Jogja Istimewa 0 comments on Belajar Keteladanan dari Seorang yang Bersahaja

Belajar Keteladanan dari Seorang yang Bersahaja

Dalam dua minggu belakangan media sosial ramai-ramai menyoroti kasus meninggalnya tiga orang mahasiswa dalam Pendidikan Dasar The Great Camping (TGC) XXXVII untuk menjadi anggota Mapala (Mahasiswa Pencnta Alam) UII. Acara dilaksanakan di lereng Gunung Lawu, Karang Anyar, Jawa Tengah.

Kasus jadi merebak, karena banyak pers yang menatap persoalan ini dari sudut pandang mereka sendiri tanpa check ‘n’ recheck. Sebagian besar adalah pers yang berbadan besar yang memiliki sumber daya manusia intelektual.

Sayangnya predikat tersebut tak mampu membuat seseorang bersikap objektif. Melihat bersoalan dari luar jendela, kemudian memuatnya dengan improvisasi dan ilustrasi sendiri. Dengan bahan yang sedikit, mengembangkan pendapatnya menurut logika masing-masing.

Selalu terkesan ada kandungan agenda setting yang menunggangi pers mainstream semacam ini. Kendati seorang intelektual tidak boleh berbohong, namun ini sepertinya “terabaikan”. Intelektual boleh melakukan kesalahan; tapi intelektual yang “tolol” pasti tega membohongi pembaca, dan terlebih-lebih membohongi nuraninya sendiri, demi menjaga misi pers yang diembannya.

Rektor UII Yogyakarta

Rektor UII dan Wakil Rektor I, II dan III, membawa keteladanan bagi insan akademis

Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, merupakan universitas swasta tertua di Indonesia. Lembaga pendidikan tinggi yang berlokasi di Yogyakarta ini didirikan pada 8 Juli 1945 —sebulan sebelum deklarasi kemerdekaan RI—, oleh para intelektual muslim masa itu, antara lain: Dr. Muhammad Hatta (Wakil Presiden Pertama Indonesia), Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan K.H. A. Wachid Hasyim. indian generic levitra

Dari semula bernama Sekolah Tinggi Islam (STI), kemudian sejak tanggal 3 November 1947 berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).

Dr. Sardjito

Awal kebangkitan UII terjadi ketika berada di bawah kepemimpinan (rektor) Prof. Mr. Kasmat Bahuwinangun (1960-1963) dan Prof. Dr. dr. M. Sardjito (1964-1970). Nama yang terakhir ini, kemudian diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terletak di kompleks kampus UGM; RSUP Dr. Sardjito.

Sejak awal tahun 1990-an PTS ini sudah memiliki kampus terintegrasi di Jalan Kaliurang KM. 14.5, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Dengan jumlah mahasiswa saat ini yang mencapai lebih dari 20.000, PTS ini mampu menempatkan diri pada ranking ketiga terbaik di Yogyakarta setelah Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Dan merupakan perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik di wilayah ini.

Pencapaian prestasi ini dilalui melalui jalan panjang nan berliku, penuh keringat, kerja keras dan doa. Sampai akhirnya menjadi kampus perjuangan yang dicintai mahasiswa dan alumninya serta menjadi kebanggaan umat Islam.

Berita tentang tragedi kemanusia yang menyebabkan gugurnya Muhammad Fadhli, Syaits Asyam dan Ilham Nurpadmy, telah mumbuncahkan semangat persatuan di kalangan mahasiswa beserta stakeholder-nya. Ada rasa kebersamaan yang terbangun, ketika pers mainstream menceritakan hal-hal yang tidak diketahuinya secara gamblang.

Bermodal sedikit info, berani mengembangkan cerita ngalor-ngidul dengan “nada” memojokkan lembaga dan “orang-orang”nya. Menyadari ada gelagat tidak baik begini, lantas dijawab dengan aktif melalui media sosial yang dimiliki masing-masing mahasiswa UII. Sama rasa dan sama “di-dholim-i”, membuat solidaritas mahasiswa dan stakeholder terpanggil seketika.

Bukan hanya pers, wakil rakyat yang tak mengerti persoalan pun curi panggung untuk unjuk gigi di tempat yang salah. Entah dari fraksi mana; dan entah apa maksudnya. Yang penting ikut komentar meskipun bukan di ranah yang akrab dengan dirinya.

Melawan “tinta” dengan “tinta”

Di tengah simpang siur berita yang tidak berimbang, mendorong sang rektor menyatakan pengunduran diri yang kemudian diikuti oleh Dr. Abdul Jamil, SH., MH., Wakil Rektor III, yang membawahi Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama.

