Ini Medan, Bung! 0 comments on Medan Kota Yang Penuh Kenangan

Medan Kota Yang Penuh Kenangan

Sebutan Ini Medan, Bung…!, bukanlah sebuah jargon baru bagi kota ini. Ini sudah berlangsung lama, sejak lebih dari 40 tahun yang lalu. Sejak dulu Medan terkesan keras dan penuh dengan cerita yang menyesakkan dada. Premanisme Medan telah tumbuh sejak lama. Sehingga hampir di setiap kepenghuluan atau kelurahan ada yang disebut sebagai preman, meskipun hanya ukuran pemain kampung, yang akan menjadi “cuak” (penakut) atau bacul (tidak punya keberanian), ketika berada di luar kampungnya. Kekerasan seperti sudah melekat sebagai identitas Medan, karena memang ada kesan karakter yang keras terlihat dan sikap tindak tanduk dan tutur kata.

Meskipun ini tidak menjadi representasi seluruh masyarakat Medan pada umumnya. Suara orang Medan ketika berbicara selalu dengan meledak-ledak. Bagi orang luar Medan, menyangka bahwa kumpulan teman-teman yang sedang ngobrol seakan seperti mau berantem. Padahal begitulah aksentuasi yang berlaku di Medan; suara keras; penuh dengan penekanan

Laga ikan dan laga layang menjadi salah satu yang menjadi kegemaran anak muda Medan hingga orang dewasa. Benang yang digunakan sebelumnya diberi serbuk beling agar menjadi tajam. Bagi yang selalu menang disebut sebagai de-ong. Layangan yang putus disebut lewong atau melambai. Biasanya tiap layangan putus benang akan jatuh sambil ditarik oleh pemiliknya. Di sini seringkali ada anak-anak iseng yang memotong benang yang sedang ditarik. Ini ada sebutannya juga yaitu: “godot“. Apabila layangan putus di tangan dengan sendirinya bukan karena dilaga, disebut dengan istilah “makan dalam”.

Benang-benang sisa, biasa digunakan juga untuk diadu kekuatannya, yang disebut “laga bandreng”. Benang diberi pemberat kayu atau batu kecil, kemudian saling dilemparkan untuk dilaga sehingga gesekan benang bisa menyebabkan ada yang putus.

Titi Gantung
Landmarks Kota Medan yang tetap membekas dalam ingatan

Sejak tahun 60-an banyak jenis desain warna layangan yang memiliki nama, tapi yang paling populer adalah cap kopral, cap tombak, dan silang wajik. Perkembang desain layangan laga, mengalami perubahan ketika pertengahan tahun 70-an muncul desain dan bentuk layangan yang berbeda mulai dari warna maupun cara membuatnya. Layangan yg muncul waktu itu disebut sebagai layangan Ismed. Mungkin diambil dari nama desainernya.

Cara membuat layangan Ismed tanpa menggunakan benang untuk membentuk rangka bambu sebagai tulangan layangan. Melainkan dengan cara langsung ditempelkan bersamaan kertas sambil ditekuk. Kertas yang dipergunakan pun bukan kertas minyak yang berwana warni, akan tetapi dari kertas putih polos, yang kemudian, setelah jadi layangan, diwarnai dengan pola-pola yang diinginkan.

Ciri khas Medan masa lalu yang tak kalah berkesan adalah, keganderungan anak-anak muda untuk menggunakan pomade rambut cap pompa ataupun Tancho ketengan yang banyak dijual di kios-kios pinggir jalan. Setelah rapi sehabis mandi maka sebagai pelengkapnya adalah mendandani rambut. Biasanya di kios-kios kecil itu di samping menjual minyak rambut ketengan, juga menyediakan cermin dan sisir rambut yang digunaka ramai-ramai, silih berganti, tak peduli walaupun warnanya sudah mulai kehitam-hitaman.

Anak Medan kala itu, sangat bangga menghisap rokok kretek merek galan. Rokok kretek ini menjadi lambang pergaulan di kalangan anak-anak muda. Kalau tidak merokok, merasa belum “gaul”. Di Medan, rokok galan menjadi produk rokok kretek yang paling tinggi omset penjualannya dibandingkan rokok kretek merek lainnya.

