Aceh lon Sayang 0 comments on Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Hari itu, Selasa, 1 Juli 1969, bumi Aceh bergetar keras menghentak-hentak bangunan hingga rubuh satu persatu. Jalan dan tanah ikut terbelah. Kalimat tahlil serempak menghiasi lisan setiap penduduk Aceh pesisir, mulai dari Panton Labu hingga Kabupaten Pidie.

Ini adalah salah satu gempa dahsyat yang pernah meluluhlantakkan bentangan pesisir timur Aceh, sebelum datang peristiwa tsunami menyapu bersih daratan Aceh pada 26 Desember 2004, sembari merenggut nyawa lebih seratus lima puluh ribu manusia dan tak terhitung harta benda.

Kala itu, hampir semua masyarakat awam percaya bahwa ada kerbau jantan penghuni Gunung Enang-enang yang sedang murka berat kepada manusia. Maka dia pun mengeliatkan badannya sehingga memicu terjadinya gempa bumi.

Tidak ada yang mengetahui tentang skala richter, yaitu, skala pengukur kekuatan gempa yang ditemukan oleh Charles Francis Richter; ataupun skala MMI (Modified Mercally Intensity), yang dicetuskan oleh Giuseppe Mercalli; dan bahkan entah apakah gempa itu tektonik ataupun vulkanik.

Kisah memilukan tentang Gempa Aceh
Duka Aceh kembali berulang menyelimuti seluruh perasaan anak negeri

Tak ada yang peduli tentang itu. Tak ada surat kabar. Apalagi televisi. Berita tentang kerusakan hanya diperoleh dari masinis kereta api Aceh yang mundar mandir menjalankan trayek Besitang (Sumut) hingga Sigli (Kabupaten Pidie). Orang-orang kereta api lah yang menyampaikan pesan secara berantai.

PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), adalah salah satu instansi yang memiliki alat telekomunikasi telepon model putar waktu itu. Yang memang dipergunakan untuk menginformasikan tentang jam keberangkatan kereta api uap kepada stasiun berikutnya .

Tiga hari setelah gempa bumi. Kami sekeluarga berangkat ke kampung halaman tempat Ibu kami berasal, Jangkabuya. Di sini pula beberapa tahun setelahnya, kami melihat coretan tanggal kejadian gempa, pada dinding salah satu kedai di Pasar Jangkabuya yang ditulis seseorang.

Dari Lhokseumawe, naik kereta api di stasiun Pasai Gambe, menuju ke arah barat, menyusuri kecamatan, dan perkampung yang berjejer berkelindan hutan kecil, kebun dan persawahan.

Kepiluan sepanjang perjalanan

Sejak keluar Peukan Cunda sudah terlihat pemandangan yang memiriskan. Masyarakat korban musibah gempa benar-benar sedang dirundung nestapa. Mereka sedang merasakan kepiluan yang luar biasa.

Jalan-jalan pecah terbelah dua, bangunan di kiri kanan sepanjang perjalanan, rata dengan tanah. Yang tersisa hanya rumah-rumah berbahan kayu.

Wajah murung menyelimuti masyarakat. Puing-puing tak mampu dibersihkan dengan segera. Tidak ada alat berat, tidak ada kendaraan yang bisa membantu memindahkan pecahan bata yang berserakan.

Bantuan dan sokongan hanya alakadarnya dari masyarakat sekitarnya yang luput dari musibah. Sisanya mereka hanya mengadu kepada yang di atas, sebagai tempat mencurahkan rasa sedih yang sedang menimpanya.

Pengurusan mayat pun dilakukan dengan cara sederhana, mengikuti rukun-rukun yang berlaku menurut syariat Islam. Tidak ada air mata yang tersisa untuk dikeluarkan. Semua telah mengering, semua telah pasrah terhadap kenyataan yang ada.

Gempa adalah sunatullah akibat dari pergeseran lempeng-lembeng bumi yang belasan jumlahnya. Sebagian terdapat di dasar samudera dan adakala terhampar di daratan.

Masing-masing lempeng bergerak sesuai arahnya dengan kecepatan sangat relatif. Berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter pertahun. Terkesan lambat, tapi terus bergerak dinamis dan tak beraturan.

Ada yang berlawanan ekstrem, adapula yang saling menekan sambil bergesekan ke arah yang berlawanan. Di sana terdapat bidang pengunjaman yang pada suatu saat akan berakhir dengan patahnya salah satu lempeng yang menyebabkan timbulnya enerji yang sangat besar. Besar kecil enerji yang dilepaskan akan menetukan besarnya getaran yang akan dirasakan di permukaan..