Ini berita pilu yang bertindihan. Kesedihan kehilangan rekan, masih mengabung, malah harus merasakan “orang tua” yang mereka hormati, pamit mundur dari jabatannya, sebagai manifestasi tanggung jawab sebagai pimpinan tertinggi di kampus hijau tersebut. Keputusan rektor menjadi antiklimak dari persoalan yang telah menjadi bola salju ini.

Perlawanan yang dilakukan anak-anak UII melalui media sosial, membungkamkan pers berbadan besar yang tidak objektif. Melawan “tinta” dengan “tinta” ditunjukkan “anak-anak” dengan penuh semangat dan taktis.

Hasilnya memang UII bukannya tambah mengecil, sebaliknya semakin mengundang kekaguman dari masyarakat umum yang berada di luar keluarga almamater UII; dari para aktivis kampus; dari orang-orang yang antikekerasan.

Tanggapan mahasiswa mendukung rektor bukanlah untuk mentoleransi terjadinya kekerasan. Akan tetapi dengan suara bulat sepakat menolak adanya tindak kekerasan, dan mempertahankan salah satu putra terbaik di lingkungannya sambil memikul tanggung jawab bersama-sama atas tragedi ini.

Kondisi ini paradoks dengan apa yang pernah terjadi di lain tempat. Bila di sana, mahasiswa berkumpul menyatukan suara untuk menurunkan rektor, maka di sini justru untuk memberikan dukungan moral terhadap sosok yang sudah dianggap sebagai “orang tua” mereka.

Namun ibarat kata pepatah, “anjing terus menggonggong; kafilah terus berlalu”. Pers terus membuat berita subjektif, tapi simpati terus datang mengalir.

Tak banyak yang percaya lagi pers-pers model begini, yang sama sekali, meskipun menguasi pasar informasi melalui grup yang dibangunnya, tapi pada kenyataannya miskin objektivitas.

Gentlement action

Meskipun akhirnya Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc. mundur, itu bukanlah tanpa alasan. Ada pertimbangan yang dalam, yang telah dilakukannya melalui kontempelasi di hadapan “Yang Maha Pengatur” semesta alam.

Apa yang terjadi selalu dan pasti tak lepas dari skenario sang “Maha Pencipta”. Termasuk daun yang gugur dan pasir-pasir yang bergerak ditiup angin; serta musibah dan bencana yang menimpa segala makhluk ciptaan-Nya. Apatah lagi sekadar “lepas” jabatan. Yang bergengsi sekali pun.

Terpisah dari hal itu semua, langkah yang diambil Pakde Har —panggilan akrab Pak rektor—, merupakan sebuah gentlement action, yang tidak semua orang mampu memeragakannya. Terlalu berat melakoni keputusan seperti ini, manakala hidup hanya diukur dari parameter manusia: prestisius dan snobbism.

Terlalu banyak manusia yang tidak “berani” melepaskan diri dari tali kekang kuda yang melilitnya, sepanjang hidupnya, di dalam hiruk pikuk dunia yang menawarkan pilihan yang penuh berhias dengan niat baik.

Apa yang diperagakan Pak Rektor di hadapan masyarakat, yang secara gamblang dapat disimak melalui dunia maya, seharusnya sudah cukup bagi siapa saja untuk mengambil hikmah, bahwa “dihargai” itu tidak semata-mata karena posisi atau jabatan yang melekat pada diri seseorang.

Ada sisi lain yang membuat keharuman dan kekaguman terhadap seseorang. Sisi itu adalah lantaran sikap hidup dan prinsip yang dipegang dan bisa menjadi panutan.

Mengambil hikmah

Melepas jabatan tidak akan menghentikan denyut jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh. Melainkan akan memerkayakan jiwa menjadi manusia seutuhnya. Mampu membebaskan diri dari segala penyakit hati yang selalu mendorong hasrat untuk selalu ingin diagungkan, dihormati dan kemudian menjelmakan diri menjadi “megaloman”.

Rektor telah meninggalkan keteladanan, meskipun bukan itu maksudnya mundur dari pimpinan tertinggi universitas kebanggaan umat Islam dan bangsa Indonesia tersebut.

Niatnya tentu saja demi kebaikan UII dan sesiapa saja yang menjadi insan akademis serta sebagai tanggung jawab moral atas apa yang terjadi tatkala ianya sedang menjadi pimpinan institusi.

Langkah ini kemudian menempatkannya sebagai salah seorang yang berjiwa besar dan menjadi salah satu yang memiliki kepribadian utuh dari sekian banyak orang-orang besar yang pernah ada.