Film yang sering menjadi kesukaan anak-anak Medan adalah film koboi, silat dan film-film produksi Jakarta yang bisa menyedot penonton, hingga diputar di pinggiran kota melalui bioskop-bioskop sederhana atau PHR atau bioskop misbar (gerimis bubar). Di samping film-film silat Hongkong dan Jakarta ada juga serial film silat Jepang berjudul “Shintaro” yang pada saat itu sangat digemari anak-anak remaja Medan. Sajian film itu bisa disaksikan melalui layar tv yang masih hitam putih dan harus menggunakan antena yang menjulang tinggi.

Pada umumnya orang Medan keranjingan sepakbola, terutama fanatisme masyarakat terhadap kesebelasan kebanggaannya, PSMS. Bermain di Medan, menjadi bak neraka bagi kesebelasan luar. Bukan hanya dari kualitas pemain PSMS yang kala itu sangat bagus, akan tetapi juga fanatisme penonton yang selalu penuh semangat membela PSMS. Stadion Kebun Bunga dan Stadion Teladan merupakan ajang tempat mengubur ambisi kesebelasan luar Medan untuk meraih kemenangan di sana. Orang Medan tentu sangat ingat dengan nama Ipong Silalahi, Rony Paslah, Tumsila, atau Saari. Ini merupakan sebagian pilar-pilar PSMS yang melegenda.

Di sisi lain, anak-anak muda Medan jaman itu juga sangat terhipnotis dengan band yang berliran rock. Hal ini dibarengin dengan bermunculan band berliran cadas di Medan bagai jamur di musin penghujan. Hampir di setiap sudut kota terdapat grup band yang termasuk dalam kategori berkualitas untuk ditonton. Apalagi saat ini bersamaan hadirnya grup band luar negeri yang berliran keras, seperti: Deep Purple, Led Zeppelin, Uriah Heep, Black Sabbath, Van Hallen dan sebangsanya.

Band-band Medan dengan piawai mampu menyajikan lagu-lagu milik rock band yang sudah tidak asing lagi bagi telinga anak-anak muda Medan kala itu. Sehingga lagu-lagu seperti Black Dog miliki Led Zeppelin, Highway Star dari Deep Purple dan July Morning punya Uriah Heep, seperti telah menjadi lagu wajib untuk disajikan kepada para penggemar.

Dengan adanya Medan Fair di Jl. Gatot Soebroto kala itu, sebagai tempat pertunjukan band2 yang ada, menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat penggemar musik cadas. Di antara band luar beraliran pop yang masuk dalam kamus penggemar musik di Medan, antara lain, adalah: The Beatles, Bee Gees dan Procol Harum. Namun ada pula yang aneh. meskipun lagu-lagunya tidak populer di Medan, David Cassidy menjadi ikon untuk model rambut laki-laki Medan. Poster David Cassidy yang diperoleh dari majalah musik “Aktuil” selalu menempel anggun pada dinding kamar para remaja Medan.

Hingga akhir tahun enam puluhan, di seputar Kota Medan, masih sering dijumpai kelompok “orkes” yang biasa membawakan lagu-lagu Melayu. Biasanya, di samping pada acara-acara yang dilaksanakan oleh pemerintah setempat, Orkes juga menjadi bagian terpenting dari sebuah hajatan dan pesta perkawinan. Lagu-lagu Melayu yang dinyanyikan adalah lagu asli Melayu Deli dan lagu-lagu P. Ramlee, yang berasal dari negeri jiran. Masa itu lagu-lagu P. Ramlee, sangat digemari oleh masyarakat Kota Medan. Tarian Serampang Dua Belas dan Ma-inang Pulo Kampai merupakan tarian asli Melayu yang selalu ditampilkan sebagai selingan dalam setiap pertunjukan orkes Melayu.

Orkes Irama Padang Pasir (Musik Gambus), juga menjadi salah satu jenis musik yang digemari oleh sebagian masyarakat Kota Medan. Malahan penyanyi Kholidah Munasti, menjadi idola di kalangan ibu-ibu pengajian di Medan. Bagi penggemar El-Surayya, tentu saja masih ingat lagu yang paling fenomenal yang pernah dinyanyikan oleh kelompok musik pimpinan H. Ahmad Baqi ini yang berjudul Jika TerdengarSuara Adzan dan Selimut Putih.

