Aceh lon Sayang 0 comments on Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kopi Aceh yang tersohor
Teknik penyaringan kopi Aceh yang unik dan atraktif, diyakini bisa menambah kelezatan sajian kopi Aceh

Salah satu daya pikat ketika seseorang berada di Aceh adalah menikmati kopi Aceh yang banyak disajikan di kedai kopi (keude kupi) Aceh. Tidak hanya bagi pelancong, dari luar Aceh, masyarakat Aceh sendiri juga merupakan penikmat kopi yang fanatik. Sangat doyan mencicipi kopi yang dijual di kedai kopi. Sambil menyeruput kopi panas khas “keude kupi” Aceh, mereka bisa kongkow-kongkow sama teman-teman. Apalagi bila di”teumon“-in dengan sepiring mie Aceh atau sepotong “bada sue-uem” (pisang goreng yang masih panas) atau pulot (pulut) panggang. “Teumon” dalam bahasa Aceh berarti makanan pendamping ketika menikmati secangkir kopi. Bagi sementara masyarakat Aceh, kopi di keude kupi berasa jauh lebih enak dari pada kopi yang disajikan di rumah bikinan istri sendiri.

Kedai kopi yang banyak ditemukan di hampir seluruh derah Aceh, bukanlah merupakan warisan tradisi Aceh yang sesungguhnya. Melainkan –diperkirakan–, berasal dari warisan orang-orang Khek yang hingga pertengahan tahun enampuluhan masih menggeluti usaha kedai kopi di Aceh. Meskipun usaha kedai kopi telah beralih kepada salah satu sektor usaha yang banyak diminati oleh orang Aceh, akan tetapi keunikan cara membuat kopi ala Khek tetap dipertahankan. Bahkan saat ini teknik menuang kopi telah mengalami improvisi sehingga tampak menjadi lebih atraktif pada saat menyaring minuman kopi ke dalam gelas. Menuangkan adukan kopi melalui saringan, sambil mengangkatnya tinggi-tinggi.

Di stasiun kereta api Pasai Gambe, Lhokseumawe, sebelum kereta api Aceh tutup usia, juga terdapat satu kedai kopi yang dikelola oleh orang Khek. Hampir semua kedai kopi yang ada di Aceh waktu itu dikelola oleh orang-orang subetnis Khek. Kedai-kedai ini memiliki ciri khas yang menarik. Begitu juga properti yang terdapat di dalam kedainya yang waktu itu terkesan masih mewah. Mulai dari rangka kursi tempat duduk yang terbuat dari besi, meja terbuat dari marmer yang ditopang rangka besi berukiran, serta cara menyaring kopinya yang unik. Semua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggannya. Kedai kopi milik orang Tionghoa, dapat ditemukan hingga ke tingkat kecamatan. Seperti misalnya pada sekitar akhir tahun enam puluhan masih ada kedai kopi Tionghoa di Kecamatan Samalanga.

Waktu itu hanya orang-orang tertentu saja yang sering menikmati kopi di kedai kopi milik subetnis Khek ini, meskipun harganya tidak mahal. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang di mana kedai kopi terdapat sampai ke pelosok desa dan banyak dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat. Tidak lagi eksklusif seperti jaman dulu. Dalam perkembangannya kedai kopi telah menjelma menjadi sarana multifungsi. Jika dulu-dulunya mesjid atau meunasah (surau) menjadi pusat kegiatan untuk pertemuan, belajar, mengaji dan musyawarah, maka sekarang fungsi tersebut telah beralih ke kedai kopi. Di sini bisa dilaksanakan pertemuan informal oleh semua komponen masyarakat, mulai dari petani, nelayan, ilmuwan, hingga kalangan akademisi dan mahasiswa. Apalagi setiap kedai kopi di Aceh dipastikan selalu menyediakan layar televisi yang bisa buat lihat berita, nonton film (video) atau nonton bareng pertandingan sepakbola. Jadi tidak heran meskipun bangunan kedai kopinya kondisinya cukup sederhana tapi parabola tetap terpasang di atas nya.

