Aceh lon Sayang 0 comments on Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (2-habis)

Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (2-habis)

Dokter Zaini Abdullah (ZA) dan Zakaria Saman (ZS), memiliki basis pemilih di wilayah yang sama, yaitu, Kabupaten Pidie. Tetapi konstituen wilayah ini juga ikut diperebutkan oleh tiga kandidat lainnya.

Sebagai Menteri Kesehatan dan Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Atjeh-Sumatera National Liberation Front (ASNLF), yang dipimpin oleh Wali Nanggro, Teungku Hasan Tiro (alm.), ZA dan ZS, memilih hidup lebih lama di pengasingan, Swedia. Sehingga popularitas keduanya tidak terbaca di kalangan masyarakat Aceh.

Keduanya kalah populer dibandingkan Muzakir Manaf, sebagai Panglima Angkatan Bersenjata GAM, yang menggantikan Teungku Abdullah Syafii, setelah syahid dalam sebuah kontak senjata di wilayah Pidie, tahun 2002.

Aceh Utara sudah jelas dimiliki oleh TK, Mualem dan IY. Ketiganya berasal dari kabupaten induk yang sama, Aceh Utara. Meskipun IY bisa mendominasi Kabupaten Bireuen, tapi TK dan MM juga memiliki masa tersendiri di sini. Ada sel-sel yang sudah lama dibangun untuk merangkul para pendukung di daerah ini.

Merebut prestisius di tanah rencong
Pilkada Aceh: antara ambisius, prestisius dan kekuatan basis masa

Sebaran daerah potensial

Dataran tinggi dan sebagian pesisir pantai barat Aceh, bisa jadi dimiliki IY. Calon wakil gubernur Nova Iriyansyah, memiliki keterkaitan emosional di dataran tinggi. Orang tua Nova memang berasal dari Aceh Tengah.

Sebagai mantan anggota DPRRI dari dapil 1 Aceh, Nova juga memiliki modal untuk bisa meraih pemilih di sepanjang pantai barat. Kiprah semasa menjadi wakil rakyat, akan sangat menentukan bagaimana respon masyarakat terhadap dirinya.

Namun demikian Nova tidak sendiri, karena ada Nasaruddin yang merupakan Bupati Aceh Tengah selama dua periode (2007-2012) dan hingga sebelum mencalonkan menjadi wakil gubernur berpasangan dengan Dr. Zaini Abdiullah, masih menjabat sebagai bupati. Serta Machsalmina yang menjadi pasangan TK dalam pilkada kali ini.

Pengaruh Irwandi, Nova dan Nasaruddin sangat terasa di dataran tinggi. Irwandi berperan membuka isolasi dataran tinggi dan pantai barat selatan, dan menggunakan teknokrat asal daerah tersebut untuk berkiprah di dalam pemerintahannya, ketika menjadi gubernur.

Tarmizi Karim sebelum menjadi Bupati Kabupaten Aceh Utara, pernah bertugas di Aceh Tengah untuk mengurus koperasi, meninggalkan kesan yang kurang manis bagi masyarakat di sini. Apalagi terakhir ketika menjadi Pj. Gubernur Aceh, TK menempatkan orang Aceh Utara untuk memimpin Dinas Pekerjaan Umum di Aceh Tengah.

Keputusan ini dinilai kalangan, kurang bijak, dan mengundang multitafsir di masyarakat Aceh. Karena masih banyak tenaga profesional yang ada di lingkungan Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang memiliki disiplin ilmu terkait dengan pekerjaan tersebut.

Aceh Utara yang pernah kebanjiran dolar, tidak membuat daerah ini melejit dalam segi pembangunan. Terdapat lima objek vital yang siap untuk diajak berpartisipasi di segala bidang. Namun hingga terjadi pemekeran pada tahun 2000, daerah ini telah menyia-siakan keberadaan industri raksasa yang hadir di daerah ini. Kecuali jalan raya sepanjang kurang dari 20 kilometer yang dibangun atas inisiatif sendiri PT Arun bersama PT Pertamina.

Padahal kala itu terdapat begitu besar peluang untuk membangun gedung sekolah, rumah sakit serta fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh pemerintah dan masyarakatnya Aceh Utara.

