Jogja Istimewa 0 comments on Nostalgia Yogyakarta

Nostalgia Yogyakarta

Tahun 1976 hingga tahun 1984, kami pernah tinggal di Yogyakarta dengan segala kenangan dan kesan yang sulit dilupakan. Sehingga rasa “cinta” terhadap kota ini menjadi sama halnya sebagaimana cinta kami terhadap Kota Medan, tempat kami dilahirkan; dan Kota Lhokseumawe, tempat kami dibesarkan dan bekerja demi penghidupan kami. Semuanya telah memberikan kesan yang mendalam dan sulit untuk dilupakan.

Namun saat ini, Yogyakarta telah sangat banyak berubah, gaya hidup dan kultur baru, telah menjadi tren yang menyeruak di tengah-tengah kehidupan warganya, yang mayoritas adalah mahasiswa. Jikalau dulu, melihat café aja bingung, kayak apa?; jikalau dulu makan tidak jauh dari SGPC plus telur ceplok mata sapi, warung-warung kampung, atau warung padang yang kecil-kecilan, atau burjo; atau susu murni Boyolali dengan selingan telur puyuh rebus sebagai tambahannya. Hanya dengan dilaburi sedikit garam telot puyuh yang baru saja dikupas kulitnya langsung disantap. Maka sekarang tempat nangkring kebanyakan mahasiswanya adalah, café-café dan tempat makan yang bergengsi, mulai dari ayam goreng dan burger resep Amerika, dan berbagai restoran pizza, pasta, hingga berbagai bentuk sajian kuliner mewah dengan resep-resep baru yang bermunculan di berbagai sudut dan pinggiran jalan-jalan kota dan mal.

Perubahan lainnya yang terjadi adalah pola dan gaya berkendaraan warga masyarakatnya yang membuat orang yang baru menyetir mobil atau naik sepeda motor ataupun berjalan kaki, di Yogyakarta, harus bersangat ekstra hati-hati. Di Yogya justru banyak kendaraan pribadi yang tidak bersahabat di jalan raya, begitu juga gaya berkendara pengendara sepeda motornya. Terkesan tanpa punya pertimbangan bahwa di jalan ada pengguna jalan lain yang akan berbelok; ada pejalan kaki dan pengendara sepeda yang akan menyeberang. Keruwetan dan kekakuan di jalan raya di Yogya, justru dilakoni oleh kaum terpelajar. Mulai dari mahasiswanya, hingga, mungkin saja, maaf, orang terdidik lainnya yang merupakan pengendara motor ataupun mobil.

Kekakuan, sikap menang-menangan dan tanpa rasa empati di jalan raya, meniadi pemandangan biasa; kebiasaan berlalulintas yang dibawa oleh masing-masing individu yang berasal dari berbagai penjuru nusantara dari latar belakang kultur yang berbeda, juga, seakan telah menghasilkan sebuah fenomena berlalulintas yang identik dengan Yogyakarta saat ini; padat semrawut, dan tidak tertib. Sikap bersahabat di jalan raya, kini berubah menjadi nafsi-nafsi; siapa lu, siapa gue; dan ora njawani, meninggalkan sifat “amemangun karyenak tyasing sesami”, atau memiliki kemampuan bertindak untuk membuat perasaan orang lain menjadi enak; ataupun memiliki rasa empati dan rasa bersimpati kepada kepentingan orang lain.

Sebagai yang pernah merasakan, keramahan, kenyamanan, kelembutan, keteduhan Yogyakarta, serta ketertiban dengan diayomi oleh budaya luhur, tentu saja, kita mengharapkan agar identitas Yogyakarta bisa kembali seperti sedia kala, meskipun modern, akan tetapi tetap berpegang teguh pada tatakrama lantip ing sasmita yang bermakna peka dan trampil dalam menghormati orang lain dengan selalu mengunakan tutur bahasa yang menunjukan sikap sopan dan santun, termasuk sopan santun ketika berkendaraan di jalan umum.

Nostalgia Yogyakarta, berarti ingin menikmati suasana bersahabat ala Yogya meskipun disesuaikan dalam kemasan modern dewasa ini. Mencapai tingkat modernitas yang ditandai oleh berbagai kemudahan teknologi informasi; kehadiran mal-mal yang menjajakan barang-barang mewah; sajian kuliner yang serba trended dan kompetitif, tidak seharusnya membuat Yogyakarta tercerabut dari akar budaya yang asli dan penuh tepa selira.

