Jogja Istimewa 0 comments on Yogya Ora Didol

Yogya Ora Didol

Andong sedang menunggu penumpang di Malioboro
Suasana tradisional, tetap diperahankan

Yogya adalah sebuah kota budaya yang klasik, menarik dan selalu meninggalkan kesan mendalam bagi yang pernah tinggal atau berkunjung ke kota ini. Banyak bangunan tua dan bahkan cagar budaya yang masih dipelihara dengan baik. Yogya yang saat ini dipimpin oleh seorang gubernur yang juga adalah seorang raja, sepertinya selalu menawarkan berbagai kemudahan bagi pengunjung dari luar daerah. Masyarakat Yogya sendiri dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sangat santun dalam bersikap.

Akhir-akhir ini dirasakan telah terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat Yogyakarta. Terdapat perubahan dalam pola sikap dan tindak tanduk sebagai akibat dari pengikisan budaya secara perlahan-lahan, sehingga kesan ramah dan santun seakan-akan sedang mulai sirna. Paling tidak hal ini mulai terasa pascareformasi yang dimulai pada tahun 1998. Demikian juga kecepatan pembangunan yang terjadi di daerah ini telah mengusik kenyamanan masyarakat pada umumnya. Kesan Yogyakarta sebagai kota yang murah meriah pun tidak sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat; apalagi para pelancong yang hanya memanfatkan masa liburan untuk berkunjung ke kota ini.

Kaki lima Malioboro yang dulunya masih merupakan tempat belanja yang murah, tiba-tiba secara mencolok melonjak harganya pada saat musim liburan tiba. Pengendalian harga di beberapa tempat pusat perbelanjaan masyarakat tidak berlaku dengan semestinya. Terdapat para pedagang yang dengan seenaknya memberikan harga kepada pengunjung, terutama kepada pelancong yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa secara lancar. Mereka dengan mudah ditebak sebagai pelancong yang baru datang, sehingga para pedagang bisa memberikan harga dengan leluasa. Toh, kadung di Yogyakarta, mumpung sedang di Yogya, ya, para pelancong terpaksa membeli juga untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan.

Yang saat ini masih sangat bisa diandalkan untuk memelihara Yogya adalah para seniman yang jumlahnya cukup memadai di seputar Yogyakarta. Mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk tetap mempertahankan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah yang berbudaya, tradisional, ramah dan memiliki sopan santun yang luhur. Kegusaran para seniman juga berkaitan dengan tata ruang dan tata wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dianggapnya telah mencederai pola pembangunan dan pengembangan Yogyakarta ke depan. Semangat keyogyakartaan seniman sungguh tidak diragukan lagi. Para seniman memiliki satu suara yang kompak ingin tetap melestarikan identitas Yogyakarta sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, jutaan kenangan dan bernilai nostaljik serta tetap mempertahankan autentisitasnya.

Hadirnya gedung-gedung yang bertingkat tinggi di beberapa sudut Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengusik keindahan Yogya yang penuh pesona. Para investor berlomba-lomba untuk menancapkan keangkuhannya melalui pembangunan apartemen dan hotel yang menjulang mencakar langit. Modernisasi sedang menelan Yogyakarta yang ingin tetap mempertahankan keunikannya secara mentah-mentah. Yogyakarta secara perlahan tapi pasti, mulai tak menampakkan dirinya sebagai kota yang unik dan klasik. Seakan semua ini mulai tergerus oleh gelombang parade pembangunan yang berlangsung begitu gencar.

Meskipun terjadi protes dan penolakan dari masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat di sekitar lokasi pembangunan, akan tetapi masyarakat tetap berada di pihak yang kalah. Keberpihakan kepada masyarakat sebagai salah satu stakeholder tak pernah kunjung datang, meski dari pemerintah setempat sekali pun. Masyarakat hanya mampu melakukan protes melalui media dan menulis pada lembar spanduk yang terpasang di dekat lokasi bangunan. Namun suara itu tidak berarti apa-apa bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Membangun bangunan bertingkat tinggi di daerah Yogyakarta yang sangat berdekatan dengan pantai selatan yang di dalamnya terdapat patahan dan pertumbukan lempeng, bukanlah keputusan bijak. Apalagi bangunannya berdempetan dengan rumah-rumah pemukiman penduduk. Ini menimbulkan kengerian yang luar biasa. Sulit bagi warga yang tinggal berdekatan di sekitar pembangunan untuk menghilangkan rasa takutnya. Padahal peraturan daerah tentang pembangangunan beserta persyaratannya telah diatur dalam Perda RTRWP Nomor 2, Tahun 2010, yang memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menggunakan hak, kewajiban dan perannya di dalam memberikan masukan bagi arah pembangunan termasuk mengajukan keberatan atas bangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Masyarakat per orang memiliki akses untuk mengetahui secara rinci spesifikasi bangunan, bahkan jauh sebelum pembangunan itu mendapatkan ijin dari pihak pemerintah.