Besarnya getaran diukur dalam skala Richter, yang berasal dari nama penemu alat pengukur gempa. Dan berdasarkan penetapan MMI sebagai simpulan dari level tingkat getaran yang terjadi.

Semakin besar skala Richter, semakin kuat pula getaran yang terjadi. MMI diukur berdasarkan tingkat kekuatan merusak dari goncangan yang dimiliki. Hampir tidak ada korelasi di antara kedua parameter tersebut. Yang satu mengukur kekuatan getaran, sedang satu lagi “menduga” tingkat kerusakan.

Sesar Semangko

Pulau Sumatera memang rawan gempa. Mulai yang bersumber di lautan dari pertemuan lempeng Indo-Autralia dan Eurasia yang membentang sepanjang pantai barat, hingga yang bersumber di daratan yang memanjang mulai dari Teluk Semangko Provinsi Lampung, hingga Kecamatan Darul Imarah di Provinsi Aceh. Manusia Sumatera hidup di atas lempengan yang menyimpan potensi gempa.

Hakikatnya gempa tidak membunuh. Tapi reruntuhan bangunan akibat gempa akan menjadi alat untuk melukai dan bahkan melenyapkan nyawa makhluk-makhluk yang tertimpa olehnya.

Rabu, 7 Desember 2016, pukul 05.05 pagi, bumi Aceh kembali dikejutkan dengan goncangan luar biasa besarnya. Dalam skala Richter disebutkan mencapai 6,4 atau diperkirakan  dengan skala kerusakan sekita 6 MMI.

Dengan kedalaman yang relatif dangkal, hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut, membuat gempa ini sangat merusak. Meskipun demikian gempa bumi dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 adalah yang terbesar sepanjang sejarah Aceh, dan salah satu terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merupakan tsunami kedua yang melanda Aceh, setelah tahun 1907.

Semua musibah membawa duka yang dalam; meninggalkan kenangan pedih yang tetap terus membekas. Kehilangan selalu akan mengundang duka dan nestapa; pilu dan derita. Sepanjang jalan dari Kabupaten Bireuen hingga Kabupaten Pidie hampir tidak ada bangunan yang bisa tegak berdiri utuh. Semua seperti bersujud keharibaan sang Pemilik jagad raya ini.

Gempa 7 Desember 2016 yang melanda pesisir timur Aceh, mengingatkan kembali kejadian yang sama, pada empat dasawarsa yang lalu. belum kering air mata, belum hilang luka yang menyayat, belum lepas kesedihan dalam hati. Belum lupa tsunami yang melanda, belum lupa gempa Simeulue, belum lupa gempa Aceh Tengah belum pula lupa gempa Bener Meriah, belum pula lupa gempa di Aceh Besar. Kini gempa Pidie Jaya, kembali mengundang pilu dan nestapa.

Manusia hanya mampu menerima dan berdoa, sisanya adalah hak dari yang Maha Kuasa, yang bisa menetapkan segalanya sesuai dengan kehendaknya, sembari mengucapkan istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…., Allahumma’ jurni fii mushibati wa akhlifli khairan minha“. Sesungguhnya yang datang dari Allah, maka kepada-Nya jua akan kembali…., Ya Allah berilah pahala bagiku dalam musibah ini dan berilah ganti dengan yang lebih baik dari kejadian ini”….**

Aceh lon Sayang 0 comments on Sekelumit tentang kisah perjuangan GAM

Sekelumit tentang kisah perjuangan GAM

TNA, dalam masa konflik
TNA, dalam masa konflik yang berlangsung di Aceh

Orang yang tiba-tiba mengetahui tentang “aso-lhok” atau isi dalam, organisasi Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) dan perjuangannya, akan berdecak kagum memahami taktik, siasat dan strategi yang mereka miliki. Sangat luar biasa untuk ukuran sebuah gerakan yang di lapangan di jalankan oleh orang-orang yang konon sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktunya hidup di desa sebagai warga biasa. GAM yang memiliki basis perjuangan politik yang berpusat di Swedia, memiliki sistem perancangan organisasi yang terbilang modern untuk ukuran sebuah organisasi perjuangan.

Secara struktural, GAM dipimpin oleh seorang Wali Nanggrō yang berada di pengasingan dan dilengkapi dengan sebuah kabinet yang representatif meliputi segenap sektor, layaknya sebuah kabinet di dalam pemerintahan sebuah negara. Di daerah basis perjuangan bersenjata, di wilayah Aceh, GAM hanya menempatkan satu orang yang berkuasa penuh atas segala kiprah dan tindak tanduk serta operasional sistem ketentaraan GAM atau sering disebut dengan Tentara Nasional Aceh (TNA), yang berperan sebagai Panglima. Dalam kurun waktu pergerakan bersenjata, selama 5 tahun terakhir, antara tahun 1999 hingga 2004, terdapat dua orang Panglima yang pernah memimpim GAM di lapangan, selama perang berlangsung.