Kedai kopi diperkirakan mulai beralih kepada penduduk asli Aceh adalah sebelum terjadi proses pergeseran pola usaha yang dijalankan oleh orang-orang Khek. Pascaterjadi peristiwa Gerakan Tiga Puluh September 1965 (G30S), yang diikuti dengan eksodus masyarakat Tionghoa dari Aceh, maka terjadi kekosongan di sektor usaha kedai kopi yang sebelumnya banyak dijalankan oleh keturunan Tionghoa, khususnya subetnis Khek. Setelah beberapa waktu mengalami kekosongan sektor usaha kedai kopi ini, kemudian secara perlahan mulai beralih kepada masyarakat lokal. Peralihan ini tidak terlalu sulit karena mereka sebelumnya merupakan bagian dari penyedia jasa pembuatan nasi dan mie bagi kedai-kedai kopi milik orang Khek, sambil menempati lapak yang disediakan di depan kedai kopi. Di kemudian hari, jenis usaha yang dilakoni oleh orang-orang Tionghoa mulai berubah ke arah sektor usaha fotografi, perdagangan pakaian, perhiasan, elektronik dan kendaraan bermotor.

Jejak langkah perjalanan sejarah masyarakat Khek atau disebut juga orang Hakka, masih dijumpai di Kalimantan Barat, antara lain di: Kota Pontianak dan Singkawang, serta di pulau Bangka, di mana pendatang dari Tiongkok di daerah-daerah tersebut banyak didominasi oleh suku Khek. Apa yang dapat disaksikan saat ini adalah usaha yang pernah ditekuni oleh orang-orang yang berasal dari subetnis Khek sebagai warisan para leluhurnya mereka bertahun-tahun jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada dasarnya kehadiran orang-orang Tionghoa di Aceh yang dimulai sebelum abad ke-16 –atau bahkan terdapat catatan sejarah yang menyatakan bahwa mereka telah hadir di Aceh sejak abad ke 13–, adalah sebagai tenaga kerja di berbagai bidang usaha. Pendatang dari China ini dianggap sebagai tenaga kerja yang ulet, rajin dan terampil. Meskipun dalam perjalanan sejarah selanjutnya ada yang beralih profesi sebagai pengusaha kedai kopi. Usaha ini akrab bagi orang-orang Khek karena memang mereka memahami seluk beluk tentang cara membuat kopi yang nikmat secara baik.

Suku Khek atau Hakka merupakan bagian subetnis dari etnis Hans sebagai induknya. Suku Khek pada umumnya berasal dari Guangdong daerah sebelah tenggara daratan Tiongkok. Di pusat kerajaan Aceh, mereka mendirikan pecinan sebagai tempat bermukim secara komunal, yang sekarang disebut Peunayong. Peunayong merupakan daerah yang berada dibagian tengah kota Banda Aceh, berdekatan dengan jalur Krueng Aceh yang mengarah ke pantai. Dan sekarang menjadi pusat kegiatan bisnis di kota Bada Aceh.

Tapi lembaran sejarah telah berganti. Kedai kopi sudah menjadi ciri khas kota-kota di Aceh. Apabila saat ini para pelancong yang berkunjung ke Aceh, maka yang dijumpainya adalah kedai-kedai kopi yang akhirnya menjadi daya pikat tersendiri. Teknik membuat kopi dilakukan dengan cara mengangkat gayung tinggi-tinggi, kemudian menuangkan campuran kopi ke dalam gelas melalui media saringan kain berbentuk khas dan menyebabkan timbul buih dipermukaan gelas yang membangkitkan selera bagi para penikmat kopi. Pelancong belum merasa lengkap berada di Aceh apabila belum merasakan nikmatnya sajian kopi Aceh. Apalagi di Aceh terdapat sentra-sentra perkebunan kopi yang konon menghasilkan biji kopi terbaik yang pernah ada di Indonesia. Kopi Aceh memiliki cita rasa dan aroma yang khas dan hanya para pecandu kopi yang bisa membedakannya. Sulit bagi siapa saja, untuk melupakan betapa lezatnya minum kopi di Aceh.

Beberapa kalangan masyarakat Aceh sendiri, telah memanfaatkan kedai kopi sebagai ajang pertemuan dan tempat berkumpul sambil bercengkerama dan ngobrol. Biasanya antara sesama pengunjung tetap kedai kopi sudah saling mengenal satu sama lainnya, lantaran satu selera dan memiliki kebiasaan yang sama, serta sering bertemu muka di tempat tersebut. Bahkan di tempat ini juga akan terbentuk sebuah komunitas informal tanpa ikatan yang kuat namun bisa saling berbagi informasi. Mulai dari topik politik hingga perkembangan kurs mata uang. Sehingga muncul anekdot: “talo keu-ieng ngom, haba luwa nanggro“, yang bermakna kira-kira: ikat pinggang masih dari tali pandan, tapi bicaranya sudah menjangkau masalah luar negeri.