Seniman dan masyarakat serta beberapa kaum cerdik pandai yang mencintai daerah ini, ikut menaruh keberatan atas perkembangan Yogyakarta yang mulai bergeser keluar dari identitas keistimewaannya. Banyak alasan-alasan yang melatarbelakangi keberatan unsur intelektual dan para seniman terhadap perkembangan yang tidak berpihak kepada lingkungan dan masyarakat. Salah satunya adalah kekhawatiran akan potensi yang menimbulkan kerusakan bagi lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat sebagaimana telah ditekankan di dalam perda tersebut sera memengaruhi sumber air tanah yang dibutuhkan masyarakat. Karena bagaimana pun juga kebutuhan air pada aparteman dan hotel-hotel dengan jumlah kamar yang banyak pada akhirnya akan mengganggu penyediaan air tanah bagi hajat hidup masyarakat. Meskipun ada ketentuan tentang kedalaman air tanah yang diharuskan hingga mencapai 60 meter atau lebih, akan tetapi dampak jangka panjangnya adalah berkurangnya air dangkal yang selama ini, sebagian, dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga lambat laun akan terjadi pengeringan pada sumur-sumur yang diandalkan oleh masyarakat

Kini, Daerah Istimewa Yogayakarta seperti berada di persimpangan jalan; dilematis dan sedang dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Keberadaan investor untuk mendirikan bangunan tentu saja setelah mengantongi ijin dari pemerintah setempat. Para pemilik modal tak akan berani berspekulasi untuk menanamkan modal yang sedemikian besarnya untuk sebuah rencana bisnis perhotelan dan apartemen yang telah direncanakannya. Dan kondisi ini telah mengesampingkan moratorium tentang pembatasan dan penghentian pemberian ijin untuk pembangunan hotel dan apartemen yang bertingkat banyak.

Menghentikan pembangunan bangunan yang telah berlangsung dan telah berdiri kokoh, efeknya akan berhadapan dengan hukum. Maka salah satu langkah yang paling mudah dilakukan adalah “mengorbankan” masyarakat sebagai pihak yang “harus mengalah”. Karena sisi yang paling lemah dari lingkaran persoalan ini adalah masyarakat. Objektivitas komunitas masyarakakat dari latar belakang apapun tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melakukan pembelaan diri ataupun mengharapkan setiap keberatannya dapat dipenuhi.

Salah satu harapan yang mungkin akan terpenuhi adalah mendoakan agar kawasan Malioboro hingga kawasan kekeratonan jangan sampai terjamah oleh modernisasi yang tidak terkendali. Karena hanya inilah yang mungkin masih bisa menjadi kebanggan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya bagi Kota Yogyakarta sendiri. Mugi-mugi Gusti ALLAH nyaosaken kesaen ugi kebarokahan kagem Yogyakarta ugi kita sedaya sedaya….* 

Jogja Istimewa 0 comments on Titik Nol Yogyakarta

Titik Nol Yogyakarta

Titik nol Yogyakarta
Kondisi kawasan titik nol Yogyakarta sedang dalam pembenahan

Kalau di Provinsi Aceh, ada titik nol Indonesia yang terdapat di Sabang, Pulau Weh, maka di Yogyakarta juga ada kawasan yang dinamakan “Titik Nol Yogyakarta”. Titik nol Yogyakarta merupakan suatu kawasan yang strategis bagi pelancong yang berkunjung ke Yogyakarta, sebagai penjuru utama yang menghubungkan beberapa objek wisata sekaligus. Pada titik ini terdapat pertemuan ruas jalan yang terbentang dari utara ke selatan. Mulai dari titik Tugu Pal Putih, Yogyakarta di pertemuan Jalan Margo Utomo – Jalan A.M. Sangaji dan Jalan Diponegoro – Jalan Jenderal Soedirman. Kemudian menuju ke arah selatan melintasi sepanjang jalan Molioboro – Jalan Margo Joyo, melintasi Pasar Beringharjo hingga bertemu Jalan Panembahan Senopati dan Jalan K. H. Ahmad Dahlan. Jalan Margo Utomo merupakan nama lama yang yang dikembalikan sesuai dengan sejarah sebelumnya, dimana pernah digantikan menjadi Jalan Mangkubumi; sedangkan Jalan Margo Joyo adalah pengembalian kepada nama semula dari Jalan Jenderal Ahmad Yani yang ditabalkan pascagugurnya Pahlawan Revolusi, dalam peristiwa 30 September 1965.

