Ini Medan, Bung! 0 comments on Sumatera Utara Membutuhkan Pemimpin Yang Memiliki Multikomitmen

Sumatera Utara Membutuhkan Pemimpin Yang Memiliki Multikomitmen

Siapa yang tak pernah mendengar Sumatera Utara, di mana Medan sebagai Ibukota provinsinya…? Secara geografis, letak Sumatera Utara sangatlah strategis. Diapit oleh tiga provinsi lainnya, yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Barat dan Riau, membuat Sumatera Utara seperti sebuah titik sentral yang dapat dijadikan sumber produksi dan distribusi.

Kondisi ini pernah berlaku di era sebelum tahun sembilan puluhan di mana airport Polonia dan Pelabuhan Belawan menjadi andalan untuk pintu keluar masuk, baik bagi barang-barang komoditas, maupun untuk transportasi masyarakat.

Sumatera Utara yang terletak pada kordinat 1o – 4o Lintang Utara dan, 98o – 100o Bujur Timur, memiliki luas wilayah sebesar 72.982 KM2, terdiri dari Pesisir Timur, Pegununan Bukit Barisan, Pantai Barat dan Kepualauan Nias.

Populasi penduduk Sumatera Utara mencapai 13.100.000 jiwa, sehingga kepadatan penduduk rata-rata adalah 179 jiwa per kilometer per segi. Sangat potensial untuk dilibatkan dalam mekanisme pembangunan daerah. Jumlah kabupaten/ kota di Sumatea Utara adalah sebanyak 33 kabupaten/ kota, terdiri dari 325 kecamatan dan terdapat 5.456 desa dan kelurahan.

Kota Medan
Peta Sumatera Utara. (Foto: BBPJN – Kementerian Pekerjaan Umum)

Dengan kondisi demikan, maka baik dari segi luas wilayah, ataupun jumlah penduduk serta sebaran kabupaten dan kota di dalamnya, maka dapat disebut sebagai salah satu provinsi yang terbesar di Indonesia. Dan ini merupakan faktor pendukung yang dapat dikembangkan untuk menjadikan Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi yang maju, modern dan sejahtera

Medan adalah lambang Sumatera Utara. Medan adalah simbol dan pelopor, serta menjadi Pintu Gerbang Barat Indonesia. Medan menjadi denyut nadi Sumatera. Setiap orang yang menyebut nama Sumatera maka akan selalu ada asosiasi terhadap Kota Medan yang menjadi ibukota Provinsi Sumatera Utara di sana.

Medan selalu menjadi fokus perhatian kaum pedagang, seniman dan para pemuda dari berbagai daerah, pernah menjadi primadona Sumatera. Saat ini hanya tinggal kenangan dan menjadi mimpi yang sulit diwujudkan tanpa kehadiran pemimpin seperti yang pernah dimilikinya pada masa lalu.

Marah Halim Harahap

Sebagai ibukota Sumatea Utara, sejak dulu sudah terkenal dengan pesohor sepakbola dan para penonton yang fanatik. Banyak pemain nasional sejak era 70-an, merupakan sumbangan Sumatera Utara, khususnya Medan. Sebut saja, misalnya, Ronny Paslah, Yuswardi, dan Ipong Silalahi, Saari serta Anwar Ujang.

Belum lagi Kesebelasan Pardedetex yang dibangun secara profesional oleh seorang putra Balige yang bernama mendiang Tumpal Dorianus Pardede, atau yang dikenal dengan sebutan Pak Katua ataupun TD Pardede.

Sepakbola adalah olahraga laki-laki Sumatera Utara. PSMS adalah ruhnya Sumatera Utara, yang para pendukung PSMS adalah mereka yang berdomisili di provinsi Sumatera Utara, tak peduli dari kabupaten mana asal mereka; dari berbagai latar belakang etnis yang mendiami Suamatera Utara.

Adalah Marah Halim Harahap, putra Sumatera Utara, yang membuat Sumatera Utara bangga dengan sepakbola-nya dengan menggelar turnamen internasional yang diberi nama Marah Halim Cup, yang diikuti oleh kesebelasan ternama dari benua Asia. Ketika itu Marah Halim Harahap merupakan Gubernur Sumatera Utara selama periode 31 Maret 1967 sampai 12 Juni 1978.

Setidak-tidanya terdapat tiga orang pahlawan sepakbola Sumatera Utara yang pantas dikenang sepanjang masa. Mereka adalah: TD Pardede, Kamaruddin Panggabean dan Marah Halim Harahap.

Medan juga merupakan sebuah kota budaya dan seni. Dari Medan banyak bermunculan penyanyi-penyanyi dan grup musik terkenal yang mengisi balantika musik di Indonesia. Medan adalah barometer sukses sebuah grup musik dan penyanyi Indonesia.

