

Jakarta Punya Cerita 1 comment on Jakarta Punya Siaaapa….?

Jakarta Punya Siaaapa….?

Jakarta memang banyak menyimpan cerita. Jakarta punya cerita. Mulai dari cerita rakyat hingga legenda yang berasal dari kedigdayaan seorang figur kepahlawanan. Jakarta yang merupakan ibukota begara Republik Indonesia, tidak terpisahkan dari Betawi sebagai akar budayanya. Meskipun Jakarta saat ini adalah sebuah Kota Metropolitan, yang memberikan ruang begitu besar bagi proses akulturasi antarbudaya, namun keunikan masyarakatnya memberikan nilai tersendiri bagi masyarakat secara keseluruhan.
Bukan Jakarta namanya kalau tidak kaya dengan berbagai kreativitas yang dipanggungkan. Mulai dari seni pinggiran kota hingga ke pusat-pusat bisnis; dan tentu saja hingga masuk ke tingkat filem layar lebar ataupun di layar kaca, telah membuat paguyuban seni local berubah menjadi kawah tempat menempa talenta seni seorang yang bakal menjelma menjadi artis. Lenong salah satunya, adalah dari sekian banyak jalan menuju ke panggung yang lebih bergengsi. Lihat saja, lenong yang hanya berupa tonil yang ditampilkan secara sederhana dapat memuat beberapa aspek seni sekaligus. Baik itu seni peran, seni lawak atau bahkan seni tari asli dan kontemporer. Pendeknya berbicara seni Betawi, selalu padat dengan kreativitas. Budaya Jakarta kian kemari menjadi sumber dari sebuah keberuntungan yang dilatarbelakangi oleh penetapan Jakarta sebagai ibukota Negara. Cagarbudaya Betawi seakan menjadi representasi dari budaya wajah Indonesia. Karena bagaimana pun juga pintu utama Indonesia adalah Jakarta. Pemilihan Abang dan Nona Jakarta menjadi symbol yang menarik bagi menunjukkan akar budaya Betawi yang diperankan oleh kaum muda yang energetik dan nan cantik rupawan. Sehingga terkesan menjadi modern dan membawa berkah bagi mereka yang terpilih menjadi pemenangnya.
Betawi yang merupakan salah satu puak yang berada di dalam jajaran rumpun melayu, memiliki ikatan yang sangat kuat dengan Islam, sehingga tidak berlebihan ketika Profesor Dr. Hamka, melukiskan orang Betawi sebagai suku yang memiliki komitmen yang sangat kuat terhadap agama Islam yang dianutnya. Meskipun berada di bawah tekanan dan intimidasi penjajah Belanda, akan tetapi hampir setiap malam, di masjid-masjid, di surau-surau, di dan mushalla-mushalla, di relung-relung daerah Betawi, ayat-ayat suci Alquran tetap melantun dengan syahdunya. Itu pertanda bahwa meskipun Belanda telah menduduki Betawi hingga 350 tahun lamanya, akan tetapi kekuatan Islam Betawi tetap bersemayam di hati dan terus memberikan warna bagi perkembangan budaya Betawi hinga saat ini.
Akulturasi budaya Betawi, yang beralaskan budaya melayu dan sunda, telah mengalami persentuhan dengan budaya Arab dan Tionghoa, yang ikut memperkaya khazanah kultur Batawi hingga saat ini. Mulai dari cara berpakaian dan dalam bertutur hingga ke bentuk tarian dan musik, telah banyak mengalami pengaruh dari kedua budaya dari Asia timur dan Asia barat ini. Dan hanya sedikit mengalami persentuhan dengan budaya Eropa, khususnya Portugis. Beberapa tarian Betawi seperti Japin, Tari Ronggeng dan music Tanjidor, setidak-tidaknya merupakan representasi adanya persentuhan dengan budaya Arab, Tionghoa dan Portugis.
Sejak awal-awalnya muncul seni musik dan perfileman Indonesia. Maka Jakarta telah menjadi kiblat dari setiap insan seni dan artis untuk mencoba mengais rejeki dan sekaligus menampilkannya sebagai sebuah kreasi yang komersial. Sejak itu pula bermunculan para seniman yang berasal dari berbagai penjuru nusantara, dari barat maupun dari timur Indonesia, tumpleg bleg ke Jakarta. Jakarta menjadi percaturan untuk menyatukan konsep music yang berciri Indonesia. Demikian pula warna seni peran dalam layar lebar yang menjadi ciri Indonesia, yang tidak banyak bergeser walaupun sudah berganti generasi di dalam menampilkannya.
Jakarta adalah metropolis dan Jakarta adalah kota budaya. Tak banyak seniman yang bisa muncul setinggi-tingginya ke permukaan popularitas apabila tidak terdorong untuk mengadu nasib di Jakarta. Dan predikat Jakarta sebagai tolok ukur itu, hingga saat ini tetap tidak bergeser sedikitpun. Banyak kisah dan perjuangan yang telah dilakoni oleh berbagai ragam manusia di kota yang penuh janji ini. Dari berbagai latar belakang ekonomi, sosial, budaya dan tingkat pendidikan, mereka berangkat untuk mengadu nasib di kota metropolitan ini. Banyak terdapat kisah sukses dan tidak sedikit pula terdapat kisah pilu yang membawa kehancuran masa depan. Semua menyatu menjadi bauran dari kondisi ramah kejamnya Jakarta.