Titik nol sendiri berada di kawasan yang dipenuhi dengan bangunan cagar budaya, antara lain, adalah, Benteng Vredeburg, Kompleks Istana Gedung Agung, Bank Indonesia, Kantor Pos Besar Yogyakarta, Gedung Bank BNI, ditambah lagi dengan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Hanya berjarak sekitar 400 meter ke arah selatan dari titik nol, terdapat bangunan Keraton Kesultanan Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat yang megah dan telah berusia sekitar 260 tahun. Dan seterusnya sedikit ke selatan terdapat sentra kerajinan batik dan objek wisata Taman Sari.

Pada sekitar akhir tahun tujuh puluhan atau hingga awal 80-an di lokasi titik nol kilometer, di situ masih terdapat bangunan bunderan yang dilengkapi air mancur yang terletak persis dipersimpangan pertemuan Jalan Panembahan Senopati – K. H. Ahmad Dahlan dan Jalan Margo Mulyo – Jalan Pangurakan. Dulunya masyarakat sering menyebutnya sebagai “perapatan air mancur”. Akan tetapi karena tuntutan pelebaran ruas jalan, bunderan air mancur tersebut dibongkar untuk dihilangkan sama sekali. Titik Nol kilometer sendiri baru dipopulerkan kemudian.

Saat ini di lokasi tersebut sudah tidak ada bundaran ataupun air mancur yang terlihat di persimpanga jalan. Pertemuan jalan tersebut sudah terasa lebar dan bisa terbagi dalam jalur-jalur lebhi leluasa untuk kendaraan, yang dipisahkan oleh garis pembatas lajur. Pemandangan ke arah keraton atau sebaliknya ke arah Malioboro juga sudah begitu jelas, ketika kita menatapnya. Begitu pula sebaliknya. Masyarakat ataupun para pelancong juga bisa melepaskan pandangan untuk menatap gedung-gedung indah yang telah berusia ratusan tahun yang tumbuh megah di segala penjuru mata angin persimpangan titik nol, dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Bangunan bersejarah yang terdapat di radius titik nol Yogyakarta menjadi saksi bisu sejarah dari berbagai pergulatan dan perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, hingga Republik Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan.

Titik nol selalu menjadi tempat titik kumpul bagi para pelancong, baik domestik ataupun mancanegara. Di sini selalu saja siap diadakan beberbagai atraksi menarik yang berlandaskan seni, eskposisi ataupun pertunjukan yang menyemarakan suasana malam bagi pengunjung yang kebanyakan adalah pelancong dar luar kota. Sangat mudah bagi Pemko Yogyakarta untuk mengadakan berbagai pertunjukan di titik nol ini, karena mengingat Yogyakarta sendiri dipenuhi oleh seniman-seniman berbakat dari berbagai latar belakang seni yang terus berkreasi. Di samping itu juga seniman Yogyakarta memiliki rasa aktualisasi diri yang sangat tinggi, sehingga pada umumnya mereka tidak melulu berorientasi kepada nilai yang diterima, melainkan pada nilai yang akan akan dipersembahkan. Memberi dengan apresiasi, akan membawa pada tingkat kepuasan tersendri bagi para seniman Yogyakarta.

Menariknya lagi seniman Yogyakarta tidak memiliki persaingan antarsesama seniman, akan tetapi saling menghargai hasil karya seni dari seniman lainnya dan memiliki sikap yang terbuka untuk ikut saling membantu. Jadi pertunjukan apa pun menjadi mudah dan itu pada akhirnya akan bermuara pada kultur Yogyakarta yang tepa selira dan meninggalkan kesan yang baik bagi para pelancong yang menikmati liburan di kota Yogyakarta. Demikian juga berbagai hasil kreasi seniman Yogyakarta akan memberikan kesan yang tersendiri pula bagai para pelancong yang datang dari berbagai kota di Indonesia.