Beberapa keunikan juga melekat pada karakter beberapa pengunjung kedai kopi Aceh menjadi fenomena yang menarik. Ada di antaranya yang hanya sekedar “ngopi”, lalu setelah menyeruput secangkir kopi panas, mereka kemudian kembali ke habitat kegiatan dan pekerjaannya masing-masing. Ada yang datang tapi duduk sambil berlama-lama menikmati kopi seteguk demi seteguk, sambil ngobrol “ngalur-ngidul” dengan temannya. Tetapi ada pula kelompok pengunjung kedai kopi yang seharian bisa ngetem di kedai kopi sampai beberapa kali berganti topik pembicaraan, dan menikmati secangkir demi secangkir kopi kegemarannya, tanpa terusik oleh kondisi apapun hingga menjelang sore hari…*

Aceh lon Sayang 0 comments on Lhokseumawe Tak Terlupakan

Lhokseumawe Tak Terlupakan

Puspa bioskop di kota Lhokseumawe
Bioskop Puspa, ketika itu sebagai satu-satunya sarana untuk mewujudkan hobi menonton film bagi masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya. (Foto Doc. Muzakkir Ibrahim)

Lhokseumawe adalah sebuah kota kecil yang menjadi ibukota Kabupaten Aceh Utara yang pada waktu itu disebut Daswati II (daerah swatantra tingkat II) Aceh Utara. Kota ini terhampar di atas sebuah pulau kecil seluas 11 kilometer per segi, berada di dalam Kecamatan Banda Sakti. Populasi penduduk Kota Lhokseumawe khususnya di Kecamatan Banda Sakti saat ini, menurut data tahun 2013 berjumlah sekitar 78 ribu jiwa. Yang tersebar di beberapa kampung (kelurahan).

Lhokseumawe, memberikan kesan yang dalam bagi yang dulu pernah tinggal di kota ini. Karena kotanya dikungkung air di sekelilingnya, maka kampung yang dimilikinya juga tidak banyak, sehingga penduduknya hampir semuanya bisa saling kenal serta bisa hafal nama dan alamat tempat tinggalnya secara baik. Apalagi waktu itu jumlah penduduknya masih terbilang sedikit, hanya sekitar 20 – 27 ribu jiwa. Tampak persahabatan  yang erat antara satu dan lainnya.

Heteregonitas penduduk juga sudah ada sejak dulu. Banyak orang luar daerah Aceh yang datang dan pergi atau bahkan kemudian menetap menjadi penduduk. Mereka di antaranya adalah orang yang mendapat tugas memimpin dinas-dinas tertentu serta dari satuan TNI dan Polri yang pada waktu itu masih banyak berasal dari luar daerah. Tidak sulit menemukan orang luar Aceh, yang setelah menetap di Lhokseumawe, biasa saling berkomunikasi dengan bahasa Aceh pesisir secara fasih. Di kota ini juga terdapat Gampong Jawa Lama, Gampong Jawa Baru dan Gampong Cina. Nama ini menunjukkan representasi dominasi komunitas subetnis yang mendiami kampung tersebut.

Lhokseumawe, tempo dulu menjadi salah satu tempat yang menjadi basis bagi kolonial. Baik oleh Belanda ataupun Jepang. Hal ini ditandai dengan adanya perkuburan Belanda (kerkoff) di Hagu Barat Laut, yang sekarang di atasnya telah berganti dengan bangunan SMK Negeri. Kereta Api Aceh, termasuk Stasiun Pasai Gambe, juga dibangun pada saat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an. Di sepanjang pantai juga banyak ditemukan benteng pertahan yang sengaja di bangun oleh penjajah, yang memiliki lubang pengintai dan untuk menampatkan laras senjata yang diarahkan ke segala penjuru. Di beberapa tempat lainnya juga ditemukan meriam-meriam yang kini raib tak berbekas. Seperti di sekitar Pantai Ujongblang, serta di Kutatrieng dan Mon Bho, yang masuk dalam Gampong Simpang Peut. Peninggalan benda dan bangunan masa lalu kini tidak dapat ditemukan lagi, kecuali benteng buatan Jepang yang terdapat di bukit Cot Panggoi.