Daerah lain yang mungkin bisa dijadikan lumbung suara bagi TK adalah Aceh Besar. Istri TK berasal dari sana, dan merupakan keluarga dari seorang ulama yang disegani. Namun TK tidak sendirian. Mualem dan IY atau ZS dan ZA juga punya pendukung tersendiri di sini.

Pasangan TK dan Machsalmina masih berpeluang merebut suara pantai barat – selatan dan akan bersaing dengan Machasalmina pernah menjadi Bupati Aceh Selatan selama dua periode ((1998-2003) dan (2003-2008). Meskipun demikian Mualem, serta IY bersama Nova tidak mudah begitu saja ditaklukkan di sana.

Abdullah Puteh (AP)

Mantan gubernur Aceh periode 2000-2004 ini, masih memiliki taji di Aceh. Banyak di antara pendukungnya yang merasa kesal ketika AP diciduk petugas untuk doboyong ke Jakarta, atas tuduhan korusi. Atas sangkaan tersebut, tahun 2005 AP diganjar sepuluh tahun penjara dan kemudian mendapatkan bebas bersyarat pada tahun 2009.

AP yang banyak menghabiskan waktunya hidup di ibukota, Jakarta, pernah menjadi Ketua Umum KNPI (1984-1987). Pada masa orde baru, AP dikenal sangat dekat dengan tokoh-tokoh penting Golkar, partai yang berkuasa saat itu.

Dia juga dikenal sangat dekat dengan DR. Abdul Gafur, yang dipercayakan Presiden Soeharto sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga dalam Kabinet Pembangunan IV, tahun 1983-1988. Dalam jajaran Dewan Pimpinan Pusat Golkar, AP pernah dipercayakan sebagai salah satu Wakil Sekjen.

Pemetaan kekuatan AP, lebih banyak di wilayah Aceh Timur, yang merupakan tanah kelahirannya dan sebagai tempat karir birokrasinya bermula. Untuk menguasai Aceh Timur, AP bersinerji dengan Nektu, mantan Wakil Panglima (Gerakan Aceh Merdeka GAM, Wilayah Peureulak, yang juga mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Timur (2017-2022).

Dengan segudang pengalaman organisasi yang dimilikinya, AP mendapatkan nilai tambah tersendiri di mata masyarakat, terutama para mantan aktivis mahasiswa dan pemuda, termasuk dari masyarakat Aceh Timur yang merindukan figurnya.

AP juga berhasil meraih gelar doktor dalam usia yang tidak muda lagi. Dan mendapatkan penghargaan MURI sebagai figur yang bisa menyelesaikan gelar tersebut dalam keadaan sebagai terpidana.

Pernah tersangkut masalah korupsi menjadi catatan kelam yang ikut memengaruhi persepsi masyakat pemilih terhadap dirinya. Meskipun masyarakat Aceh Timur dikenal fanatik kepada putra daerah, namun tidak mudah bagi AP untuk menahan lajunya Mualem, atau juga barangkali, IY, di daerah ini.

Pilkada yang sehat

Tanpa ingin mengecilkan arti kehadiran ZA dan ZS, ataupun AP, maka pertarungan TK, Mualem dan IY menarik untuk disimak. Jika pilkada berlangsung jurdil dan bebas pelanggaran, maka dapat dipastikan kompetisi ketiga cabub ini akan berlangsung ketat. KIP sebagai penanggung jawab pelaksanaan pilkada, dan Panwaslu, harus menempatkan diri secara independen dan tidak mudah diatur dengan materi atau berupa uang.

Dalam pilkada yang sehat, selain faktor figur, maka timses masing-masing pasangan ikut menentukan arah dari peta kekuatan bagi seluruh cagub dan cawagub. Seberapa besarnya efektivitas kinerja timses, akan berbanding lurus dengan hasil yang akan diperoleh.

Memang sangat sulit untuk menakar pasangan calon gubernur dan wakil gubernur serta menebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang, hingga datang hari penetapan dari KIP.

Di era yang sedang mengangungkan kaum muda untuk berkiprah dalam jabatan publik, meskipun tidak terlalu muda lagi IY (56 tahun) dan Mualem (52 Tahun), berkemungkinan besar akan melakukan pertarungan berikutnya di putaran kedua pilkada.