Apabila pada siang harinya para pelancong disibukkan dengan mengunjungi objek wisata yang ada di sekeliling Yogyakarta, hingga sampai ke Candi Mendut dan Borobudur di Kabupaten Magelang ataupun mengunjungi Candi Ratu Boko, Candi Kalasan dan Candi Prambanan sebelah timur Yogyakarta. Atau hanya sekadar mengunjungi sentra kerajianan yang ada di seputar Kota Yogyakarta, bahkan hingga mengunjungi Pantai Selatan Yogyakarta yang indah, maka pada malam harinya mereka bisa menikmati keunikan titik nol Yogyakarta, bahkan ada yang betah hingga dini hari menjelang pagi. Di sebelah selatan pagar Benteng Vredeburg, ketika siang hari juga banyak terdapat para penjual batu cincin yang memiliki koleksi batu-batu permata dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi pecandu batu cincin, tidak terlalu sulit untuk mendapatkan berbagai jenis batu yang dijual di sini.

Meskipun pada umumnya batu yang dijual adalah, batu asli, akan tetapi juga terdapat batu buatan yang tidak kalah menarik. Baik dari segi harga, mengkilap ataupun warnanya. Nah, di sini para pembeli harus bertanya terlebih dahulu kepada penjualnya agar tidak terjadi kekeliruan dalam memilih batu. Para penjual dengan senang hati akan menjelaskan secara detail apa yang ditanyakan calon pembeli. Upaya ini agar jangan sampai pembeli menyesal ketika setelah membeli batu, ternyata, batu tersebut adalah buatan pabrik.

Di area ini juga terdapat Taman Budaya Yogyakarta dan Taman Pintar, yang juga banyak dikunjungi oleh anak-anak sekolah yang datang dari berbagai daerah ataupun dari berbagai kabupaten yang ada di wilayah Yogyakarta. Hampir setiap hari ada jadual pertunjukan yang digelar di Taman Budaya. Demikian juga akan halnya Taman Pintar yang banyak diminati oleh para pelajar dari berbagai tingkatan. Kedua kawasan ini menjadi integrasi dengan kawasan Benteng Vredeburg yang berada di sebelah utaranya menghadap Gedung Agung yang berdiri diseberangnya, menghadap ke timur.

Saat ini titik nol Yogyakarta sedang mengalami renovasi pada tatanan landscap-nya dengan dengan tujuan untuk lebih memperindah dan akan membuatnya tampak lebih klasik. Sehingga nantinya bukan hanya akan memanjakan mata setiap orang yang melintasi perapatan kawasan tersebut, melainkan juga akan lebih mengangkrabkan setiap orang yang melintas dengan suasana yang ada di sekitar titik nol tersebut. Lingkungannya pun nantinya akan menjadi matching terhadap segala penjuru tata ruang, serta akan menciptakan lingkungan yang lebih bersahabat dengan pelintas jalan yang berjalan kaki yang pada waktu-waktu tertentu melintasi titik nol dengan maksud menuju arah ke keraton maupun sebaliknya ingin menuju ke arah Molioboro, ataupun dari arah timur dan arah baratnya. Di harapkan nantinya hasil renovasi akan menampakkan wajah titik nol yang bertambah rancak karena boulevard-nya dihiasi dengan batu andesit yang menciptakan motif berbentuk lingkaran, masing-masing dengan radius empat setengah meter yang enak dipandang mata. Revitalisasi ini tentu saja dimaksudkan untuk menambah semarak kawasan titik nol di mata pengunjung dan pelancong serta sekaligus untuk membuat titik nol Yogyakarta akan menjadi salah satu landmark Kota Yogyakarta yang akan dikenang oleh setiap pengunjung luar kota yang pernah berkunjung ke sini.

Akar sejarah Kota Yogyakarta sangat berbeda dengan kota-kota ibukota provinsi lainnya yang ada di Indonesia. Ada poros imajiner yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Tugu Pal Putih dan Keraton Yogyakarta yang dihubungkan oleh sumbu filosofis melintasi Jalah Margo Utomo – Malioboro – Margo Joyo – Pangurakan, sambil melintasi Alun-alun Utara, hingga bertemu Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan poros ini kemudian akan terhubungkan hingga ke Pantai Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta,  sekaligus menyentuh pada titik Panggung Krapyak. Maka ketika itu, yang menjadi titik sentral yang sesungguhnya adalah Keraton Yogyakarta yang membentang, menghubungkan Gunung Merapi, Kompleks Keraton dan Pantai Selatan Yogyakarta….**