Apa yang diperagakan sang rektor, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., bersama rekannya, Dr. Abdul Jamil, SH., MH, telah menepis sebuah adagium kepemimpinan: tidak ada atasan yang bersalah; maka apabila suatu ketika atasan berbuat salah maka kembalilah pada ungkapan “tidak ada atasan yang bersalah”.

Sebagai seorang muslim, tentu saja ianya telah menggunakan fasilitas berupa sholat istikharah, untuk meminta pilihan yang terbaik yang harus diambilnya. Dan Tuhan memberikan pilihan baginya untuk mundur dari jabatan…**.

Bunga Rampai 0 comments on Begal Dari Masa Ke Masa

Begal Dari Masa Ke Masa

Kata begal dalam bahasa Jawa berarti perampok, penyamun. Begal juga dapat didefinisikan sebagai perampokan yang dilakukan di tempat yang sepi; menunggu mangsanya ditempat sepi untuk merampas harta bendanya dengan cara melumpuhkan sasarannya.

Belakangan ini “begal” menjadi topik berita yang paling menonjol, ketika banyak peristiwa perampokan dengan kekerasan di jalan-jalan di kawasan DKI dan sekitarnya, yang menyebabkan korban berjatuhan dengan kondisi yang menyedihkan. Pelaku begal tidak ragu-ragu bertindak sadis ketika menyakiti korbannya. Korban yang sudah tak berdaya benar-benar dibuat lumat dengan sekujur bedannya penuh bekas luka akibat dibabat dengan pedang, clurit atau kelewang. Senjata ini rata-rata menjadi alat pembunuh yang digunakan oleh para begal.

Sejak dulu Jakarta sudah sering dicekam oleh tindakan begal. Pada tahun 1982, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Anton Soedjarwo, berupaya menumpas para penjahat yang sudah sangat meresahkan masyarakat Jakarta. Kapolda menggelar tindakan represif dan menembak mati setiap penjahat yang melawan. Atas keberaniannya tersebut Anton memperoleh anugerah penghargaan dari Presiden RI.

Rupanya kesadisan tindakan para begal kala itu, mendapatkan perhatian serius dari Kepala Negara. Langkah yang diambil Polda Metro Jaya menjadi patron bagi Pak Harto untuk melanjutkan operasi petrus dan tembak di tempat. Membersihkan begal dari seluruh tanah Indonesia.

Begal beraksi
Gambar Ilustratif aksi para begal

Bukan hanya kepolisian yang dilibatkan dalam operasi ini, tetapi unsur Garnisun dari Komando Distrik Militer (Kodim) juga ikut digerakkan untuk menumpas begal yang sudah bertindak di luar batas-batas kemanusiaan. Waktu itu ada yang disebut gali, prokem, preman, dan masih banyak istilah lainnya. Kelakuannya dan tujuannya sama, yaitu, merampas harta dengan melumpuhkan korban.

Alasan Pak Harto sangatlah sederhana. Penjahat ini harus ditreatment; negara harus hadir untuk memberikan rasa aman bagi masyarakatnya; kekerasan harus dilawan dengan kekerasan…. “Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan… dor… dor… begitu saja, bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak. Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu. Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu”. (Ramadhan K.H., 1988).

Negara harus melindungi warga negaranya dari perbuatan sewenang-wenang orang-orang yang tidak berperikemanusiaan. Hingga akhir pemerintahan Pak Harto, Indonesia bebas dari pelaku begal, karena memang resiko membegal sangat nyata dan fatal. Kala itu identitas begal selalu identik dengan tato di badannya. Sehingga begal-begal tanggung yang bertato dengan segala upaya menghilangkannya. Bahkan konon dengan cara menyetrika pada permukaan badan yang bertato.

Pendeknya begal dibikin tidak tenang; sebaliknya masyarakat semakin merasa aman dan berterima kasih kepada aparat. Penumpasan begal memang dilakukan dengan sangat serius. Pimpinan tertinggi negara saat itu mengambil alih seluruh tanggung jawab dari semua jenis operasi yang bertujuan untuk membasmi begal.

Tim Khusus Anti Bandit

Jauh sebelumnya, di Medan juga banyak bermunculan preman sadis. Untuk menindak aksi begal, maka Polri membentuk unit khusus yang beroperasai untuk menciduk para begal. Medan waktu itu tentu sangat akrab dengan sebutan Tekab (Tim Khusus Anti Bandit). Kehadiran Tekab membuat hati masyarakat merasa sedikit merasa lebih aman. Namun dengan keterbatasannya Tekab tidak bisa menumpas begal sampai keakar-akarnya. Kejahatan preman tetap tak kunjung reda; tetap terjadi secara sporadis. Padahal Tekab merupakan tim yang sangat terlatih, taktis dan profesional.