Namun satu hal yang perlu diingat, siapa pun yang muncul sebagai pemenang, maka dia adalah gebernur dan wakil gubernur bagi seluruh masyarakat Aceh. Figur yang kalah seharusnya ikut berperan untuk menjaga keutuhan hubungan antarpendukung.

Membiarkan gesekan horizontal pada setiap usai pilkada akan membuat daerah ini semakin rapuh, terpuruk dan sulit untuk maju. “Lam udep ta meusare, lam meugle ta meubila; lam lampoh ta meutulong alang, lam meublang ta meusyedara….*

Aceh lon Sayang 0 comments on Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (1)

Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (1)

Pilkada serentak untuk beberapa daerah di Indonesia, ikut memengaruhi iklim politik di Aceh. Pascapenetapan calon kepala daerah oleh KIP, laju perubahan politik kian menjadi fenomenal. Sangat dinamis.

Pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk memimpin Aceh lima tahun ke depan, menjadi fokus yang sangat menarik untuk diikuti. Bahkan seorang yang tak begitu “hobi” berpolitik pun ikut-ikutan menjadi analis di arena meja kopi.

Kedai kopi di Aceh adalah tempat yang paling sering dijadikan ajang diskusi untuk semua hal. Mulai dari pertandingan sepakbola level dunia, ekonomi, sosial hingga masalah politik. Maka jika seseorang ingin mendapatkan informasi penting tentang Aceh, “ngetem“lah berlama-lama di dalam kedai kopi.

Orang yang datang silih berganti, masing-masing membawa berita tentang apa yang diketahuinya. Kemudian dilemparkan ke tengah forum informal, dan tentu saja akan menjelma sebagai bahan diskusi yang berkepanjangan.

Merebut prestisius di tanah rencong
Pilkada Aceh: antara ambisius, prestisius dan kekuatan basis masa

Dalam diskusi ini tidak ada moderator, notulen ataupun panelis yang dibentuk. Semua berlangsung multiarah. Siapa pun boleh menanggapi, menambah atau membantah apa yang berkembang.

Para “peserta” diskusi ada yang memang memiliki metode dan alat analisis yang memadai, ada yang cukup hanya mengandalkan kemampuan berkomunikasi dan ada pula yang “asal hajar”.

“Pat-pat nyang didong didonglah”, kalau diartikan secara letterlijk, di mana berhenti berhentilah. Maksudnya, tak terlalu menghiraukan dampak yang akan timbul dari ucapan atau perbuatannya.

Belakangan ini, hampir seluruh kedai kopi di Aceh, hangat kita temukan diskusi tentang pilkada gubernur. Topik ini mengalahkan analisis tentang pertandingan el-clasico, Real Madrid vs Barcelona, ataupun tentang babak kualifikasi Piala Dunia 2018 untuk zona Eropa dan Amerika yang saat ini sedang berlangsung.

Ada enam pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang sudah siap bertarung menuju singgasana pemerintahan Aceh untuk periode 2017-2022. Semua kandidat kelihatannya memiliki kapabilitas sesuai dengan urgensi masing-masing.

Setidak-tidaknya ada tiga pasangan calon yang menurut amatan masyarakat, memiliki basis dukungan yang cukup kuat dan merata di seluruh Aceh.

Ada bebarapa faktor yang dapat dijadikan alasan untuk melukiskan peta kekuatan mereka. Ketokohan, pengalaman, popularitas, dan latar belakang dan dukungan politik yang sudah terbentuk

Terdapat pula beberapa pertimbangan yang berkaitan dengan konstelasi politik Aceh sejak MoU perdamaian ditandatangani 15 Agustus 2005, hingga hari ini. Masih ada eforia dan benang merah yang menghubungkan antara masa konflik (tuntutan merdeka) dan kekinian Aceh, terutama di kalangan kombatan GAAM sendiri.

Tarmizi Karim

Tarmizi Karim adalah mantan Bupati Aceh Utara yang sudah berproses hingga pernah dipercayakan pemerintah pusat untuk menjabat sebagai Pejabat (Pj.) Gubernur Kalimantan Selatan dan sebagai Pj. Gubernur Aceh.