Setelah Panglima Teungku Abdullah Syafi’i, gugur pada 22 Januari 2002, dalam sebuah penyergapan di daerah Jiemjiem, Kabupaten Pidie. Tanpa menunggu lama, Markas Besar GAM, di Swedia, menunjuk seorang tentara muda yang bernama Muzakkir Manaf sebagai penggantinya. Teungku Abdullah Syafi’i yang dua kali pernah lolos dari usaha pembunuhan, akhirnya menemui ajal dalam sebuah penyergapan rahasia yang sangat singkat, oleh pasukan gabungan TNI. Teungku Lah —panggilan untuk Abdullah Syafi’i—, menghembuskan nafasnya yang terakhir bersama keluarga dan para pengawalnya. Dalam waktu singkat tongkat komando operasional GAM dipercayakan kepada seorang yang pernah mengenyam pelatihan tempur di Libya, yang sering disebut sebagai “Eks Libya”, dan kemudian menjadi sosok fenomenal. Mualem yang mirip-mirip bintang Bollywood ini sering menghiasi halaman depan surat kabar lokal selama masa konflik GAM-TNI/ Polri berlangsung. Lengkap dengan atribut ketentaraan, sebagai seorang komandan tertinggi pasukan GAM untuk seluruh wilayah Aceh. Penampilannya membuat bangga sebagian anak-anak muda Aceh, di kala itu; tampak ganteng, kalem dan gagah berani.

Organisasi para pejuang GAM menyebar dalam beberapa wilayah operasional, di antaranya, yaitu: Wilayah Manyak Paed; Wilayah Peureulak; Wilayah Pasè; Wilayah Batè-ieliek; Wilayah Linge; Wilayah Aceh Besar; dan Wilayah Meureuhom Daya. Masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang Panglima Wilayah, yang berwenang memimpin para kombatan yang terdapat di beberapa sago yang di bawah pimpinan Panglima Sago. Para kombatan ini berada dalam sebuah organisasi ketentaraan yang masing-masing wilayah memiliki hubungan intens dan saling timbal balik. Pergeseran pasukan dan petukaran ataupun BKO sering diberlakukan dalam organisasi ini. Seperti berlaku dalam organisasi TNI/ Polri ketika darurat militer berlangsung. Demikian juga selain dalam satuan besar di bawah komando panglima wilayah, GAM juga memiliki unit pasukan kecil seperti misalnya, Pasukan Gajah Khèng dan Pasukan Ruengkhom, Pasukan Gurkha, dan Pasukan Singa Batè, yang kesemuanya terbilang sebagai pasukan elit di lingkungan TNA.

Mudah bagi GAM untuk berganti tempat karena wilayah Aceh tersambung satu sama lainnya melalui gugusan bukit barisan yang membentang dari utara ke selatan dan melalui pesisir dari barat ke timur atau sebaliknya. Uniknya lagi hubungan antara Wilayah Linge dan Wilaya Peureulak atau dengan Wilayah Pase. Sangat lazim pasukan yang terdesak di salah satu daerah akan begeser ke salah satu daerah lainnya. Sangat sering terjadi penyaluran senjata dari pesisir ke Wilayah Linge melalui jalur tikus menembus Bukit Barisan. Uniknya lagi tiap pucuk senjata, ditukar dengan seekor kerbau, yang ditransaksikan di perbatasan antara kedua wilayah di celah pegunungan yang sangat liar dan sulit dijangkau. Sehingga persenjataan kombatan wilayah Linge pun disebut-sebut sebagai yang paling lengkap dari seluruh wilayah dan tidak mengenal senjata rakitan.

Di samping bagus dalam pengembangan intelijen, spionase dan taktik perang gerilya, GAM juga piawai dalam mengemas informasi perang dan propaganda. Beberapa kali para kombatan ataupun juru bicaranya yang “berpangkat” tewas tertembak, GAM secara seketika menggantikan perannya dengan tetap menggunakan nama yang sama, tapi untuk orang yang berbeda. Strategi GAM ini ikut membuat masyarakat dan pers merasa bingung atas klaim yang terjadi di lapangan, entah pihak mana yang benar. Satu pihak menyatakan telah menembak si anu hingga tewas, dalam satu operasi militer, akan tetapi besoknya nama yang diklaim telah tewas, masih muncul di koran sebagai orang yang hidup dan memberikan pernyataan.