Apabila seorang penyanyi ataupun sebuah grup band, mampu meraih sukses di Medan dan Sumatera Utara, maka jalan menuju sukses sebagai penyanyi Indonesia semakin mudah dan terbuka. Dulu, Golden Wing band dari Palembang malah dengan bangga menciptakan dan menyanyikan lagu yang berjudul “Selamat Tinggal Kota Medan”.

Ivo Nelakrisna, Eddy Silitonga, Nur Afni Oktavia dan Viktor Hutabarat merupakan sebagian kecil penyanyi asal Sumatera Utara yang populer di pentas nasional. Demikian pula The Mercy’s di mana di dalamnya didukung oleh Charles Hutagalung dan Rinto Harahap.

Belum lagi The Rhythm King yang terdiri dari Mawi Purba dan Saudara-saudaranya serta The Minstrel’s yang diawaki oleh Fadhil Usman yang kesemuanya sempat mengeluarkan album lagu di tingkat nasional.

Sumbangsih Sumatera Utara

Pendek kata Medan yang sangat identik dengan Sumatera Utara telah ikut serta memberikan warna gemerlap bagi pembangunan semesta Republik Indonesia. Sumbangan yang tidak ternilai bagi APBN Republik Indonesia adalah dari hasil minyak bumi yang dimiliki Sumatera Utara di daerah Kabupaten Langkat, yaitu tepatnya Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu.

Demikian pula dari sektor perkebunan. Yang dimulai semasa kompeni masih bercokol di bumi Sumatera Utara. Hasil bumi Sumatera Utara yang dikelola oleh PTPN memberikan kontribusi bagi pembentukan kerangka APBN dari tahun ke tahun hingga sampai saat ini.

Dengan diterapkannya UU Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, maka kemandirian daerah sudah menjadi tantangan sendiri untuk dibenahi.

Sumatera Utara yang pada era tahun 70-an merupakan daerah yang sangat maju bila dibandingkan dengan provinsi di Sumaera lainnya, kini seperti harus bersaing dengan beberapa provinsi lainnya yang tumbuh di seluruh Sumatera.

Saat ini Sumatera Utara tidak lagi menjadi identitas Sumatera. Baik dalam ukuran tujuan wisata maupun dalam ukuran tujuan bisnis. Geliat beberapa provinsi lainnya di Sumatera telah memecah konsentrasi seluruh aktivitas industri pariwisata dan bisnis bagi pelancong dan pelaku bisnis.

Jika dulunya Sumatera Utara menjadi satu-satunya tumpuan bagi para pebisnis untuk mengembangkan usahanya dalam berinvestasi, maka saat ini Sumatera Utara hanya tinggal kenangan.

Terkadang kita harus malu dengan beberapa provinsi baru yang hadir belakangan seperti Provinsi Bengkulu; Provinsi Bangka dan Belitung, serta Provinsi Kepulauan Riau. Meski lebih muda dari Provinsi Sumatera Utara, tapi perkembangannya cukup mengesankan.

Rindu masa lalu

Kemudahan regulasi yang diterapkan di beberapa daerah dan terjangkaunya biaya transportasi ikut pula mendorong pergeseran ini. Apabila sebelumnya banyak para pedagang yang menjadikan ibukota Sumatera Utara sebagai tempat membeli sebagian besar kebutuhan dan barang modal, maka dengan murahnya ongkos transportasi, para pebisnis lebih suka langsung ke pusat-pusat grosir di Jakarta sebagian ke Batam, Kepulauan Riau.

Danau Toba dan Berastagi tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan wisata di Sumatera. Kini harus berbagi dengan Sumatera Barat atau bahkan dengan Sumatera Selatan yang terus bergeliat ke arah perkembangan yang positif menggembirakan. Bahkan dengan perkembangan yang begitu istimewa, Sumatera Selatan dipercayakan untuk menjadi tuan rumah SEA Games bersama dengan Jakarta.

Kini seluruh lapisan masyarakat yang tinggal di Sumatera Utara merindukan kembali masa lalu Sumut. Dibutuhkan pemimpin yang mampu membawa Sumatera Utara menggapai kejayaannya kembali. Dan semua itu seharusnya dimulai sejak sekarang. Sekarang juga…! Karena bagaimana pun juga Sumut sudah banyak tertinggal.

Hanya di tangan orang-orang yang memiliki integritas yang kuat, yang mampu membawa Sumatera Utara menemukan kembali jati dirinya sebagai daerah yang telah mengenyam kemajuan, dan membuktikan diri sebagai daerah yang potensial dengan sumber alam yang melimpah dan memiliki akar adat budaya yang tinggi dan heterogen.

Kasak kusuk jelang pilkada serempak di Sumatera Utara, meskipun masih beberapa bulan ke depan, sudah mulai terasa hangatnya. Akan tetapi masyarakat semakin sadar figur yang bagaimana yang akan dipilih. Untuk memajukan Sumut dibutuhkan sosok yang mengerti betul aspirasi masyarakat Sumut.