Jogja Istimewa 0 comments on Harga Lebaran Melambung di Yogyakarta

Harga Lebaran Melambung di Yogyakarta

Jalan Malioboro
Suasana di sudut utara Jalan Malioboro

Idulfitri 1436 hijriyah baru saja berlalu dengan menyisakan berjuta kesan bagi masing-masing orang. Para pelancong dan pemudik pun sudah kembali ke kota di tempat di mana mereka berada selama ini. Namun Yogya tetap saja tidak pernah sepi dari pengunjung. Yogya terus bergulir bagai irama kehidupan yang tak ada putusnya. Para penduduk Yogya yang bepergian ke luar daerah dan para mahasiswa yang berlebaran di kampung halaman mereka, sudah mulai kembali secara berangsur-angsur jelang masuk kuliah pascalibur panjang. Begitu juga mahasiswa baru yang akan mulai mengikuti rangkaian kegiatan kemahasiswaan di kampus masing-masing di mana mereka diterima.

Ada sesuatu yang menyisakan ketidaknyamanan ketika berada di Yogyakarta bersamaan dengan hari lebaran yang baru saja berlalu. Momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga makanan dan jasa dengan cara spontan oleh sebagian pedagang dan penyedia jasa yang ada di Yogyakarta secara tidak simpatik. Banjirnya tamu2 selama liburan lebaran untuk bersilaturrami, disambut dengan sikap aji mumpung oleh sebagian para pedagang dan pengusaha di kota budaya ini. Banyak di antara para pengelola warung makan menaikkan harga makanannya dengan fantastis. Sate padang yang biasanya Rp 12000 per porsi, dinaikkan sampai Rp 6.000, sehingga menjadi Rp 18 ribu per porsinya. Padahal biasanya, dengan Rp 12 ribu, orang sudah bisa menikmati satu porsi sate yang terdiri dari 1 ketupat plus 6-7 tusuk sate padang lidah sapi.

Begitu juga tarif parkir mobil di wilayah seputar Yogya yang biasanya hanya Rp 2.000, menjadi Rp 10.000 – Rp 15.000 rupiah tiap mobil. Baik parkiran maupun para penjual, memang sedang kebanjiran pengunjung dan pembeli, sehingga dalam beberapa hari lebaran saja mereka bisa meraup keuntungan secara drastis. Demikian juga untuk sekali cuci mobil, yang biasanya hanya Rp 35.000, untuk harga lebaran menjadi Rp 50.000.

Idulfitri memang merupakan hari berkah, sebagai hari kemenangan bagi orang mukmin, sebagai pengejawantahan dari kegembiraan karena telah sukses mengendalikan hawa nafsu serta sukses menyelesaikan ritual ibadah selama sebulan penuh di dalam bulan Ramadhan. Hari ini juga merupakan saat untuk saling berbagi kegembiraan dan bersilaturrahim. Tetapi sayangnya yang terjadi adalah ada pihak-pihak yang justru mengambil kegembiraa para pemudik dan pelancong yang tumpeg bleg ke kota ini. Bagi warung dan penjual makanan, ini menjadi kesempatan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya, karena pendatang yang mencari makan, hanya memiliki sedikit pilihan; banyak warung-warung makan yang tutup selama liburan idulfitri. Sehingga mau tidak mau harus makan walaupun harganya ternyata lebih mahal daripada biasanya. Dinaikkan atas perintah bos warung, kata pelayan di situ.

Fenomena “menaikkan harga dadakan” ini menjadi tren khusus untuk lebaran, memaksimalkan jumlah pengunjung luar kota yang mudik ke Yogyakarta, ataupun sekadar pelancong yg memanfaatkan liburan panjang sekaligus ganti suasana lebaran di Yogyakarta. Dapat diamati dari plat nomor kendaraan yang memenuhi wilayah Yogyakarta yang umumnya memang berasal dari luar kota. Memenuhi seluruh jalanan Kota Yogyakarta, pada pusat-pusat perberlanjaan serta objek wisata yang ada disekitarnya.