Konflik yang terjadi di Aceh tidak hanya dihiasi dengan pertikaian politik yang ingin berjuang untuk memisahkan diri dari NKRI. Konflik ini seringkali berbalut dendam kesumat yang sangat memuncak. Meskipun tentara GAM memiliki garis komando yang jelas, akan tetapi kerap terjadi, ada kombatan yag bertindak tanpa komando demi mengikuti naluri melepas dendam masing-masing. Banyak di antara kombatan adalah anak-anak yang masih kecil ketika Aceh dijadikan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) yang bersandikan “Operasi Jaring Merah”, yang digelar di seluruh Aceh. Operasi jaring merah telah memunculkan banyak pejuang GAM muda di kemudian hari, yang membawa dendam dari masa kecilnya. Tidak jarang terjadi penyanggongan yang dilakukan terhadap pasukan TNI/ Polri, tanpa mempertimbangkan keselamatan terhadap masyarakat umum di Aceh. Dan setiap pascapenyerangan, masyarakat menjadi korban dari kejadian yang baru berlangsung.

Kecamuk “perang Aceh”, seakan selalu berbungkus dengan keganasan demi keganasan; kekerasan dibalas dengan kekerasan. Antara TNI/ Polri dan GAM terus membuncahkan rasa ingin melampiasan setiap kesumat yang memuncak dan saling membayar atas setiap kematian anggotanya. Perang itu pun telah menimbulkan kelelahan luar biasa bagi kedua belah pihak dan korban sia-sia yang tak terhindarkan dari warga sipil. Namun demikian, waktu itu, sulit bagi masyarakat untuk membayangkan kapan pertikaian berdarah ini akan berakhir. Meskipun telah cukup lelah dan nyaris kehabisan “amunisi”, tanda-tanda perang berakhir, tidak juga kunjung datang; meskipun orang Aceh percaya kepada sebuah pepatah, “hana ujeun yang hana pirang; hana prang yang hana reuda”. Berbagai mediasi internasional pun seakan tak sanggup menghentikan permusuhan ini.

Akhir bulan desember tahun 2004, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, Aceh dilanda gempa bumi dan disusul tsunami dahsyat yang memorakporandakan hampir seluruh pesisir daratan Aceh; hampir sepanjang 800 kilometer garis pantainya. Diperkirakan terdapat sekitar 150.000 hingga 200.000 jiwa menjadi korban meninggal dan hilang terbawa air bah yang datang dari laut. Tsunami juga menghempas pantai dalam radius yang cukup jauh hingga ke pesisir pantai Srilanka, Thailand dan Somalia. Seketika suasana perang menjadi senyap dan tidak ada tanda-tanda pergerakan militer yang siap tempur. Ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh menjadi kota mati yang hancur luluh lantak dengan puing-puing bekas bangunan yang berserakan. Suasana horor peperangan, berubah menjadi aksi simpati atas nama kemanusiaan. Tentara dan Polri yang dipersiapkan untuk operasi militer, disiagakan dan dialihfungsikan untuk misi kemanusiaan.

Sebuat petaka yang melodramatis, bercampur baur dengan sebuah harapan damai yang akan tercipta di bumi Aceh. Gempa bumi dan tsunami seakan menjadi momentum untuk mengintrospeksi diri bagi masing-masing pihak yang berperang. Masyarakat Aceh yang pernah berduka akibat tekanan dan kehilangan sanak keluarganya dalam kurun waktu sejak DOM digelar hingga Aceh ditetapkan sebagai daerah Operasi Darurat Militer, pada tahun 2002, —ketika masa pemerintahan Presiden Megawati—, sekonyong-konyong berubah menjadi luka yang lebih dalam, akibat gampa dan tsunami; kehilangan jiwa sanak dan keluarga hingga harta benda dan traumatis yang berkepanjangan.

Derita Aceh yang tak kunjung usai mendapat simpati dari masyarakat internasional untuk berkomitmen membantu mengurangi beban dan duka yang dirasakan. Hanya dalam kurun waktu sepekan, berbagai bantuan melalui angkatan bersenjata dari masing negara, telah datang melalui darat laut dan udara. Di antaranya diawali oleh Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Turki, Selandia Baru, Australia dan Pakistan. Begitupun berbagai LSM dari lokal dan mancanegara, terus berdatangan. Mereka datang dengan membawa berbagai fasilitas dan perlengkapan yang bisa digunakan untuk menangani permasalahan kemanusiaan yang terjadi di berbagai tempat di Aceh. GAM terpana; TNI/ Polri terkesima, keduanya sejenak diam seribu bahasa. Hingga muncul inisiatif untuk mengambil langkah-langkah diplomasi, dengan mediasi internasional oleh sebuah lembaga independen, Crisis Management Initiatives (CMI) yang dipimpin oleh mantan presiden Finlandia, Martti Ahtisaari.