Sosok tersebut mestinya adalah seorang yang cerdas yang memiliki komitmen kuat terhadap kemajuan Sumut; sebagai pekerja keras; jujur dan antikorupsi; punya cita-cita, visi dan misi yang berorientasi bagi kemakmuran masyarakat Sumut; serta tidak mudah diatur oleh kepentingan pengusaha dan para pemilik modal, yang merugikan masyarakat, tetapi hanya menguntungkan segelintir orang dan pribadi….***

Bunga Rampai 0 comments on Begal Dari Masa Ke Masa

Begal Dari Masa Ke Masa

Kata begal dalam bahasa Jawa berarti perampok, penyamun. Begal juga dapat didefinisikan sebagai perampokan yang dilakukan di tempat yang sepi; menunggu mangsanya ditempat sepi untuk merampas harta bendanya dengan cara melumpuhkan sasarannya.

Belakangan ini “begal” menjadi topik berita yang paling menonjol, ketika banyak peristiwa perampokan dengan kekerasan di jalan-jalan di kawasan DKI dan sekitarnya, yang menyebabkan korban berjatuhan dengan kondisi yang menyedihkan. Pelaku begal tidak ragu-ragu bertindak sadis ketika menyakiti korbannya. Korban yang sudah tak berdaya benar-benar dibuat lumat dengan sekujur bedannya penuh bekas luka akibat dibabat dengan pedang, clurit atau kelewang. Senjata ini rata-rata menjadi alat pembunuh yang digunakan oleh para begal.

Sejak dulu Jakarta sudah sering dicekam oleh tindakan begal. Pada tahun 1982, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Anton Soedjarwo, berupaya menumpas para penjahat yang sudah sangat meresahkan masyarakat Jakarta. Kapolda menggelar tindakan represif dan menembak mati setiap penjahat yang melawan. Atas keberaniannya tersebut Anton memperoleh anugerah penghargaan dari Presiden RI.

Rupanya kesadisan tindakan para begal kala itu, mendapatkan perhatian serius dari Kepala Negara. Langkah yang diambil Polda Metro Jaya menjadi patron bagi Pak Harto untuk melanjutkan operasi petrus dan tembak di tempat. Membersihkan begal dari seluruh tanah Indonesia.

Begal beraksi
Gambar Ilustratif aksi para begal

Bukan hanya kepolisian yang dilibatkan dalam operasi ini, tetapi unsur Garnisun dari Komando Distrik Militer (Kodim) juga ikut digerakkan untuk menumpas begal yang sudah bertindak di luar batas-batas kemanusiaan. Waktu itu ada yang disebut gali, prokem, preman, dan masih banyak istilah lainnya. Kelakuannya dan tujuannya sama, yaitu, merampas harta dengan melumpuhkan korban.

Alasan Pak Harto sangatlah sederhana. Penjahat ini harus ditreatment; negara harus hadir untuk memberikan rasa aman bagi masyarakatnya; kekerasan harus dilawan dengan kekerasan…. “Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan… dor… dor… begitu saja, bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak. Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu. Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu”. (Ramadhan K.H., 1988).

Negara harus melindungi warga negaranya dari perbuatan sewenang-wenang orang-orang yang tidak berperikemanusiaan. Hingga akhir pemerintahan Pak Harto, Indonesia bebas dari pelaku begal, karena memang resiko membegal sangat nyata dan fatal. Kala itu identitas begal selalu identik dengan tato di badannya. Sehingga begal-begal tanggung yang bertato dengan segala upaya menghilangkannya. Bahkan konon dengan cara menyetrika pada permukaan badan yang bertato.

Pendeknya begal dibikin tidak tenang; sebaliknya masyarakat semakin merasa aman dan berterima kasih kepada aparat. Penumpasan begal memang dilakukan dengan sangat serius. Pimpinan tertinggi negara saat itu mengambil alih seluruh tanggung jawab dari semua jenis operasi yang bertujuan untuk membasmi begal.

Tim Khusus Anti Bandit

Jauh sebelumnya, di Medan juga banyak bermunculan preman sadis. Untuk menindak aksi begal, maka Polri membentuk unit khusus yang beroperasai untuk menciduk para begal. Medan waktu itu tentu sangat akrab dengan sebutan Tekab (Tim Khusus Anti Bandit). Kehadiran Tekab membuat hati masyarakat merasa sedikit merasa lebih aman. Namun dengan keterbatasannya Tekab tidak bisa menumpas begal sampai keakar-akarnya. Kejahatan preman tetap tak kunjung reda; tetap terjadi secara sporadis. Padahal Tekab merupakan tim yang sangat terlatih, taktis dan profesional.