Batu ini terletak menyempil di antara rumah-rumah penduduk tanpa ada perawatan sebagaimana mestinya. Bangunan bersejarah lainnya adalah stasiun kereta api Pasai Gambe, yang kini di bekas pertapakan bangunan perkantoran, toko dan sebuah mal kecil. Di sisi jalan pertemuan jalan Merdeka, jalan Sukaramai dan jalan Perniagaan juga ada bangunan lama bekas perkatoran jaman dulu dan kini berubah menjadi bangunan toko, kantor bank dan kuliner jasbret. Yang masih tinggal adalah Kantor Polisi Lhokseumawe yang dulunya terletak di seberang stasiun. Dan tak jauh dari pantai Hagu Barat Laut terdapat prasasti yang dibuat untuk memperingati peristiwa pertempuran antara TNI dan Belanda pada tahun 1948. Parasasti ini menyempil di antara rumah-rumah penduduk dan nyaris tidak terlihat, serta tidak mendapatkan perawatan sebagai mestinya.

Dulunya Kota Lhoksemawe termasuk kota yang hijau dan asri. Kala itu masih banyak ditemukan hutan bakau (mangrove) yang menghiasi tepi jalan masuk perkotaan dari arah Keude Cunda serta tumbuh di sisi kanal krueng Cunda (Krueng Muara Duwa). Di sepanjang jalan Iskandar Muda, tumbuh berjejer pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Di pucuk pinus hidup elang coklat yang sering disaksikan terbang melayang mengelilingi langit kota. Di Kutablang sebagai salah satu sumber air bersih untuk penduduk kota, banyak tumbuh pohon mahoni (orang Lhokseumawe menyebutnya pohon kenari/ bak keunari). Bila pohon ini hilang dapat dipastikan permukaan air tanah di daerah itu akan turun dan kualitas airnya pun ikut berubah. Syukurlah pohon-pohon yang telah berumur lebih satu abad tersebut masih tegak kokoh tak terjamah tangan dan pikiran jahil manusia yang ingin menebangnya.

Transportasi di Lhoseumawe sejak dulu termasuk lancar. Banyak terdapat bis yang berwarna warni yang siap membawa penumpang ke timur ke arah Medan dan barat ke arah Banda Aceh. Orang lama tentu masih ingat akan bis Nasional, PAT, ATRA, PMB, PMTOH, HSS, Tenaga Desa, PMABS dan sebagainya. Bis-bis tersebut masing-masing akan berkeliling kota Lhokseumawe untuk menjemput penumpangnya sambil berlaju pelan dengan membunyikan klakson yang berirama lagu-lagu yang populer waktu itu. Jadi supir jemputan juga harus mahir memainkan lagu-lagu dengan klakson bis sebagai daya tarik bagi penumpang. Nama-nama bis tersebut merupakan akronim dari, Pengangkutan Aceh Timur (PAT), Auto Transportasi Atjeh (ATRA), Pengangkutan Motor Bireuen (PMB), Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan (PMTOH), Hanafiah Sangso Samalanga (HSS), serta Pengangkutan Motor Aceh Barat Selatan (PMABS).

Alat transportasi antarkota lainnya adalah kereta api yang dalam bahasa Aceh disebut geuritan apui atau geuritapui. Untuk sebutan kereta angin (sepeda) menjadi geuritan angen atau geuritangen. Kereta api yang ada waktu itu adalah kereta uap yang memanfaatkan kayu sebagai media pemanas air untuk menjadi uap. Luas sepurnya (jarak antara rel) lebih kecil dari kereta api di Sumatera Utara dan di Jawa. Akan tetapi lebih besar dari lori alat pengangkut tebu. Ke arah Medan, kereta api hanya sampai di stasiun Besitang dan perlu berganti dengan bis atau taksi bila hendak ke Medan. Sedang ke barat hanya sampai di stasiun Sigli, dan mengganti kereta khusus yang bisa mendaki lereng Gunung Seulawah utk ke Banda Aceh. Atau dapat berganti angkutan lainnya di dari Sigli.

Angkutan dalam kota di Lhokseumawe, adalah beca mesin yang pada saat itu tergolong angkutan berkelas. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang memanfaatkan beca yang digerakkan oleh mesin bronvit dua tak, buatan Jerman. Abang beca Lhokseumawe terkenal “parlente”, penampilannya menarik perhatian. Sebagai atribut pelengkapnya, abang beca selalu menggunakan jaket dan jeans denim bermerek sebagai pakaiannya. Sesekali menggunakan topi koboi impor yang branded. Kendaraan bermotor roda dua dan sepeda milik pribadi juga dapat dijumpai di jalan-jalan.