Kini Aceh telah melewati masa rekoveri dan pemulihan yang intens. Perdamaian yang telah ditandatangani pada tanggal 15 Agustu 2005, di Helsinki, telah menyediakan ruang bagi GAM untuk berpartisipasi secara politis di Aceh. Ruang untuk membentuk partai lokal telah diwujudkan dalam undang-undang tentang Pemerintahan Aceh. Setahun pascatanda tangan perdamaian, dalam pemilu 2006, GAM yang membentuk sayap politik Partai Aceh (PA), menang mutlak hampir di seluruh daerah pemilihan yang melaksanakan pilkada untuk mengusung Bupati/ Walikota dan Gubernur Aceh. Kemudian dalam pemilu legislative tahun 2009, PA merebut 33 kursi DPRA dari total 69 kursi yang tersedia atau setara dengan 46,96 persen jumlah suara sah hasil pemilihan umum yang dikumpulkan. Demikian juga di seluruh kabupaten/ kota, PA banyak meraih kursi untuk mengungguli partai lokal lainnya dan partai nasional yang lebih dulu ada.

Peta politik Aceh yang sedianya berubah sejak kehadiran partai local, kini menjadi lebih berwarna ketika beberapa mantan panglima wilayah GAM menarik diri dari PA dan kemudian bersama mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, ikut mendirikan Partai Nasional Aceh (PNA). Hasil pemilihan legislatif 2014 juga memberikan distribusi yang lebih merata, apalagi dengan kehadiran partai lokal baru dan partai nasional baru, seperti, Gerindra dan Nasdem, misalnya. Dari 81 kursi di DPRA yang diperebutkan, PA, hanya bisa meraih 29 kursi, (35,35 persen suara). Mengalami penurunan sebesar 11,61 persen dari pemilu 2009. Semarak politik Aceh pun tidak lagi mampu didominasi oleh PA, meskipun dalam pilkada 2012, PA berhasil memenangkan pasangan Dr. Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf sebagai gubernur dan wakil gubernur, akan tetapi suara paremen Aceh tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh PA sebagaimana terjadi dalam parlemen periode sebelumnya.

Bagi masyarakat Aceh, barangkali, tidak terlalu penting, siapa yang menguasai perlemen dan siapa pula yang menguasai pemerintahan. Yang diharapkan adalah agar perdamaian yang telah dicapai bisa langgeng dan berjalan baik serta bisa memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh masyarakat. Masyarakat ingin agar siapa pun yang memegang tampuk pemerintahan Aceh, mereka adalah yang mampu mewujudkan pembangunan di seluruh Aceh, memberikan kesejahteraan serta dapat menjadikan Aceh sebagai provinsi yang maju, setara dengan provinsi lainnya yang telah lebih dulu maju dalam segala bidang. Karena gubernur dan wakil gubernur yang ada saat ini berasal dari mantan “orang penting GAM”, maka sudah selayaknya keduanya harus membuktikan cita-cita dan perjuangan mereka dalam bentuk kesejahteraan dan kemajuan, bukan untuk sekelompok orang, melainkan bagi seluruh masyarakat Aceh secara adil dan merata….**

Aceh lon Sayang 0 comments on Aceh, Negeri yang Lelah

Aceh, Negeri yang Lelah

Aceh memang negeri yang sungguh sangat lelah. Historiografi Aceh, banyak terukir oleh tinta darah. Sejak jaman masa pendudukan Belanda Aceh secara bergelombang terus diselingi peperangan demi peperangan. Terakhir adalah pertikaian politik yang dihiasi perang antara Pemerintah Pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang berlangsung secara terbuka pascareformasi tahun 1998 hingga ditandatangani perjanjian damai pada tanggal 15 Agustus 2005, di Helsinki, delapan bulan setelah bumi Aceh porak poranda diterpa gempa bumi dan tsunami. Malapetaka gempa dan tsunami telah merenggut lebih 150 ribu nyawa manusia dan merusak seluruh harta benda yang ada di atasnya, sepanjang 800 kilometer garis pantai.