Kadangkala, Jakarta diibaratkan seakan-akan lebih kejam dari Ibu tiri, akan tetapi di sisi lain Jakarta sebagai tautan hati yang telah menjelmakan dirinya menjadi orang sukses. Sisi gelap dan sisi terang Jakarta seakan seiring sejalan mewarnai kisah hidup anak manusia Indonesia. Kisah bagaimana sukses menghampiri, mampu menutupi bagaimana kepiluan seseorang yang hidupnya hancur berantakan setelah menyentuh tanah Jakarta. Kisah senang menutupi, kisah-kisah ekspliotasi manusia pada sudut-sudut kota Jakarta. Hingar bingar kegembiraan, menutupi teriakan kegetiran anak manusia yang takluk di bawah kaki manusia-manusia jahat. Adakalanya juga Jakarta memang ibarat menjadi kota yang nafsi-nafsi. Urusanmu adalah urusanmu; hidupku adalah hidupku. Masing-masing anggota masyarakat memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri dan tak bersedia terusik oleh tetek bengek yang melingkari kehidupan sekitarnya. Ibarat menjadi ciri khas kota metropolitan, yang serba cuek dan tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Sebodo amat; EGP alias emangnya gua pikirin.
Sungguh tidak pernah terbayangkan, bagaimana seandainya ibukota dan kiblat budaya berada di Medan, atau di Banda Aceh, ataupun di Makasar ataupun di Banjarmasin, misalnya. Bagaimana bahasa filem yang memang selama ini sudah melekat menjadi logat Jakarta yang empuk serta enak didengar dan dinikmati rasa bahasanya, muncul dalam dialek Aceh atau logat Medan ataupun bahkan dalam aksen Makasar atau Banjarmasin. Tentu saja akan beda rasanya. Gaya bahasa yang rada kenes dan kolokan atau bahkan juga terkadang menghentak-hentak dalam dialek Betawi seakan menjadi pas pada kuping orang Indonesia pada umumnya, dari latar belakang kultur manapun meraka berasal. Terbukti siapaun dia, di dalam pergaulan di daerahnya memiliki kecenderungan memasukkan ucapan dan slank Betawi di dalam percakapannya. Terutama dapat dilihat dari para remaja-remaja, ataupun dari orang-orang yang sudah berumur ketika dulunya remaja.
Lawakan-lawakan Betawi cenderung menjadi konsumsi yang menyenangkan dan dapat dinikmati oleh subkultur nusantara mana pun. Hal ini tidak akan berlaku sepenuhnya apabila lawakan dibawakan dalam bentuk budaya lokal daerah lainnya. Pendek kata akhirnya memang sebagian budaya Betawi telah menjadi fenomenal dalam merepresentasikan budaya Indonesia. Ibarat kata pepatah Minang: “tak lekang di panas dan tak lapuk di hujan”, maka kiranya tidak berlebihan bila kondisi ini juga dapat ditabalkan pada budaya Betawi. Masyarakat Betawi yang dulunya sangat gigih berjuang ketika melawan penindasan penjajahan Belanda, di samping untuk mempertahankan Islam sebagai agama yang mereka anut, juga mempertahankan budaya Betawi agar tetap dalam bentuk yang aslinya.
Masyarakat Betawi yang dilukiskan sebagai masyarakat yang sosial, relejius dan humoristis, memang tercermin dan polah tingkah dan pola pergaulannya sehari-hari. Anak dan babe dapat bercanda dengan candaan-candaan segar; demikian pula mantu dan mertua dapat berbicara secara kocak, yang di dalam budaya nusantara lainnya dianggap sebagai perbuatan tabu. Tapi di tengah keluarga Betawi hal semacam itu berlangsung secara baik-baik saja. Anak muda yang suka nongkrong di ujung-ujung gang, di kampung-kampung, tak segan-segan melontarkan candaan kepada pria yang lebih dewasa yang muncul lewat di depan mereka, yang kemudian dibalas dengan candaan yang tanpa beban pula dan tanpa rasa marah.
Begitulah kondisi pergaulan masyarakat Betawi, sehingga terkesan sangat lugas dan lentur. Sebagaimana pada umumnya komunitas Betawi yang mendiami beberapa kantong kehidupan budaya dan seni Betawi yang masih tersebar di seluruh wilayah Jakarta hingga ke perbatasan Jawa Barat dan Perbatasan Provinsi Banten.
Seiring dengan perkembangan yang begitu pesat, ditandai dengan penetapan Ali Sadikin sebagai Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, maka Jakarta telah lama kemudian menjadi tumpuan migrasi orang-orang dari berbagai penjuru nusantara menuju kota Jakarta. Kota ini, seperti menumbuhkan harapan baru bagi orang-orang yang memiliki tekad membara untuk mengadu untung, sekaligus untuk mengembangkan karier. Jakarta sebagai Ibukota yang menjanjikan, sungguh akan dijadikan terminal terakhir bagi siapa saja yang ingin meraih jenjang karier yang lebih baik,; meraih sukses yang lebih besar lagi; mewujudkan mimpi-mimpi yang pernah menghiasi kehidupan mereka. Dengan demikian, proses akulturasi dan persentuhan berbagai suku bangsa berlangsung begitu mulus tanpa hambatan yang berarti. Jakarta telah menjadi kota yang sangat heterogen dengan pola kehidupan beraneka warna. Ditambah lagi dengan kultur Betawi yang sangat terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja, dengan gaya Betawi yang enteng dan penuh humor. Keberagaman adalah kekayaan Jakarta. Budaya Betawi yang dulunya seakan sebagai tontonan orang-orang pingiran, kini mulai menjadi komoditas yang tidak ternilai harganya….**