Waktu itu pelabuhan Lhokseumawe merupakan pelabuhan impor ekspor, di samping pelabuhan bebas Sabang. Sehingga saat itu di Lhokseumawe mudah didapatkan barang bermerek asal luar negeri. Di area pelabuhan lama Lhokseumawe banyak dibangun gudang untuk menyimpan pinang, kopra dan kulit sebagai komoditas yang akan diekspor. Kopra biasa diambil anak-anak Lhokseumawe yang melewati gudang, untuk dimakan bagi yang baru selesai berenang di pantai Lhokseumawe. Buah pinang yang telah dijemur diambil oleh anak-anak untuk digunakan sebagai alat permainan, yang disebut (meu-èn gatok). Gatok berarti tulang engkel yang menonjol atau mata kaki yang menjadi sasaran untuk “ditembak” dengan pinang bagi yang kalah setelah terjadi proses permainan. Lebih menyakitkan lagi, bila di tengah pinang kering yang dibolongi diisi dengan timah sebagai pemberat. Permainan ini biasa dimainkan oleh 3 sampai 6 orang. Dapat dibayangkan bagi satu orang yang kalah harus membiarkan mata kakinya “ditembak” dengan pinang berpemberat. Tapi anak-anak merasa senang-senang saja memainkannya.

Pelabuhan lama Lhokseumawe biasa dijadikan tempat berenang di laut Lhokseumawe. Di samping itu juga ada pantai Ujongblang yang menjadi tempat piknik (meuramien) bagi masyarakat. Ketika itu pantai yang mengelilingi kota Lhokseumawe masih sangat bersih dan natural. Tempat tujuan rekreasi lainnya yang dekat dengan kota adalah bukit Cot Panggoi yang terletak di kecamatan Muara Duwa. Di perbukitan ini banyak tumbuh pohon jamblang, yang merupakan buah-buahan kegemaran sebagian masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, karena rasanya yang sepet, asam dan manis. Lebih enak lagi bila dimakan dengan bumbu rujak atau sekedar diberi garam dan cabe.

Sejak awal tahun enam puluhan hingga akhir tahun tujuh puluhan, hiburan tontonan bagi masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya adalah bioskop Puspa. Milik seorang pengusahan di kota ini yang populer dengan panggilan “Toke Puspa”. Bioskop ini memutar film-film secara bervariasi dan silih berganti, mulai dari action, cowboy, India, Malaysia, Hongkong hingga film produksi Jakarta. Di dalam bioskop, ketika sedang menonton, kadang muncul “gangguan” oleh salah satu dari penonton yang sedang berkomentar mengikuti alur cerita film yang berlangsung, sejak awal diputar film hingga film berakhir (tamat). Tetapi bagi sebagian penonton, berbicara saat film sedang diputar merupakan hal yang biasa saja. Bukan sesuatu yang mengganggu.

Lhokseumawe mulai berubah ketika cadangan gas alam ditemukan di daerah Aron di kecamatan Syamtalira dan Samudera. Kontraktor yang melakukan eksplorasi pertama adalah Bechtel Inc. yang berasal dari Amerika Serikat, yang di kemudian hari berubah menjadi Bechtel Indonesia. Bersamaan dengan itu, para pencari kerja mulai berdatangan dari penjuru Aceh dan luar Aceh. Pola dan kebiasaan hidup masyarakat pun mulai bergeser dari pola yang yang tradisional menjadi teknologis. Kendaraan besar dan kendaraan milik perusahaan kontraktor dan subkontraktor mulai bergentayang di kota dengan pakaian ala pekerja. Keadaan ini merangsang keinginan yang luar biasa untuk bisa mendapat keuntungan dari kehadiran paerusahaan raksasa di daerah ini

Popularitas abang beca yang dulunya bak idola, mulai tergantikan oleh pekerja yang bergaji lumayan besar. Muncul sebuah ungkapan, “dulu buah salak, sekarang buah apel; dulu abang becak, sekarang abang bechtel”. Secara berangsur perkembangan ini mengubah persepsi hidup masyarakat dari sosioagraris menjadi masyarakat konsumtif dan materialis; dari kekerabatan menjadi individualistis. Ketika itu untuk beberapa waktu lamanya, Lhokseumawe pernah digelar sebagai “kota petrodolar”.