Dalam perang Aceh melawan Belanda selama lebih dari lima puluh tahun, para pejuang Aceh telah berhasil memberikan perlawanan yang luar biasa, sehingga membuat penjajah tidak merasa nyaman ketika menduduki tanah Aceh. Dalam catatan sejarah, terdapat peristiwa tewasnya para pemimpin Belanda di tangan para pejuang Aceh, yaitu, di antaranya adalah Johan Harmen Rudolf Köhler. Jenderal Belanda ini meregang nyawanya di dalam pertempuran yang berkecamuk di halaman Mesjid Baiturrahman, Kutaraja, oleh peluru sniper Aceh yang bersarang di dadanya. Sementara seorang Jenderal lainnya, Yohannes Benedictus van Heutsz, diyakini oleh pejuang Aceh, tewas ketika disanggong oleh pasukan Aceh dalam kontak senjata di Kuta Glé, di pinggiran Sungai Batè Iliek, Samalanga. Bahkan ada empat perwira Balanda lainnya lagi yang meregang nyawa di bumi Aceh, dengan berbagai alasan dan cara. Yaitu: Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel, meninggal di Kutaraja, pada tanggal 23 Februari 1876, dalam usia 53 tahun; Jan Jacob Charles Moulin, meninggal di Kutaraja, pada tanggal 8 Juli 1896, dalam usia 51 tahun; Henry Jean Demmeni, seorang perwira Belanda keturunan Perancis, yang meninggal pada tahun 1886, dalam usia 56 tahun, ketika dibawa ke luar dari Aceh. Demmeni meninggal pada saat baru 2 tahun menjalankan tugasnya sebagai pemimpin militer Belanda di Aceh.

Untuk menaklukkan Aceh, Belanda secara sengaja mengirimkan pasukan Marsose, yaitu, pasukan khusus dengan keterampilan yang luar biasa dan sangat kejam. Akan tetapi Aceh tak kunjung takluk ke tangan Belanda. Darah para syuhada Aceh dan para martir yang berperang melawan Belanda banyak bercucuran membanjiri persada Iskandar Muda, tersebut. Aceh kental dengan tradisi perang, darah dan duka cita. Bukan hanya darah penjajah yang membasahi bumi Aceh, akan tetapi darah rakyat Aceh yang menjadi korban pembantaian dan pembunuhan.

Pada akhir tahun 1946, terjadi peristiwa pembunuhan terhadap kaum bangsawan di Aceh. Peristiwa revolusi sosial yang lebih dikenal dengan label “Perang Cumbok” ini, berawal meletus di daerah Aceh Pidie yang kemudian merebak hampir ke seluruh Aceh. Pihak yang bertikai adalah antara kaum ulama Aceh yang tergabung di dalam wadah Persatuan Ulama Seluruh Aceh (Pusa), di bawah pimpinan Teungku Daud Beureu-éh, melawan segenap Ulubalang Aceh yang oleh para ulama dicurigai sangat memihak kepada penjajah Belanda, demi untuk kepentingan politik dan kekuasaannya. Perang ini menyisakan luka yang sangat pedih, merenggut lebih dari 2000 jiwa korban. Banyak para ulubalang dan keluarganya yang selamat, kemudian, terpaksa melarikan diri keluar Aceh, dan bahkan ada yang menanggalkan gelar kebangsawanannya demi untuk keselamatan.

Peristiwa lainnya adalah, meletusnya pemberontakan DI/TII, pada tahun 1953, yang dipimpin oleh Teungku Daud Beureu-éh, karena enggan bergabung dengan Republik Indonesia yang dianggapnya akan mendirikan negara sekuler. Alasan lainnya adalah karena pemimpin Indonesia memasukkan daerah Aceh sebagai bagian dari Sumatera Timur/ Sumatera Utara yang beribukota di Medan. Di samping itu adanya kekhawatiran kaum ulama akan kembalinya pengaruh dari para ulubalang yang ingin mengambil kesempatan di dalam pemerintahan bentukan Indonesia. Para pemimpin revolusi Aceh yang memiliki basis kaum ulama, berkeinginan agar Aceh menjadi bagian dari Darul Islam, yang berbentuk negara Islam Indonesia. Dalam peristiwa ini banyak rakyat Aceh dan tokoh ulama Aceh yang terbunuh. Pada tahun 1962, pimpinan pemberontakan, Teungku Daud Beureu-éh, berhasil dibujuk untuk menyerahkan diri dan bergabung kembali dengan Republik Indonesia.

Disusul kemudian, meletusnya peristiwa PKI, pada tahun 1965. PKI dianggap telah banyak melakukan provokasi dan propaganda yang menimbulkan keresahan dan antipati terhadap agama dan ulama. Kaum ulama Aceh sepakat bahwa PKI sangat bertentangan dengan agama Islam yang merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Aceh.
Ribuan orang Aceh telah meninggal dalam berbagai peristiwa yang sungguh tragis tersebut. Terakhir adalah peristiwa gempa bumi dan tsunami yang menimpa Aceh pada tanggal 24 Desember 2004. Gempa dan tsunami telah meninggalkan luka yang dalam dan trauma yang berkepanjangan. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya; banyak anak kehilangan orang tuanya. Atau sebaliknya, orang tua yang kehilangan anaknya. Banyak yang telah kehilangan sanak saudaranya.