Meskipun banyak yang tertembak, tapi tindakan rampok, begal, rampok, jambret dan penodongan tetap terus terjadi. Banyak begal yang mati di ujung peluru aparat keamanan, tapi tak menyurutkan nyali mereka untuk terus menjalankan aksinya. Salah satu yang membuat keberanian preman memuncak adalah pengaruh minuman keras. Yang menjadi konsumsi rutin para preman atau begal sebelum mereka beraksi.

Masyarakat selalu merasakan was-was dan terancam, sebagai dampak dari aksi brutal para begal. Sehingga tidak mengherankan bila ada orang-orang baik pun, ikut-ikutan membawa senjata tajam sejenis belati atau sebagainya untuk pertahanan diri semata. bila sewaktu-waktu keluar rumah.

Waktu terus berjalan, pemerintah terus berganti. Kini begal sedang mengalami puncaknya di mana-mana. Aksi begal sudah mencapai klimak dan sangat menakutkan. Banyak korban tak berdosa meregang nyawa; mati sia-sia di tangan begal; di ujung alat pembunuh para begal yang tak berperikemanusian. Begal begitu leluasa menunaikan tugasnya. Keterbatasan jumlah personil aparat keamanan ikut membuat begal bersuka ria tanpa rasa takut sedikit pun. Mangsanya pun tak peduli laki perempuan tua atau muda. Asal menghasilkan duit maka pastilah dieksekusi dengan cara sadis.

Pada sekitar awal tahun 1983, seluruh jajaran teritorial Jawa Tengah dan DIY, berkumpul di Semarang untuk mendapatkan “wejangan” dan sekaligus memperoleh restu dari Panglima TNI, kala itu dijabat oleh Jenderal M. Yusuf, berkaitan dengan Operasi Penumpasan Kejahatan (OPK) di wilayah masing-masing.

Yogyakarta merupakan wilayah yang pertama sekali melaksanakan Operasi Petrus (penembakan misterius) yang bersandi “Operasi Clurit”. Baru kemudian menyusul di seluruh Jawa Tengah dan DIY serta daerah Jawa lainnya. Operasi di wilayah Yogyakarta, dipimpin langsung oleh Dandim 0734, Letkol (CZI) M. Hasbi, sebagai Kepala Staf Garnisun. Karena perannya tersebut maka pada waktu itu oleh salah satu koran terbitan Jakarta, menjulukinya dengan sebutan “Jango”.

Para gali di Yogya yang suka mengompas supir dan para pedagang ikut dibasmi dengan cara ditembak mati. Supir angkot dan pedagang yang pendapatannya tak seberapa, dengan leluasa dipalak oleh para gali. Dalam pada itu Garnisun Yogyakarta dianggap ibarat pahlawan oleh orang-orang kecil, seperti para supir dan para pedagang kecil, serta masyarakat pada umumnya.

Hampir seratus gali Yogyakarta mati di tangan aparat, sebagai pembayaran atas aksi brutalnya. Pascapetrus, seluruh kota-kota besar di Pulau Jawa aman tenteram, bebas dari tindakan kejahatan. Begal yang luput mati pun menjadi ciut nyalinya dan menyembunyikan diri hingga bertahun-tahun.

Melanggar HAM

Pegiat hukum hanya berkoar-koar untuk menyalahkan aksi petrus yang melanggar HAM. Tapi mereka lupa berapa banyak korban masyarakat dan juga aparat, yang dibunuh secara sadis tanpa pertimbangan HAM dari pelakunya; bahkan tanpa adanya kritikan ahli-ahli hukum yang suka menyuarakan HAM.

Begal membunuh masyarakat tak bersalah, tidak menyalahi HAM; aparat membunuh para penjahat yang suka membunuh, merampok dan merampas harta orang yang tak berdaya, dianggap melanggar HAM. Padahal tindakan aparat bertujuan untuk melindungi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Pembersihan preman, gali dan begal yang pernah dilakukan negara secara terukur telah berlalu, hampir 40 tahun yang lalu, tak lagi membekas. Kini begal kembali membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi keresahan akibat tindakan sadis gank motor yang tidak segan-segan melukai dan membunuh orang tanpa tujuan yang jelas. Kedua aksi ini sudah barang tentu tidak boleh dibiarkan.

Pembentukan Tim Anti Begal, yang saat ini gencar beroperasi di Medan, merupakan titik kekesalan aparat terhadap tindakan para begal yang sudah di luar kepatutan. Hari demi hari selalu ada begal yang ditangkap, ditembak bahkan ada yang tercerabut nyawanya ditembus timah panas para aparat yang sedang menjalankan tugas mulia dalam melindungi masyarakat. Seakan ibarat mati satu tumbuh seribu, begal mati selalu ada pengganti.

Begal bukan hanya meresahkan orang-orang beraktivitas pada malam hari. Begal juga biasa memalak (mengompas) siapa saja yang mereka inginkan dengan dalih uang keamanan (uang reman). Bagi yang keberatan membayarnya akan merasakan akibatnya.