Kini Lhokseumawe hanya tinggal kenangan. Kegiatan industri yang dulunya berjaya dan pernah membuat nama Lhokseumawe hingga dikenal ke mancanegara, telah mulai mengalami kemunduran, seiring dengan menurunnya eksploitasi gas alam cair di daerah ini. Tetapi bagi sebagian yang pernah tinggal menetap di Lhokseumawe, baik dalam periode kejayaan abang beca hingga periode abang Bechtel, kota ini tetap menjadi kota yang tak terlupakan…*

Bunga Rampai 0 comments on Fenomena Ketok Magic

Fenomena Ketok Magic

Bengkel Ketok Magic
Bengkel Ketok Magic sebagai salah satu pilihan untuk perbaikan kerusakan body mobil

Ketika masih kanak-kanak, dan sedang bermain bersama teman-teman seumuran di depan rumah salah seorang tetangga, tiba-tiba ada temen kecil kami yang sedang cemas dan menangis sesungukan sambil mendorong sepeda di tangannya, yang ukuran sepedanya lebih besar diri dirinya. Pemilik rumah, sebut saja, Pak Abdul Rauf, melihat anak tersebut yang sedang menangis, dan kemudian mendekatinya. Rupanya dia baru saja menabrakkan sepedanya ke sebuah pohon asam yang ada di pinggir jalan, tak jauh dari tempat kami bermain. Dan dia merasa bingung karena frame horizontal pada bagian atas sepeda tersebut bengkok, sehingga dia merasa ketakutan dan tidak berani pulang ke rumahnya dengan kondisi sepedanya itu. Ternyata sepeda itu milik orang tuanya.

Pak Abdul Rauf yang kebetulan adalah seorang Guru di salah satu sekolah agama negeri di kota Lhokseumawe itu, mencoba menghibur teman kami yang baru musibah ini. Sambil menghibur, beliau meminjam sepeda anak tadi, serta membawa masuk ke dalam rumahnya dan kemudian menutup pintu dari dalam. Kami agak terheran-heran melihat langkah yang beliau ambil. Untuk apa sepeda di bawa ke dalam rumahnya, sementara beliau bukanlah seorang tukang bengkel sepeda, pikir kami? Mencoba mengintip ke dalam tapi tidak berhasil alias tidak terlihat. Yang terdengar kemudian hanyalah suara orang mendehem-dehem dan dan sesekali diikuti hentakan kaki sedikit yang berulang-ulang. Tidak ada bunyi yang berasal dari persentuhan antara beda keras dengan besi frame sepeda; ataupun antara besi dengan besi. Tidak sampai tiga puluh menit kemudian pintu dibuka kembali dan sepeda yang telah “ditangani” diserahkan kembali kepada anak tadi. Tanpa lecet, dan utuh seperti tidak terjadi apa-apa.

Waktu itu belum terdengar dengan apa yang disebut dengan ketok magic atau kenteng magic. Tapi kenyataannya “ketok magic” itu memang benar adan dan sangat mungkin dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu; tanpa menggunakan alat dan hanya mengandalkan tangan dengan sedikit bantuan alat yang tidak tergolong berat untuk meluruskan besi. Tergantung dari kondisi dari apa yang akan diperbaiki.

Rencong Aceh yang bagus, pada umumnya dibentuk dengan tangan kosong oleh para tukang besi (empu), yaitu dengan cara diurut bahan besinya (dalam ukuran tertentu), sampai berubah bentuknya menjadi begitu indah seperti rencong yang ada saat ini. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang memiliki kelebihan dalam dirinya untuk melunakkan besi, tanpa harus melali proses dipanaskan terlebih dulu. Kelebihan ini pun memerlukan upaya kerja keras untuk mendapatkannya. Banyak hal yang terkait dengan transendental dan supranatural, sehingga seseorang bisa mencapai tingkat kemampuan seperti ini.

Kemampuan apa saja yang terkait dengan kekuatan dan kemampuan untuk menundukkan batangan besi, melunakan besi, memecahkan balok beton, menarik truk, memutar baut roda dengan tangan kosong, atau bahkan mengangkat benda yang berat sekalipun, hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang telah “memperoleh kelebihan”. Beberapa cara yang pernah dipraktekkan kebanyakan orang adalah melalui pelatihan yang menggunakan suatu media tertentu yang bisa menciptakan tingkat konsentrasi untuk fokus terhadap sesuatu yang dihadapi. Dapat melalui latihan sistem pernafasan, semedi, meditasi, tapa-brata, atau dengan media mantra (incantation) dan amalan tertentu, sehingga membawa seseorang tersebut kepada mencapai kondisi yang sangat fokus dan fused.