Meskipun banyak yang tertembak, tapi tindakan rampok, begal, rampok, jambret dan penodongan tetap terus terjadi. Banyak begal yang mati di ujung peluru aparat keamanan, tapi tak menyurutkan nyali mereka untuk terus menjalankan aksinya. Salah satu yang membuat keberanian preman memuncak adalah pengaruh minuman keras. Yang menjadi konsumsi rutin para preman atau begal sebelum mereka beraksi.

Masyarakat selalu merasakan was-was dan terancam, sebagai dampak dari aksi brutal para begal. Sehingga tidak mengherankan bila ada orang-orang baik pun, ikut-ikutan membawa senjata tajam sejenis belati atau sebagainya untuk pertahanan diri semata. bila sewaktu-waktu keluar rumah.

Waktu terus berjalan, pemerintah terus berganti. Kini begal sedang mengalami puncaknya di mana-mana. Aksi begal sudah mencapai klimak dan sangat menakutkan. Banyak korban tak berdosa meregang nyawa; mati sia-sia di tangan begal; di ujung alat pembunuh para begal yang tak berperikemanusian. Begal begitu leluasa menunaikan tugasnya. Keterbatasan jumlah personil aparat keamanan ikut membuat begal bersuka ria tanpa rasa takut sedikit pun. Mangsanya pun tak peduli laki perempuan tua atau muda. Asal menghasilkan duit maka pastilah dieksekusi dengan cara sadis.

Pada sekitar awal tahun 1983, seluruh jajaran teritorial Jawa Tengah dan DIY, berkumpul di Semarang untuk mendapatkan “wejangan” dan sekaligus memperoleh restu dari Panglima TNI, kala itu dijabat oleh Jenderal M. Yusuf, berkaitan dengan Operasi Penumpasan Kejahatan (OPK) di wilayah masing-masing.

Yogyakarta merupakan wilayah yang pertama sekali melaksanakan Operasi Petrus (penembakan misterius) yang bersandi “Operasi Clurit”. Baru kemudian menyusul di seluruh Jawa Tengah dan DIY serta daerah Jawa lainnya. Operasi di wilayah Yogyakarta, dipimpin langsung oleh Dandim 0734, Letkol (CZI) M. Hasbi, sebagai Kepala Staf Garnisun. Karena perannya tersebut maka pada waktu itu oleh salah satu koran terbitan Jakarta, menjulukinya dengan sebutan “Jango”.

Para gali di Yogya yang suka mengompas supir dan para pedagang ikut dibasmi dengan cara ditembak mati. Supir angkot dan pedagang yang pendapatannya tak seberapa, dengan leluasa dipalak oleh para gali. Dalam pada itu Garnisun Yogyakarta dianggap ibarat pahlawan oleh orang-orang kecil, seperti para supir dan para pedagang kecil, serta masyarakat pada umumnya.

Hampir seratus gali Yogyakarta mati di tangan aparat, sebagai pembayaran atas aksi brutalnya. Pascapetrus, seluruh kota-kota besar di Pulau Jawa aman tenteram, bebas dari tindakan kejahatan. Begal yang luput mati pun menjadi ciut nyalinya dan menyembunyikan diri hingga bertahun-tahun.

Melanggar HAM

Pegiat hukum hanya berkoar-koar untuk menyalahkan aksi petrus yang melanggar HAM. Tapi mereka lupa berapa banyak korban masyarakat dan juga aparat, yang dibunuh secara sadis tanpa pertimbangan HAM dari pelakunya; bahkan tanpa adanya kritikan ahli-ahli hukum yang suka menyuarakan HAM.

Begal membunuh masyarakat tak bersalah, tidak menyalahi HAM; aparat membunuh para penjahat yang suka membunuh, merampok dan merampas harta orang yang tak berdaya, dianggap melanggar HAM. Padahal tindakan aparat bertujuan untuk melindungi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Pembersihan preman, gali dan begal yang pernah dilakukan negara secara terukur telah berlalu, hampir 40 tahun yang lalu, tak lagi membekas. Kini begal kembali membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi keresahan akibat tindakan sadis gank motor yang tidak segan-segan melukai dan membunuh orang tanpa tujuan yang jelas. Kedua aksi ini sudah barang tentu tidak boleh dibiarkan.