Yogyakarta yang istimewa harus tetap menjadi sebuah daerah yang selalu dirindukan oleh masyarakat; baik yang pernah mengenyam masa-masa indah sebagai mahasiswa yang menjalani pendidikan di kota ini maupun yang pernah memiliki kesan mendalam ketika singgah sebentar sebagai pelancong di kota ini. Kuliner tradisional dan khas Yogyakarta merupakan jenis kuliner yang selalu menjadi inceran mereka yang ingin bernostalgia di Yogyakarta. Sehingga tidak heran jika warung SGPC, gudeg Yogya, lotek dan gado-gado Pasar Beringharjo tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang pernah hidup lama di Yogyakarta, saat berkunjung kembali ke Yogyakarta. Meskipun yang mengelola warung-warung tersebut telah berganti generasi.

Kehangatan, keamanan dan keramahtamahan, merupakan ciri khas dari sekian banyak yang dimiliki Yogyakarta. Kondisi sedemikian rupa hampir-hampir tidak dimiliki oleh kota-kota besar lainya di Indonesia. Ini merupakan anugerah yang Maha Kuasa bagi wilayah ini dan sekaligus menjadi alas an utama bagi pelancong yang ingin berkunjung ke sini. Dan juga menjadi daya tarik bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ini menjadi tanggung jawab bersama masyarakat, apakah itu warga asli ataupun para pendatang yang bermukim di Yogyakarata.

Menjaga dan memelihara sifat-sifat luhur warisan para leluhur kepada generasi berkutnya, sehingga ciri-ciri budaya luhur tadi tidak bergeser menjadi budaya yang semrawut, kasar, cuek dan tidak beretika. Bukan hanya bagi kehidupan dibatas lingkungan tertentu semata, akan tetapi harus diterapkan di dalam budaya berlalulintas. Semoga dengan demikian ke depan keadaan lalulintas di Yogyakarta bisa kembali menjadi lebih baik dan tertib serta lebih aman bagi pengendara, pejalan kaki, dan pengguna jalan lainnya….**

Ini Medan, Bung! 0 comments on Nostalgia Film Kungfu di Kota Medan

Nostalgia Film Kungfu di Kota Medan

Medan di tahun tujuh puluhan tidak hanya meriah di bidang musik dan sepakbola semata. Sisi lain dari anak-anak muda Medan adalah, salah satunya hobi nonton film silat. Medan yang sudah memiliki gedung bioskop yang dilengkapi sound system dan berpendingin baik juga dijejalin dengan hadirnya Taman Hiburan Rakyat (THR) atau Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yang dibangun dengan sederhana. Kadang orang menyebutnya “bioskop misbar”, gerimis bubar. Karena kalau ada hujan sedikit, ada PHR yang penonton ikut kena tempias atau rintik hujan sekaligus. Tapi sesuai dengan harga karcisnya penonton selalu berjubel, bahkan terkadang tanpa klasifikasi umur; semua bisa masuk asal membeli karcis.

Kalau dalam film nasional, masyarakat mengenal Dicky Zulkarnen, Ratno Timoer, Sophan Sophiaan, Widyawati, Lenny Marlina, dan lain sebagainya; maka, dalam Film India orang mengenal bintang-bintang Bollywood, seperti, Sashi Kapoor, Rajesh Khanna, Dharmendra, Hema Malini, Dimple Kapadia, dan lain sebagainya. Sementara bintang-bintang film silat Hongkong yang terkenal pada saat itu adalah, Wang Yu, David Chiang, Tilung, Lo Lieh, Cheng Kuang Thai, sedangkan bintang film perempuannya adalah Cheng Pei Pei, Shang Kuang Ling Fung, dan Li Ching Hsia.

Mereka adalah pendekar-pendekar yang senantiasa memeriahkan pertarungan di dalam film kungfu Hongkong. Orang Medan sangat kenal dengan permainan silat tangan kosong dan perkelahian menggunakan pedang mereka dalam film. Kalau pun kemudian datang Bruce Lee sebagai jagoan baru, tapi sayangnya hanya beberapa kali saja muncul filmnya dan kemudian masyarakat pencinta film silat mendengar kabar tentang kematiannya.

Pada umumnya film kungfu yang diproduksi oleh Shaw Brothers memiliki rating yang tinggi di Kota Medan. Di samping dibintangi oleh bintang film Hongkong dan Taiwan yang terkenal, biasanya sutradara yang dimiliki Shaw Bross atau Show Brother (SB) juga sangat piawai dalam membuatkan film, seperti John Woo, misalnya, yang mampu menghasilkan film-film bermutu, baik dari segi kemasan cerita, maupun penampilan teknik bertarung serta teknik pengambilan gambarnya. Di samping SB, produser terkenal lainnya adalah Golden Harvest (GH), yang juga memproduksi film-film laga Hongkong yang banyak beredar di Indonesia, hingga ke Medan.