Sekilas seseorang yang telah memiliki kemampuan seperti itu, sepertinya tanpa membutuhkan konsentrasi yang berlebihanpun bisa melakukan aksi seperti disebutkan di atas. Padahal sesungguhnya karena sudah terlatih dan telah menyatu dengan dirinya, maka hanya butuh waktu dalam hitungan kurang dari satu detik konsentrasi dengan mudah terbentuk. Belakangan untuk mencapai tingkat kemampuan semacam ini telah dikembangkan secara ilmiah, tanpa menggunakan mantra, tapa-brata ataupun bacaan amalan, yang menggiring orang tersebut kepada kondisi trance dan mencapai titik konsentrasi yang super tinggi. Hanya diajarkan melalui teknik olah pernafasan, melatih konsentrasi, yang dilakukan secara kontinyu, sehingga mampu membangkitkan potensi pribadi yang ada dalam diri masing-masing orang.

Di Aceh seorang empu atau seorang yang kebal terhadap benda tajam, membentuk kekuatan itu melalui tahap pelatihan dan pengamalan. Konsentrasi yang dibangun ialah melalui sebuah proses peng-imajinasi-an hingga mampu menguraikan sesuatu benda kembali ke asal-usul terjadinya. Sepotong besi bisa dibengkokkan atau tidak bisa menembus kulit ketika ditusukkan ke badan, adalah lantara besi tersebut merupakan benda yang sejatinya padat yang kemudian melalui tahap ma’rifat diubah sifatnya secara berjenjang “seakan-akan” ibarat sebuah batu, kemudian ke bentuk pasir, menjadi berupa tanah, hingga akhirnya ketika menyentuh badannya sifatnya telah berubah menjadi benda benda cair. Atau sebaliknya kekuatan kulit pada badan seseorang secara ma’rifat telah dijelmakan dalam konsentrasi pikirannya sebagai sesuatu yang bahannya lebih kuat dari pada benda tajam yang akan menusuk dirinya. Menghilangkan atau “meniadakan” sifat besi yang keras dan tajam menjadi benda yang lunak dan bahkan lebih lunak dari kulit yang membungkus tubuhnya.

H. Maryanto, Guru Besar Seni Beladiri Pernafasan “Satria Nusantara”, Yogyakarta, menjelaskan fenomena ini secara ilmiah, tentang bagaimana seseorang bisa memukul batangan besi dengan tangan kosong hingga patah dan tanpa meningalkan rasa sakit. Hal itu hanya bisa terjadi lantaran ikatan molekul yang dikonsentrasikan pada  saat sisi tangan ataupun kepalan tangan menyentuh besi, lebih kuat daripada ikatan molekul besi yang akan dipatahkan. Menjadi pertanyaan, dapatkah hal ini dilakukan tanpa memiliki tingkat kemampuan untuk mengosentrasikan pikiran dalam kondisi yang sedemikian pekat? Tentu saja, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah melalui suatu proses latihan yang rutin, bukan datang dengan sekonyong-konyong, lalu tiba-tiba mampu menghancurkan benda keras dengan hanya sedikit sentuhan.

Di Aceh, biasanya seseorang yang bisa melunakkan besi, juga juga memiliki ilmu kebal terhadap benda besi, —tdk termakan senjata tajam—, dan ini biasanya dipertandingkan setiap malam purnama dengan dihiasi gerakan-gerakan tertentu sambil diiringi rapa-i (semacam genderang) dan seurunè kalé (semacam seruling). Pertandingan antara dua atau tiga grup yang belainan kampung dilakukan dengan diawasi oleh seorang yang disebut khualifah. Khulifah dibantu beberapa orang, tujannya agar tidak terjadi berbagai kecurangan ketika pertandingan berlangsung. Eksotisnya apabila seluruh benda tajam sudah dicobakan kepada peserta, maka pertandingan terakhir adalah siapa yang bisa mengunyah-kunyah daun “jelatang” (nama latin: laportea stimulans, syn.; dendrocnide stimulans, syn.; urtica stimulans), kemudian sampai harus ditelan. Pihak yang paling banyak mengunyah jelatang tanpa mengalami luka, gatal ataupun “nyonyor’ di mulut dan bibirnya serta tidak timbul sakit di dalam perutnya, akan keluar sebagai pemenang.