Aceh penuh dengan cerita pilu; Aceh selalu berhiasi perang dan kehilangan.
Aceh kental dengan tradisi perang, darah dan duka cita. Bukan hanya darah penjajah yang pernah jatuh membasahi bumi Aceh. Darah para syuhada’ juga pernah membanjir bumi serambi Mekkah ini. Setiap peristiwa selalu mengambil nyawa manusia. Setiap peristiwa meninggalkan kepedihan. Periode demi periode peristiwa Aceh seperti memiliki satu kisah yang berkaitan dengan perang dan pemberontakan serta kisah tragis lainnya. Kisah yang terjadi sebagai pengulangan duka anak bangsa Aceh. Kisah yang terjadi dengan mengikuti siklus jarak waktu tertentu. Damai dan tragedi seperti silih berganti. Aceh memang telah sangat lelah. Sudah saatnya damai menjadi segala-galanya…**

Aceh lon Sayang 0 comments on Aceh lon Sayang

Aceh lon Sayang

Aceh merupakan sebuah provinsi Indonesia yang terletak di ujung barat dan utara Pulau Sumatera, dengan populasi penduduknya sebanyak kurang lebih 4,5 juta jiwa. Secara geografis, letaknya berdampingan dengan Provinsi Sumatera Utara di sebelah selatan dan timurnya. Luas daratan Aceh adalah sebesar kurang lebih 58.000 km², atau kira-kira sebesar tiga persen dari luas wilayah nusantara secara keseluruhannya. Provinsi Aceh juga berbatas langsung dengan perairan India (Teluk Benggala) di sebelah utaranya. Sedang di sebelah baratnya terdapat Samudera Hindia yang menawarkan panorama yang indah serta potensi yang menjajikan, namun dalam siklus waktu tertentu menyimpan ancaman yang luar biasa dahsyatnya. Kejadian gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004, merupakan dampak dari terjadinya patahan pada lambung Samudera Hindia, dengan kedalamam sekitar 30.000 meter di bawah permukaannya.
Patahan yang menurut pakar terjadi sebagai akibat adanya saling desakan pada subduksi antara lempeng samudera dan lempeng Eurasia, menimbulkan terjadinya retakan sebesar 150 meter memanjang ke utara selatan sepanjang 1500 kilometer, hingga mendekati Kepulauan Andaman. Patahan ini mengakibatkan daya lenting ke atas seperti pegas, sambil mengangkat permukaan samudera hingga beberapa meter, sehingga permukaan air laut pun ikut naik yang kemudian meluber ke segala penjuru yang menimbulkan generasi air laut yang luar bisa besarnya. Letingan yang dikonversikan menjadi getaran yang menimbulkan gempa bumi dengan perkiraan sebesar 9,4 skala Richter ini meruntuhkan seluruh bangunan yang berdekatan dengan pusat gempa. Disusul dengan air bah (tsunami) yang menuju pantai dengan kecepatan rata-rata 550 kilometer per jam, menyapu segala benda yang dilaluinya sampai semuanya menjadi porak poranda.
Jauh sebelum kemerdekaan, Aceh merupakan sebuah kesultanan yang pernah mengalami kemasyhuran ketika berada di bawah pimpinan sultan yang sangat terkenal, yaitu, Sultan Iskandar Muda. Angkatan Laut Aceh merupakan salah satu angkatan laut yang disegani di dunia, di mana ketika Armada Laut Kerajaan Aceh dipegang oleh seorang laksamanan wanita, yang bernama, Laksamana Keumala Hayati. Dalam kesejarahan Aceh, memiliki cerita kepahlawanan yang panjang, epic, heroik dan berliku. Beberapa pejuang yang kemudian oleh Pemerintahan Republik Indonesia, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasioanal antara lain adalah: Sultan Iskandar Muda, Teungku Chiek di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Teungku Panglima Polem, Cut Nyak Meutia, Demikian juga terdapat nama-nama Pahlawan Nasional seperti: Teuku Nyak Arief dan Teuku Muhammad Hasan yang keduanya pernah terlibat secara langsung dalam proses pembentukan Republik Indonesia di awal masa kemerdekaan.