Periode kenaikan harga juga bervariasi. Ada yang sudah di mulai H-7 hingga H+7, ada pula yang menetapkan periode yang lebih pendek. Apakah ini hanya sekadar memanfaatkan berjibunnya orang luar kota dengan meningkatkan pelayaan dan rasa yang lebih baik, sehingga wajar bila harganya naik, ataupun sebagai sarana untuk mengeduk pendapatan yang lebih booming daripada biasanya dalam waktu singkat. Tapi yang jelas dampak terburuk adalah bagi pemudik dan pelancong yang telah menetapkan budget pada taraf tertentu dengan sangat terbatas, untuk kunjungan ke Yogyakarta yang terkenal ramah, murah dan meriah untuk waktu tertentu. Mereka telah jauh-jauh hari mengumpulkan uang dengan sedikit demi sedikit dan sudah merencanaankan anggaran secara detail dalam keadaan pas-pasan. Kalau pun ada biaya tak terduga kemungkinan sekitar 10 perses dari total dana yang dipersiapkan untuk ke Yogyakarta.

Dalam kondisi harga yang makan yang tidak terkendali di Yogyakarya, tentu saja mereka harus mengalami kejutan lantaran harus merogoh saku lebih dalam lagi. Apalagi untuk harga sekali makan, bila yang diboyong adalah keluarga besar, terdiri suami, istri dan beberapa anggota keluarga lainnya, maka dapat dibayangkan beratnya mendapati kenyataan yang di luar dugaan seperti itu. Bagi yang punya saudara atau memang rumah orang tuanya di Yogyakarta kenyataan ini tak jadi masalah. Karena tidak harus terpaksa makan di luar. Demikian juga bagi mereka pemudik atau pelancong yang memang memiliki spare dana yang lebih banyak, yang tidak terlalu menghiraukan berapa pun pengeluarannya.

Sikap sementara pedagang yang berbuat demikian memang sangat tidak simpatik, karena tidak menggambarkan watak ke”yogyakarta”-an dan sangat tidak mewakili sifat-sifat masyarakat Yogya yang sesungguhnya. Aji mumpung sendiri merupakan salah satu sifat budi pekerti yang rendah kedudukannya bila ditelusuri dalam hirarki sifat-sifat yang baik dan buruk dalam budaya Jawa. Apa yang dilakukan oleh sementara pendagang makanan, merupakan tindakan sepihak atas inisiatif dan pertimbangan sendiri serta demi kepentingan sendiri dengan tujuan ingin mendapatkan keutungan sendiri secara besar dalam waktu yang relatif singkat. Kedua belah pihak akan saling merasa, si penjuan merasa senang dan gembira, knarena degan dagangannya laku, maka dia sudah memperoleh keuntungan kira-kira 30 persen lebih besar dari keuntungan biasanya; pihak pembeli merasa berat dengan pengeluaran yang di luar perhitungan tersebut, meskipun keadaan memaksa.

Kini semuanya telah terjadi dan berlalu begitu saja seiring dengan kegiatan rutin yang sedang menunggu di tempat kerja dan dalam kesibukan keseharian di kota asalnya masing-masing. Masyarakat hanya bisa mengharap mudah-mudahan akan ada perbaikan pelayanan publik ketika memasuki lebaran tahun depan. Meskipun secara hukum formal tidak ada satu pasal pun dari isi kitab undang-undang yang dilanggar, baik oleh pengelola warung ataupun bagi pihak penyedia jasa, akan tetapi, tetap dibutuhkan pertimbangan rasa empati dan etika di dalam menetapkan sesuatu yang berkaitan dengan layanan terhadap orang banyak, apalagi hal itu menyangkut penentuan kenaikan harga makanan secara dadakan  yang mencapai 30-50 persen. Demikian juga sangat diperlukan langkah instrospeksi untuk mengingat kembali sikap-sikap, tindakan-tindakan, dan prilaku spekulasi yang tidak tepat, sehingga bisa diubah menjadi sikap yang lebih baik lagi di hari-hari mendatang. Puasa Ramadhan seyogyanya memberikan sesuatu yang lebih menjadikan manusia bertambah arif, usai melakoni proses penggemblengan selama satu bulan penuh untuk merengkuh derajat takwa dan fitrah. Syukur-syukur, di masa datang, ada pihak terkait yang bisa menghimbau para pedagang dan penyedia jasa untuk tetap berpegang teguh secara konsisten menjaga, memelihara dan menghormati jati diri, nama baik dan nama besar Daerah Istimewa Yogyakarta….**

Jogja Istimewa 0 comments on Yogyakarta darurat “Seni Air”

Yogyakarta darurat “Seni Air”