Pembentukan Tim Anti Begal, yang saat ini gencar beroperasi di Medan, merupakan titik kekesalan aparat terhadap tindakan para begal yang sudah di luar kepatutan. Hari demi hari selalu ada begal yang ditangkap, ditembak bahkan ada yang tercerabut nyawanya ditembus timah panas para aparat yang sedang menjalankan tugas mulia dalam melindungi masyarakat. Seakan ibarat mati satu tumbuh seribu, begal mati selalu ada pengganti.

Begal bukan hanya meresahkan orang-orang beraktivitas pada malam hari. Begal juga biasa memalak (mengompas) siapa saja yang mereka inginkan dengan dalih uang keamanan (uang reman). Bagi yang keberatan membayarnya akan merasakan akibatnya.

Tugas Tim Anti Begal tidak semudah membalik telapak tangan; sekonyong-konyong mampu menyadarkan begal untuk kembali ke jalan yang benar. Namun masyarakat tetap berharap, agar operasi ini sukses dan bisa mengembalikan rasa aman masyarakat yang sudah lama hilang. Partisipasi masyarakat, meskipun hanya dalam bentuk informasi akan memudahkan aparat untuk secara cepat memburu begal dan kemudian melumpuhkannya…***

Aceh lon Sayang, Ini Medan, Bung! 0 comments on Lontong Medan Dan Mie Aceh Bertemu Di Yogyakarta

Lontong Medan Dan Mie Aceh Bertemu Di Yogyakarta

Mantan atasan saya ketika bekerja di Aceh dulu, sudah menjadi sahabat bagi saya. Kalau soal mencicipi makanan, dia memang jagonya. Apabila sudah statement enak, maka ninety persen makanan itu dijamin enak, tak perlu diragukan lagi. Hobinya berburu kuliner kemana pun dia bertugas, di samping orangnya sendiri memang hobi masak.

Kebetulan istrinya adalah campuran suku Minang dan Mandailing, jadi sudah jelas pula pintar masak. Dia sendiri adalah campuran antara suku Rao di perbatasan Sumatera Utara – Riau dan suku Karo, di Sumatera Utara. Yang satu jago masak, yang satunya lagi ahli pengecapan. Mirip-mirip tipis sama Pak Bondan Winarno, yang sering muncul di televisi itu.

Beberapa waktu yang lalu, “sahabat” saya ini berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu tugas pelatihan tentang ilmu lingkungan hidup di lingkungan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Karena sudah beberapa hari terbiasa disuguhi makanan ala Yogyakarta yang rada manis, maka timbul hasrat untuk mencari menu lain yang mirip-mirip dengan cita rasa makanan di Sumatera.

Karena kami dulunya pernah bersama-sama tinggal Aceh, maka saya pun mencoba menawarkan masakan Aceh, yang menunya terdiri dari Nasi Goreng, Kare Ayam, dan Mie Aceh. Rupanya karena ketika di Aceh beliau hobi menyantap mie Aceh, dapat dipastikan pilihannya jatuh kepada mie Aceh. Saya memilih yang banyak kuahnya, sedangkan sahabat saya memilih mie Aceh tumis yang sedikit lebih kental.

Lontong Medan dan mie Aceh di Yogyakarta
Kelezatan kuliner Medan dan Aceh dapat dinikmati di Kota Yogyakarta

Saya menghabiskan apa yang ada di piring hingga sendok terakhir. Ternyata sahabat saya juga menyelesaikan hingga piring nyaris tampak bersih. Sejurus kemudian keluar komentar dari beliau: “rasanya persis kayak mie Aceh di Aceh; kalah mie Aceh yang ada di Titi Bobrok Medan”, katanya.

Titi Bobrok adalah salah satu lokasi penjualan mie Aceh yang ada di Kota Medan. Setiap penggemar mie Aceh di seputar kota Medan pasti hafal dengan lokasi tempat jualan mie Aceh tersebut.

Masakan khas Sumatera

Sejarah mie Aceh yang mengambil lapak di depan asrama putri Aceh “Bale Gadeng”, Sagan, Yogyakarta ini, dimulai sejak tahun 2005, yang dirintis oleh prantau asal Aceh yang membuka usaha warung mie Aceh. Dengan dibantu oleh seorang pemuda asal Kebumen, setiap harinya membuka warung sejak pukul 17.00 hingga pukul 23.00. Biasanya dia bisa menjual  15 hingga sampai 25 kilogram mie setiap harinya, belum termasuk nasi goreng dan nasi kare ayam atau kare kambing, yang taste-nya sama persis dengan masakan yang ada di Aceh.