Aceh memiliki banyak subetnis, yang mendiami persisir timur, pantai barat ataupu di daerah dataran tinggi Aceh. Oleh karena itu Aceh sering disebut sebagai “Aceh Lhe Sago”. Akan tetapi Aceh memiliki lebih dari 24 macam bahasa daerah. Ada yang bermiripan namun ada juga yang berbeda sama sekali. Pada umumnya masyarakat penutur dalam hubungan pertemanan lebih banyak didominasi oleh bahasa Aceh pesisir timur, dengan hanya sedikit perbedaan dialek di antara beberapa daerah pesisir. Antara lain dipergunakan di daerah Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Pidie hingga ke Aceh Besar. Kemudian bahasa yang berdialek pantai barat, dimulai dari daerah Aceh Barat hingga ke Aceh Selatan.Terdapat juga ragam bahasa yang dipergunakan di dataran tinggi, seperti bahasa Gayo dan Alas. Di samping itu ada juga Bahasa Melayu Tamiang, Bahasa Simeulue, Bahasa Jame, Bahasa Singkil dan masih banyak ragam bahasa masyarakat lainnya yang mendiami provinsi ini dengan aksentuasi, vokabulari dan dialek yang khas.
Di jaman kemerdekaan, Aceh pernah menjadi bagian dari perjuangan bersama untuk membebaskan diri dari penjajahan Belanda. Aceh pernah ditetapkan sebagai daerah modal, sebagai basis wilayah Indonesia yang tidak pernah menyerah kepada penjajah Belanda. Memiliki daerah yang merdeka dan tidak dalam keadaan terjajah, menjadi modal utama bagi mendirikan sebuah Negara untuk diperjuangkan kemerdekaannya. Dari Aceh pula para pejuang kemerdekaan melalui Radio Rimba Raya yang di pancangkan di belantara rimba Aceh Tengah waktu itu, menyiarkan komunike seluruh penjuru dunia untuk menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia itu masih ada dan tidak dalam keadaan diduduki oleh penjajah. Peralatan radio ini kemudian dipindahkan ke Jakarta untuk dipergunakan pada perusahan Lokananta dan juga menjadi cikal bakal perkembangan radio di Indonesia di kemudian hari.
Di awal kemerdekaan, masyarakat Aceh secara bahu membahu mengumpulkan emas permata untuk mewujudkan sebuah pesawat Dakota, yang kemudian menjadi asal susul berdirinya maskapai penerbangan Negara Republik Indonesia, dengan nama Garuda Indonesia Airways. Replika pesawat dengan nama Seulawah RI-001, yang disumbangkan kepada Pemerintah Republik Indonesia tersebut, hingga kini masih dapat dilihat di salah satu sudut Lapangan Blangpadang, di Kota Banda Aceh. Pesawat jenis Dakota DC-3, sebelum digunakan untuk perusahaan penerbangan komersial, terlebih dulu dimanfaatkan untuk misi rahasia dalam menjalin hubungan dengan negara2 luar seperti India, Birma dan lain sebagainya.
Kini Aceh sedang terus berbenah untuk keluar dari keterpurukan terdalam dari sejarahnya. Konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah mengambil lebih dari 15.000 jiwa dan harta benda dalam periode tahun 1976-2005, serta musibah gempa bumi dan tsunami yang menghancurkan sebagian daratan Aceh, telah membuat masyarakat Aceh sangat menderita. Kehilangan demi kehilangan telah membuat masyarakat menjadi trauma dan mengalami luka jiwa yang sangat dalam. Namun di samping itu bisa menambah kekuatan dan ketegaran akibat derita yang datang silih berganti. Bantuan masyarakat dunia dan dari berbagai pelosok nusantara yang telah bersimpati atas musibah tersebut, telah menjadi katalisator untuk membawa Aceh lebih cepat keluar dari kesedihan.
Kini Aceh telah damai. Pembangunan pascarehab-rekon juga terus berjalan. Banda Aceh sebagai ibukota provinsi, telah berbenah kembali, menjadi lebih indah, lebih tertata dan lebih teduh dengan penghijauan. Di tangan dingin walikota Almarhum Ir. H. Mawardy Nurdin, M.Eng.Sc., Banda Aceh, telah berubah menjadi kota yang luar biasa; rindang, asri dan nyaman untuk didatangi. Saat ini Aceh bukan lagi cerita pemberontakan; Aceh bukan lagi cerita tentang ganja yang berhektar-hektar; Aceh bukan lagi cerita duka. Melainkan Aceh adalah semangat juang para pahlawan; Aceh adalah daerah modal; Aceh adalah tujuan wisata yang indah; Aceh adalah kopi yang nikmat; Aceh adalah kuliner yang lezat; Aceh adalah keramahtamahan masyarakat; Aceh adalah sahabat. Semoga saja semangat warga, masyarakat beserta seluruh komponen pemerintahan Aceh, bisa kembali bangkit untuk terus melangkah bersama membawa Aceh menuju tahap yang sejajar dengan provinsi lain di Indonesia yang telah lebih dulu maju dan berkembang di segala bidang…**(azm).