Tugas Tim Anti Begal tidak semudah membalik telapak tangan; sekonyong-konyong mampu menyadarkan begal untuk kembali ke jalan yang benar. Namun masyarakat tetap berharap, agar operasi ini sukses dan bisa mengembalikan rasa aman masyarakat yang sudah lama hilang. Partisipasi masyarakat, meskipun hanya dalam bentuk informasi akan memudahkan aparat untuk secara cepat memburu begal dan kemudian melumpuhkannya…***

Ini Medan, Bung! 0 comments on Ooh Makjang, Medan….!

Ooh Makjang, Medan….!

Ada apa dengan Medan? Hujan keterusan jadi banjir; tidak hujan juga masalah. Orang Medan seperti berada dalam situasi dilematis: “tak tahan panas mengharap hujan; mengharap hujan takut banjir”. Yang jelas Medan kini terasa menyesakkan, dan panasnya juga sangat menyengat.

Dulu cuma di Belawan saja yang terasa panas menyengat. Tapi sekarang Medan pun ikut-ikutan panas. Perkembangan kota tidak cukup dibarengi dengan penyediaan ruang kosong untuk paru-paru kota dan penghijauan. Pohon-pohon tua satu demi satu mati atau ditebang demi kepentingan peningkatan jalan atau untuk segala jenis bangunan, tanpa ada pengganti yang sebanding. Berkurangnya jumlah pohon mengakibatkan berkurangnya daya serap air hujan yang ujung-ujungnya terjadi banjir di sana sini.

Perkembangan pesat penduduk kota selalu diikuti dengan pertumbuhan alat transportasi kota yang tak kalah cepatnya. Belum lagi kecenderungan bertambahnya kepemilikan kendaraan pribadi roda dua, roda empat serta angkutan umum dan beca bermotor. Asap kendaraan memberi andil yang sangat signifikan atas kenaikan suhu udara kota Medan. Asap juga berbahaya bila menembus nilai ambang batas yang diperkenankan bagi suatu lingkungan. Asap yang dihasilkan dari knalpot kendaraan yang terdeteksi di Medan telah melampaui ambang batas kualitas udara yang ditetapkan.

Nilai kualitas udara belakangan ini di Medan pun tidak terdeteksi secara konsisten. Peralatan pemantau kualitas untuk dan mengukur indeks standar pencemar udara udara yang terpasang pada beberapa sudut kota yang strategis di Medan, instrumennya tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini menimbulkan keperihatinan bagi penggiat kelestarian lingkungan. Diperlukan upaya kerja sama yang baik antara pemerintah kota dengan departemen terkait yang mengurus masalah pencemaran udara.

Macet
Macet yang menyesakkan dapat memicu stress

Tapi banyak diantara masyarakat yang tidak terlalu menghiraukan hal ini lantaran kurang memahami haknya sebagai anggota masyarakat. Masyarakat kurang menyadari bahwa perubahan kualitas udara memberi dampak bagi kesehatan secara keseluruhan.

Kadar plumbum (Pb) yang ada dalam partikel udara ikut menjadi pemicu stress dan tingkat emosi sebagian masyarakatnya, terutama yang terpapar dalam jangka waktu lama dan berlangsung secara berulang-ulang; terus menerus.

Meskipun watak bawaan memang ada yang bertemperamen tinggi. Tapi sepertinya kandungan partikel pencemar dan polutan yang menyelimuti beberapa ruas jalan yang padat di kota Medan memberikan stimulus yang sangat besar bagi perubahan peningkatan sensitivitas seseorang.

Siklus udara kotor-panas-emosional-temperamental (meledak-ledak-mudah tersinggung-mudah marah)-stress-gampang terserang penyakit, menjadi fenomena yang biasa menjangkiti sebagian masyarakat.

Hak masyarakat

Dampak secara ekonomis adalah peningkatan konsumsi bahan bakar minyak bagi kendaraan dan meningkatnya pengeluaran biaya pengobatan. Di samping itu terjadi penurunan terhadap kualitas hidup masyarakat. Hak masyarakat untuk memperoleh lingkungan yang baik seperti terabaikan.

Masyarakat tak tahu menahu tentang peran pemerintah daerah untuk mengantsipasi kondisi ini agar tidak semakin parah. Setidak-tidaknya ada kampanye tentang pengendalian kualitas lingkungan hidup. Apakah dilakukan oleh pihak pemerintah kota Medan sendiri ataupun dengan melibatkan para akademisi dan komponen pegiat lingkungan lainnya.

Sebetulnya kota Medan adalah kota yang dasarnya asri dan nyaman. Saat ini stigma demikian hanya dapat dirasakan di beberapa daerah pinggiran kota dan di lingkungan perumahan eksklusif. Namun demikian masyarakat yang bermukim di pinggiran kota, dan penghuni perumahan yang menjadi commuter pun ikut berkontribusi dalam menghasilkan asap kendaraan di tengah-tengah kota.