Popularitas TK tidak perlu diragukan lagi, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan ulama pesantren. TK memiliki kelebihan yang belum dimiliki oleh cagub yang lain. Menjadi khatib dan imam adalah sesuatu yang biasa dilakukannya di mana pun dia berada. Barangkali hanya Doter Zaini Abdullah yang bisa melakukan sebagai yang diperankan TK.

Sehingga nilai tambah TK menjadi momok tersendiri bagi kompetitor lainnya. Bahkan di usianya yang sudah mencapai 60 tahun TK masih bisa mempersembahkan gelar doktor ilmu Alquran yang diraihnya dari IIQ, Jakarta.

Banyak keunggulan yang dimiliki TK, antara lain: dekat dengan pusat, berasal dari jalur birokrat, berpendidikan prestisius, berpengalaman memimpin daerah kabupaten dan provinsi, serta sangat dekat dengan para ulama.

Muzakir Manaf (Mualem)

Mualem, panglima GAM, memiliki basis yang didukung oleh mantan anggotanya. Ketika sebagai wakil gubenur periode sebelumnya, Mualem tetap memelihara hubungan komando dengan jajaran GAM yang ada di bawahnya, di seluruh Aceh. Apalagi Mualem adalah Ketua Umum Partai Aceh, yang mendominasi hampir seluruh DPR yang ada di kabupaten dan kota serta DPR Aceh.

Ini modal dasar yang kuat bagi Mualem dalam membangun pemerintahan yang stabil jika terpilih nanti. Di samping itu, meskipun muncul faksi yang menyebabkan GAM terbelah, akan tetapi basis masa GAM masih cukup solid untuk mendukung PA, terutama di pedesaan.

Belakangan Mualem berhasil meyakinkan pentolan GAM yang pernah mebelot keluar dari garis komando, untuk kembali ke “pelukannya”. “Pulang ke rumah sendiri”; “jak wo u rumoh dro”. Demikian ungkapan sesama mereka.

Dia juga tidak sungkan-sungkan menimpakan kesalahan kepada Malik Mahmud atas disharmoni hubungan antara dia dan anak buahnya selama ini.

Tiga kali pileg dan dua kali pilkada menjadi bukti kuat, bahwa GAM yang bernaung di bawah bendera Partai Aceh, masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Irwandi Yusuf

Mantan gebernur 2007-2012, Irwandi Yusuf (IY), tidak kurang pula memiliki tempat yang baik di kalangan GAM dan masyarakat Aceh. Terobosan IY di sektor kesehatan dan pendidikan ketika menjadi gunernur, membuat dia menjadi pioner yang mampu memberikan pengobatan dan biaya sekolah gratis.

Bermula dari nekad, namun bisa terwujud dalam bentuk nyata. Ketika menggagas ide tersebut belum terlihat dari mana sumber dana yang akan dipergunakannya untuk memberikan pengobatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Aceh. Mulanya asal njeblag, tapi akhirnya jadi barang itu.

Modalnya pun cukup hanya dengan menunjukkan KTP Aceh. Tidak perlu syarat yang lain, untuk berobat di puskesmas dan rumah sakit. Begitu mudahnya.

Tipikal gaya kepemimpinan IY banyak disukai oleh sebagian masyarakat Aceh. Latar belakang pendidikan lumayan baik, —mantan pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, Unsyiah—, membuat IY bisa masuk ke dalam wilayah pemilih terpelajar dan kelas menengah ke atas. Bersaing dengan TK di wilayah perkotaan.

Bila Muzakir Manaf, lebih mengandalkan suara masyarakat akar rumput, Irwandi, malah lebih optimis dengan masyarakat perkotaan. Meskipun di pangsa ini ada Tarmizi Karim dan Abdullah Puteh yang juga berpeluang untuk mengais suara di sini. (Bersambung).

Aceh lon Sayang 0 comments on Menanti Laga “Derby” Dalam Pilkada Aceh 2017

Menanti Laga “Derby” Dalam Pilkada Aceh 2017

Pilkada Aceh baru akan terjadi pada awal tahun 2017 nanti. Tapi gonjang ganjengnya sudah mulai terasa sejak pertengahan tahun 2015 yang lalu. Terbukti dengan banyaknya bermuculan kandidat calon dari berbagai kalangan. Bakal calon ini pun bukan orang sembarangan yang keluar dari kotak pandora. Akan tetapi mereka, di antaranya sudah sangat dikenal secara luas di seluruh Aceh, dengan pengalaman di dunia politik dan jabatan di lingkungan pemerintahan yang seabreg.