Warung tersebut hanya memanfaatkan lahan di pinggir jalan yang dipasangkan tenda sementara cukup untuk dapat menempatkan sekitar 20 kursi, untuk menampung 20 orang yang makan berbarengan. Dan bila sedang penuh para penggemar mie Aceh biasanya bersedia untuk mengantri, menunggu sampai yang di bawah tenda selesai makan.

Di sudut perkampungan yang lain —masih di Yogyakarta—, juga terdapat masakan khas Sumatera. Siapa yang tidak pernah dengar “Lontong Medan”. Di warung yang menyediakan lontong Medan ini tersedia beberapa menu, antara lain adalah, Soto Medan, Daun Ubi Tumbuk, Sambal Teri dan Lupis. Tapi yang paling kesohor adalah Lontong Medan. Pengunjung warung ini hampir tak pernah putus. Penggemar kuliner datang silih berganti untuk menikmati menu yang disediakan di sana.

Semua makanan yang tersedia di sana sangat kental Medan-nya. Rasanya persis sama seperti ketika kita menikmati menu tersebut di tempat Kak Lin, Kampung Keling, ataupun Soto Sei Deli, Silalas, Medan. Tidak ada bedanya sama sekali. Terasa seperti sedang berada di Kota Medan.

Berbeda dengan mie Aceh, warung lontong Medan, menempati sebuah bangunan permanen yang memiliki desain minimalis dan sangat nyaman untuk ditempati. Lokasi rumah Makan Kinantan yang menyediakan masakan Medan ini, berada di Kampung Nologaten, yang masih termasuk ke dalam bilangan wilayah Seturan Yogyakarta. Meskipun ini merupakan lokasi baru ditempati, akan tetapi para pemburu kuliner Sumatera, tetap mencarinya hingga ketemu.

Ada hal yang menarik yang terdapat di balik kehadiran kedua masakan khas dari Sumatera ini. Yang satu berasal dari Aceh, yang satunya lagi berasal dari Sumatera Utara, tepatnya dari Kota Medan. Orang-orang yang pertama sekali mampir ke warung Mie Aceh, akan tidak percaya bahwa yang membuat racikan mie Aceh tersebut tidak sedikit pun mengerti tentang Aceh. Bukan hanya tidak mengerti bahasanya, datang ke Aceh pun belum pernah selama hidupnya, sekalipun. Tetapi semua orang yang pernah menikmati kelezatan mie Aceh ketika berada di Aceh akan sepakat bahwa masakan mie Aceh Yogyakarta, yang dimasak oleh Mas Pepeng, nama panggilannya, benar-benar mengingatkan seseorang seperti sedang menyantap mie Aceh di daerah asalnya.

Rasa Medan

Akan halnya Lontong Medan, pengelolanya, Mas Hendriks, juga bukan orang asli dari Medan. Tapi masakannya sangat asli Medan. Rasanya tidak ubah sama sekali, seperti kita sedang berada di Kota Medan. Serasa seperti sedang menikmati masakan Medan di Kota Medan sendiri, bukan sedang di Yogyakarta. Bukan hanya lontongnya yang sangat bercita rasa Medan, tetapi juga lupis, soto, sambal teri dan daun ubi tumbuknya sangat khas rasa Medannya.

Bagi para perantau dari Medan dan Aceh yang sedang kuliah di Yogyakarta, kehadiran dua macam masakan khas Sumatera ini, bisa mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Kebetulan karena daerahnya sangat berdekatan, maka lidah orang Medan dan orang Aceh tidak jauh berbeda.

Banyak orang-orang di Aceh yang menyukai lontong Medan. Demikian juga sebaliknya. Orang Medan juga tidak asing dengan masakan Aceh, termasuk untuk menikmati mie Aceh-nya. Di Kota Medan sendiri banyak dijumpai warung mie Aceh dan masakan Aceh. Karena makan mie lebih praktis dibandingkan dengan makan masakan berupa menu nasi Aceh, maka pada umumnya penggemar kuliner Aceh lebih memilih makan mie. Di samping aroma masakannya yang khas, mie Aceh juga bisa untuk meningkatkan selera makan.

Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, selamanya akan dipenuhi oleh para pencari ilmu yang datang dari berbagai daerah. Setiap tahun ada yang datang dan ada yang pergi. Bagi yang baru datang dibutuhkan waktu adaptasi untuk bisa menikmati masakan khas Yogyakarta seumpama Gudeg Yogya. Rasanya yang manis membuat anak-anak mahasiswa baru dari luar Jawa perlu penyesuaian diri dengan rasa masakan Yogyakarta.