Setiap anak Medan masa lalu, dipastikan pernah main atau beli buku bekas ke Titi Gantung yang menggantung di atas jalur lintasan kereta api stasiun utama Medan, yang kala itu disebut DSM singkatan dari Deli Spoorweg Matschappij. Jembatan ini dibangun sejak jaman kolonial bersamaan dengan pembanguna stasiun Medan yang diperkirakan pada tahun 1885, dimanfaatkan untuk jalan penyeberangan dari daerah Kesawan dan Lapangan Merdeka ke Jalan Jawa dan selanjutnya bisa berjalan menuju Pajak Sentral (Pusat Pasar Medan), yang terletak di belakang Jalan Sutomo.

Transpor yang digunakan sebagai alat angkutan kota adalah bemo yang dapat memuat penumpang sebanyak 6 orang. Di samping itu, waktu tahun-tahun enampuluhan hingga pertengahan tahun tujuh puluhan masih juga didapati kendaraan andong yang di Medan disebut sado. Pangkalan pemberhentian angkutan dipusatkan di Jalan Sambu, atau Pasar Sambu ataupun dikenal juga dengan sebutan Terminal Sambu.

Kini kota Medan tak mungkin seperti Kota Medan masa lalu. Kota yang dulu banyak menyimpan kenangan yang tak terlupakan terutama bagi anak-anak Medan yang telah pergi merantau, kini kini berubah menjadi kota yang semrawut, panas, penuh asap yang menyebabkan rasa sumpek luar biasa. Pohon-pohon rindang yang tumbuh pada sudut-sudut kota yang pernah memberikan keindahan dan kenyamanan, kini hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi ruang terbuka yang cukup untuk penghijauan kota.

Perkembangan Kota Medan yang begitu pesat saat ini seakan seperti tidak menawarkan kenikmatan sebuah kota yang nyaman untuk didiami. Ada pengharapan agar kota Medan dapat ditata menjadi kota yang dapat memberikan kesan yang menyenangkan dan menjadi kota yang tertib, hijau dan mendorong perasaan rindu untuk kembali lagi, tapi entah bagaimana…?*

Ini Medan, Bung! 0 comments on Nostalgia Medan

Nostalgia Medan

Dulu di tahun 1970-an, ada pameo yang mengatakan bahwa sebuah grup band belum dianggap hebat jika belum mampu menembus penonton Medan. Kalau show di Medan tidak kena timpukan batu atau sorakan menyuruh turun, maka band tersebut dianggap sudah lulus tes dan pantas menyandang grup band beken. Kebetulan saja hal ini juga “berlaku” dijajaran kepolisian. Seorang perwira polisi yang sudah sukses memegang Kapolda Sumut, maka sangat besar peluangnya ke tangga jabatan Kapolri.

Medan memiliki kondisi masyarakat yang khas. Perbauran antarsuku yang hidup di Medan memberikan warna tersendiri bagi pola dan sikap warganya. Medan sangat heterogen. Bahasa kocak khas Melayu, bercampur dengan khas Toba, ataupun Minang melahirkan bahasa Medan yang sedikit menghentak-hentak. Terkesan kasar, memang. Tapi itulah gaya Medan. Semua bahasa unsur, lenyap menjadi bahasa Medan. Orang Jawa yang merupakan “pujakesuma” (putra Jawa kelahiran Sumatera), sangat piawai menuturkan bahasa Medan, begitu juga, orang Aceh, Banjar, Sunda, Tionghoa dan India yang menjadi warga Medan. Semua bangga berbicara dengan bahasa gaya khas Medan.

Meskipun mereka datang dari berbagai latar belakang etnis yg beragam, akan tetapi fanatisme Medan mengental dalam diri mereka. Lihatlah bagaimana PSMS Medan, selalu mendapatkan dukungan penuh secara fanatik dari masyakarat Medan dan Sumut, setiap kali mereka bertanding. Stadion Teladan Medan selalu menjadi neraka bagi kesebelasan tamu. Dan PSMS pun memiliki stok pemain yang bertalenta tinggi kala itu. Sebut saja, Yuswardi, Nobon Kayamuddin, Ipong Silalahi, Saari, Tumsila, Ronny Paslah, yang merupakan pemain lama yang sering mengisi barisan Timnas Indonesia kala itu.