Pada awalnya pernah muncul nama, Tarmizi Karim, menghiasi halaman surat kabar sebagai salah satu calon kandidat. Tarmizi mendapat sambutan yang sangat antusias sebagai figur yang diunggulkan. Bekal sebagai Bupati Aceh Utara dan kemudian beberapa kali dipercayakan sebagai pelaksana tugas Gubernur di beberapa daerah, dirasakan lebih dari cukup sebagai syarat untuk menjadi gubernur Aceh.

Apalagi Tarmizi dianggap dekat dengan pusat, sehingga diasumsikan segala sesuatunya akan menjadi mudah dalam lobi-lobi bagi kepentingan Aceh ke depan. Tarmizi yang berlatar belakang Golkar, belum mendapat sinyal yang jelas dari Golkar sendiri. Karena konon Golkar akan mendorong Teuku Nurlif, tokoh Golkar pusat asal Aceh, untuk dilaga dalam pilkada nantinya.

Perjuangan Tarmizi mencari perahu untuk mengarungi pilkada terasa berbelit-belit dan mengalami jatuh bangun. Pendekatan ke Partai Demokrat juga tidak membawa hasil apa-apa. Posisi Tarmizi menggantung hingga akhirnya muncul compatriot ketua DPD-nya dengan Irwandi Yusuf.

Mualem dan Irwandi
Mualem dan Teungku Agam, dua pentolan GAM yang akan menjalani laga derby dalam Pilkada Aceh 201

Sebelumnya tersebar nama-nama unggulan di tengah masyarakat, seperti Irwandi, Muzakkir, Zaini, Zakaria Saman, Tarmizi Karim dan T. Nurlif, serta nama-nama beken lainnya. Namun kini semakin menyempit dan tinggal mengarah kepada persaingan “derby” antara Irwandi dan Muzakkir. Karena kedua orang inilah yang saat ini memiliki pengaruh yang besar di tengah masyarakat Aceh.

Irwandi dapat dipastikan akan bergandeng tangan dengan Nova Iriansyah yang juga sebagai ketua DPD Partai Demokrat Aceh saat ini. Menariknya mereka berdua mempunyai latar belakang yang sama; sama-sama sebagai akademisi. Irwandi pernah menjadi staf pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, sementara itu Nova, yang alumni ITS Surabaya, adalah juga dosen di Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.

Mereka berasal dari kawah candradimuka yang sama dalam periode yang berbeda. Irwandi melepaskan bannya sebagai dosen untuk ikut berjuang bersama “Wali”, sedangkan Nova rela melepaskan baju pengajarnya untuk terjun mengarungi lautan politik dengan memilih Partai Demokrat sebagai tempat berlabuh.

Representasi pesisir dan dataran tinggi

Lebih menariknya lagi, mereka seakan menjadi representatif masyarakat pesisir dan dataran tinggi Aceh. Irwandi berasal dari pesisir utara Aceh; Nova merupakan putra negeri sepakat segenap yang sangat dikenal di daerah dataran tinggi Alas dan Gayo.

Baik Irwandi maupun Nova, kedua-duanya sudah sangat akrab dengan masyarakat “Aceh lhe sago“. Nova pernah menjadi anggota parlemen Senayan dari Partai Demokrat, mewakili daerah pemilihan Aceh satu, yang meliputi, pantai barat selatan, Aceh “rayek” dan sekitarnya serta daerah dataran tinggi Alas.

Sementara itu Irwandi yang pernah menjadi gunernur Aceh sebelumnya, dikenal rajin melakukan incognito ke daerah pesisir barat-selatan dan ke wilayah dataran tinggi Aceh. Sehingga muncul kesan bahwa kedua wilayah tersebut semakin mendapat perhatian ketika periode Irwandi menjadi gubernurnya.

Akan halnya Muzakkir Manaf, ianya merupakan komandan GAM yang memegang kendali tampuk operasional tentara GAM untuk seluruh wilayah Aceh. Muzakkir naik menjadi panglima, menggantikan Abdullah Syafii yang “syahid” dalam pertempuran di wilayah Pidie.