Daun jelatang banyak terdapat di pinggiran hutan Aceh, daunnya berwarna hijau, countur daunnya agak kasardan berduri halus, jika terkena bagian badan akan menimbulkan gatal bercampur perih yang sangat luar biasa dan akan meninggalkan luka, hingga berhari-hari baru sembuh. Bagi kebanyakan masyarakat (terutama di kalangan ulama), keadaan ini merupakan sesuatu yang dilarang lantaran dikhawatirkan mengandung unsur “syirik”, karena si empunya “kelebihan” meminta kekekuatan sedemikian rupa tidak kepada Allah, melainkan kepada iblis dengan menyediakan media tertentu, semisal kembang setaman dan syarat sebilah rencong ataupun belati, serta seekor ayam jantan yang harus disembelih serta dengan menggunakan mantra-mantra tertentu. Tapi sebaliknya, dalam kenyataannya, pada umumnya sang guru ataupun khulifah, diakui sebagai figur yang rendah hati dan tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

Para pengawas yang disebut khulifah memiliki kemampuan di atas rata-rata kemampuan para peserta yang mengikuti pertandingan, ataupun sebagian dari penonton yang ikut menyaksikan pertandingan dari bawah panggung. Karena di samping mengawasi, khulifah dan pembantunya akan berperan untuk mengobati para peserta yang menjadi korban ataupun menangkal “ilmu kiriman”, bila ada di antara penonton yang mencoba-coba iseng mengganggu jalannya pertandingan dengan kemampuan yang dimilikinya. Sahabat kami, Radian, asal Kabupaten Singkil, Aceh, (kami sering memangil beliau dengan sebutan Bang Radian), selalu merasa bersalah setiap kali melakukan pertunjukan debus (dalam bahasa Aceh: top dabóh). Biasanya setiap ada acara pagelaran seni Aceh, selalu diselingi dengan acara “top dabóh”.

Suatu ketika, waktu itu di akhir tahun delapan puluhan, Gedung Graha Purna Budaya milik UGM, yang terletak di Kompleks Boulevard UGM, masih disewakan untuk umum. Maka tatkala diselenggarakan pagelaran seni dari Tanah Rencong, Bang Radian, ikut mengisi acara “top dabóh” yang dipersembahkan kepada seluruh tamu undangan. Para tetamu terhormat dimohonkan naik ke panggung dan diminta untuk berkenan mencoba menusukkan beberapa senjata tajam ke tubuhnya  sekuat-kuatnya dan bertubi-tubi secara bergantian oleh beberapa orang. Namun tetap saja atas ijin yang Maha Kuasa, tubuhnya tidak tergores sedikit pun. Namun setiap kali habis acara, Bang Radian menjadi gusar, terharu dan menangis serta merasa berdosa, karena apa yang dilakukan di atas panggung, merupakan sesuatu yang membuat dia seperti bersalah kepada Tuhannya. Karena menurutnya, ketika beratraksi di atas panggung, dia benar-benar sedang merasa jumawa, sangat perkasa, dan sombong, dan tidak boleh ada terbersit di dalam pikiran sedikit pun, ada kekuatan lain yang mampu menandinginya. Sementara di dalam kehidupan sehari-harinya, dia merupakan sosok pribadi yang santun, penyayang, baik hati dan sangat rajin menjalankan ibadah sholat setiap harinya.

Kembali ke kiprah ketok magic atau kenteng magic yang banyak terdapat di berbagai daerah di Pulau Jawa; tersebar mulai dari Jawa Timur hingga ke wilayah Jakarta, adalah sesuatu hal yang mungkin dan bisa terjadi. Karena memang ada kelebihan yang diperoleh seseorang untuk memiliki kemampuan melunakkan benda sejenis besi dan semacam itu. Akan tetapi tidak jarang, sebagian hanya ditulis ketok magic, tapi, dalam kenyataannya, perlakuan untuk memperbaiki kendaraan yang penyok, hanya dengan mengandalkan keterampilan teknik yang dia miliki. Tentu saja masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Bila kemampuan teknik reparasinya memang sudah unggul, maka tidak ada alasan merasa khawatir bagi pemilik kendaraan untuk menyerahkan tanggung jawab mereparasi mobilnya di tangan mereka. Yang dikhawatirkan adalah bila kemampuan, baik menggunakan skill ataupun kemampuan ketok magic, tidak memenuhi kualifikasi yang memadai, maka hasil reparasinya pun akan menimbulkan kekecewaan dari pemilik mobil. Akhirnya memang kembali kepada pemilik kendaraan untuk bijak memilih bengkel yang tepat untuk memperbaiki kerusakan “body” kendaraannya. Di samping banyak terdapat bengkel resmi dan yang dikelola perseorangan, banyak juga bengkel ketok magic atau kenteng magic yang memang pekerjanya sudah cukup mumpuni dan halus dalam menangani hasil pekerjaannya.…**