Berbeda dengan beberapa kota besar lainnya di Indonesia, format dan tata letak kota Medan telah menyebabkan penumpukan kendaraan yang lalu lalang terjadi pada kantong-kantong bisnis di kawasan tertentu saja.

Karena kotanya yang relatif tidak besar, maka kepadatan kendaraan tidak mudah berurai. Pada umumnya masyarakat beraktivitas dengan memanfaatkan ruas jalan yang “sama”. Sehingga ke mana pun hendak pergi ataupun pulang, relatif akan melalui jalan penghubung yang sama. Sedikit sekali ketersediaan jalan alternative yang bisa dimanfaatkan dan berguna untuk mengurai kemacetan.

Sementara itu kenaikan jumlan panjang dan ruas jalan di dalam kota Medan tidak mampu mengimbangi (sebanding dengan) peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Kalau tidak disebut stagnasi. Maka intensitas produksi asap kendaraan yang menumpuk akan semakin lama lepas ke udara terbuka. Karena di picu oleh perlambatan laju kendaraan yang terjebak kemacetan.

Di sisi lain, pohon yang seharusnya dapat berfungsi sebagai penangkap carbon monoksida (CO), tidak banyak ditemukan di sisi jalan. Maka jadilah Medan sebagai kotayang sarat polusi, tapi minim penanggulangan.

Carbon dioksida

Kelebihan jumlah kadar carbon dioksida (CO2) di dalam udara juga dapat menjadi ancaman dan menimbulkan peningkatan suhu udara sehingga suasana lingkungan menjadi panas serta memberi kontribusi bagi pemanasan global.

Sebetulnya “kehadiran” pohon-pohon di dalam kota mutlak harus diperhatikan oleh pemerintah kota Medan. Tujuannya di samping sebagai penghias untuk keindahan kota, juga berperan sebagai penyejuk dan perindang, serta berfungsi sebagai sarana untuk mereduksi pencemaran udara yang disebabkan oleh CO dan kelebihan produksi CO2.

Hujan juga memberikan permasalahan tersendiri bagi kota Medan. Banjir sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi kota Medan. Padahal kota Medan merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki saluran drainase terbaik di Indonesia di samping kota Yogyakarta. Sayangnya drainase yang didesain lengkap dengan lorong-lorong inspeksi tersebut, selama ini, tidak difungsikan secara optimal.

Gorong-gorong yang dibangun pemerintah Hindia Belanda merupakan saluran untuk penggunaan prediktif berpuluh-puluh tahun ke depan. Tapi hal itu harus didasarkan kepada bentuk pemeliharaan yang mengikuti kaidah-kaidah predictive dan preventive maintenance ditetapkan. Termasuk di dalamnya bagaimana menata sikap hidup masyarakat di dalam mengelola sampah miliknya; think sampah, safe selokan.

Drainase yang dibangun belakangan diyakini tidak terintegrasi dengan baik antara satu wilayah dengan wilayah rawan banjir yang terdapat di seantero kota Medan. Maka meskipun hujan turun tidak begitu lebat, maka sekonyong-konyong akan muncul genangan air yang mengganggu aktivitas dan transportasi.

Bukan hanya budaya gotong royong dan kerja bakti yang pelu digalakkan, akan tetapi juga bagaimana mengubah mindset masyarakat dari segala lapisan dan elemen, tentang sampah juga merupakan unsur yang sangat penting untuk menjaga kota Medan agar bersih dan bisa mengurangi ancaman banjir.

Apapun ceritanya, untuk menjadikan Medan sebagai kota yang nyaman dan asri, seperti sedia kala, sangat dibutuhkan kerja keras dari semua unsur, mulai dari keseriusan program kerja pemerintah untuk penghijauan hingga peranserta masyarakat secara luas.

Program satu orang satu pohon, misalnya, bisa dijadikan pintu masuk ke dalam upaya menjadikan kota Medan sebagai kota yang hijau. Pohon sebagai penyangga dapat berfungsi sebagai sarana penyerap air hujan yang dapat mengurangi intensitas banjir. Pemerintah harus menjadi fasilitator yang berperan aktif untuk membangkitkan perhatian masyarakat.

Ruang-ruang terbuka kosong harus dipertahankan sebanyak yang bisa disediakan pemerintah. Bertujuan untuk dijadikan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan sarana di dalam menghasilkan udara bersih (oksigen), serta untuk mengendalikan banjir.

Tentu saja upaya ini harus diikuti dengan tindakan nyata; bukan tindangan vested interest yang terkesan separuh hati. Kemudian terhadap fasilitas yang disediakan perlu diikuti dengan penekanan pada sistem pemeliharaan secara berkelanjutan dan konsisten. Ooh Makjang Medan, parah kalii rupanya…!