Sejak saat itu wajahnya kerap menghiasi halaman surat kabar dan muncul di layar kaca televisi. Bukan hanya orang Aceh mengenal sosok yang satu ini, bahkan hampir seluruh masyarakat di pelosok nusantara pernah melihat wajahnya melalui siaran berita telivisi, ketika perang masih berkecamuk di tanah Serambi Mekkah. Muzakkir mengambil T. A. Khalid sebagai pasangannya.

Khalid pernah menjadi Ketua DPR Kota Lhokseumawe mewakili Partai Bintang Reformasi. Hubungan Khalid dengan GAM mendapat titik balik ketika Khalid secara perorangan menggugat waktu pelaksanaan pilkada Aceh ke Mahkamah Konstitusi, yang sebelumnya akan berlangsung tanpa calon dari GAM (baca Partai Aceh). Khalid dianggap berhasil memberikan kesempatan kepada pasangan kandidat yang mewakili PA dalam pilkada yang diadakan pada tahun 2012 dan sekaligus “memenangkan” mereka dengan mengandaskan kesempatan Irwandi menjadi gubernur untuk kedua kalinya pada waktu itu.

Atas inisiatif itu pula Muzakkir yang belakangan “berbaikan” dengan Prabowo –yang dulu bermusuhan tatkala terjadi perang, GAM vs TNI–, berhasil menjadikan T. A Khalid sebagai punggawa tertinggi Partai Gerindra “milik Prabowo” di Provinsi Aceh. Muzakkir berasal dari Aceh Utara, yang masuk ke dalam wilayah Pase dalam peta geografis GAM. Wilayah ini menjadi salah satu basis militan terbesar kekuatan GAM selama konflik berlangsung. Sedangkan Khalid meskipun pernah berkiprah di “wilayah Pase” sebetulnya berasal dari Pidie Jaya, pecahan dari Kabupaten Aceh Pidie.

Pada paruh perjalanan masa pemerintahan Aceh, hubungan antara Gubernur Zaini dan wakilnya Muzakkir Manaf sudah mulai rengat dan saling menjauh satu sama lainnya. Zaini disebut sebagai orang yang sangat “calculating” dalam segala hal. Budaya Swedia ada melekat pada dirinya, yang oleh Muzakkir dianggapnya tak cocok dengan budaya lokal. Zaini memiliki kapabilitas yang terbilang lebih baik dari wakilnya.

Muzakkir berasal dari seorang kombatan GAM yang kemudian dipercayakan menjabat “Panglima Tertinggi” GAM. Sementara Zaini merupakan diplomat yang dipercaya oleh Wali Nanggro sebagai anggota kabinet negara Aceh di pengasingan.

Kiprah Zaini dalam gerakan perjuangan pembebasan Aceh sudah dimulai sejak Wali Nanggro, Teungku Hasan Tiro, memproklamirkan negara Aceh di Gunung Halimun di daerah Pidie pada tahun tujuh puluh enam. Setelah itu praktis Zaini yang seorang dokter itu, mengikuti Wali hingga menetap di Swedia dalam menjalankan pemerintahan Aceh dari jarak jauh. Di sisi lain Muzakkir Manaf adalah kombatan yang mendapatkan pelatihan intensif kemiliteran di Lybia pada angkatan kedua.

Baik Muzakkir maupun Irwandi, keduanya pernah sama-sama mendapatkan pelatihan serta memiliki kemampuan menjalankan helikopter dan pesawat terbang. Mualem yang ahli strategi tempur  dan perang gerilya merupakan alumnus Lybia, sedang Irwandi adalah ahli propaganda perang lepasan Venezuela.

Dalam perjalanan kepemimpinannya, Zaini banyak memberikan peluang kepada birokrat yang berasal dari Pidie, dan konon sambil menyapu bersih “orang-orang” Muzakkir dari kursi empuk mereka di pemerintahan. Dokter Zaini Abdullah, sang gubernur, memang berasal dari Pidie. Perseteruan ini terus berlangsung sehingga masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan arah yang tidak sama.