Kehadiran masakan asal kampung sendiri merupakan alternatif yang memberikan jawaban atas persoalan makanan yang dihadapi oleh sebagian besar para mahasiswa pendatang. Meskipun tidak harus rutin bisa menyantap masakan dari daerah asal, sebulan sekali ketika kiriman uang dari orang tua diterima, sudah cukup untuk mengobat rindu masakan Ibu. Alternatif lainnya adalah terus berusaha untuk menyukai masakan Yogyakarta. Banyak pilihan kuliner dari Yogya yang bisa dinikmati dengan harga yang terjangkau. Hampir seluruh masakan nusantara dapat ditemukan di Yogyakarta, dengan rasa khas daerah masing-masing.

Masakan Medan dan masakan Aceh, merupakan sedikit dari sekian banyak masakan nusantara yang hadir di Kota Yogyakarta. Kedua jenis masakan dari daerah tersebut dapat di temukan di Yogyakarta. Meskipun yang meraciknya bukanlah orang asli daerah, tapi cita rasa masakannya persis sama enaknya seperti masakan asli. Selamat menikmati kuliner masakan Ibu. Tak perlu harus menunggu waktu pulang ke kampung, tapi carilah di Yogyakarta. Keduanya ada di kota ini, tentunya, dengan harga yang tetap berpihak kepada mahasiswa…*

Jogja Istimewa 0 comments on Yogya Ora Didol

Yogya Ora Didol

Andong sedang menunggu penumpang di Malioboro
Suasana tradisional, tetap diperahankan

Yogya adalah sebuah kota budaya yang klasik, menarik dan selalu meninggalkan kesan mendalam bagi yang pernah tinggal atau berkunjung ke kota ini. Banyak bangunan tua dan bahkan cagar budaya yang masih dipelihara dengan baik. Yogya yang saat ini dipimpin oleh seorang gubernur yang juga adalah seorang raja, sepertinya selalu menawarkan berbagai kemudahan bagi pengunjung dari luar daerah. Masyarakat Yogya sendiri dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sangat santun dalam bersikap.

Akhir-akhir ini dirasakan telah terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat Yogyakarta. Terdapat perubahan dalam pola sikap dan tindak tanduk sebagai akibat dari pengikisan budaya secara perlahan-lahan, sehingga kesan ramah dan santun seakan-akan sedang mulai sirna. Paling tidak hal ini mulai terasa pascareformasi yang dimulai pada tahun 1998. Demikian juga kecepatan pembangunan yang terjadi di daerah ini telah mengusik kenyamanan masyarakat pada umumnya. Kesan Yogyakarta sebagai kota yang murah meriah pun tidak sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat; apalagi para pelancong yang hanya memanfatkan masa liburan untuk berkunjung ke kota ini.

Kaki lima Malioboro yang dulunya masih merupakan tempat belanja yang murah, tiba-tiba secara mencolok melonjak harganya pada saat musim liburan tiba. Pengendalian harga di beberapa tempat pusat perbelanjaan masyarakat tidak berlaku dengan semestinya. Terdapat para pedagang yang dengan seenaknya memberikan harga kepada pengunjung, terutama kepada pelancong yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa secara lancar. Mereka dengan mudah ditebak sebagai pelancong yang baru datang, sehingga para pedagang bisa memberikan harga dengan leluasa. Toh, kadung di Yogyakarta, mumpung sedang di Yogya, ya, para pelancong terpaksa membeli juga untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan.

Yang saat ini masih sangat bisa diandalkan untuk memelihara Yogya adalah para seniman yang jumlahnya cukup memadai di seputar Yogyakarta. Mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk tetap mempertahankan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah yang berbudaya, tradisional, ramah dan memiliki sopan santun yang luhur. Kegusaran para seniman juga berkaitan dengan tata ruang dan tata wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dianggapnya telah mencederai pola pembangunan dan pengembangan Yogyakarta ke depan. Semangat keyogyakartaan seniman sungguh tidak diragukan lagi. Para seniman memiliki satu suara yang kompak ingin tetap melestarikan identitas Yogyakarta sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, jutaan kenangan dan bernilai nostaljik serta tetap mempertahankan autentisitasnya.

Hadirnya gedung-gedung yang bertingkat tinggi di beberapa sudut Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengusik keindahan Yogya yang penuh pesona. Para investor berlomba-lomba untuk menancapkan keangkuhannya melalui pembangunan apartemen dan hotel yang menjulang mencakar langit. Modernisasi sedang menelan Yogyakarta yang ingin tetap mempertahankan keunikannya secara mentah-mentah. Yogyakarta secara perlahan tapi pasti, mulai tak menampakkan dirinya sebagai kota yang unik dan klasik. Seakan semua ini mulai tergerus oleh gelombang parade pembangunan yang berlangsung begitu gencar.