Ini Medan, Bung! 0 comments on Legenda “orang kuat” Medan

Legenda “orang kuat” Medan

Medan memang kota yang “karas”, Bung..!; Medan memang sangat dinamis dan hampir tak pernah lelap walau hanya sekejap. Sejak dulu Medan sudah sangat dikenal oleh orang-orang se-nusantara ini. Bahkan Medan juga pernah dijuluki sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Waktu itu perkembangan Bandung dan Surabaya belum sepesat seperti saat ini; baik di bidang perdagangan maupun di bidang hiburan.

Medan juga menjadi kota penghantar bagi turis yang akan mengunjungi beberapa objek wisata yang terdapat di sekitar Medan seperti: Berastagi dan Prapat yang terletak di tepi Danau Toba yang tersohor itu. Kota Medan sendiri juga memiliki pesona yang tak kurang indah, lengkap dengan berbagai bangunan cagar budaya yang terpelihara dengan baik.

Saking kerasnya kehidupan di Medan, sehingga menjadi Kapolda Sumut dan Kapoltabes Medan menjadi sebuah tantangan yang menggiurkan. Tidak jarang sukses sebagai Kapolda dan Kapoltabes dapat menghantar seorang bhayangkara, memiliki peluang yang besar untuk merengkuh jabatan di atasnya bahkan jabatan Kapolri dengan mulus dan lancar. Medan dan Sumatera utara seakan menjadi tolok ukur bagi penilaian terhadap sukses tidaknya bagi perjalanan sebuah karir seseorang.

Untuk menjadi terkenal banyak cara yang ditempuh oleh orang Medan, terutama dari kalangan anak muda usia. Bukan hanya sebagai seniman (penyanyi) saja, melainkan juga bisa melalui jalur predikat “orang kuat”. Sejak dulu organisasi Pemuda Pancasila sudah tumbuh berkembang di Medan, dan yang akan memimpin organisasi tersebut dianggap sebagai “orang kuat”, dari segi apa saja: nyali, fisik, pengaruh dan akhirnya berujung ke ranah finansial yang semakin sehat. Bahkan timbul eforia dalam pikirannya ingin mengalami kehidupan serupa dengan mereka, terlebih lagi bila bisa dekan bergaul dan mengenal mereka dengan baik. Ada kebanggaan bisa berkenalan dengan Pendi Keling ataupun Olo.

Gambar ilustratif "orang kuat" Medan
Gambar ilustratif “orang kuat” Medan

Di era pertengahan tahun enam puluhan hingga pertengahan tahun 70-an, orang belum pernah mendengar nama Oloan Panggabean, sebesar namanya di akhir tahun tujuh puluhan. Sebaliknya orang sangat familiar dengan sebutan Bang “Pendi Keling”. Hampir semua lapisan masyarakat membicarakan namanya. Nama lain yang tak kurang beken adalah Anwar Congo, Paruhum Lubis dan Hasan Kumis.

Masing-masing mereka seperti telah memiliki wilayah operasional sendiri dengan territorial yang sangat terjaga. Olo baru beken kemudian setelah, konon, menyempal dari Pemuda Pancasila dan kemudian mendirikan IPK (Ikatan Pemuda Karya). Era setelah Pendi Keling, yang bernama asli Muhammad Yunus Helmi Nasution, hadir orang kuat seperti Buyung Berland, Iwan Dukun, Marzuki, Manahan Lubis dan bahkan Sahara Oloan Panggabean, atau dikenal dengan sebutan Pak Ketua; sebutan lain dari Bang Olo. Tapi porosnya tetap pada organisasi pemuda seperti: Pemuda Pancasila, AMPI dan IPK.

Meskipun awalnya sama-sama berinduk ke Golkar, masing-masing organisasi ini seperti berdiri sendiri-sendiri. Sehingga tidak jarang bisa bentrok hanya gara-gara hal yang sepele. Perebutan lahan parkir serta pengaruh di basis daerah hiburan malam dan pusat perdagangan, juga sering menjadi pemicu terjadinya bentrokan berdarah, yang juga kadang merenggut nyawa anggotanya.

Pendi Keling meninggal karena usia yang semakin sepuh kala itu. Sedangkan Olo meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya; sementara Iwan Dukun tewas ketika terjadi bentrokan antarpreman di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tanjung Gusta. Iwan yang tidak mempan senjata tajam, tewas lantaran sengaja dikerubungi asap tebal akibat terjadinya pembakaran di depan selnya. Iwan Dukun lebih dulu melepas nyawa sebelum masa pembebasannya ke dunia luar penjara, yang hanya tinggal menunggu hari. Malaikat lebih dulu menjemputnya. Iwan yang ditahan dengan tuduhan gerakan subversif, tidak sempat menghirup udara kebebasan karena huru hara yang terjadi pada tanggal 29 Maret 1996 di dalam penjara, sebagai penyebab kematiannya.