Muzakkir, yang memegang kendali tampuk pimpinan tertinggi Partai Aceh (PA), dapat dengan mudah menggapai kendaraan untuk maju dalam pilkada mendatang. PA yang memiliki modal 29 kursi DPRA sudah lebih dari cukup untuk mengusung ketua umumnya, Muzakkir Manaf, untuk maju sebagai kandidat gubernur Aceh.

Posisi Zaini, kini menjadi gamang dalam menyikapi kondisi ini. Padahal Zaini pun ingin maju kembali untuk periode kedua. Posisi Muzakkir lebih diuntungkan di bandingkan mantan pentolan GAM lainnya seumpama Zaini, Irwandi dan Zakaria Saman. Irwandi yang hanya memiliki tiga kursi Partai Nasional Aceh (PNA) di DPR Aceh, beruntung diterima melamar Partai Demokrat. Tinggal Pak Doto Zaini Adullah dan Zakaria Saman yang tidak jelas jalannya.

Irwandi sudah teruji sebagai gubernur dan berhasil membuka isolasi daerah pantai barat-selatan dan wilayah dataran tinggi. Banyak tokoh-tokoh dan birokrat potensial dari kedua wilayah tersebut yang dipercayakan menjadi bagian dari pemerintahan Aceh di saat Irwandi menjabat Gunernur.

Faktor “X”

Pasangan baru Drh. Irwandi Yusuf, Ir. Nova Iriansyah, memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek dan pernah banyak berbuat untuk Aceh melalui program yang didukung DPRRI, untuk wilayah Aceh. Sehingga Nova pun tidak asing lagi bagi masyarakat pesisir barat-selatan dan dataran tinggi Alas.

Muzakkir, karena posisinya menjadi orang kedua, tidak banyak yang dapat dia lakukan, kecuali hanya kegiatan seremonial yang tidak menjadi tolok ukur dalam menguji kemampuan seseorang. Muzakkir berada di bawah bayang-bayang sang “doto” yang dalam menjalankan pemerintahannya terkesan “one man show”. Hampir tidak ada celah bagi Muzakkir untuk menunjukkan kemampuannya dalam peran menjalankan roda pemerintahan. Pak Doto jalan sendiri; Mualem jalan sendiri.

Sudah dalam dua periode ini kondisi serupa berulang terjadi di Aceh. Ketika Irwandi jadi gubernur, Nazar, sering bertindak nyeleneh sendiri. Menurut istilah dalam bahasa Aceh, “kreuh bhan keu ngon bhan likot“, lebih keras ban depan dari pada ban belakang. Ban depan diibaratkan sebagai orang yang menjalanan kebijakan, sedangkan ban belakang adalah pemilik kebijakan. Sehingga sampai akhir periode, Irwandi dan Nazar tak pernah sejalan dalam menjalankan pemerintahan.

Pilkada di Aceh selalu dibarengi dengan “Faktor X” sehingga arahnya pun sulit direka-reka; konon lagi untuk menebak  hasil akhirnya. Masyarakat di pedesaan belum terbiasa dengan persepsi politik yang harus mereka miliki. Karena itu “arus” sangat menentukan akan kemana suara mereka ditambatkan. Jika di kota-kota sudah ada pola pemikiran yang mapan dalam menimbang kondisi politik, maka hal semacam itu tidak berlaku bagi orang desa.

Bagi orang desa, “barangkaso jeut, asai bek karu-karu le“; siapa saja tak jadi soal, yang penting jangan ada keributan lagi. Mereka sudah sangat lelah menghadapi berbagai peristiwa yang menerpa Aceh dalam dua dasawarsa belakangan ini.

Sekarang tinggal bagaimana para “kandidat” menatap pilkada kali ini? Memang dibutuhkan jiwa besar untuk menjaga pilkada agar menjadi ajang demokrasi yang bebas dari intimidasi, kecurangan dan manipulasi. Di samping kandidat yang bersaing, maka peran KIP (KPU di Aceh) dan Bawaslu juga merupakan pihak yang menentukan arah pilkada yang akan dilaksankan.

Sejauh mana pihak-pihak yang terlibat ini bisa berperan objektif dalam menghasilkan pemenang pilkada secara fair. Harus ada keinginan dari seluruh pihak untuk membiarkan kompetisi ini berlangsung secara bersih, halal, demi untuk mewujudkan Provinsi Aceh, yang “baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur“…*.