Yogya itu, memang luar biasa, hebat, menarik, vintage, klasik, berkesan dan masih bisa disebutkan dengan segudang predikat lainnya. Kota ini hampir tak pernah sepi dari orang-orang yang datang dan pergi. Bahkan memang tak pernah tidur dari berbagai kesibukannya. Dari titik nol di depan Kator Pos Yogyakarta hingga ke Tugu Yogyakarta, di Jalan Margo Utomo, manusia masih berlalu lalang selama dua puluh empat jam. Para anak sekolah yang berkunjung, lebih memilih tidur di dalam bis atau ketika di dalam kereta api, dari pada membuang momentum selama berada di Yogyakarta. Bagi mereka satu hari sudah cukup untuk menikmati keindahan Yogyakarta. Tidak harus menunggu waktu liburan tiba, selalu saja penuh dengan pengunjung yang datang memadati Kota Yogyakarta dengan berhias bermacam pesonanya. Mereka tidak pandang umur, status ataupun asal kedatangan mereka. Turis lokal dan turis mancanegara tumpeg-bleg bercampur baur menjadi satu di alam Yogyakarta yang ramah dan unik ini.

Pelancong*1
Bila kita berjalan atau melintasi lorong-lorong di daerah perkampungan yang berdekatan dengan lokasi kampus-kampus perguruan tinggi berada, maka semerbak harum yang menyebar sepanjang jalan yang kita lalui. Aroma wewangian ini berasal dari pewangi yang dipergunakan oleh usaha rumah tangga yang melayani pencucian pakaian atau laundry. Seluruh kawasan perkampungan nyaris memberikan semerbak keharuman dengan berbagi jenis pengharum pakaian yang beraneka rasa. Sangat berbeda aromanya ketika kita melintasi jalan-jalan yang sering ramai dipadati oleh manusia di tengah Kota Yogyakarta. Sejak ketika berada di depan stasiun tugu Yogyakarta, bau pesing sudah mulai menyeruak tajam. Di beberapa tempat strategis yang menjadi tempat tongkrongan para pengunjung dan masyarakat pun, seperti di sekitar area titik nol, Yogyakarta, hingga ke arah utara, sering kali penciuman kita secara tak sengaja akan menangkap bau tak sedap dan merebak sepoi-sepoi ke udara melewati indera penciuman. Ini adalah dampak produk masal dari orang-orang yang kebelet pipis atau yang lagi beseran, yang terpaksa meninggalkan jejaknya di mana saja. Padahal pemerintah Kota Yogyakarta, sudah berupaya menyediakan beberapa toilet umum pada beberapa titik sepanjang Jalan Malioboro. Akan tetapi kok bisa-bisanya masyarakat tidak memaksimalkan untuk memanfaatkannya.

Kalau saat ini di dunia maya, Tiongkok diberitakan memiliki toilet terjorok di dunia, maka boleh jadi, kemungkinan semua orang yang kebelit buang air kecil di sana, lebih memilih pipis di toilet ketimbang menyemprotkannya di pinggir jalan. Dapat dibayangkan apabila sebaliknya orang-orang Tiongkok, yang populasi keseluruhannya melebihi satu milyar jiwa penduduk, sepuluh persen di antaranya pada memilih jalan pintas jika kebelet kencing, lalu membuang hajat kecil itu di dinding toko, di batang pohon yang ada di taman, di pagar-pagar, di tembok bangunan dan lain sebagainya. Kiranya ilmuan China terpaksa memutar otak lebih kencang lagi untuk menciptakan formulasi yang bisa mengubah air seni menjadi parfum ataupun bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Ini jauh lebih baik daripada menciptakan rumus cara membuat telor palsu, beras palsu, daging palsu, kosmetika palsu, susu palsu dan produk-produk yang berbahaya lainnya bagi kesehatan warganya dan bagi masyarakat di dunia.

Sangat disayangkan, air seni yang sebagian besar adalah zat cair, juga mengandung komposisi senyawa kimiawi yang korosif, dan mampu merusak benda-benda yang terbuat dari logam. Bukan hanya bau yang tak sedap yang mengganggu, akan tetapi tingkat korosivitasnya yang juga tinggi dan lambat laun bisa menghancurkan logam yang terkena cairan tersebut. Tiang penyangga jembatan saja bakal ambruk apabila secara terus menerus mendapat siraman air seni. Sifat air seni sangat korosif, dan menimbulkan karatan yang pada akhirnya bisa merusak pagar-pagar yang terbuat dari besi (ferro) yang komposisinya lebih banyak megandung bahan dasar karbon. Meskipun air seni disebut-sebut sebagai cairan yang steril, akan tetapi di dalamnya antara lain terkandung urea, amoniak dan juga natrium yang bisa menyebabkan besi menjadi berkarat.