Marah Halim Cup merupakan helatan berskala internasional, yang digagas oleh Gubernur Sumatera Utara, pada periode 1967-1978, Marah Halim. Sehingga kala itu, masyarakat Medan sudah terbiasa menyaksikan pertandingan yang menghadirkan Timnas Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura ataupun, Birma. Begitu perkasa PSMS kala itu, sehingga Kamaruddin Panggabean sang Maestro Sepakbola Nasional, asal Medan, berani mengundang timnas negara luar ke turnamen tersebut.

The Rhythm King, salah satu grup band ternama di Medan pada era tahun 70-an
The Rhythm King, salah satu grup band ternama di Medan pada era tahun 70-an

Kamaruddin Panggabean sangat bertangan dingin. Setiap pemain yg ada di tangannya pasti jadi. PSMS pun tidak akan pernah kekurangan stok pemain, karena didukung oleh klub lokal seperti, Bintang Utara, Medan Putra, Sri Naga, Bintang Selatan, Tirtanadi, dan sebagainya. Kota Medan pun memiliki dua buah stadion yang representatif dan sangat terawat pada masa itu, Stadion Kebun Bunga dan Stadion Teladan. Kemudian, belakangan muncul lapangan bola milik klub semiprofesional Pardedetex di komplaks TD Pardede, di Jalan Binjai, Medan.

Di samping sepakbola, Medan juga dikenal sebagai kota musik. Ada belasan grup band lahir dari kota ini. Sebut saja The Mercy’s, yang diawaki oleh Erwin dan Rinto Harahap, Charles Hutagalung, Reynold Panggabean, serta Rizal Arsyad. Ada The Rhythm King, yang terdiri dari: Darmawan, Darmawi dan Darma Purba, Raja Muda Nasution, plus penabuh drum Yaya. Kemudian ada grup musik rock, seperti, Destroyer, Minstrel’s, Great Season, Freemen, Les Sphinx, Fair Child, Rag Time, dan lain-lain.

Medan selalu panas dengan hingar bingar musik rock. Uriah Heep, pernah tampil di stadion Teladan Medan. Begitu juga Godbless, yang kebetulan ketika tur ke Medan personelnya diisi oleh Debby, Keenan dan Odynk Nasution serta Donny dan Ahmad Albar. Band pendampingnya adalah Minstrel’s yang memiliki penabuh drum legendaris: Jelly Tobing.

Koesplus dan Bee Gees juga pernah manggung di Gedung Olahraga yang terletak di Jalan Bintang, Medan. Semua kursi penuh diisi penonton yang fanatik. Tony, Yon, Yok dan Murry, benar-benar merasakan hangatnya publik pencinta musik Medan. Begitu juga Robin, Barry dan Maurice Gibb pernah mendapatkan applus yang luar biasa dari penonton Medan, karena sangat puas atas penampilan mereka. Begitu juga Cees Veerman serta Piet Veerman dan kawan-kawan dari The Cats. Mereka pernah merasakan kehangatan penonton ketika manggung di stadion Teladan, Medan .

Gelegar musik di Medan dipersemarak oleh radio swasta niaga seperti: Bonsita, Kordopa, Alnora dan lain-lain. Radio di kota Medan tidak kalah meriah dari kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pilihan pendengar melalui telepon atau kartu pos menjadi ajang untuk berkomunikasi antaranak muda melalui lagu-lagu yang dimintanya. Nama-nama samaran yang muncul pun kalau untuk ukuran sekarang termasuk dalam klasifikasi “lebay bin alay”.

Padahal waktu itu nama-nama julukan yang sering muncul dalam siaran pilihan pendengan sudah dianggap “keren” banget. Sense anak muda sekarang memang berbeda dengan sense anak muda jadul. Tapi soal musik, mungkin musik rock jadul masih sangat mengesankan hingga saat ini…***