Wang Yu, David Chiang dan Ti Lung.
Wang Yu, David Chiang dan Ti Lung, bintang silat Hongkong yang pujaan di era 1970-an

Film silat kungfu menjadi sangat fenomenal ketika itu. Banyak anak2 remaja yang bergaya seakan-akan mereka sudah memiliki ilmu tersebut hanya karena sering menonton film kungfu. Demikian juga anak-anak mudanya yang suka bergaya seperti pendekar. Bahkan sebagian anak-anak muda Kota Medan pada gandrung untuk berlatih beladiri dari berbagai macam aliran. Hal ini berkat inspirasi yang diperoleh dari film-film kungfu yang mereka tonton di kala itu. Ada yang ikut berlatih karate, kungfu, silat, judo, kempo, taekwondo dan lain sebagainya. Tujuannya terilham dari film silat yang menunjukkan seorang pahlawan selalu perlu memiliki ilmu beladiri yang memadai, sehingga tidak mudah ditekuk oleh penjahat sebagai lawannya.

Yang sangat dikenal masyarakat pada saat itu adalah Perguruan Karate Kala Hitam, yang didirikan oleh para jurnalis Kota Medan dan berpusat di Kota Medan. Di samping itu ada perguruan Black Panther yang dipimpin oleh Guru Besarnya, Prof. M.A.S.D.E.S.W. Teuku Syahriar Mahyoedin C.L.M.Sc. Sama halnya dengan Perguruan Kala Hitam, aliran Black Panther, juga menerapkan sistem fullbody-contact yang boleh langsung menyerang ke badan kawan latihnya ataupun ketika bertanding, dengan tidak menggunakan alat pelindung badan sama sekali.

Dengan memiliki kepampuan beladiri, dia akan mampu menjaga diri, membela diri dan membela kaum lemah. Akan tetapi banyak juga yang merasa jagoan meskipun kosong melompong, tanpa memiliki kemampuan seni beladiri apa pun. Anak-anak muda model begini cuma bermodal gertak sambal saja, tapi belum tentu mampu bertarung seperti anak muda lainnya yang menguasai ilmu beladiri. Ini ciri khas preman lontong yang banyak ditemukan di Medan pada waktu itu. Mereka hidup di mana-mana. Di kampung-kampung, di pasar-pasar, bahkan di lingkungan sekolahan. Kerja mereka hanya mencari masalah, dan gertak sini gertak sana, ngompas sini ngompas sana. Kalau berantam ujung-ujungnya main keroyokan. Ciri-ciri kelakuan preman lontong.

Saat itu film silat nasional juga sangat laris untuk ditonton. Sebut saja, “Si Buta dari Goa Hantu”, yang dibintangi oleh Ratno Timoer; “Si Pitung”, Dicky Zulkarnaen; “Panji Tengkorak”, Deddy Sutomo; bahkan dalam film silat, “Si Bongkok”, yang diperankan Sophan Sophiaan ikut juga dimeriahkan oleh bintang-bintang hebat kala itu, seperti, Ratno Timoer, Dicky Zulkarnaen dan Widyawati. Mereka bermain bersama dalam sebuah film.

Begitu lah gaya anak-anak muda Medan di kala itu. Bagi yang sedang mabuk kepayang, film percintaan India menjadi konsumsi rutin bagi mereka ataupun seumpama film percintaan nasional seperti “Pengantin Remaja” yang dibintangi oleh Widyawati dan Sophan Sophiaan, yang pernah menjadi box office di Kota Medan. Rambut ala Sophan Sophiaan pun dicoba tiru habis oleh sebagian anak-anak mudanya. Bagi yang suka menonton film laga, mereka memilih film kungfu produksi Hongkong yang merajai Kota Medan dan seluruh pelosok Sumatera Utara kala itu. Anak-anak muda ini pun kemudian tak sungkan-sungkan untuk senantiasa mempersonifikasikan diri mereka sebagai pahlawan-pahlawan yang ada di dalam film yang ditontonnya.

Hasil akhir dari sebuah petarungan selalu memberikan kemenangan bagi lakon film yang senantiasa berlaku baik, rendah hati dan selalu berpihak pada kaum yang tertindas. Penjahat yang berbuat sewenang-wenang, menindas rakyat dan memeras orang lemah, meskipun dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya, akhirnya, pasti takluk di tangan kesatria yang baik hati.

Ibarat memiliki magnet, film selalu menarik penontonnya untuk mengambil, mengikuti, meniru dan mengidentifikasi gaya dan perilaku pemain yang berperan di dalamnya. Film akan terus mengikuti perkembangan jaman yang membuat masyarakat dari masa ke masa selalu tergila-gila untuk menikmatinya. Di sana berbaur berbagai nilai, yang antara lain, adalah nilai keteladanan, hiburan, pendidikan dan teknologi, yang tentu saja membutuhkan apresiasi dari masyarakat pencinta film untuk memilah dan menilainya.….**