Medan selalu melahirkan orang kuat di kalangan masyarakat yang menjalani kehidupan yang keras. Setiap mereka selalu memiliki basis organisasi dan langsung berperan sebagai pemimpin tertinggi dari organisasi tersebut. Sosok orang-orang kuat ini bukan hanya membuat nyali anak buahnya takut menghadapinya, akan tetapi juga namanya sangat diperhitungkan oleh kelompok dari organisasi pemuda lainnya yang memiliki atribut dan berbeda, namun mempunyai orientasi yang sama. Sama-sama menghimpun kekuatan dan pengaruh untuk menguasai area bisnis tertentu, menawarkan jasa keamanan, penjagaan parkir dan jasa-jasa lainnya yang membutuhkan peran mereka. Untuk menjaga eksistensinya masing-masing ormas ini mengandalkan para anggotanya yang memang telah menjadi bagian terpenting dari basis kekuatan organisasinya.

Para anggota juga mengambil manfaat dari kekuatan ini. Karena bagaimana pun juga, semakin sebuah organisasi tersebut menjadi kuat maka kredibilitsnya pun akan semakin besar. Sehingga dengan demikian mereka dapat melakukan ekspansi bagi daerah operasionalnya yang berarti semakin luas pula lahan untuk mendapatkan order pekerjaan, termsuk sebagai tenaga keamanan ataupun menguasai lahan parkir. Ini menjadi sumber pendapatan bagi organisasi sekaligus untuk menghidupi perekonomian anggotanya. Jadi semua ini bukanlah semata-mata gengsi organisasi yang perlu ditegakkan, melainkan juga mengandung hajat hidup para anggota, maka taruhan nyawa bukanlah suatu tantangan yang bisa dihindarkan.

Dari sisi ketertiban dan keamanan, kehidupan orang-orang ini diklasifikasikan sebagai kehidupan “premanisme”, dan orang-orang yang disebut-sebut sebagai orang kuat dianggap sebagai “kepala preman”. Sehingga tak jarang tingkah dan tindakan mereka dianggap senantiasa bersinggungan dengan hukum. Di samping menjadi momok bagi organisasi pesaingnya, kehadiran orang-orang ini juga ikut menjadi pemicu keresahan masyarakat. Dan ujung-ujungnya mereka terpaksa berhadapan dengan aparat kepolisian untuk mempertanggungjawabkan semua yang dilakukannnya di depan hukum. Apalagi bila perilakunya terkait dengan bentuk kejahatan dan bisnis ilegal yang mereka jalankan, ataupun dengan sesuatu tindakan lainnya yang terlarang menurut sisi pandang penegakan hukum.

Yang menarik adalah, bahwa kehidupan keras tidak menjadikan para orang kuat ini kaku dalam bersosialisasi. Pada umumnya mereka termasuk dalam kategori dermawan dan suka membantu orang-orang lemah. Organisasi induk juga bertanggung jawab untuk menyantuni keluarga dari setiap anggotanya yang meninggal dalam tugas demi mempertahankan eksistensi organisasinya.

Demikian juga untuk membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Dengan kemampuan finansial yang mereka miliki, maka membantu masyarakat dengan berbagai cara dan bentuk bukanlah persoalan yang sulit bagi organisasi dan pimpinan mereka. Ini juga untuk membentuk image, bahwa kehidupan yang mereka jalani bukanlah sebuah kehidupan yang penuh dengan kekerasan, akan tetapi kehidupan yang penuh pengertian dan kepekaan terhadap masyarakat sekitarnya.

Setiap kisah tentu ada akhirnya. Akhir sebuah perjalanan sejarah seseorang yang ditabalkan sebagai orang kuat, dengan berbagai gelar dan predikat akhirnya akan termakan oleh usia. Kekuatan dan pengaruh pun semakin sirna tatkala usia senja menjemput mereka. Kematian bagi seseorang adalah penutup dari segala-galanya yang telah dibangun dengan kekuatan, kekerasan, perjuangan dan kekuasaan. Patah tumbuh hilang berganti. Estafeta predikat orang kuat pun akan berpindah tangan dari pimpinan sebelumnya kepada piminan yang baru melalui proses regenersi.

Di dunia tidak ada yang abadi, semuanya pasti ada batas akhirnya. Pendi Keling meninggal dunia pada tanggal 26 Agustus 1997, dalam usia 63 tahun.
 Sementara itu, Olo Panggabean menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 30 April 2009, pada usia 68 tahun. Kini nama mereka selalu menempati ingatan orang-orang yang merasa dekat dengannya dan yang memiliki kesan tertentu dalam hidupnya. Itupun hanya pada sebatas kenangan yang tak mungkin terulang kembali….**