Meskipun terjadi protes dan penolakan dari masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat di sekitar lokasi pembangunan, akan tetapi masyarakat tetap berada di pihak yang kalah. Keberpihakan kepada masyarakat sebagai salah satu stakeholder tak pernah kunjung datang, meski dari pemerintah setempat sekali pun. Masyarakat hanya mampu melakukan protes melalui media dan menulis pada lembar spanduk yang terpasang di dekat lokasi bangunan. Namun suara itu tidak berarti apa-apa bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Membangun bangunan bertingkat tinggi di daerah Yogyakarta yang sangat berdekatan dengan pantai selatan yang di dalamnya terdapat patahan dan pertumbukan lempeng, bukanlah keputusan bijak. Apalagi bangunannya berdempetan dengan rumah-rumah pemukiman penduduk. Ini menimbulkan kengerian yang luar biasa. Sulit bagi warga yang tinggal berdekatan di sekitar pembangunan untuk menghilangkan rasa takutnya. Padahal peraturan daerah tentang pembangangunan beserta persyaratannya telah diatur dalam Perda RTRWP Nomor 2, Tahun 2010, yang memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menggunakan hak, kewajiban dan perannya di dalam memberikan masukan bagi arah pembangunan termasuk mengajukan keberatan atas bangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Masyarakat per orang memiliki akses untuk mengetahui secara rinci spesifikasi bangunan, bahkan jauh sebelum pembangunan itu mendapatkan ijin dari pihak pemerintah.

Seniman dan masyarakat serta beberapa kaum cerdik pandai yang mencintai daerah ini, ikut menaruh keberatan atas perkembangan Yogyakarta yang mulai bergeser keluar dari identitas keistimewaannya. Banyak alasan-alasan yang melatarbelakangi keberatan unsur intelektual dan para seniman terhadap perkembangan yang tidak berpihak kepada lingkungan dan masyarakat. Salah satunya adalah kekhawatiran akan potensi yang menimbulkan kerusakan bagi lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat sebagaimana telah ditekankan di dalam perda tersebut sera memengaruhi sumber air tanah yang dibutuhkan masyarakat. Karena bagaimana pun juga kebutuhan air pada aparteman dan hotel-hotel dengan jumlah kamar yang banyak pada akhirnya akan mengganggu penyediaan air tanah bagi hajat hidup masyarakat. Meskipun ada ketentuan tentang kedalaman air tanah yang diharuskan hingga mencapai 60 meter atau lebih, akan tetapi dampak jangka panjangnya adalah berkurangnya air dangkal yang selama ini, sebagian, dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga lambat laun akan terjadi pengeringan pada sumur-sumur yang diandalkan oleh masyarakat

Kini, Daerah Istimewa Yogayakarta seperti berada di persimpangan jalan; dilematis dan sedang dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Keberadaan investor untuk mendirikan bangunan tentu saja setelah mengantongi ijin dari pemerintah setempat. Para pemilik modal tak akan berani berspekulasi untuk menanamkan modal yang sedemikian besarnya untuk sebuah rencana bisnis perhotelan dan apartemen yang telah direncanakannya. Dan kondisi ini telah mengesampingkan moratorium tentang pembatasan dan penghentian pemberian ijin untuk pembangunan hotel dan apartemen yang bertingkat banyak.

Menghentikan pembangunan bangunan yang telah berlangsung dan telah berdiri kokoh, efeknya akan berhadapan dengan hukum. Maka salah satu langkah yang paling mudah dilakukan adalah “mengorbankan” masyarakat sebagai pihak yang “harus mengalah”. Karena sisi yang paling lemah dari lingkaran persoalan ini adalah masyarakat. Objektivitas komunitas masyarakakat dari latar belakang apapun tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melakukan pembelaan diri ataupun mengharapkan setiap keberatannya dapat dipenuhi.

Salah satu harapan yang mungkin akan terpenuhi adalah mendoakan agar kawasan Malioboro hingga kawasan kekeratonan jangan sampai terjamah oleh modernisasi yang tidak terkendali. Karena hanya inilah yang mungkin masih bisa menjadi kebanggan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya bagi Kota Yogyakarta sendiri. Mugi-mugi Gusti ALLAH nyaosaken kesaen ugi kebarokahan kagem Yogyakarta ugi kita sedaya sedaya….*