Komposisi air seni
Kandungan komposisi kimiawi dalam air seni

Di Yogyakarta sudah mulai tampak korban dari air seni yang dilepaskan sembarangan. Keadaannya pun sudah sangat darurat. Sebagian pagar besi bagian depan di sebelah timur Gedung Agung, sudah mulai tampak berkarat. Demikian juga pagar yang mengelilingi Banteng Vredeburg. Semuanya berlokasi di ujung selatan Jalan Margo Mulyo, di seputar titik nol Yogyakarta. Bangunan cagar budaya ini telah dihiasi dengan pagar artistik di sekelilingnya. Akan tetapi pagar bagian selatan, dari sekitar tugu “Serangan Umum” yang menuju ke arah Taman Pinter, di sana sini, sudah mulai tampak bagian-bagian pagar yang termakan karatan. Penyebabnya tiada lain adalah air seni yang selalu menyirami pagar, oleh orang-orang yang kebelet pipis, yang mengambil jalan pintas untuk membuangnya. Penyebab karatan, hampir pasti adalah air seni manusia. Indikasinya adalah bau pesing ketika orang melewati pedestrian di sisi pagar tersebut. Rendahnya rasa menghargai terhadap kebersihan dan keindahan membuat orang semena-mena dalam mengambil keputusan; kencing di mana saja, asal tidak ketahuan. Bila ini dibiarkan keterusan, maka lama kelamaan, pagar Benteng Vredeburg akan rusak dimakan karatan akibat ulah manusia. Tentu saja biaya pengganti pagar akan jauh lebih tinggi daripada biaya perawatannya.

Pemerintah Kota Yogyakarta perlu mengantisipasi kondisi ini dengan baik. Sudah banyak langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk merespons berbagai kondisi yang timbul di Yogyakarta sebagai bentuk improvement terhadap tingkat pelayanan yang nyaman bagi masyarakat maupun bagai tamu-amu yang berkunjung ke kota Yogyakarta, dengan tujuan meningkatkan kenyamanan dan keindahan. Selama ini Pemerintah Provinsi DIY telah memiliki perangkat peraturan daerah seperti: Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis, yang dibarengi dengan ancaman denda sebesar 1 Juta rupiah, bagi masyarakat yang memberikan uangnya; Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, nomor 42, tahun 2009, tentang Kawasan Dilarang Merokok dan Peraturan Walikota, nomor 12, tahun 2015, tentang Kawasan Tanpa Rokok; kemudian juga ada Perda DIY, no. 3, tahun 2013, tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, serta Perda Kota Yogyakarta, nomor 18, tahun 2002, tentang Pengelolaan Kebersihan, yang juga digunakan untuk menjerat aksi vandalisme, yang merusak keindahan lingkungan kota akibat coret coret yang tidak beraturan.

Sementara ini belum ada aturan yang dapat mengatur tentang hal tersebut secara khusus, maka langkah awal adalah terus mengkapanyekan kebersihan kepada masyarakat. Baik untuk masyarakat yang merupakan warga Yogyakarta, maupu terhadap masyarakat pelancong yang datang mengunjungi Yogyakarta. Khususnya di Kota Yogyakarta, kiranya slogan-slogan, papan larangan, serta berbagai peringatan untuk tidak pipis di sembarang tempat perlu ditambahkan dan diperbanyak, terutama di sekitar pagar besi bangunan-bangunan cagar budaya yang banyak terdapat di sekitar Kota Yogyakarta. Karena selain Banteng Vredeburg, masih banyak bangunan cagar budaya yang menghiasi kemegahan titik nol, Yogyakarta yang perlu dilindungi dari “gempuran” air seni. Bukan hanya bau tak sedap yang sangat menggangu para pejalan kaki, akan tetapi pagar yang sudah dibuat sedemikian indah, jangan sampai redup nilai seninya, gara-gara “air seni” yang mengucur dari pemilik yang tidak bertanggung jawab. Melalui media yang mudah dilihat dan dibaca, pemerintah diharapkan agar terus menghimbau masyarakat supaya sudi berpartisipasi dan ikut bertanggung jawab dalam menjaga dan memeliharan keasrian, keindahan dan kenyamanan Kota Yogyakarta, hal ini sebagai langkah preventif sebelum aturan hukum yang lebih tegas diterapkan untuk mengendalikan mereka….**